
"Terimakasih sayang" ucap Ans dengan senyum bahagianya, dia mengangkat sedikit badannya dan kemudian mencondongkam sedikit badanya lalu mencium mesra pipi dan kening lalu berakhir pada bibi wanitanya.
"Sudah bunda istrahar sajan, biar ayah yang sipakan kepeluan bintang kita" ucap Ans dan langsung bergegas pergi menuju lemari perlengkapan bayi.
Ans sudab begitu lihai menyiapkan semua keperluan Jennifer, sepertinya dia sudah handal dalam mengasih bayinya, terbukti dari semua keperluan di hafal betul olehnya mulai dari botol susu, pempers, baju bedak, alat mandi, handuk, kaos kaki dan tangan dan masih banyak lagi yang di masukan Ans dalam tas besar khusus perlengkapan Jennifer.
Sementar Helena yang melihat kegesitan Ans dalam menyiapkan keperluan putri mereka membuat Helena tersenyum hangat, dia merasa sangat beruntung bisa di cintai oleh pria yang kata orang orang sangat dingin tanpa mareka tau jika dalam keluarga, Ans sangat hangat dan penuh cinta.
Sementara di Ibu Kota, kedua sahabat itu sedang berembuk di kantor Ruben, Riko sengaja mendatangi Ruben untuk membahas masalah yang kemarin mereka alami, setelah tadi dia menaruh beberap pengawal yang di bayar Halim untuk menjaga keamanan istrinya serta menempatkan mata mata tidak jaih dari rumahnya untuk memantu keadaan sekitar kediaman mereka.
Memantau setiap pergerakan apa saja yang terjadi, jika ada yang mencurgikana apa lagi jika orang orang yang mecurigakan datang, karena dia tidak mau mengambil resiko jika istrinya salam bahaya, sebenarnya dia tidak ingin ke kantor lagi karena ingin menemi istrinya sampai waktu Lili melahirkan.
Namun dia juga harus mengusut masalah ini dia ingin mencari tahu apakah kejadian kemarin itu adalah sebuah kesengajaan atau memang hanya sebuah kebetulan yang tidak perlu dikhawatirkan, sehingga mau tidak mau akhirnya Riko harus berangkat ke kantor untuk meminta bantuan Ruben memecahkan masalah ini dan jika memang terbukti Ini adalah sebuah rencana untuk mencelakai keluarganya maka Riko akan mencari pelakunya sampai ke lubang semut sekalipun dan dia tidak akan memberikan pengampunan lagi padanya, akan dihabisi dengan tangannya sendiri atau mungkin alternatif lainnya akan diserahkan kepada pihak yang berwajib.
"Jadi kau mengalami hal itu kemarin? tapj bagaimana dengan istrimu? harusnya kau tidak meninggalkan dia dan aku bisa datang ke rumah mu saja" ucap Ruben setelah mendengar cerita Riko.
"Aku pikir mungkin kau sangat sibuk sehingga tidak akan memiliki waktu jika aku memintamu datang ke rumahku" jawab Riko.
"Bodoh! mana mungkin aku tidak datang jika sahabatku membutuhkna diriku" ucap Ruben.
"Sudahlah ini sudah terlanjur, dan aku juga sudah menempatkan beberapa pengawal di rumahku, dan menempatkan mata mata tidak jauh dari kediamanku untuk memantau situasi jika sewaktu waktu ada yang mencurigakan" ucap Riko panjang lebar.
"Hubungi istrimu dan pastikan dia tidak keluar kamar sekalipun dan jangan biarkan sembarang pelayan masuk ke dalam kamar kalian, utus saja siapa yang paling kau percaya yang mengurus keperluan Lili selama kau tidak berada dalam rumah" ucap Ruben.
Riko tanpa membantah dan bertanya, langsung melakukan apa yang Ruben minta "hallo sayang, kau sedang dimana?"
.....
"Jangan keluar kamar sama sekali sayang, bahkan jangan beranjak dari ranjang tetap disana dan aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makananmu" ucap Riko.
__ADS_1
.....
"Jangan banyak bertanya dulu sayang, aku haya tidak ingin kau kenapa napa, tolong kali ini dengarkan suamimu ini" ucap Riko.
.....
"Baiklah sayang, aku akan menghubungi bibi untuk mengantar makan siangmu nanti dan akan menempatkan dua pengawal untuk berjaga di sepan pintu kamar kita sampai aku datang"
"Jangan membantah sayang, aku ingin yang terbaik untuk kalian" ucap Riko tegas.
"Baiklah, aku tutup dulu lagi ada kerjaan" ucap Riko mengakhiri percakapan mereka.
Rimo memutus sambungan panggilan mereka, dan kemudian beralih pada Ruben, tapi tak lama setelah itu jarinya kembali bergerak untuk mendial telpon rumahnya.
"Kemana bi Num?" tanya Riko.
.....
.......
"Bi Num, aku mau kau urus keperluan istriku, antarkan makananya ke kamar, dan jangan biarkan satu pun pelayan lain memasuki kamar istriku!" titah Riko.
.....
"Ingat! jangan sampai terjadi sesuatu pada istriku, tetap awasi awasi istriku!" ucap Riko dan kemudian memutus panggilannya.
Riko menghela napsanya dengan kasar, dia benar benar memikirkan masalah ini, dia takut jika itu memang semuah kesengajaan untuk mencelakai istrinya.
"Sudah!" tanya Ruben dengan nada dinginnya.
__ADS_1
"Hmmmm"
"Kau punya rekaman CCTV kompleks?" tanya Ruben.
"Ah ya, aku baru mendapatkannya tadi pagi tapi belum sempat mengeceknya" jawab Riko.
Tangannya bergerak merogoh saku jasnya, memberikan flashdisk pada Ruben yang di sambut langsung oleh sahabatnya itu, dan mereka muali mencari CCTV yang merekam kemarin hari dan kemudian mutarnya.
Mereka terdiam menyaksikan semua yang terekam di dalam sana, mulai dari satu jam sebelum kejadian, hingga akhirnya mereka tiba pada waktu kejadian dan dari tempat yang tidak jauh dari mereka seorang pria asing sedang memeinkan bolanya dengan kakinga hingga akhirnya pria itu melepaskan tendangannya dan mengarah pada Riko dan Lili yang tepatnya pada perut Lili.
Awalnya Ruben dan Riko masih bereksprasi biasa saja dan tetap fokus pada kelanjutannya, tapi tak lama kemudain rahang Riko mengeras, tanganya terkepal kuat saat menyaksikan pria itu hanya menonton kejadian tanpa merasa bersalah sedikipun dan tidak ada niatan meminta maaf, pria itu malah pergi setelah sekian lama berdiri menyaksikan adegan mereka yang sedang panik dan Lili yang ketakutan.
"Si**an...! ada yang mau bermain main lagi denganku!" tekan Riko pada nada suaranya.
"Kau harus mencari tau siapa orangnya, dan coba pikirkan siapa yang bersitegang padamu" ucap Ruben yang ikut tersulut emosi.
"Aku akan mencari taunya, dan aku pastikan dia akan mendapat ganjaran karena berani bermain main denganku!"
"Aku akan membantumu, jadi kau ingat pada siapa kau bersitegang" ulang Ruben.
Riko yang mendengar ucapan Ruben, pikirannya langsung tertuju pada satu orang yang tak lain adalah Janeth karena hanya dia yang sempat bermasalah dengan Riko. karena seingat Riko tidak ada satupun teman bisnisnya yang bermasalah dengannya walau memang ada banyak bersaing tapi tidak ada satupun yang menggunakan cara seperti ini, kecuali Janeth yang sudah berani meretas data perusahaan.
"Janeth" ucap Riko singkat.
Ruben mengerutkan keninganya mendengar perkataan Riko, dia kenal Janeth dia adalah mantan kekasih Riko lalu kenapa sahabatnya ini menyebutkan nama itu? apa ada yang terlewat olehnya.
"Apa ada yang tidak aku kerahui?" tanya Ruben.
Riko menarik napasnya dalam kemudian membuangnya dengan kasar, dia memang tidak mengatakannya pada Ruben karena dia berpikir itu adalah masalah pribadi dan keluarganya.
__ADS_1
.
Bersambung...