Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
suka


__ADS_3

Orang Orang yang ada disekitar mereka tentu saja menyaksikan tingkah Rajesh yang seperti orang bodoh hanya karena istrinya yanh bicara sedikit dekat dengannya, itulha yang ada dipikiran mereka.


"Lihatlah Putramu Kak, dia sudah seperti orang bodoh saja sekarang" kata Silvie.


"Biarkan saja, namanya juga jatuh cinta" kata Clara yang tentu saja akan membela anaknya.


"Iya, itu akibat sikapnya yang terlalu dingin jadinya saat jatuh cinta seperti ini akhirnya hihihi" Silvie terkiki geli menyaksikan sikap keponakanya.


"Sudah biarkan saja, lebih baik kita nikmati saja sikpa hodohnya itu" kata Heru meninmpali.


"Selamat siang...." sapa Anan beserta keluarganya.


"Astaga Anan.... maaf kami mengabaikan kalian karena terlalu senang" kata Heru.


"Ayah...Ibu.. Kakak..." sapa Nara dengan senyum lembutnya, dia melangkah mendekat dan memeluk satu persatu keluarganya yang juga langsung diikuti oleh Rajesh, melakukan hal yang sama.


"Selamat sayang, atas pernikahan kalian" kata Naina dengan mata yang berkaca kaca.


"Terimakasih Bu, terimakasih karena semua doa Ibu untukku" kata Nara.


Nara sudah meneteskan air mata haru, rasanya sangat cepat jika harus berpisah dengan orang tuanya, tapi bukankah lazimnya anak perempuan pasti akan pergi meninggalkan rumah dan keluarganya untuk membentuk rumah tangga dan mengikuti kemanapun suaminya membawa.


"Hei dua wanita Ayah... jangan ada yang menangis terutama untuk pengantinnya, ini hari pernikahanmu sayang dan ayah tidak ingin ada air mata kesedihan hari ini" kata Anan menegaskan walau sebenarnya dalam hatipun dia ingin sekali menangis melihat putirnya kini akan ada yang miliki dan pertanggungjwabkan.


Tanganya naik dan membersihkan sisa air mata Nara lalu mengecup kening putrinya dengan sayang, "selamat atas pernikahanmu sayang, semoga selalu bahagia" ucap Anan dengan suara yang sedikit bergetar.


"Terimkasih ayah" kata Rajesh dan merangkul tubuh istrinya yang kini mulai tersedu.


"Kau jangan putriku dengan baik, cintai dan bahagiakan dia.. jika kelak cintamu padanya tidak ada lagi, maka kembalikan dia padaku tapi jangan pernah menyakitinya... masih ada kami yang sangat sayang dan mencintainya" kata Anan membuat Nara tidak dapat lagi membendung tangisnya mendengar perkataan ayahnya yang begitu tulus.


"Saya pastikan itu tidak akan pernah terjadi Ayah, aku sudah bersumpah akan mencintainya sampai mati dan akan berusaha untuk mencintainya dengan sangat, akan melakukan apapun asal itu menjadi sumber bahagianya" kata Rajesh dengan pelan tapi tegas penuh keyakinan.


Anan tersenyum, dia percaya dengan menantunya dan jujur saja hatinya merasa lega kini karena putri satu satunya berada di tangan orang tepat dan dia yakin tidak salah menerima Rajesh sebagai suami dari putrinya.


"Ayah percaya padamu"


"Haiii Princess kakak...." sapa Lionel.


"Kakak..."

__ADS_1


"Selamat sayang atas pernikahanmu, kita tidak akan pernah main boneka lagi, Kakak tidak akan menemanimu main masak masak lagi karena sudah ada suamimu yang akan menemanimu... jika kau mau kau katakan saja padanya dan jika dia tidak mau melakukannya katakan pada kakakmu dan kakak akan datang untuk menemanimu tapi itu setelah Kakak membuat perhitungan dengan suamimu" ucap Lionel bercanda tapi ada terselip keseriusan saat mengatakannya.


"Pasti Kakak..."


"Selamat adik manis" kata Martha yang kali ini adalah gilirannya.


"Terimakasih kak"


"Dan kakak punya hadiah untukmu dihari pernikahanmu" kata Martha dengan senyumnya.


"Apa itu Kak?" tanya Nara penasara.


"Ulurkan tanganmu"


Nara mengikuti, mengulurkan tangannya sesuai perintah kakak iparnya dan tak lama benda kecil yang bertuliskan dua garis merah terlihat membuat Nara sedikit bingung, tentu saja karena dirinya sangat awam akan hal seperti itu.


"Keponakanmu didalam sini juga ikut menyaksikan tantenya mengucapkan janji suci" kata Martha dengan tangannya meletakan tangan Nara di perutnya yang masih rata membuat senyum gadis itu merekah bahagia.


"Benarkah ini Kak?" tanya Nara memastikan.


"Benar, kau akan menjadi Tante" kata Martha meyakinkan adik iparnya.


"Ohhh selamat Kak, aku sangat bahagia" kata Nara.


"Sangat... sangat cukup" kata Nara cepat.


"Kakak senang mendengarnya tapi kakak tetap punya hadiah untukmu"


"Apa itu?"


"Tunggulah, nanti kamu juga akan tau"


Nara mencebikkan bibirnya kesal karena harus pemasaran dengan sikap kakaknya, "baiklah walau aku kesal tapi akan menunggu saja" kata Nara.


"Heii jangan manyun, ingat kamu sudah menikah berarti sudah dewasa" kata Lionel membuat Nara salah tingkah karena memang bisasanya dirinya tidak mau dikatakan anak kecil tapi malah sikapnya seperti anak kecil.


Semua orang tertawa mendengar perkataan Lionel sementara Rajehs membawa Nara dalam pelukannya, dia sadar istrinya sangat malu karena dikelilingi banyak orang baru yang tak dikenalnya.


"Sudah.... lebih baik kita langsung berangkat ke Hotel sekalian istrhat sebentar sebelum resepsi dimulai" kata Heru yang langsung dijawab anggukan oleh semuanya.

__ADS_1


Mereka akhirnya berangkat dengan Nara dan Rajesh satu mobil dan disupiri oleh Leo dan yanglainnya menyusul dengan mobil dan keluarga masing masing.


Sampai di hotel semuanya masuk dikamar masing masing dan Rajesh beserta Nara juga ikut masuk dikamar yang sudah disediakan pihak hotel, kamarnya masih tampak biasa saja, tidak ada hiasan ataupun mawar seperti kamar kamar pengantin lainnya dan jujur saja itu sedikit membuat Nara kecewa tapi kembali lagi dirinya mengingat jika waktu perisapan pernikahan mereka sangatlah singkat dan mungkin karena ini hal yang sedikit tidak begitu penting sehingga terabaikan pikir Nara, tampan tau jika Rajesh sudah menyiapkan semua untuknya hanya saja tidak sulap saat ini.


Nara menyusuri setiap sudut kamar itu dengan mata indahnya, menelisik dan menilainya. Nara bisa melihat jika kamar yang saat ini mereka tempat adalah kamar yang termewah yang jadi andalan dalam hotel itu, jangan tanyakan dari mana Nara tau karena dasarnya dia berasal dari keluarga yang mapan dan sudah pasti hal hal seperti ini sudah biasa terlihat olehnya.


Kegiatan Nara terhenti kala kedua tangan kekar melingkar diperutnya dan sudah ditebak siapa, dia adalah si Tuan Muda, sang suami dari gadis cantik itu.


"Kau suka kamarnya?" tanya Rajesh yang dijawab anggukan oleh Nara.


"Maaf hanya bisa menyediakan ini untukmu, kamu tau kan waktu kita sangat tidak banyak" kata Rajesh dengan wajah dibuat sesesal mungkin.


Nara menerbitkan senyum manisnya, dia tidak keberatan sama sekali, baginya ini sudah sangat cukup dan masalah kamar pengantin dirias sedemikian rupa itu bukanlah hal yang terlalu penting karena kabahagian tidak terukur dari mewahnya acara pernikahan.


"Tidak masalah, jangan merasa bersalah seperti itu... aku tidak keberatan jika hanya seperti ini, lagi pula ini sudah lebih dari cukup untukku.. aku tau kamar ini yang termewah kan?"


"Iya, tapi harusnya aku menyiapkan semuanya sampai selesai tapi malah tidak terkejar"


"Ckck...sudah jangan bahas lagi, aku capek ingin istrhat sebentar, apa boleh?" tanya Nara dengan senyum manisnya.


"Hanya ingin istirahat? tidak mau yang lain gitu?" tanya Rajesh menggoda Nara.


Pipi Nara bersemu merah, pikirannya sudah Travelling memilkirkan hal hal berbaur suami istri membuat Rajesh yang sangat peka langsung terbahak, "apa yang kamu pikirkan sayang? kami memikirkan kita sedang ehmm..?" tanya Rajesh dan tangannya langsung merangkul pinggang Nara merapatkan tubuh mereka.


"Ja...jangan seperti ini Mas, tidak enak" kata Nara terbata bata karena gugup


"Tidak enak sapa siapa? dan itu panggilqnnya aku sangat suka, rasanya lembut dipendengaranku" kata Rajehs dengan senyum menggodanya.


Nara semakin dibuat salah tingkah, tidak pernah ada pria yang berada sedekat ini dengannya kelcuali ayah dan kakaknya tapi kini ada pria asing yang sayangnya adalah suaminya berada satu ruangan dan bahkan dekat sepertin ini membuat jantungnya terpompa sangat cepat.


"Jangan...." kata Nara berusaha melepaskan diri dari pelukan Rajesh tapi sayang tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria tampan itu.


"Kenapa jangan? aku suamimu Nana... biasakan dirimu berada di dekatku, biasakan dirimu dengan keadaan dan posisi seperti ini karena asal kami tau hal dan posisi seperti ini akan terjadi setiap saat dengan kita" kata Rajesh lebit tapi penuh penuh penekanan.


Nara akhirnya diam, tidak lagi memberontak untuk melepaskan diri, apa yang dikatakan suaminya benar dan harusnya dia bisa menyesuaikan dirinya.


"Maaf..." cicit Nara.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2