Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Sason Dua Sesuatu Yang Baru Mereka Lakukan


__ADS_3

"Kenapa wajahmu memerah sayang..?" tanya Ans.


"Tidak, tidak apa apa" jawab Ans.


"Apa kau suka dengan panggilan sayang dariku" goda Ans.


Helena semakin menundukan wajahnya dia benar benar sangat malu apalagi saat Ans yang bernafsu sekali menggoda dirinya.


"Atau kau mau aku memanggilku istriku atau my ange?" tanya Ans yang semakin menggoda Helena yang semakin tersipu malu.


"Kamu jangan menggodaku!" rajuk Helena yang hanya bisa melakukan itu.


Ans tertawa melihat wajah suaminya yabg semakin memerah, baginya itu benar benar menggemaskan dan sangat menyengkan menggoda istrinya.


"Jadi kapan kita akan bertemu Ibu?".


Helena mengalihkan pembicaraan agar Ans tidak lagi menggodanya, dan ternyata itu berhasil karena Ans pun alkirnya teralih oleh pertanyaan itu.


"Aku akan mengatur kembali jadwalku sayang, dan itu harus sebelum anak kita lahir" jawab Ans.


"Ya baiklah" jawab Helena.


Mereka saling menatap di bawah sinar rembulan hingga perlahan kepala Ans maju dan mengecup bibir Helena.


Wanita itu memejamkan matanya menyesapi rasa yang baru saja di datangkan oleh ciuman pria yang di cintainya, gerakan mulai terlihat saling membalas tautan masing.


Mulai dari durasi yang lembut hingga kini ciaman itu semakin menuntut dan malam itu mereka kembali bersatu, dan kali ini persatuan itu menjadi persatuan yang sangat mengesankan bagi keduanya saat perasaan keduanya sudah saling mengutarakan dan saling menginginkan satu sama lain.


"Sayang..." rengek Riko.


Saat ini, pada malam ini kedua pasangan yang sedang berlibur di rumah orangtua dan mertua itu, sedang berada dalam kamar Lili dan kini Riko sedang merengek ingin meminta jatah pada istinya.


Tapi Lili tidak mau mengindahkan permintaan suaminya, mengingat kejadian tadi sore setelah adegan memberihkan kamar bersama.


Flashback bebrerapa waktu yang lalu setelah mulai dari drama membersihkan kamar hingga adegan mewek karena gemuk.


"Apa kamu akan meninggalkanku setelah aku gemuk? tanya Lili dengan mata yang sudah bekaca kaca.

__ADS_1


Riko yang melihat ketakutan di mata istrinya langsung mendekat dan mencapit kedua pipi Lili yanh terlihat mulai gembul.


"Mana mungkin aku meninggalkan kamu hanya karena fisik yang berubah ini, dan lagi alasannya adalah karena perbuatan ku juga," ucap Riko dengan sungguh sungguh "tidak kah kau tau? untuk mendapatkanmu saja aku kesusahan, lalu bagaimana bisa aku dengan mudah meninggalkan kamu setelah kamu sudah menjadi milikku hmmm?" tanya Riko dengan lembut.


"Sungguh kamu tidak akan meninggalkan aku?" tanya Lili yang ingin memastikan kembali.


"Tentu saja, dan apa kau tau jika tubuhmu yang seperti ini terlihat semakin sexy" goda Riko disertai kerlingan mata genitnya pada Lili.


Lili yang mendengar pengakuan Riko tetang tubuhnya yang di katakannya jauh lebih sexy membuat dirinya merona malu, dan menundukan wajahnya yang sudah memanas.


"Jangan menggodaku, mana mungkin orang gemuk dikatakan sexy!" kata Lili mengerucutkan bibirnya.


"Itu mungkin dan itu adalah pandanganku!" tegas Riko "tidak peduli bagaimana memandang tapi bagiku kai terlihat semakin sexy di mataku dan membuatku selalu bergairah untuk menerkammu!"


"Ck, bilang saja itu hanya modus kan agar kau bisa meronda" ketus Lili.


"Tidak sayang! ini kenyataanya, kehamilanmu membuatku semakin ingin mencapai kenikamatan surga dunia setiap waktu san setiap saat, jika saja tidak mengingat keselamatan anak kita mungkin aku sudah menerkammu dengan liar" uca Riko penuh kesungguhan.


Lili melototkan matanya mendengar pernyaan Ans, bagaimana bisa pria itu dengan gamblangnya menagatkan keinginannya yang ingin menerkan Lili.


Sementara Riko sudah meraung bibir Lili yang belum sempat mengelak, dia ******* bibir itu dengan rakus membuat sang lawan menjadi kewalahan.


Rko berteriak saat bibirnya di gigi oleh Lili, dia tidak menyangka kalu istrinya akan tega melakukan itu padanya.


"Kenapa kau menggigitku!" teriak Riko


"Karena kau ingin membunuhku!" jawab Lili ketus.


"Hei! mana mungkin aku mau membunuhmu, itu sedang mencium bibirmu itu".


"Tapi ciumanmu membuat nafasku tersengal dan hampir kehabisan oksigen" jawab Lili kemudian pergi meninggalkan Riko yang masih memegang bibirnya yang terasa perih.


"Sayang...Kau mau kemana?"


"Mau keluar" jawab Lili.


Riko menyusul tapi sebelum itu dia mengambil jaket mereka berdua karena Rilo beniat mengajak Lilo keluar sore ini.

__ADS_1


"Sayang kita keluar yuk" ajak Rilo yang kini susah berjalan beriringan dengan Lili.


Lili mengehentikan langkahnya kemudian mekihat Riko dan berpikir sejenak dan akhirnya dia mengangguk menyetujui ajakan Riko.


"Tidak buruk"


Mereka pergi dengan menggukan mobil milik Ayah Lili setelah sebelumnya meminta ijin terlebih dulu pada Ayah dan Bunda, mereka ingin menikamati jajan yanh ada di pinggiran jalan.


Sepanjang perjalana, Lili tidak berhenti mengoceh menyebutkan jajanan apa saja yang ingin dia cicipi, dan Riko yang mendengar nama makanan itu walau terasa asing tapi dia tetap tergiur dan keinginan untuk mencicipinya juga muncul begitu saja.


Sampai di tempat kuliner, Lili segera turun dan menggandeng Riko menuju tempatnya, dan dengan tidak sabarnya Lili mulai mencoba satu persatu semua jenis makan itu tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.


Merka terus berkelana mencari kepuasan lidah dan kekenyangan perut hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali kerumah setelah waktu sudah menunjukan waktu pukul tujuh malam dan perut pun sudah tidak bisa lagi menampung makanan lagi.


Dan kini mereka duduk di kamar karena tidak lagi makan malam, bagaimana mau makan malam lagi sementara perut mereka masih terasa kenyang hingga kini jadi tidak perlu makan malam lagi bukan.


"Sayang...." rengek Riko.


"Ada apa?" tanya Lili yang sedang asyik berselancar dengan posel miliknya.


Dia acus sekali dengan rengekan Riko, bukan apa apa tapi karena dia sudah sangat hafal akan kemauan Riko jika sudah seperti ini.


"Mau jadi istri durhaka kamu?"


Lili menyerngit mendengar pertanyaan Riko tentang istri durhaka, ada apa gerangan sehingga Riko memberi pertanyaan seperti itu.


"Apa maksudmu?" tanya Lili.


Lili kini sudah mengalihkan perhatiannya dari yang semula di ponsel kini beralih melihat Riko dengan wajah bingungnya.


"Kamu tau sikapmu yang mengacuhkan suami adalah ciri istri yang durhaka" ucap Riko asal.


Lili mendelik tajam mendengar penuturan suaminya, dia tau akan hal itu tapi bukan seperti ini juga, masa iya hanya karena sedang main ponsel di katai istri durhaka.


"Jangan membohongiku sayang..." ucap Lili penuh penekanan "kau tidak perlu mengatak hal itu karena aku juga paham, dan sebaiknya katakan saja apa maumu dan tidak perlu merangkai kata"


Riko hanya menyengir mendengar perkataan istrinya, tanpa kata lagi ia langnsung menjalankan aktifitasnya sebagai seorang suami yang membutuhkan istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2