
Saat ini Santi telah tiba di depan Rumah Sakit tempat Ruben di tangani. Dengan tergesa dan berlari Santi menuju ruang operasi Ruben tak lupa dengan airata yang sampai saat in tak kunjung berhenti.
" Suster dimana ruang korban kecelakan setengah jam yang lalu atas nama Ruben Prasetya.?" tanya Santi saat susah sampai di depan administrasi.
" Pasien masih diruang operasi mba." jawab admin yang bertugas.
" Diaman ruang operasinya.?" tanya Santi lagi.
" Ada di lantai tiga. Mba bisa naik lift saja agar cepat." ucap admn memberitahu.
Tanpa kata lagi Santi langsung menuju tempat yang dimaksud. Hati dan pikirannya saat sangat berkecamuk, cemas dan khawatir terhadap suaminya.
Bahkan ia menyalahkan dirinya yang bersikap kasar dan bahkan menolak suaminya pulang,dan dengan teganya dia mengatakan tidak ada apa apa lagi diantara mereka yang membuat emosi suaminya tak terkendali lagi hingga berakhir pada kecelakaan ini.
" Ans." lirih Santi saat sudah sampai di depan ruang operasi.
Ans hanya diam dan mengangguk hormat pada majikannya. Saat ini sebenarnya Ans juga tak kalah kalutnya melihat dan menunggu kabar sang tuan mudanya.
" Bagaimana keadaan suami saya Ans." tanya santi lagi dengan tatapan sendunya ia memanti jawaban dari Ans.
menggeleng kepala. Hanya itu jawaban dari Ans pertanda ia juga tidak tau bagaimana keadaan bosnya.
Mendapat gelengan dari Ans, tangisnya kembali pecah. Ia terduduk dilantai rumah sakit karna kakinya tak mampu lagi menopang tubunya.
" ini salahku..hiks..hiks..Ini semua salahku Ans.Ini semua salahku." ucap Santi tergugu.
" seadainya aku tidak bersikap kasar padanya.! seandainya aku mau pulang dan berdamai dengannya pasti ini tidak akan terjadi hiks..!" lanjut santi dengan tangan yang memukul mukul dadanya.
__ADS_1
Melihat hal itu, sontak Ans mendekari Santi dan menghentikan tindakan majikanya.
" Sudah nona. Jangan seperti ini.! jangan menyalahkan diri sendiri." ucap Ans menengkan Santi. " kita berdoa saja nona agar tuan bisa selamat dan dia kembali kepada kita lagi." lanjut Ans
" Tapi dia begini karna aku Ans.!" sergah Santi masih menyalahkan diri.
" Bukan.! bukan karna nona. Tapi ini semua karna keadaan yang membuat kalian salah paham. Jadi aku mohon nona jangan menambah bebanku lagi jika nona sampai sakit." ungkap Ans dengan tatapan mengiba.
" aku mohon bantu aku menjaga tuan nona." lanjut Ans.
Santi yang mendengar itu mendongak melihat tatapan Ans yang mengiba memohon padanya. Ia menjandi tidak tega, perlahan tangisnya pun mereda.
Perlahan Santi benagkit berdiri yabg dibantu oleh Ans, dengan memaksaakan diri ia tersenyum pada Ans.
" Trimakasih ans. Trimakasih karna kamu selaly ada bersama suamiku. Jika tidak ada kamu aku tidak tau alan apa yang terjadi pada suamiku." ucap Santi tulus.
Tidak ada lagi pembicaraan, berganti keheningan yang yang membuat hati semakin dilanda kecemasan. Menunggu detik demi detik, menit demi menit hingga satu jam kemudian keheningan kembali terpecah karna adanya orang yang barus saja tiba yang tak lain adalah Tuan dan Nyonya Prasetya.
" Ans, Santi." ucap Tuan dan Nyonya bersamaan.
" Mama." Lirih Santi.
Ia meremas ujung bajunya, jantungnya kembali berdegup kencang, Ia takut Sangat takut. Ia takut diperslahkan walau memang dia sendiri menyalahkan dirinya juga.
" Bagaimana keadaan Ruben Ans.?" tanya mama yang sudah menagis tergugu.
" Tuan muda masih ditangani Tuan." jawabn Ans beeusaha tenang.
__ADS_1
" Apa anak kita akan baik baik saja pah.?" tanya mama.
" Tenanglah ma. Anak kita pasti baik baik saja." jaqab papa menenangkan mama dengan tangan merangkul bahu sang istri. " Bagaimana kejadiannya Ans.?" lanjut papa yang kini bertanya pada pada Ans.
Ans menghela napasnya pelan untuk sekedar menormalkan perasaanya, ia mengalilahkan pandangannya kearah Santi sebentar kemudian kembali menapa sang tuan.
Ans menceritakan semuanya pada papa, dari awal penerbangan mereka ke kota M, kemudian ke kota B dan tak tertinggal dengan pertengkaran Ruben dan Santi hingga berakhir pada Ruben yang pergi dengan keadaab emosi.
"Seperti itu tuan perjalan yang kami lakukan oleh tuan muda." kata Ans mengakhiri ceritanya.
"Sementara Santi semakin menundukan kepalanya, tangisnya pun juga semakin tak bisa dibendung lagi. Ia sangat takut sungguh takut jika mertuanya marah dan berakhir dia dibenci karna masalah ini.
" mah..." panggil Santi dengan bibir gemetar.
" Maaf." cicit Santi setelah berusahan mengumpulkan keberaniannya dan kata itulah yang keluar dari mulutnya.
" Pah..." panggil Santi lagi yang kali ini menatap mertuanya yang tak bergeming dengan panggilannya. " Maafkan Santi pah, mah.Santi yang salah." ucap santi lagi untuk menarik perhatian mertuanyan
mama.....
Bersambung.....
cukup sampai disini dulu ya gaesssa๐
besok di lanjutkan lagi๐๐
dahhhhh.....๐๐
__ADS_1