
Berbeda lagi dengan keluarga bahagia Ruben dan Santi, kedua anak mereka tumbuh sangat pintar dan sangat cepat tanggap baru duduk di taman kanak kanak saja mereka sudah bisa membaca dan berhitung dan lebih hebatnya lagi si tampan Alvaro sudah mulai membaca baca buku panduan bisnis yang tersusun rapi di perpustakaan ayahnya.
Alavaro sendiri tunbuh menjadi bocah tampan dan berkharisma walau masih berusia lima tahun tapin aura kepemimpinan bocah tampan itu sudah sangat kental terlihat dari wajah dan sikapnya.
Alvaro adalah sosok anak yang pendiam melebihi ayahnya saat masih kecil dulu, tidak suka berbaur dengan keramaian, tidak suka di sentuh oleh orang lain kecuali keluarganya, tidak suka banyak bicara jika tidak penting menurutnya tapi semua itu tidak berlaku untuk keluarganya, karena Alvaro akan berubah menjadi sangat hangat di dalam rumah.
Berbanding terbalik dengan Kanaya, gadis kecil nan cantik itu adalah bocah yang sangat periang, cerewet menurut Alvaro humble dan mudah bergaul dengan orang baru, satu yang lebih penting dan jarang sekali di miliki oleh anak anak orang kaya pada umumnya yaitu tidak sombong dan cendurung leboh berteman pada orang orang dari kalangan rendah.
"Naya kau diamlah! jangan berisik" tegur Alvaro yang merasa terganggu dengan coleteh Kanaya saudara kembarnya.
Saat ini keduanya sedang berada dalam mobil di perjalanan menuju sekolah dengan di antar oleh ayah tampan mereka dengan posisi Ruben sebagai supir, Alvaro berada di kursi penunpang bagian depan dengan buku pelajaran bisnis milik ayahnya sementara Kanaya berada di kursi penunpang bagian belakang dengan tingkahnya yang terus saja bernyanyi dan sesekali akan mengoceh sendiri jika pertanyaanya tak kunjung di jawab oleh Ayah atau kakaknya.
"Ck, kenapa kakak selalu mengatakan aku cerewet sih!" ketus Nara.
"Karena memang kau sangat cerewet" ledek Alvaro.
"Ayah....kaka sangat menyebalkan!" rengek Naya.
"Ck, dasar tukang ngadu" sindir Alvaro.
"Varo!" tegur Ayah dengan suara lembut namun terdengar tegas.
"Ck, anak ayah itu yang sangat cerewet"
"Hei kenapa kau selalu melawan ayahku!" sentak Naya
"Kau jangan lupa dia juga ayahku Nara!"
"Hei, bisakkah kalian berhenti berdebat, kalian sama sama anak anak ayah dan bunda tidak ada yang berbeda jadi jangan merebut yang sama sama milik kalian berdua, mengerti!"
"Mengerti ya,"
"Inilah kenapa aku tidak mau punya adik lagi karena pasti akan berbagi, sudah cukup aku berbagi si kakakku yang dingin tapi tampan ini"
__ADS_1
"Kau akui jika aku tampan bukan" bangga Alvaro.
"Iya kau tampan tapi masih bukan levelku," jawab Kanya acuh.
Alvaro yang tadinya bangga seketika berubah masam karena jawaban adiknya, dia merasa sangat terhina karena ternyata selera adiknya menginginkan yang jauh lebih darinya sedangkan Naya terbahak mendapati kakaknya yang terdiam dan Ruben berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Memangnya seperti apa seleramu princes?" tanya Ruben.
"Princes ingi yang seperti ayah" jawab Naya dengan penuh semangat.
"Wow seperti ayah" ulang Ruben.
"Ya, seperti ayah yang tampan, baik dan sangat menyayangi kami" jawab Naya.
"Hmm seandaianya bocahku ini tau bagaimana ayahnya dulu yang sama seperti kakaknya, entah bagaimana pendapatnya" batin Ruben melirik Naya lewat spion.
"Tapi kakak Varo juga tampan dan pastinya banyak gadis yang akan menyukainya kelak, karena Varo turunan ayah hahaha....!"
"Hahaha..."
Miley satu sekolahan dengan Alvaro dan Kanaya karena keinginan kedua mama muda yang ingin membuat Alvaro dan Miley bisa dekat karena sudah memiliki rencana untuk menjodohkan keduanya kelak jika sudah dewasa.
"Miley sayang ayo bangun" ucap Lili karena lagi lagi Lili sangat susah untuk di bangunkan.
"Sebentar lagi ma, Mi masih mengantuk" jawabnya dengan mata yang masih merem.
Miley sendiri tumbuh menjadi bocah cantik, periang, keras kepala dan mau semua keinginannya harus terpenuhi, cerewet dan sedikit ada sifat sombong, suka memilih teman dan itu semua tidak lepas dari ayahnya yang terlalu memanjkan dirinya memenuhi semua keinginan Miley dengan mudah membuat bocah cantik itu sehingga secara tidak sadar menciptakan sikap buruk pada diri Miley.
"Ayolah Miley jangan seperti ini! ujar Lili lagi sembari menarik tangan Miley dan menggoyang goyangkannya.
"Ck kenapa mama tidak bisa seperti papa sih!" kesal Miley seraya bangkit dari tidurnya.
"Justru karena papamu makanya sikap Miley seperti ini, jadi susah di atur" tegur Lili sedikit membentak.
__ADS_1
"Mama jahat! mama tidak sayang sama Miley" teriaknya kemudian keluar menuju kamar ayahnya untuk mengadu.
"Hei putri ayah ada apa hemm?" tanya Riko.
"Mama tidak sayang sama Mi, mama marah marah terus sama Mi" adunya.
"Mama tidak akan marah Mi jika kami bisa menurut sedikit tanpa membantah" sela Lili dari pintu kamar.
"Ma, Mi kita masih kecil, jangan terlalu tegas seperti ini" tegur Riko membuat Lili berdecak kesal.
"Ck, mama malas berdebat dengan papa jika sudah seperti ini" ketus Lili kemudian pergi menunu dapur.
Lebih baik Lili membuatkan sarapan dari pada harua berdebat karena masalah Miley lagi, rasanya sudah sangat bosa jika setiap paginya hanya seperti itu terus. Sebenarnya Lili juga tidak ingin seperti itu tapi Lili juga merasa perlu mendidik Miley dengan tegas agar tidak berbuat sesuka hatinya.
"Mah..." panggil Riko dengan lembut sembari tanganya dia lingkarkan di perut Lili, "maaf jika kita terus seperti ini" lanjutnya.
Lili menghela napasnya dengan berat, dia sebenarnya tidak mau seperti ini tapu entah kenapa sering sekali terjadi perbedaan pendapat antara mereka jika sudah menyangkut Miley, dan itu sering sekali terjadi bahkan hampir setiap hari itu terjadi.
"Tidak masalah, mama hanya tidak ingin Mi tumbuh menjadi wanita yang tidak teratur, mama ingin Mi bisa bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dia jalani dan di lakukan" jawab Lili.
Riko mencium pipi Lili dengan sayang, walau mereka sering berbeda pendapat tapi cinta Riko terhadao istrinya tidak pernah berubah bahkan cinta itu semakin lama semakin bertumbuh dan bertambah besar untuk istri cantiknya.
"Nanti papa akan mendidiknya lagi, papa janji akan tetap menuntun Mi agar tumbuh menjadi gadis yang bijak kelak, tapi tolong mama juga jangan melarang papa memanjakan putri papa" pintanya di akhir kalimatnya.
"Baiklah jika itu keinginan papa, mama yakin jika kita bisa mendidik Miley"jawab Lili.
.
.
Bersambung...
Mampir di novel baru author yaa....
__ADS_1