
Sudah satu minggu Ruben terbaring lemah di atas brankar rumah sakit, dan selama satu minggu itu juga santi tak pernah beranjak dari sana.
Ia dengan setia menjaga merawat bahkan tak pernah ada kata bosan untuk dia mengajak sang suami bercerita meski ia tau bahlan sangat tau kalau tidak ada respon dari suaminya, namun ia tidak menyerah dan terus berisaha membuat sang suami bangun dari tidurnya.
Seperti Sore ini, Santi sedang membasuh tubuh suaminya dengan haduk yang sudah ia celupkan kedalam air hangat.
Tangannya terus bergerak dan mulitnya pun tak berhenti untuk berucap, bahkan sesekali ia bersenandung untuk sang suami meski jauh dalam lubuk hatinya ia ingin sekali menangis dan berteriak,
Tapi itu semua ia coba tahan agar tidak menangis di depan sang Suami yang kata dokter itu akan membuat pasien merasa enggan untuk bangun.
Setelah selesai Santi memandikan Rubeb ia memakaikan baju Suaminya.
" Sudah selesai. Sekarang mas udah tampan, udah wangi dan itu membuat aku semakin jatuh cinta dan semakin mencintaimu." ujar Santi berusaha tersenyum walau sebenarnya saat ini senyum itu merupakan sebuah senyum kepahitan.
Masih terdiam memandang wajah pujaan hatinya, mengabsen setiap inci wajah Ruben, tak ada niatan untuk mengalihkan tatapanya.
Namun, pandangan itu harus teralihkan karna suara pintu yang terbuka menampakan Ans yang datang membawa kantong kresek berupa makanan untuk majikannya.
Ans berjalan perlahan menuju meja kecil yang ada dalam ruangan itu kemudian meletakannya disana.
" Nona makan dulu." ucap Ans
" Tidak. Aku tidak lapar." jawab Santing menggeleng.
__ADS_1
" Tapi nona sudah sedari siang tidak makan. Bagaimana kalau nona sakit.? trus siapa yang akan merawat tuan disini nanti.?" tanya ans lagj berusaha membujuk majikannya.
" ya, baiklah aku akan makan." jawab santi pada akhirnya mengalah karna ia tidak mau sampai sakit dan hal itu akan membuat ia tidak bisa merawag suaminga nanti.
Santi berlalu menuju meja kecil yang terdapat makanan itu, duduk dan kemudian mebuka kantongannya dan mulai menyantap makanannya.
Meski sebenarnya ia tidak ada nafsu makan tapi ia harus paksakan agar tidak sakit, selagi asyik dengan makananya ia tidak menyadari seseorang yang selama satu minggu ini ia tunggu ternyata telah membuka matanya.
" tu-" Ans yang terkejut karna tuanya telah sadar ingin sekali berteriak tapi kembali berhenti saat Ruben memberi isyarat gelengan kepala, kemudian matanya berali menatap Wanita cantik yang selama ini ia cintai dalam diamnya.
Ruben menatap lekat kearah santi yang masih asyik dengan makananya dan tidak menyadari seseorang tengah memperhatikannya tanpa berkedip.
Menyadari hal itu, Ans pun perlahan mundur keluar dari ruangan itu, ia ingin memberi waktu bagi kedua insan itu untuk melepas rindu yang sudah menggunung mungkin.
Santi selesai makan dan merapikan kembali sisa makannya, membuang bungkusan makanan itu ke tong sampah dan itu swmua tak luput dari penglihatan Ruben. Hingga Santi kembali berbalik ingin menuju brankar namun terhenti saat...
Deg....
Santi terpaku di tempatnya melihat obyek didepan matanya. Seseorang yang sungguh amat ia rindukan kini tengah memandang kearahnya dengan tatapan yang sulit untuk di menegertinya.
Tanpa pikir panjang, Santi langaung mengahmbur memeluk Ruben dengan erat. Ia menagis lagi, tapi kali ini bukan tangisan kesedihan lagi melainkan air mata bahagia yang tengah ia lakukan.
" Kamu sudah sadar mas.? kamu sadar.? kamu sudah sadar. Aku aku sangat bahagia mas, aku sangat bahagia." ucap Santi dalam pelukab Ruben dan di tengah tengah tangisnya.
__ADS_1
Ruben membalas pelukan Istrinya tak kalah eratnya. Sesungguhnya ini kali pertama Ruben dapat merasakan pelukan hangat istrinya selama mereka menikah Dan tentu saja tidak ada bedanya juga bagi santi ini merupakan pelukan pertamanya bersama suaminya.
Ruben melerai pelukanya dan melihat wajah Santi dengan intes, perlahan kedua tanganya terulur mengapit kedua pipi Santi dan kemudian menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
" kenapa kamh menangis seperti ini hem.?" tanya Ruben yang masih setia menatap dan mengapit wajah istrinya
Santi langsung menjawab, ia menundukan wajahnya tak berani beradu pandang dengan suaminya itu.
" ak..aku bahagia kamu sudah sadar mas. Aku senang melihatmu sudah bangun dari komamu." jawab Santi masih tetap menunduk.
" Kenapa.? apa kamu takut aku tidak pernah bangun lagi.?" goda Ruben. Ia tau bahkan sangat tau apa yang di rasakan oleh sang istri. Karna selama ia koma, Santi selalu saja mengatakan persaannya dan juga harapannya untuk kesembuhan Ruben.
Meski Ruben koma, tapi ia masih bisa mendengar apa pun yang di ucapka oleh orang orang yang mengunjunginya dan yang paling ia hafal suara adalah suara Santi sang istri.
Mendengar pertanyaan suaminya yang menurutnya konyol itu langaunng menengakkan kepala mandang kearah Ruben dan berkata.
" Kenapa pertanyaanmu konyol sekali sih.? itu tidak lucu tau." cebik Santi yang dibalas kekehan oleh Ruben.
" Aku kan hanya bertanya. Ya,,,tinggal jawab saja apa susahnya." jawab Ruben santai.
Santi.....
Bersambung.....
__ADS_1