
Ans dan pasangaya Helena sudah tiba di tempat tujuan mereka, mata Helena yang tadinya masih berat mendadak meleg karena melihat pemandangan yang sangat memanjakn mata.
Walau masih di Bandara tapi dapat dia tebak jika tempat yang mereka tuju ini adalah tempat yang kaya akan keindahan alam yang bisa membuat siapa saja yang berkunjung tidak merasa bosan.
"Kita dimana?" tanya Helena yang memang tidak pernah tau tempat tempat seperti ini mengingat dirinya yang tidak pernah jalan jalan karena faktor keadaan.
Dulu saja, Surabaya tidak pernah terlintas di pikirannya untuk memulai kehidupan, tapi karena infotmasi dari teman kerjanya dulu sehingga dia mengenal kota itu.
Dan ternyata Kota itu pula yang membawa dirinya bertemu dengan pria tampan yang saat ini sudah menjadi suaminya, walau belum tau pasti akan seperti apa kelanjutan hubungan mereka kedepan, tanpa tau jika Ans sudah menyiakan sesuatu yang akan di ingat seumur hidupnya.
Supir taxi yang di tugaskan untuk menjemput menyambut kedatangan mereka dengan hormat, karena sebelumnya dia sudah di beri tau kalau tamu yang akan di sambut adalah tamu VIP.
"Selamat datang di Daerah kami yang penuh pesona tuan nona" sapa supir.
"Kau yang bertugas menjemput kami?" tanya Ans dengan wajah datarnya, seperti bisa yang dia perlihatkan pada para bawahannya.
"Benar tuan! mari silahkan masuk" ajaknya.
Supir itu berniat membuka pintu mobil untuk Helena tapi dengan cepat Ans mendahuluinya "Bereskan koper kami!" titah Ans.
Helena sendiri memilih untuk tidak banyak kata, karena dia ingin sekali sampai di tempat yang akan mereka tuju, apakah akan ada tempat yang membuatnya tidak bosan atau tempat itu hanya akan di datangi para kolega suaminya.
"Apa di tempat tujuan kita ada pemandangan yang indah?" tanya Helena setelah mobil yang mereka tumpangi mulai membelah jalanan mengantarkan mereka.
"Aku tidak tau, karena aku juga baru pertama kalinya kemari" jawab Ans sekenanya.
"Jadi aku akan sendirian jika kau kau pergi?"
"Aku pergi kemana?" jawab Ans berbalik tanya.
"Bukankah kau ada perjalanan dinas disini?"
"Kata siapa?"
"Lalu jika bukan, apa dong?"
__ADS_1
"Liburan karena kau ikut, jadi aku terpaksa ambil libur saja" kilah Ans.
"Kenapa begitu?" lirih Helena "harusnya tadi aku tetap menolakmu saja, agar pekerjaanmu tidak terbengkalai"
Helena menundukan wajahnya, merasa bersalah karena Ans yang tidak jadi bekerja karena dirinya, harusnya dia tadi tetap menolak ajakan Riko.
Sementara Ans yang melihat perubahan wajah Helena sudah tidak sanggup lagi meneruskan rencananya, toh mereka sudah sampai dan masalah lainnya akan di atur berikutnya.
"Jangan merasa bersalah begitu, aku memang sengaja ingin liburan, bukan karena dirimu" jawab Ans.
DIa mengangkat dagu Helena agar mereka bisa saling menatap, dan benar saja dia melihat mata wanitanya berkaca kaca dan dia tidak suka itu.
"Jadi bukan karena aku?"
"Bukan! jadi jangan menagis ok" ucap Ans dan menyandarkan kepala Helena untuk bersandar di dada bidangnya.
Mereka terus seperti itu sepanjang jalan, dan mengabaikan sang supir yang terus mencuri pandang lewat kaca spion yang ada disana, sebenarnya Ans tau akan hal itu dan dia membiarkan saja.
Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu satu jam untuk sampai di tempat yang sesuai dengan keinginan Ans dan memang sudah di booking oleh Miko beberapa yang lalu.
DIa terus mengedarkan pandanganya menatap takjup pada tempatnya yang sejuk, dan lagi resort yang akan mereka tempati bisa memanjakan mata mereka yang berahadapan dengan alam bebas dan pantai Nihi.
"Apa kau suka?" tanya Ans dengan tangan yang melingkar mesra di bahu Helena.
Helena menjawab dengan anggukan karena fokusnya masih pad tempat yang akan mereka tempati selama satu minggu ini.
"Boleh kita masuk sekarang?" tanya Helena setelah puas menyusuri pandanganya pada bagian luar Resort.
"Tentu saja!" jawab Ans "ayo kita masuk" ajak Ans.
Mereka masuk ke dalam resort dengan tangan Ans yang kini berpindah melingkar indah di pinggang Helena yang mulai melebar karena kehamilannya.
"Bagus sekali tempat ini" gumam Helena.
"Apa kau tidak pernah bepergian?" tanya Ans yang kini berada di dalam kamar yang akan mareka tempati, menyandarkan punggungnya di dinding.
__ADS_1
Sementara Helena menggeleng sebagai jawaban dan kakinya terus melangkah menuju balkon yang ada di kamar itu.
Ans menyusul Helena yang berdiri di balkon memandang lurus keindahan alam yang dapat du lihat langsung dari tempat mereka dan memeluknya dari belakang.
"Aku akan membawamu bekeliling indonesia jika anak kita lahir" ucap Ans menjatuhkan dagunya di bahu Helena.
Helena diam mendengar perkataan pria itu, benarkah dirinya masih bisa menikmati moment seperti ini jika Anak mereka sudah lahir sementara perjanjian mereka akan berpisah setelah anaknya lahir.
"Benarkah yang kamu katakan Ans? bukankah kau bilang akan berpisah setelah anak kita lahir? lalu bagaimana kau bisa membuatku berharap seolah kita akan terus bersama" batin Helena.
"Ku harap kamu bisa memahami sikap ku ini padamu Helen, agar aku tidak lagi mengatakannya padamu" batin Ans.
Ans membatin berharap Helena bisa mengartikan semua perlakuannya selama ini, tanpa tau jika wanita pada umumnya jauh lebih membutuhkan ucapan itu dari pada tindakan.
Walau sebenarnya mereka akan senang dan bahagia jika di perlakukan baik dan manis serta merasa di cintai tapi jika tidak ada ungkapan cinta maka akan sia sia saja apa yang di lakukan oleh Pria.
"Kenapa kau begitu baik?" lirih Helena.
Pertanyaan Helena sukses membuat Ans melepasakn pelukannya, padahal baru saja dia berharap Helena bisa memahaminya tapi koni pertanyaan yang menurut Ans sangat konyol di lontarkan oleh wanita itu.
Helena pun sebenarnya ragu untuk menayakan itu karena takut jika nanti jawaban Ans akan menyakiti hatinya, tapi dia juga ingin mendengar apa jawaban dari Ans.
"Kenapa harus memberi pertanyaan konyol seperti itu"
"Karena aku ingin tau?" jawab Helena dengan kepala yang tertunduk.
Ans belum membuka mulutnya, dia bingung harus mengatakan karena sebenarnya dia sudah merencanakan moment yang bagus untuk mengutarakan perasaanya tapi malah di pertanyakan sekarang oleh Helana, lantas apa yang harus di jawab olehnya.
Helena mengangkat kepalanya menatap Ans yang sedang menatap dirinya juga tapi ekspresinya seperti orang yang sedang berpikir.
Helena kembali menundukan kepakanya, dia sudah tau jawabanya kalau itu semua karena anak. Ya, karena anak yang ada dalam kandunganya.
"Kau istrahatlah, pasti capek kan perjalanan jauh" ucap Ans yang lebih memilih mengalihkan pembicaraan.
Helena hanya menurut pergi meninggalkan Ans yang menatap punggungnya dan berbatin "sebentar lagi sayang"
__ADS_1
Bersambung...