Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Dihadapkan dengan pilihan


__ADS_3

Saat ini Lili tengah duduk di bangku yang ada ditaman, mununggu lelaki yang sudah membuat janji dengannya. Sudah lima belas menit berlalu namun belum ada tanda tanda kedatangna Ans.


Mencoba menghubungi dan terhubung." Kau dimana.?" tanyanya setelah panggilannya terjawab.


" Ini aku sudah di parkiran."


Lili langsung mematikan ponselnya, setelah mendengar jawaban dari lelaki itu. Menunggu dan tak lama sebuah suara membuatnya menoleh.


" Maaf membuatmu menunggu." kata Ans.


" Tidak masalah, duduklah." kata Lili.


" Tadi jalanan macet, kamu taulah ini waktunya para pekerja pulang kerumah masing masing.


" Baiklah, tidak apa. Katakan ada apa kau mengajakku bertemu " tanya Lili yang tidak ingin berlama lama, entah kenapa pikirannya tidak tenang, hatinya resah semenjak pembicaraanya dengan Riko pagi tadi.


" Apa aku tidak bisa bertemu denganmu lagi ?" tanya Ans sendu.


" Bukan. Bukan itu maksudku, kau tau bukan kalau aku sudah menikah dan tidak baik jika seirang istri menemui pria lain." jawab Lili dengan pandangan mengarah kebawah menatap rumputan kecil yang bertumbuhan di tanah.


" Jadi kau sudah mengakui kalau dia suamimu dan kau istri lelaki lain begitu." tanya Ans yang tidal senang dengan jawaban Lili.


" Kenyataan begitu Ans." sergah Lili.


" Ah ya benar sekali kalau dia adalah suamimu tapi bukankah kau tidak mencintainya.?" tanya Ans datar.


" Benar. Aku memang tidak mencintainya tapi bagaimana pun dia adalah suamiku sekarang Ans dan aku harus tetap bersama suamiku." jawab Lili dengan mata bekaca kaca.


Benar sekali perasaanya bukan untuk Riko, melainkan untuk pria lain, entah itu pada masa lalunya atau pria yang didepannya ini, dia tidak tau yang jelasnya dia tidak kenyataan itu yang sedanv ada didepannya saat ini.


" Kalau begitu, ayo pergi denganku dan tinggalkan lelaki itu. " ajak Ans menggenggam tangan Lili.


" Tidak. Aku tidak bisa." jawab Lili melepaskan genggaman tangan Ans.


" Kenapa Lili.? kenapa tidak bisa, kau hanya perlu meninggalkannya dan kita hidup bersama, kita tinggalkan kota ini dan bentuk kehidupan baru di tempat lain." kata Ans tetap memaksa Lili.


" Aku tetap tidak bisa."


" Kenapa tidak bisa sih ha." desah Ans


" Kar..."


" Karena dia adapah istriku.! dak kau tidak bisa membawanya pergi tanpa ijinku." sahut Lelaki yang tak lain adalah Riko.


Kembali pada beberapa waktu yang lalu, saat Riko mendapati pesan masuk di hp Lili dari Ans. Bergegas pergi menuju kantornya dengan penuh emosi. Sampai di kantor ia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya dan menguhubungi seseorang.


" Hallo. Aku ingin kau bekerja untukki mulai hari ini." katanya to the poin.


"............"


" Kau datanglah kerumahku dan awasi rumahku dari kejauhan, oh bukan lebih tepatnya kau awasi istriku, kemana pun dia pergi, apa yang dilakukan, dan bertemu dengan siapa saja, laporkan padaku setiap saat." kata Riko dan langsung mematikan ponselnya.


Sore telah tiba, dan ponsel Riko berbunyi, dan ternyata orang yang menghubunginya adalah adalah orang suruhannya, memberi tau informasi tentang istrinya.

__ADS_1


Dan tak butuh waktu lama Riko langsung bergegas pergi meninggalkan ruanganya memuju tempat dimana Istri dan Ans bertemu.


Sepanjang jalan, Riko tidak berhenti mengumpat. Mengumpati Ans, dan mengumpati keadaaan jalan raya yang sangat padat membuat dia sangat lama sampai ke tujuannya.


" Sia**n.! berani sekali mereka bertemu dibelakangku,! aku tidak akan membiarkanmu Ans.!" teriak Riko memukul setir mobilnya.


Sampai di parkiran, Riko langsung melesat turun dan berlari menuju taman, dari jaud dia bisa melihat bagaimana interaksi keduanya. Lili yang sedang menahan tangis dan Ans yang terlihat seperti menahan kekesalannya.


Semakin mendekat dan samar samar ia mendengar pembicaraan keduanyq, hingga tinggal dua meter lagi jaraknya dari mereka dan terdengar jelas percakapan keduanya.


Meski tidak dari mendengar dari awal tapi sisa ini sangat jelas kalau Ans sedang membujuk Lili untuk pergi.


" Kalau begitu, ayo pergi denganku dan tinggalkan lelaki itu. " ajak Ans menggenggam tangan Lili.


" Tidak. Aku tidak bisa." jawab Lili melepaskan genggaman tangan Ans.


" Kenapa Lili.? kenapa tidak bisa, kau hanya perlu meninggalkannya dan kita hidup bersama, kita tinggalkan kota ini dan bentuk kehidupan baru di tempat lain." kata Ans tetap memaksa Lili.


" Aku tetap tidak bisa."


" Kenapa tidak bisa sih ha." desah Ans


" Kar..."


" Karena dia adapah istriku.! dak kau tidak bisa membawanya pergi tanpa ijinku." sahut Lelaki yang tak lain adalah Riko.


Mereka semua terkejut dan bersamaan menoleh kearah suara, Lili tercengang melihat siapa gerangan yang menyosor pembicaraan mereka.


Rahangnya mengeras menatap nyalqng kearah lawan, tapi itu tidak membuta Riko gentar, ia balas menatap tajam kearah Ans.


Saling menghunus tatapan satu sama lain, wajah merah padam terlihat jelas di wajah keduanya.


Tanpa menunggu Riko berjalan menuju Lili dan menarik paksa tangan Lili agar mendekat kearahnya yang membuat Lili memekik kesakitan.


" Akh." pekik Lili.


" Lepaskan.!" ucap Ans mencekal tangan Lili yang satu.


Saling tarik menarik pun terjadi dengan sasarannya adalah Lili, yang membuatnya semakin kesakitan.


" Lepaskan tangan istriku Ans.!" titah Riko yang sadar kalau Lili kesakitan akibat perbuatan mereka berdua, tapi dia juga tidak mau kalah, baginya dirinyalah yang berhak atas Lili selaku suaminya


" Tidak.! karena dia belum menjawab pertanyaanku." kata Ans lantang.


" Ck, pertanyaan apa yang harus dia jawab untukmu.? kau tidak berhak menuntut jawaban darinya karena statusnya pasti sudah menjawab semuanya." ejek Riko.


" Tapi dia tidak mencintaimu, jadi jangan berbangga dan jangan menhhalangi aku.!" ucap Ans mencoba memukul mental Riko dengan kenyataan.


Dan benar saja, Riko langsung terdiam setelah mendengarkan pernyataan bahwa memang mereka tidak saling mencintai.


Bagaimana dengan Lili.? tentu saja dia hanya diam, dan tidak berani bicara menyela pembicaraan kedua lelaki itu, dan ketakutan sudah menguasain dirinya.


Takut jika kedua lelaki itu bertengkar, ia takut jika karena dirinya semua jadi berantakan. Sehingga hanya bisa memilih diam.

__ADS_1


Namun diamnya dia tidak lagi berlangsung saat merasakan sebuah cekalan mulai melonggar dari pergelangannya, memandang ke arah suaminya dan nampak jelas terselip wajah kecewa Liki saat Riko tidak lagi mempertahankannya.


" Jawab Li, tentukan pilhanmu selagi Riko ada disini. siapa yang akan kamu pilih.?" kembali Ans mengulang berkata.


" Bisakah kau tidak menyuruhku untuk memilih Ans.?" tanya Lili mengiba berharap Ans akan mengerti, tapi sepertinya lelaki itu tidak mau mengerti apalagi menyerah.


" Tidak. Kau harus menentukan pilihanm. katakan kalau kau tidak mencintainya." desak Ans.


" Kau tidak punya hak untuk menyuruh istriku memilih Ans Wijaya." kata Riko penuh penekanan.


" Diam kau." bentak Ans dan langsung maju meraih dan mencengkram kerah baju Riko.


Riko tidak tinggal diam, membalas perlakuan Ans, bahakn tak segan melayangkan pujulan ke wajaj Ans.


Bughhh..


Satu pukulan akhirnya dilayangkan oleh Riko unthm Ans, karena sudah tidak mampu lagi menahan gejolak amarah di hatinya. " Jangan mencoba mencoba untuk menyudutlan istriku." Tekan Riko yang langsung meraih pergelangan Lili yang terlihat syok melihat kejadian itu.


Bughh..


Riko maupun Lili tidak jadi melangkah saat Ans yang tidak mau kalah juga melayangkan satu pukulan di wajah Riko. " jangan mengahalangi aku Tuan."


" Sudah hentikan..!" teriak Lili saat kedua lelaki itu saling mendekat dan mengangkat tinju untuk saling memukul.


Mereka langsung berhenti mendengar teriakan Lili, bersamaan menghadap dan melihat kearah Lili, menunggu ucapan selanjutnya .


" Kenapa kalian bertengkar ha.! kenapa kalian memperebutkan sesuatu yang kalian tau siapa yang akan bersamanya." ucap Lili yang mulai melemah.


" Apa maksudmu Lili ?" tanya Ans


" Kau sudah tau Ans kalau aku sudah menikah, lalu untuk apa aku harus memilih lagi."


Ans sangat terkejut mendengar perkataan Lili yang secara tidak langsung sudah menyatakan pilihanya, Sedangkan Riko tersenyum puas karena jelas dia juga mengerti arti dari ucapan Lili.


" Kau bohong Lili. Katakan kalau kau berbohong Lili " Desak Ans meengguncang tubuh Lili, tapi Riko dengan cepat menyingkirkan tangan itu.


" Singkirkan tanganmu dari istriku." kata Riko menarik Lili untuk merapat padanya.


" Aku tidak berbohong Ans, ini kenyataan kalau aku akan tetap bersama suamiku." tegas Lili yang disambut air mata Ans.


Tidak membuang waktu lagi, pasangan itu pergi meninggalkan Ans di taman sendirian ditemani awan yang mulai menghitam karena perpaduan malam dan juga mendung.


Ans masih betah berdiri disana menatap bayangan cintanya yang pergi dengan orang lain, menagisi perasaanya yang tidak terbalsakn, hingga rintikan hujan turun membasahi bumi dan Ans ikut terbasahkan oleh guyuran hujan yang kian mederas.


Hujan yang semakin deras membuat mata lelaki itu berkesempatan untuk mengalirkan anak sungai, bahunya bergetar hebat, semakin sesak menghantam dadanya.


Memutuskan untuk berlari ke jalan raya memcoba mengejar mobil yang membawa kekasih hatinya, namun tidak sampai, wanitanya sudah menjauh pergi.


" Akhhhhhhh.! kenapa kau tidak memilihku Lili.! kenapa kau lebih memilih dia yang tidak ada dihatimu." Ans berteriak di tengan jalan di bawah air hujan, Bersimpuh menangisi cintanya.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2