Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Bingung


__ADS_3

Janeth mundur beberapa langkah mendengar perkataan Lili yang tidak main main, dia terkejut bagaimana bisa wanita di hadapannya ini bisa berkata seperti itu, tidak akan bisa membayangkan bagaimana nanti jika Riko menyuruhnya enyah dan menghilang dari hadapannya.


Tidak, dia tidak bisa jika Riko menyuruhnya pergi dan dia tidak mau itu, tapi akal logikanya kembali menguasai dirinya, dia berpikir bukankah sama saja jkadia berhenti sekarang dia tidak akan bertemu dengan Riko atau di suruh enyah juga sama tidak akan bertemu dengan Riko.


Kembali Janeth menguasai perasaanya menantang Lili dan berkata "aku tidak menyangka wanita seperti dirimu bisa berkata dan mengancamku seperti ini, apa benar kau akan melakukan hal itu jika aku tidak mau berhenti? tapi sayang sekali aku tidak mau berhenti!" ucap Janeth tegas.


"Tidak masalah! tapi sekali lagi aku tegaskan, aku bukan istri yang hanya bisa menangis jika duri datang memasuki keluargaku, aku akan bertindak dan aku rasa kau sudah merasakannya beberapa saat yang lalu bukan?" ucap Lili dengan senyum smirknya.


Janeth menahan amarahnya yang tiba tiba memuncak, dia sangat tau jika Lili memang sengaja melakukan itu semua untuk menunjukan jika Riko miliknya dan Janeth tidak akan bisa merebut Riko lagi.


"Pikirkan lagi nona, aku menawarkan dengan baik padamu!" ucap Lili dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban lagi.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan dengan cara halus maka aku akan menggunkan cara licik Lili, aku akan merebut paksa dirinya" ucap Janeth dengan mata yang tidak lepas dari Lili yang sudah melesat pergi dengan menggunakan mobilnya.


Dalam mobil Lili berulang kali menghela napasnya, memikirkan perkataan Janeth yang masih belum mau menyerah juga, Lili sebenarnya tidak takut jika Janeth masih bersikap wajar tapi bagaimana jika dia berbuat nekat pasti akan menimbulkan masalah untuk mereka nanti.


"Bagaimana jika dia berbuat nekat" batin Lili dengan helaan nafas yang terasa sangat berat.


Lili terus memikirkan bagaimaba cara menghentikan Janeth agar tidak lagi melanjutkan perjuangannya, karena tidak menutup kemungkinan jika sudah terobsesi seseorang bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Nona, anda baik baik saja?" tanya supir yang sedari tadi melihat majikannya terus menghela napas.


"Nona..Nona!" tegur supir dengan suara yaang sedikit keras membuat Lili tersentak dari lamunannya.


"Eh iya ada pak?" tanya Lili.


"Nona, tidak apa apa? dari tadi nona melamun apa ada masalah?" tanya supir khawatir jika terjadi sesuatu pada majikannya.


"Tidak, saya baik baik saja pak, tidak ada masalah sama sekali" jawab Lili dengan senyum manisnya untuk menunjukan seolah dia tidak apa apa.


"Tapi nona seperti punya masalah?" tanya supir.


"Tidak, saya tidak memiliki masalah kok pak tenang saja!" ucap Lili.


Keadaan kembali hening, Lili kembali pada lamunannya, memikirkan bagaimana caranya menghentikan Janeth, dia ingin mengatakan pada Riko tapi takut jika Riko menganggapnya berlebihan.

__ADS_1


***


Helena saat ini sedang berbaring berselonjor kaki di dalam kamarnya, karena tidak memiliki kesibukan akhirnya Helena memutuskan untuk bermalas malasan di dalam kamar sembari menyibukkan diri dengan majalah.


Sedang sibuk sibuknya, ponsel miliknya berdering dan segera dia meraih dan melihat berpikir jika itu panggilan dari suaminya.


Tapi senyumnya meredup kala melihat ID pemanggil dan itu adalah ibunya yang menghubungi, ragu ragu Helena antara menjawab atau tidak karena dia yakin jika Ibunya pasti akan menyakan kapan dia akan kembali.


Bukan tidak mau kembali atau tidak suka bersama keluarganya, tapi keadaannya yang kini membuat dia sangat tidak bisa kembali walau hanya sekedar melepas rindu.


Setelah menimbang beberapa menit akhirnya Helena memutuskan untuk menjawab panggilan dari Ibunya "hallo Ibu" ucap Helena ragu ragu.


"Hallo nak, gimana kabarmu?" tanya ibu di sebrang sana.


"Aku baik Bu, gimana disana? sehat" tanya Helena.


"Kamu baik, kamu kapan pulang?"


Deg


"Tunggulah Bu, aku sedang berusaha disini" jawab Helena menggigit bibir bawahnya karena lagi lagi harus berbohong pada Ibunya.


"Nak, jika kau tidak sanggup maka pulanglah, ibu tidak butuh banyak uang jika kita harus terpisah jarak, tapi biar pun kehidupan kita seperti dulu asalkan kau berada dekat Ibu itu sudah cukup" ucap Ibu dengan suara lirih.


Tak terasa air mata Helena tumpah tanpa bisa di ajak kompromi mendengar perkataan ibunya, jika boleh memilih dia juga ingin seperti itu, tapi apa masih bisa seperti itu sekarang saat dia sudah punya kehidupan sendiri yang belum diketahui ibunya.


"Bu....aku juga ingin seperti itu tapi aku juga tidak bisa melihat kalian kesusahan, aku harus berjuang Bu harus berjuang" ucap Helena dengan bibir bergetar.


"Helen...kau bekerja dimana sekarang?"tanya Ibu setelah mengingat sesuatu.


"Em masih di tempat sebelumnya Bu" jawab Helena gelagapan.


"Kau tidak bohong?" selidik Ibu.


"Tidak Bu, apa pernah aku membohongimu?" tanya Helena balik.

__ADS_1


"Bukan bukan seperti itu, hanya saja kirimanmu banyak sekali nak, bahkan berkali lipar dari biasanya" ucap Ibu menjawab.


Helena diam mendengar perkataan Ibu "Mungkin Ans yang melakukannya" batin Helena.


"Hallo Helen jau dengar Ibu" seru Ibu.


"Eh iy iya bu, itu em itu bos Helen kebetulan bagi bagi bonus bu karena pendapatan restorannya meningkat pesat" jawab Helena memberi alasan.


"Ohh, jadi begitu nak?"


"Iya bu, oh ya aku harus kerja dulu waktu kerjaku sudah mulai" bohong Helena.


Panggilan terputus, Helena kembali termenung dan sudah tidak berminta membaca majalah lagi, dia memikirkan bagaimana caranya berbicara pada ibunya dan apa yang akan terjadi jika Ibu nya tau.


Helena yang sibuk bergelud dengan pikirannya tidak lagi menyadari kedatangan Ans, bahkan sapaan Ans pun tidak dia sahuti sangkin sibuknya berpikir.


Ans yang melihat istrinya melamun mendekat dengan tangan yang bergerak melepaskan dari dan kancing kemeja lalu melepaskannya sehingga kini tersisia singlet saja.


Tangan Ans bergerak mengelus pipi Helena membuat wanita itu tersentak kaget "sayang..." panggil Ans lembut.


"Kau sudah pulang?" tanya Helena.


"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Ans dengan bibir yang sudah menempel di pelipis Helena.


"Tidak ada" jawab Helena yang tidak berniat untuk mengatakan pada Ans.


"Jangan bohong, beritau suamimu ini ada apa?"


Helena menarik nafasnya lebih dulu "siapa yang mengirimi Ibu uang?" tanya Helena.


"Tentu saja suami mu ini" jawab Ans santai.


"Berapa banyak? kenapa Ibu sampai menanyakan apa pekerjaanku disini"


"Kurang tau, tapi yang pasti bisa memenuhi kebutuhan Ibu dan adik2 sekolah" ucap Ans.

__ADS_1


"Tapi Ibu menanyakan apa pekerjaanku, karena uang yang di terima tidak seperti biasanya" ucap Helena yang merasa gelisah.


__ADS_2