
Santi kini tiba di bandara kota kelahiranya. Sejenak ia menenangkan perasaanya yang berkecamuk, tiba tiba ia merasa gugup.
Menarik nafasnya dan membuangnya berulang kali untuk menetralkan perasaan gugupnya. Setelah merasa lebih tenang ia oun melangkah menggunaan taksi yang terparkir disana.
Santi sampai dihalama rumah yang menjadi tempat ia dibesarkan, tempat ia bermain dan berlimpah kasih sayang.
Perlahan tapi pasti kakinya melangkah mendekati rumah sederhana namun terasa nyaman itu.
Tok...Tok...Tok...
Santi mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar sahutan dari dalam yang membuat Santi sakin tak bisa menguasai hatianya, matanya sudah mulai berkaca kaca tat kala mendengar sura wanita yang sangat menyayangi dan disayanginya itu.
Ceklek....
Pintu terbuka dan menampakamn sosok wanita sederhana namun masih terlihat cantik dan muda serta terlihat anggun meski hanya dengan pakaian sederhana saja.
" Bunda...Hikss..hikss...Bunda aku menridukan bunda." Santi langaung menghanbur kedalam pelukan ibunya.
Sedangkan sang bunda yang yang juga merindukan anaknya menyambut pelukan itu dengan binar kebahagian dan haru yang tak dapat di ucaokan dengan kata.
Mereka menumpahkan segalanya melalui pelukan itu, hingga suara dari dalam rumah membuat mereka tersadar dan melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
" Ayah.." kata santi langsung berlari memeluk sang ayah yang selama ini menjadi tempat dia berlindung.
" Sayang,,, kamu kapan datang nak, dan mana suamimu,.?" tanya ayah celingak celinguk mencari keberadaan menantnya.
Seketika pelukan Santi terlepas, ia diam dan air matanya kembali mendera dan kali ini bukan air mata rindu atau haru melainkan air mata pedih dan sakit. Itubsemua terlihat jelas dari wajahnya yang sendu.
Melihat itu kedua orang tuanya saling pandang seolah menyampaikan adanya banyak pertanyaan dalam benak mereka hingga bunda berkata.
" Ayo sayang kita masuk dulu, kamu pasti lelah perjalan kesini pasti menguras tenaga kamu." ajak bunda yang membawa santi kedalam kekamar Tapi dengan cepat Santi menjawab.
" Tidak bun, aku tidak lelah. Ada yang ingin aku sampaikna pada kalian.
" Iy, tapi kamu istrahat dulu saja." jawab bunda.
" Katakan." ucap ayah singakat yang paham ada problema yang dihadapi putrinya.
" em,,em sebenarnya.....Santi mulai menceritakan semuanya kepada orang tuanya , dari awal pernikahan hingga sekarang tanapa ada yang terlwatkan sekalipun.
Bunda yang mendengar itu hanya menangis, dan ayah berkali kali menhela napasnya pelan, meskipun sebenarnya mereka sudah mendengar dari mertua santi namun tetap saja kesedihan itu tak bisa disembunyikan.
*falshback....
__ADS_1
Setelah kedua Orang tua Ruben bicara, Mama dila langsung menuju kamarnya dan menghubungi orang tua Santi..
" Hallo." jawab Bunda.
" Hallo, bisa kita bicara sebentar, karna kita tidak mungkin bisa bertemu mengingat jarak yang cukup jauh." jawab mama Dila.
" Ada apa bu Dila.? sepertinya ini sangat serius sekali. kata Bunda.
" iya, ini sangat penting karna menyangkut kedua anak kita." mama Dila oun mulai menceritakan semua yang terjadi dan yang ia ketahui mulai dari A sampai Z tanpa ada yang terlewatkan sama sekali.
" Ya Tuhann..." pekik Bunda di sebrang sana.
" Saya minta maaf atas nama putraku bu." ucap mama Dila mendesah pelan.
" Tidak,,Bu Dila tidak salah dan tidak perlu minta maaf. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik saja untuk mereka.," Jawab bunda menenangkan
" Saya mohon bu, jangan biarkan mereka berpisah." mohon mama Dila.
" kita tidak bisa memaksa kehendak kita bu, tapi kita coba untuk berusaha, dan apa pun hasilnya nanti kita harus berbesar hati menerimanya." ucap bunda panjang lebar
" baiklah bu, trimakasih." kata mama Dila kemudian memutuskab sambungan telponnya.
__ADS_1
flashback off*.
Bersambung....