
Ans yang mendengar lirihan istrinya lagi lagi lagi hanya tersenyum, dia masih tidak berniat menjelaskan apa maksud dari semua ini.
"Kenapa kau membawaku ke mari?" tanya Helena.
Ans mengedikkan bahunya "mau bagaimana lagi? kau tidak berbicara padaku, jadi aku terpaksa membawamu kemari"
"Baiklah, kau segeralah turun"
Ans mengikuti perkataan Helena, dia membuka pintu mobil dan keluar dari sana memutari mobil dan sampai pada pintu sebelah kirinya lagi di mana Helena duduk.
Ans membukan pintu untuk Helena membuat wanita itu kembali mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Ans.
"Kenapa?"
"Kau tidak mau mengantarku hingga ke dalam?" tanya Ans dengaj senyum mengembang.
Helena menarik nafasnya setelah itu mengangguk dan kaluar mengikuti langkah Ans yang mulai memasuki ruang tunggu.
Tak lama setelah kedatangan mereka, pemberitahuan keberangkatan terdengar, dan Helena kembali lagi berkata "penerbanganmu sudah tiba, segeralah bersiap"
"Kau tidak mau ikut denganku?"
"Mana mungkin aku ikut dengamu? kau jangan becanda"
"Tidak, aku tidak becanda!" tegas Ans "ayo" ajak Ans menggandeng tangan Helena dan menunutnya menuji pesawat.
"Jangan begini Ans, nanti kau bisa terlambat"
"Justru aku aka terlambat karena kau yang harus di seret dulu langkahnya" jawab Ans acuh.
Tangan yang tadinya menggenggam jemari Helena kini berpindah merangkul bahu wanita itu karena Helena yang susah sekali melangkah .
"Tapi aku tidak membawa pakaian dan lagi kau disana selama satu minggu"
"Bukan aku, tapi kita dan masalah pakaian? kau tidak perlu khawatir karena uangku tidak akan habis hanya karena membelikanmu beberapa potong pakaian"
"Tap-"
"Tidak ada tapi! diam dan menurutlah!"
Akhirnya Helena pasrah akan kemauan Ans dia berjalan beriringan di samping Ans tapi sepanjang perjalanan hingga sampai dan duduk di kursi penumpang ada yang salah dari wanita itu.
Badannya berkeringat dingin, wajahnya berubah menajdi pucat, dan Ans baru menyadari saat tak sengaja tanganya menyentuh jemari Helena yang sedari tadi saling meremas dengan gelisah.
__ADS_1
"Ada apa hm?" tanya Ans lembut.
"Ti tidak"
"Kau takut?"
Helena dengan cepat mengangguk mengiayakan pertanyaan Ans, dia tidak bisa berbohong karena percuma wajahnya sudah bisa menjawab semuanya.
"Kenapa takut? bukankah kau juga pernah menaikinya saat kau dari jakarta kemari?
Helena kembali mengangguk, rasanya hanya itu yang bisa di lakukan saat ini, lidahnya terasa keluh untuk menjawab setiap pertanyaan Ans.
"Lalu bagaimana caranya kamu menaikinya jika kau takut?"
"Aku memejamkan mataku dan tidur?" jawab Helena setelah sekian lama bibirnya keluh.
"Maka lakukan itu juga. pejamkan matamu dan tidur saja"
Ans meraih kepala Helena untuk di sandarkan di dada bidangnya, tanganya menautkan jemari mereka, dan Helena mengikuti apa yang di katakan padanya.
Benar saja Helena sudah tidak gelisah lagi, bahkan saat ini dia sedang tertidur pulas di pelukan Ans, dan pria itu denga setianya mengelus kepala Helena dengan sayang.
"Bangunkan aku jika kita sudah sampai" ucap Helena sebelum akhirnya dia benar benar tertidur.
Ans tersenyum mendengar perkataan Helena yang masih sempat sempatnya menyuruh Ans untuk membangunkan dirinya nanti, memangnya apa yang dipikirkan gadis itu? apa dia pikir Ans akan meninggalkannya di dalam pesawat? sunggguh lucu sekali jika di pikirkan.
Lili dan Riko sudah sampai di bandara kota kelahiran Lili, wajah berseri Lili tidak terlepas sedari tadi, dan semakin berseri lagi setelah kakinya menginjak kota kelahirannya.
"Sepertinya kau terlalu bahagia hingga melupakanku" sindir Riko.
Bagaimana Riko tidak berkata seperti itu, sejak pertama mereka memasuki pesawat di bandara kota Asal hingga sampai di bandara yang kini mereka masih tunggu, Lili tidak lagi menghiraukannya.
Lili berjalan selalu mendahului Riko, tidak lagi mendengar seruan dari Riko yang menegur dirinya agar berjalan lebih hati hati, dan lebih parahnya lagi dengan tidak merasa bersalah Lili meninggalkan Riko dan membiarkan pria itu menggerek koper mereka sendirian.
"Ck, kenapa manyun terus sih!" ketus Lili.
"Adakah istri yang menanyakan kenapa suaminya jika ternyata dialah penyebabnya" sindir Riko.
"Ha..Apa maksud kamu sayang?"
Lili belum sadar akan perbuatannya sehingga dia berlagak tidak paham akan maksud dari Riko yang menganggap dirinya menganiaya Riko secara halus.
"Sayang.....Kau membiarkan aku seperti ini!" rengek Riko.
__ADS_1
Dia menunjukan keadaannya yang sekarang ini, kedua tangannya yang sudah ada dua koper besar, yang satu berisi pakaian mereka dan yang satu berisi ole ole untuk mertuannya sementara di bahu kanannya ada selempang Lili yang terkait, dan lagi masih ada satu kardus yang berisi cemilan ringan untuk Lili selama berada di rumah kedua orang tuanya.
Bukannya kasihan, Lili malah tertawa terbahak melihat keadaan suaminya yang cocok di katakan kurir pengangkat bakul di pasaran.
Lili benar benar tidak bisa menahan tawanya dan itu membuat wajah Riko semakin masam, tidak habis pikir kenapa istrinya malah bertingkah seperti itu.
Bahkan sangkin kerasnya Lili tertawa beberapa orang melihat ke arah mereka dan sialnya lagi mereka ikut menertawakan penderitaan Riko.
"Sudah tertawanya!" kata Riko mengeratkan giginya.
"Belum..Hahahaha"
"Sudah hentikan tawamu atau aku tidak akan membrimu ampun setelah tiba disana!"
"Baiklah baiklah, aku tidak akan tertawa lagi dan ayo aku bantu"
Lili mendekat menghampiri Riko, tangannya terulur dan mengambil salah satu dari beban yang ada di Riko, tapi lagi lagi Riko melongo seperti orang bodoh melihat apa yang di ambil oleh istrinya.
Bagaimana tidak seperti itu, jika Lili hanya mengambil tasnya saja dan pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sama sekali, padahal Riko tadi sudah senang mendengar perkataan Lili yang akan membantunya.
Dengan lemas Riko menggeret kopernya hingga tiba di taksi yang sudah terparkir disana, dan untung saja supir taxi sadar diri membatu memasukan koper ke dalam bagasi mobil.
"Kenapa kau lama sekali sayang?" tanya Lili dengan polosnya.
Riko yang tadinya menyandarkan tubuhnya dengan malas di sandaran kursi penumpang langsung menegakkan kembali badannya.
Berusaha keras menahan kekesalan di hatinya
karena pertanyaan konyol dari istrinya "untung istri, jika tidak udah aku pites deh tuh mulut" batin Riko dengan tangan yang mengelus dadanya.
"Sayang bisa kah kau diam dulu? aku ingin istrahat sebentar" ucap Riko dengan senyum yang dipaksakan.
"Kau ingin istrahat?" tanya Lili yang di angguki Riko.
"Apa kau capek sayang?" tanya Lili lagi yang kembali di angguki Riko.
Kali ini sedikit ada secerca kecerahan di wajah Riko saat Lili melontarkan pertanyaan 'apa kau capek sayang' dia berharap dengan mengangguk makan Lili akan menegerti dan mungkin dia akan mendapat perhatian dari Lili, tapi harapan tinggal harapan saat kembali mendengar perkataan Lili.
"Oh capek ya? yasudah kau tidur saja" jawab Lili sekenanya.
"Ya Tuhan.... kenapa istriku mendadak berubah menjadi menyebalkan semenjak hamil..." jerit Riko dalam hati "jika tau akan seperti ini, lebih baik aku membuatnya tidak hamil saja" lanjut Riko seraya mengusap wajahnya dengan kasar dan kepalanya di sandarkan dengan kasar ke belakang.
Bersambung...
__ADS_1