Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Berkunjung


__ADS_3

" Nak,, apa kamu sudah siap berpisah dengan suamimu." tanya bunda yang hanya didengarkan oleh sang ayah yang memilih diam, sedangakan berbeda dengan santi. perkatann yang lolos dari bibir sang bunda membuatnya bungkam, tak tau harus menjawab apa. Karna ia juga tidak tau jawabanya.


Kalau boleh jujur, jauh didalam hatinya tak ingin ada perpisahan antara dia dan suaminya. Namun apa yang bisa di perbuat jika itu sudah keputusan sang suami maka ia harus menerima akan hal itu.


" Nak, ada baiknya kamu mencoba untuk berbicara dari hati kehati kepada suamimu sayang. ucapkan apa yang kamu rasakan padanya, agar kamu juga bisa mendapat jawaban darinya.


" Yang dikatakan bunda itu benar sayang, kamu harusnya bicarakan lagi imi pada suamimu agar tidak ada penyesalan kedepan." ucap ayah


" Karna jujur saja ayah ingin pernikahanmu cukup untuk satu kali seumur hidupmu." lanjut ayah lembut namun penuh ketegasan didalamnya.


" untuk apa yah, bun.? bukankah surat gugatan itu sudah menjawab semuanya." lirih Santi menundukan wajahnya.


" ya untuk bertanya kenapa dia menggugatmu dan usahakan untuk mencari jalan berdamai." jawab bunda.


" Itu karna dia sudah kembali pada mantan kekasihnya bun. Lalu bagaimanq lagi caranya kami untuk berdamai kalau alasannya afalah orang ketiga.?." jawab santi lagi, yang menganggap itu adalah alasan Ruben menggugatnya.


" memang kamu sudah yakin itu alasanya ?" tanya bunda lagi.


" lalu kalau bukan itu, memang apa lagi alasannya bun.? pasti karna ia mencintai mantanya itu." Santi mencebik saat mengucapkan kata terakhirnya. Rasannya hatinya kembali panas saat membayangkan suaminya yang mencintai mantan kekasihnya itu.


Bunda dan ayahnya hanya bisa tersenyum saat menagkap ekspresi cemburu putrinya itu, karna Santi tidak pandai menyembunyikan perasaanya.


" apa putri ibu ini sedang cemburu." goda bunda.


" Cemburu.? mana mungkin lah." elak Santi cepat. Ia memalingkan wajahnya menghadap arah lain saat kata yang terlontar dari bibirnya berbanding terbalik dengan hatinya.


" trus kenap tuh muka di tekuk saat bilang ruben mau balikan sama mantannya." tanya bunda semakin menggoda putrinya.

__ADS_1


" Ya..ya aku gak suka saja bun kalau rumah tanggaku di usik orang lain. " jawab santi memberi alasan.


" masa sih..?


" Sudah bun, jangan menggoda putri kita terus dan kamu pergilah istrahat dikamarmu, kamu pasti lelah,." ucap ayah menengahi godaan istrinya.


" Nanti saja yah, Santi masih mau kesuatu tempat dulu." jawab santi memberitahukan keinginanya.


" kau mau kemana nak" tanya ayah.


" Ke makam Rio yah, aku udah lama tidak kesana." jawa santi menjelaskan.


" untuk apa.? jangan bilang kalau kamu jugaasih belum bisa melupakan dia.?" selidik Ayah.


" gk kok ya. Aku hanya ingin berjunjung saja kesana."


" Kan kamu bisa besok atau lusa kesananya. Kamu istrahat saja dulu."


Kedua orang tuanya terkejut mendengar penuturan Santi, kenapa cepat sekali anaknya pergi dan lagi ia mau pergi kemana.


" kau mau kemana lagi sayang." tanya bunda berusaha tenang.


" kesuatu tempat yang bisa membuatku tenang bun." jawab santi berusah tenang.


" tap.-" belun selesai bunda berkata, ayah sudah menyela.


" baiklah, kalau itu yang kamu ucapkan, maka lakukanlah mana yang menurutmu baik nak." kata Ayah.

__ADS_1


" Ayah apa apan sih.?" sentak Bunda.


" sssttt,,,,diamlah." jawab ayah singkat.


" Baiklah yah, bun. Santi pamit dulu." pamit santi.


Selepas kepergian Santi, bunda langsung menatap nyalang kepada sang suami yang membuat tak bisa berkutik lagi.


" jelaskan.!" titah Bunda


" Apa yang harus ayah jelaskan. Ayah hanya mau anak kita menjernihkan pikirannya, Karna ayah yakin anak kita pasti bijak dalam mengambil keputusan." tutur ayah.


" tapi bagaimana kalau putri kita perginya lama yah,?" tanya Bunda memelas.


" Itu pilihan putrimu, jadi tolong hargai itu." ucao ayah kemudian pergi menuju kamarnya menunggalkan sang isrti yang masib terlihat merajuk.


Santi sudah sampai di sebuah Pemakaman Umum. Dia menarik napasnya pelan sebelum ia melangkah masuk kedalam. Sungguh ia merasa sangat gugup mengunjungi makam sang kekasih yang dulu pernah mengisi penuh ruang dihatinya, tapi sekarang nama itu hanya sebatas kenangan dan itu yang memvuat Santi enggan masuk karna ia merasa sudah berhianat pada Rio.


Santi berdiri tegap disamping makam yanf bertuliskan nama Rio.


" haiii....Apa kabarmu.?" tanya santi basa basi seolah pusaran itu dapat menjawabnya. Ia kembali mengehla napasnya dan mulai bicara.


" aku datang lagi Rio, setelah hampir tiga tahun kamu pergi meninggalkan aku. Maaf baru bisa mengunjungimu lagi, karna aku pergi menenangkan pikirianku yang saat itu sedang kalut kehilangan kamu...." Santi menjeda kalimatnya dan kemudian kembali berkata.


....." tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengan seorang pria yang membuat aku terjebak pernikahan dengannya hingga membuat aku jatuh cinta dan melupakan kamu." santi kembali terisak saat mengingat wajah Ruben, sesak didanya kembali terasa mengahmpirinya.


" Apa ini balasan untukku.? karna aku sudah menghianatimu dan mencintai pria lain. Apa kamu marah disana karna aku melupakannmu.? sehingga aku harus merasakan sakit dihianati dan dicampakan oleh orang yang aku cintai.? tapi ini bukan keinginanku, ini bukan mauku Rio, bukan mauku.! aku..Aku tidak bisa mengendalikan persaanku padanya. Hiks...Hiksss..."

__ADS_1


Santi mengeluarkan semua yang menjadi beban dihatinya didepan pusaran itu. Ia juga meminta maaf untuk semuanya pada Rio. Dengan segukan dan dan air mata yang masih mengalir ia melangkah pergi meninggalkan makam itu.


Bersambung.....


__ADS_2