
"Belajar dengan baik Boy" ucap Nara setelah mobil yang disupiri oleh Leo berhenti didepan sekolah Radith yang tak lain adalah tempat Nara mengabdikan diri.
"Mom janga lupa kabari aku terus ya" kata Radith yang dijawab anggukan oleh Nara.
"Hati hati Boy" ucap Rajesh saat Radith mencium punggung tangannya.
"Ok Dad, ingat jangan lebih dari dua Minggu saja, jika bisa cukup dua hari saja" ucap Radith dengan santai tanpa memperhatikan raut wajah ayahnya yang melotot tak percaya.
Sementara Nara hanya bisa tersenyum mendengar hal itu, dia tidak terlalu peduli jika memang hanya dua haripun Nara tidak masalah yang terpenting adalah dirinya yang menginjak tanah Hawai itu saja sudah sangat cukup.
"Kamu pikir jalan kesana cepat apa" ketua Rajesh.
"Yasudah tidak usah kesana saja" jawabnya enteng.
Lagi lagi Rajesh melototkan matanya tidak percaya dengan perkataan Rajehs tapi lagi lahi hanya bisa menahan diri apalagi ada wanita pujaan hatinya bersama mereka.
"Boy.. bukankah kita sudah memebahas hal ini" ucap Nara dengan nada sedikit menekan.
"Ya, Mom benar kita sudah membicarakannya, dan aku hanya bercanda karena Daddy terlihat lucu jika melotot" ucap Radith kemudian terbahak.
"Sudah sana..." usir Rajesh.
"Iya aku pergi, Mom Dad berhati hatilah" ucapnya.
"Sampai jumpa sayang"
"Sampai jumpa Mom" ucap Radith.
***
Empat puluh jam kemudian, pesawat yang menampung pasangan baru itu sudah mendarat di Bandara internasional Hawai dan segera keduanya turun dan ternyata sudah ada seseorang yang tugaskan Leo untuk menjemput sang tua muda di Bandara.
__ADS_1
"Capek..." gumam Nara.
Bagaimana tidak capek jika empat puluh jam mereja habiskan hanya berada didalam pesawat, istrahat dan tidurpun serasa bosan dan tetap memelankan tubuh tapi walau demikian tidak menyurutkan semangat Nara yang akhirnya menginjakan kakinya di Negara yang sejak dulu diimpikan, Negara dimana dulu bermimpi untuk dia dan Reyhan pergi tapi malah takdir berkata lain, gadis cantik itu malah bersama pria lain yang menjadi suaminya.
"Nanti ktia istrahat setelah sampai di Vila" ucap Rajehs yang memang melihat wajah istrinya sedikit pucat.
"Heem...aku mau langsung istrahat saja nanti" saut Nara.
"Selamat datang Tuan Muda" sapa supirnya yang rupanya salah satu anak buah Leo.
Seperti biasa, Rajehs hanya mengangguk kecil dengan gaya datarnya sementara Nara juga dengan sikpa klasiknya tersenyum ramah pada anak buah Rajesh.
"Langsung ke hotel!" titah Rajehs.
"Baik Tuan Muda, mari silahkan masuk" ucap sang supir mempersilahkan majikanya.
Sampai dihotel keduanya langsung merebahkan diri termasuk Nara yang tidak laga ada tenaga membersihkan diri karena terlalu lelah, hingga tak lama keduanya terlelap dengan saling berpelukan.
Sementara di Indonesi, seseorang dengan kalut dengan kenyataan yang hingga kini belum bisa diterima hatinya dan alhasil memicu pertengkaran dirinya dengan istri yang sama sekali tidak dianggap.
Bagaimana tidak memicu pertengkaran jika sejak hari pernikahan Nara hingga saat ini yang terhitung sudah masuk pada hari keempat, sekali saja lelaki yang tak lain adalah Reyhan menghabiskan waktunya di Bar dan kembali ke rumah dengan keadaan mabuk, bukan hanya itu saja, lelaki tampan yang sedang jatuh sejatuh jatuhnya itu tidak hanya minum di Bar karena saat di rumahpun alkohol tak luput dari genggamannya.
Dan awalnya Cleora yang tak lain adalah istrinya masih bisa memakluminya karena bagaimanapun dia cukup tau bagaimana sakitnya walau sebenarnya hati gadis itu juga sakit bagai ditemas tak berperasaan tapi dia tetap saja bersabar akan keadaan itu.
Cleora tidak bisa menyudutkan apalagi menyalahkan Rajesh akan keadaan karena sesungguhnya semua permasalahan yang terjadi berakar dari dia yang terlalu serakah ingin memliki lelaki yang dicintainya.
Tapi sekarang rasanya kesabaran dirinya sudah habis, dia tidak bisa melihat orang yang dia cintai terus menerus seperti ini hanya karena keegoisannya dan mungkin kesempatan terakhir untuknya mempertahankan rumah tangganya, setelah itu dia akan mengambil keputusan yang entah apa itu.
"Reyhan....sudah hentikan ini semua..." bentak Cleora yang sudah tidak tahan dengan sikap suaminya yang menyiksa diri karena luka itu.
Reyhan yang mendengar teriakan Cleora berhenti tapi matanya menatap nyalang kearah Cleora membuat gadis cantik itu sedikit ketakutan tapi karena sudah bertekat akhirnya Cleora memberanikan diri menantang Reyhan.
__ADS_1
"Berani sekali kamu berteriak padaku" ucap Reyhan penuh penekanan, wajahnya sudah merah padam, nafasnya naik turun karena emosi, sungguh jiwa pria tampan itu sedang terguncang hingga mudah sensitif.
Cleora menelan ludahnya kepayahan melihat tatapan mematikan serta wajahnya yang sudah pasti karena amarah, "aku berteriak karena aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini.." jelas Cleora setengah berani.
"Jangan sok perhatian kami wanita murahan...! aku tau kau senang dengan keadaanku seperti ini bukan? kau suka karena akhirnya Nara menikah dengan pria lain dan kau bisa mendekatiku.. hehehe jangan pernah berharap untuk bisa mendapatkan hatiku wanita murahan, kau wanita yang tidak punya harga diri..!" bentak Reyhan dengan terus menghina Cleora.
Cleora menjatuhkan air matanya tanpa diminta, hatinya sakit mendengar penghinaan dari suaminya sendiri mengatai dirinya murahan, tidak ada yang lenih sakit dari ini sakit karena dihina oleh orang yang seharusnya melindungi dan mengayomi dirinya dari semua ancaman dari bahaya diluar sana.
Wajah yang sedih dan sakit melihat keadaan suaminya kini berubah menjadi benci, matanya memancarkan kemarahan terhadap suaminya, cukup sudah selama ini penantian serta kesabarannya yang menunggu suaminya membuat hati yang hingga kini bukan hati yang didapat melainkan hinaan yang kini didengar.
"Kamu benar benar keterluan Mas....! kamu menghinaku yang sebagai istrimu sendiri, kami menghinaku yang seharusnya kami melindungiku dari ancaman orang lain...." teriak Cleora yang sudah tidak tahan.
"Kenapa kamu kecewa? kenapa ha? kamu berharap aku akan membelamu mati matian? memujamu seperti aku memuja Nara gadisku hahaha..... jangan mimpi kamu Cleora, kamu tidak pantas mendapat itu karena apa? karena kamu wanita licik" umpat Reyhan.
Cleora menggeleng mendengar Reyhan yang bukannya minta maaf tapi justru malah semakin menghinanya semakin banyak, "aku tidak bisa memaafkan sikapmu seperti ini Mas...tidak bisa, aku tidak bisa dan aku minta cerai sekarang.." teriak Cleora yang sudah tidak tahan lagi dengan keadaan yang saat ini dihadapinya.
Cleora yang berkata seperti itu berharap Reyhan mungkin akan mencegahnya dan meminta maaf padanya karena walau mengucapkan hal itu tapi tapi tetap saja Cleora mengharapkan Reyhan mengatakan jangan padanya, tapi semua harapan hanyalah harapan karena kenyataannya respon pria yang menjadi suaminya itu malah membuatnya semakin sakit.
"Bagus.. harusnya sejak kemarin saja kami meminta hal ini jadinya kamu tidak akan mendengar kata ini yang keluar dari mulutku" sinis Reyhan.
"Kamu tidak punya hati Rey...Kamu pria yang tidak hati..." teriak Cleora yang sudah benar benar kecewa dengan suaminya.
"Ya... aku tidak punya hati dan harusnya kamu sadar akan hal itu" jawab Reyhan dengan begitu santainya.
Cleora pergi meninggalkan Reyhan dikamarnya dengan membawa hati yang terluka karena kekecewaan yang diakibatkan oleh suaminya sendiri dan itu tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya.
"Aku tidak akan kembali padamu Rey...aku tidak akan mencintaimu lagi setelah ini" tekat Cleora lalu memasuki kamarnya dengan air mata yang terus mengalir.
.
.
__ADS_1
Bersambung...