Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Banyak pertanyaan


__ADS_3

pagi-pagi sekali Ans sudah datang ke rumah orang tuanya. dia sengaja melakukan itu karena belum tentu akan pulang cepat nanti.


" Hallo bunda aku datang." teriakan dari arah pintu depan rumah.


" astaga Ans kenapa kau selalu saja berteriak sih." gerutu bunda.


"Hehehe maaf bunda. Soalnya aku sudah kangen." jawab Ans dengan cengiran dan langsung mencium pipi bundanya.


" bukankah kau bilang kau akan datang setelah pulang dari bekerja.? " tanya bunda


" Tadinya sih seperti itu Bun, tapi takutnya nanti tidak sempat lagi. " jawab Ans dan langsung duduk dimeja makan keluarganya.


"Memangnya kau akan lembur lagi.?"


" Tidak tau Bun. Tapi bisa saja mungkin iya. oh ya ayah dimana bunda."


" itu di belakang rumah sedang memandangi tanaman peliharaannya."


' Udah sarapan Ayahnya.?"


"Sebentar lagi juga kesini." jawab bunda "Nah itu dia, baru aja bunda bilang dan orangnya sudah nongol." celutuk Bunda.


" Kau masih ingat pulang rupanya Boy. " ucap ayah saat sudah sampai di meja makan.


" Tentu saja yah. Ayah pikir aku ini Amnesia apa." ketus Ans.


"Bukan Amnesia, hanya saja Ayah pikir kau sudah melupakan rumahmu ini. secara kan kamu mana inget pulang kalau tidak ditelepon oleh Bundamu ini. " Ejek ayah.


"Hais Ayah ini sama anak sendiri kok seperti itu. " gerutunya sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya dan mengunyah nya dengan sedikit kasar dan wajah masamnya sudah dia pasang.


" Jangan bertingkah seperti anak kecil." tegur Ayah.

__ADS_1


" Ayah ini kenapa sih.! anak baru datang kok malah diomelin. kan wajar kalau dia jarang pulang secara kerjaan dia kan banyak ayah." bunda sudah melototi Ayah yang membuat sang ayah hanya bisa pasrah akan keadaan.


Sedangkan Ans, ia tertawa tapi tertahan menyaksikan ayahnya yang tidak lagi berkutik setiap mendapatkan pelototan dari istrinya


" Ck, pilih kasih sekali dia ini." gerutu Ayah.


"Jangan seperti anak kecil Ayah" ucap Ans berniat menggoda Ayahnya.


"Ans diam dan makan saja."


Ans terdiam mendengar teguran bundanya, tidak bersuara dan sarapan dengan nikmat hingg tak lama setellah itu acara sarapan bersama pun usai.


Mereka bertiga kini berada diruang keluarga, meski tidak terlalu besar dan megah namun rumah itu sangat nyaman bahkan fasilitasnya juga merupakan fasilitas mahal, yang sengaja di sediakan Ans untuk kedua orang tuanya.


Masih ada Satu jam lagi waktu yang dimilik oleh Ans bersama keluargannya sebelum masuk kantor. Duduk memperhatikan televisi yang berisi berita, disela sela kegiatan mereka, bunda memecahkan perhatian mereka. " Ans, kapan kamu akan menikah.?"


" Belum tau bun." jawabnya cuek


" Belum ada yang cocok bunda. Nanti kalau sudah ada pasti aku akan menikah kok." lagi lagi mejawab asal.


" Bagaimana kalau kamu kenalan dulu sama anak teman bunda sayang, dia bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit di pusan kota kita."


" Aku tidak suka di jodohkan bun, jadi berharap untuk melakukan itu." tolak Ans.


" Tidak ada salahnya mencoba dulu nak ma.-"


" Jangan memaksa Ans bun." sela Ayah yang juga tidak setuju dengan acara perjodohan.


" Tapi kan tidak ada masalahnya dengan itu Yah."


" Bunda jangan memaksa, kita saja menikah karena pacaran dulu, lalu kenapa semakin tahun bunda malah meyuruh anak kitabmenikah karena perjodohan sih? udah lah biarkan saja dulu."

__ADS_1


" Apa ayah tidak mau punya cucu.!" kesal buna. " Bunda tuh udah pengen banget nimang cucu yah, seperti teman teman bunda yang lain." keluh Bunda.


Perkataan bunda mengenai cucu membuat Ans teringat dengan gadis itu. Helena, entah kenapa Ans jadi memikirkannya. " Dimana dia sekarang? apa dia benar hamil anakku.?" pertanyaan itu tiba-tiba muncul dan berputar dikepalanya, sehingga dia tidak lagi fokus mendengarkan perdebatan antara orang tuanya.


" Ans Ans! hei Ans kenapa kau melamun saja sih? kamu dengar tidak yang bunda bilang." Bunda tambah kesal saat putranya tidak mendengarkan ocehan mereka.


" Aku mendengarnya bun, sabar lah aku pasti akan membawa menatu sekaligus cucu untuk kalian." spontan Ans mengatakannya yang membuat kedua orang tuanya terkejut.


" Apa maksudmu Ans?" tanya Ayah Bunda bersamaan.


" Bukan apa apa. Aku hanya bercanda, sudahlah aku mau berangkat dulu dan soal menantu kalian tidak perlh khawatir."


Tidak tau kenapa Ans yakin kalau Wanita itu sudah mengandung anaknya, tapi yang menjadi pertanyaanya apakah dia akan menikahinya atau tidak.


Ans kini sedang dalan perjalanan, tapi masih terjebak macet, duduk sambil memanku dagunya dengan mengaitkan lengannya di pintu mobil. Sedang asyik asyiknya memangku dagunya dengan mengaitkan lengannya di pintu mobil. Sedang asyik asyiknya memangku dagu matanya tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang berjalan diantara kerumunan orang.


Mendadak badannya tegak, memusatkan perhatiannya pada gadis yang tengah hamil itu, mengucek ngucek matanya memastikan penglihatannya tidak salah.


"Helena." kata itu lolos begitu saja dari bibir seksi Ans.


Tangannya bergerak membuka pintu mobil, tapi sialnya lampu merah sudah berganti menajdi lampu hijau yang artinya kendaraan sudah boleh berjalan.


" Apa aku tidak salah lihat? apa itu benar Helena, tapi kenapa? kenapa perutnya buncit seperti orang hamil dan lagi kenapa dia bosa sampai disini.?"


Sekelebat pertanyaan berputar di pikiran Ans, menerka nerka keadaan yang terjadi. Apa, bagaimana, dan seperti apa.


Bersambung...


Helena Sakir yang sedang berjalan di tengah kerumunan


__ADS_1


__ADS_2