
" Jadi benar dia adalah anakkku?" Ans kembali bertanya untuk memastikan pendengarannya.
" Iya" cicit Helena.
" Kenapa kau tidak datang mencariku."
Helena memandang Ans dengan tatapan tersehnyum mengejek lelaki itu. Apa lelaki itu lupa dengan perkataanya yang memintanya untuk pergi sejauh mungkin dan bahkan mengancam akan menyakiti keluarganya jika Helena berani muncul dihadapannya.
" Bukankah anda yang menyuruh saya pergi sejauh mungkin tuan? saya bantu ingatkan jika anda lupa." ucap Helena dengan nada sinisnya.
Ans dian mendengar jawaban Helena, dia tau dan dia sangat ingat akan hal itu, tapi kenapa wanita itu mau aja mengikuti perkatannya dan menanggung kehamilannya sendiri.
" Maaf." lirih Ans.
Helena tidak menjawab, dia sibuk memandangi wajah Ans, buka karena terpesona melainkan bingung dan tidak tau harus bagaimana menanggapinya.
" Kenapa kau diam saja?" tanya Ans yang tidak mendapatkan respon dari Helena.
" Jadi aku harus bilang apa?" tanya Helena mengerutkan keningnya.
" Ck, kau bisa bilang apa saja tapi jangan diam"
Ans sangat kesal mendapatkan respon dari Helena. Sebenarnya bagaimana dengan wanita itu? apa dia mendengar perkatannya atau tidak atau malah gadis itu masih marah padanya.
" Tapi aku tidak ingin mengatakan apapun, dan aku juga tidak tau mau bilang apa." Kata Helena tal kalah ketusnya.
" Katakan kau memaafkanku tidak?"
" Iya aku memafkanmu." jawab Helan singkat.
" Hanya itu?" tanya Ans
" Jadi kau mau aku bagaimana lagi."
" Aisshh kau ini. Sudahlah begini saja mari kuta menikah." ajak Ans mendadak yang membuat Helena tersendak ludahnya sendiri.
" Uhuk uhuk...kau sudah gila ya...!" teriak Helena yang sudah melupakan panggilan tuannya.
" Aku tidak gila, dan aku sungguh sungguh." jawab Ans tegas.
" Kenapa?" lirih Helena
" Aku hanya ingin bertanggung jawab ada anakku sampai dia lahir saja." kata Ans datar.
" Apa maksudmu?"
__ADS_1
" Kita buat kesepakatan. Kita menikah dan setelah anakku lahir maka kita akan berpisah."
" Aku tidak mau." tolak Helena.
" Kau tinggal pilih penolakkanmu atau keluargamu."
***
Dikediaman Riko. pasangan yang masih sedang hangat-hangatnya ini sibuk Kenata kediaman mereka karena kabar yang mereka dapatkan bahwa kedua orang tua masing-masing akan datang berkunjung dan mungkin akan menginap beberapa hari di sana.
Jadi inilah kegiatan mereka, langsung turun tangan membersihkan kamar yang akan ditempati oleh kedua orangtua mereka. bukan karena tidak memiliki asisten rumah tangga hanya saja karena Lili merasa bosan tidak memiliki kegiatan sehingga dia turun tangan sendiri untuk membersihkan kamar yang ditempati sebagai wujud penjemputannya.
Beda dengan Riko yang sepanjang kegiatan membersihkan kamar, dia tidak berhenti bersungut-sungut. Bagaimana tidak bersungut jika kegiatan ranjang yang ia impikan akan dilakukan sepanjang hari terganggu karena telepon dari orang tuanya.
Kembali pada beberapa waktu sebelumnya, di tengah-tengah olahraga Riko untuk yang ketiga kalinya harus terhenti karena deringan telepon beruntun yang Ternyata Dari mamanya.
"Ada telepon kamu angkat dulu gih. "kata Lily dengan nafas yang terengah-engah.
"Nanti saja . jawab Riko yang tidak kalah tengahnya dari Lili.
Panggilan pertama diabaikan hingga berakhir namun tidak sampai beberapa detik telepon kembali per detik pertanda bawah seseorang kembali memanggilnya dan lagi-lagi panggilan kedua berhenti sama yang pertama, namun tidak sampai beberapa detik deringan ponsel kembali berbunyi dan itu benar-benar sangat mengganggu konsentrasi Lili dalam menikmati kegiatan mereka.
"Sudah! konsentrasiku jadi terganggu. "ketus Lili seraya mendorong dengan keras tubuh Riko agar menyingkir dari atas tubuhnya."
"si*l. " umpat Riko yang langsung turun dan meraih celana pendeknya dan segera mengenakannya kemudian berjalan menuju nakas tempat ponselnya yang terus-menerus berdering.
" Eh ada apa denganmu? kok ketus gitu sama mama. Gak sopan."
"Yaelah Mama nih "kalau Riko.
" Loh ada apa denganmu? kenapa kamu seperti sedang kesal." tanya mamanya dengan polosnya.
" Iya aku sedang kesal. mama tau kenapa? karena mama sudah menggangu olah raga sianhku membuat cucu untukmu."
" Ohh yaaa.....! kamu sedang membuat cucu? astagaa maafkan mama ya sayang, mama tidak tau kalau kau sedang membuatkan itu untuk mama. Kau tau begitu mending kami gk usah kesitu ya." seru mama heboh.
" Kami? maksud mama kalian akan kemari? siapa aja ma?
Lili yang mendengar suaminya berkata kalau orabg tuannya akan kemari bergerak dan langsung mengunakan daster rumahnya kemudian mendekat dab merapat ke arah Riko. Riko pun merangkul pinggang Lili dan mengecup lembut kening dan bibir Lili yang sedang fokus menempelkan dan mendengarkan perkataan Mertuanya.
" Iya mana dan papa beserta kedua mertuamu." jawab mama di sebrang sana.
Lili yang mendengar perkataan mertuanya melopat kecil kegirangan karena akan kedatangan tamu yang tak lain adalah orant tua merek. Dengan gerakan cepat Lili menyampar gawai milik Riko dan dan menempelkan di telinga.
" Hallo mama." ucap Lili menyapa mertuanya.
__ADS_1
" Lili sayang apa kabar nak?"
" Aku sehat ma. Mama sama papa gimana? sehat." tanya Lili lembut.
"Iya mama sama papa sehat kok Sayang. Oh ya tidak apa-apa kan kalau kami main ke rumah kalian? bukan cuma mama sama papa aja kok, mama papa kamu juga akan datang dari kota " kata Mama yang sebenarnya sudah tidak berminat lagi. mengingat anak dan menantunya sedang membuat cucu untuknya sehingga dia berpikir takut jika mereka berdua terganggu namun jika dibatalkan kasihan kedua orang tua lidi yang sudah dalam perjalanan menuju ibukota.
"Wah..... Benarkah?" tanya Lili girang. " Aky senang kalau kalian datang, udah kangen soalnya sama papa dan mama." lanjut Lili.
" Yaudah, kemungkinan sore ya kami sampai."
" Ok ma. Aku dan mas Riko mau beres beres dulu." jawab Lili.
" Loh kan ada asisten ruamah sayang, ngapain kamu capek capek segala?"
" Gak apa kok mah, aku suka kok. Yaudah ta ma, aku beres beres sekalian mau masak untuk kita nanti malam."
itulah Alasannya kenapa sekarang mereka sedang sibuk membersihkan kamar yang akan ditempati oleh kedua orangtua mereka dan juga yang menjadi alasan ibu terus aja ke kerupuk sambil tangannya menggantikan sarung bantal serta seprai kasur yang ada di dalam kamar itu sementara Lili membantu pekerjaan yang lainnya
"Dasar mereka orang tua itu mengganggu saja! tidak tahu apa mereka kalau aku baru saja menikmati surga dunia dan harusnya satu hari ini aku bisa puas tapi ternyata malah gagal karena pekerjaan sialan ini." kesal Riko ia memukul-mukul bantal yang ada di tangannya dengan geram.
Lili yang mendengarkan gerutuan Riko hanya bisa menggeleng dan mengelus dadanya sungguh dia benar-benar sudah tidak mengenali Riko yang dulu lagi. Riko yang sekarang adalah manusia yang benar-benar sangat mesum pikirannya hanya kegiatan ranjang saja.
"Kamu tidak capek apa menggerutu terus? LilI terkekeh geli.
"Sudahlah kau kerjakan saja pekerjaanmu Tidak usah mengganggu ku." ketus Riko.
" Ck, kau kesal padaku ha! kalau iya maka aku tidak akan mau lagi memberimu jatah." sentak Lili yang juga ikut kesal karena sikap Riko.
Sontak saja Riko berdiri dari tempatnya dan berjalan dengan cepat menghampiri Lili. "tidak sayang aku tidak kesal padamu aku hanya kesal pada orang tua itu Kenapa mereka datang di waktunya tidak tepat." ungkap Riko dengan suara yang dibuat selembut mungkin dan memeluk istrinya dari belakang.
" Mereka orang tua kita, dan aku tidak suka kau berkata seperti itu." tegas Lili.
" Iya sayang aku janji tidak akan seperti itu." jawab Riko. " Tapi tetap kasih jatah yah sayang.." rengek Riko dengan posisi yang masih memeluk Lili.
" Tidak." tolak Lili.
" Sayang....." rengak Riko
" Apa sih." ketus Lili yang berpura purah marah, padahal bibirnya sudah simpul membentuk senyuman.
" Iya aku kasih tapi kau harus mengerjakan pekerjaanmu dan berhenti menggerutu."
" Baiklah sayang akan aku kerjakan tapi malam nanti kita meronda lagi ya." kata Riko penuh semangat sebelum akhirnya dia mencium kilat pipi istrinya dan kembali mengerjakan pekerjaaanya.
Lili hanya mengangguk dan kemudian kembali meneruskan pekerajaanya.
__ADS_1
Bersambung....