
Riko duduk di kursi kebesarannya dengan kali menyilang dan tangan yang bertautan di depan dada, matanya menatap tajam ke arah Halin yang berdiri tidak jaug darinya.
"Katakan bagaimana bisa terjadi?" Titah Riko dengan suara datarnya.
"Perusahaan kita di retas sdan data perusahaan di manipulasi tuan" ucap Halim.
"Sudah berapa lama?"
"Sudah satu minggu."
Brak
Riko memukul mejanya dengan keras mendegar jawaban dari bawahannya yang terdengar begitu santai "bagaimana bisa ini berjalan sudah satu minggu! lalu kenapa tidak ada yang menyadarinya ha!" bentak Riko.
"Maaf tuan, tapi dia sangat licik tidak mengambil data perusahaan tapi dia memanipulasi keaslian data kita sehingga tim keamanan perusahaan jadi kwalahan menghadapainya, dan penyerangan yang dia laukan sama sekali tdak di baca karena dia juga melakukannya tidak dengan bom tapi hanya sedikit setiap harinya dan seolah itu terlihat sesuai dengan harga pasar saham"
Riko mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Halim, bagaimana bisa karyawanya bisa teledor seperi ini tidak menyadari adanya musuh yang menyerang perusahaan yang dia bangun.
"Saya tidak mau tau, cari pelakunya dari perusahaan mana! dan bawa di hadapanku!" bentak Riko.
"Baik tuan, tapi bagaimana dengan perusahaan?"
"Cari hacker terhebat untuk menstabilkan perusahaan, dan pastikan jika tidak ada penghianat di perusahaanku"
"Baik tuan"
Setelah kepergian Halim, Riko mengepalkan kedua tanganya dengan, matanya memancarkan api amarah yang siap membakar siapa saja yang menjadi targetnya.
"Aku tidak akan memberimu ampun jika aku bisa menemukanmu" ucap Riko.
Ting ting
Bunyi notifikasi pesan terdengar di ponsel milik Rik, sebelah alisnya terangkat melihat nomor baru tapi sejurus kemudain air mukanya mendadak berubah muram mengetahui ternyata Janethlah yang menghububginya.
"Riko, apa kabar? aku merindukanmu
dari kekasihmu Janeth"
__ADS_1
"Dari mana wanita ini mengambil nomor ponselku" gumam Riko.
Kring kring
Ponsel Riko kembali berdering tapi kali ini merupakan panggilan dari orang yang sama "ada apa?" tanya Riko dengan nada dinginnya.
"Aku merindukanmu" ucap Janeth dengan desahan manjanya membuat Riko merasa jijik mendengarnya.
"Ada apa kau menghubungiku Janeth, aku tidak ada waktu denganmu!" ucap Riko penuh penekanan.
"Kenapa kau sangat dingin? apa kau ada masalah?" tanya Janeth pura pura peka.
"Tidak ada!" jawab Riko dan langsung mematikan sambungan ponselnya.
"Si*l!" umpat Janeth, "aku tidak akan melepaskanmu Riko, walau kau menolakku tapi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!" geram Janeth.
***
Di Surabaya, pasangan muda lainnya sedang berkemas, hari ini mereka akan menemui keluarga Helena, setelah sebelumnya Ans lebih duli menemui ibu mertunya tanpa sepengetahuan Helena.
Flashback...
"Pergilah!" usir Ans dan membaca semua informasi tentang keluarga Helena.
Senyum licik terbit di sudut bibirnya, sepertinya kali ini dia harus bermain curang dan sedikit menggunkana kekayaanya agar semua berjalan dengan baik.
Bukan karena keluarga Helena gila uang, tapi kerena keadaan keluarga Helenya yang butuh biaya hidup dan keperluan sekolah adik adiknya memberi peluang bagi Ans untuk menggunakam cara licik.
"Halim, kita harus kepusat perbelanjaan dulu!" titah Ans.
Mereka berjalan ke Mall dan tujuan utamanya adalah counter Hp, dia berniat untuk membelikan ke dua adik Helena ponsel keluaran terbaru karena dia yakin anak remaja seperti mereka akan mudah di rayu dengan barang barang yang menggiurkan mata.
Setelah dari counter, Ans kembali ke toko lainnya membelikan barang barang yang mungkin akan berguna bagi keluarga istrinya dan setelah semua selesai Ans langsung melesat pergi menunu Bandara.
***
Sampai di tempat tujuan, Ans melihat sekelilingnya, rumah istrinya sangat kecil tapi tetao terawat kebersihannya, tapi walau begitu karena gaya hidup mewah sudah melekat dalam diri Ans membuat dia tidak bisa betah jika harus tinggal di tempat seperti ini.
__ADS_1
Tok tok tok tok
Ans mengetuk pintu rumah kecil itu dan tak lama terdengar sahutan dari dalam, saura seorang anak pria yang du duga pasti adiknya Helena.
"Siapa?" tanya pemilik rumah yang tak lain adalah Nathan adik Helena.
Ans memasang wajahnya seramah mungkin agar tidak menakuti atau membuat pemilik rumah menjadi ilfeel padanya "aku Ans, apa ini rumah keluarga Helene?" tanya Ans.
Nathan menelisik tampilan Ans dari atas sampai kebawah yang sepertinya bukan orang biasa seperti mereka, dia jadi bertanya tanya ada apa pria ini mencari kakaknya yang sudah pergi lama dari rumah.
"Benar, tapi anda siapa?" tanya Nathan.
"Aku Ans Wijaya suami Helena" jawab Ans dengan suara tegasnya.
Nathan sangat terkejut mendengar perkataan Ans, bahkan bukan hanya Nathan saja tapi dari dalam terdengar suara pecahan gelas yang tidak jauh dari mereka pertanda jika orang itu juga mendengar perkataan Ans.
"Ibu" seru Nathan yang masih dalam situasi Syok
"Apa yang kau katakan?" tanya Ibu dengan suara yang masih tercekat di tenggorakannya.
Ans berjalan masuk dan berdiri dihadapan Ibu, lalu meraih tangan wanita itu dan mencium punggung tangannya "kenalkan Aku Ans, suami Helena" ucap Ans kembali memberi pernyataan.
Ibu terhuyung kebelakang tidak sanggup menopang berat badannya saat kembali mendengar pernyataan dari pemuda yang mengaku sebagai suami Helena, untung saja Ans dengan sigap menopang tubuh Ibu.
"Bagaimana bisa kamu mengaku sebagi suami dari anakku sementara putriku berada di surabaya?" tanya ibu setelah bisa menguasai kesadarannya.
"Karena saat ini putrimu ada bersamaku di surabaya dan dia hamil anakku"
Semakin besar rasa keterkejutan Ibu, bagaimana bisa putrinya menikah tanpa mengatakan padanya, tak terasa air matanya menetes memikirkan putrinya yang tidak menganggap dirinya lagi.
"Ku mohon bu, jangan salahkan Helen, aku yang bersalah dan aku yang harus bertanggung jawab, jika ibu mau marah maka marah padaku dan kecewa saja padaku tapi jangan pada istriku. Dia sudah cukup memikirkan rasa bersalahnya dan jika Ibu marah padanya pasti dia akan semakin terpuruk bu, ini semua bukan kesalahannya tapi aku, aku yang bersalah bu" ucap Ans dengan tatapan memohon.
"Katakan bagaimana bisa kamu mengatakn hal ini bukanlah kesalahan putriku tapi hanya kesalahanmu" ucap Ibu dengan nada tegasnya.
Ans menghela napsanya terlebih dahulu, setelah itu barulah dia mulai me ceritakan semuanya, dari awal pertemuan mereka, alasan kenapa sampai terjadi hal itu dan alasan Helena memilih untuk pergi, lalu apa yang menjadi kesepakatan di antara keduanya hingga pertemuan mereka yang berujung pernikahan yang awalnga hanya bentuk tanggung jawab hingga berakhir kini kehidupan rumah tangga mereka yang berjalan manis kini setelah melewati banyak kisah.
Tak bisa lagi Ibu membendung air matanya mendengar kisah putri sulungnya dan yang membuat dia lebih terpukul lagi adalag, semua pengorbanan putrinya karena untuk kesembuhannya.
__ADS_1
Bersambung...