Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua, Tidak mau mengalah


__ADS_3

Janeth yang belum mengetahui bagaimana sikap Lili dengan senang hati menerima tawaran itu, dia berpikir mungkin dengan ini dia bisa membuat Lili cemburu, dia sama sekali tidak sadar jika wanita yang ada di hadapaannya ini bukanlah gadis lemah seperti perkiraanya.


"Benarkah sayan boleh bergabung" tanya Janeth berpura pura senang.


"Tentu saja! ayo silahkan" ucap Lili dengam senyum yang dia buat sehangat mungki, sedangkan Riki suda sangat cemas akan keadaan.


Lili membuka kotak bekal itu, tap seketika mukanya berubah masam "kenapa sayang mukanya masam begitu?" tanya Riko yang melihat perubahan air muka Lili.


"Kita tidak ada piring, bagaimana makannya?" tanya Lili.


"Sebentar ak-,"


"Oh ya nona siapa namanya tadi bisa ambilkan kita piring? biar bisa makan dengan nyaman kita"


Lili menyela perkataan Riko, Lili sangat yakin kalau suaminya pasti akan menyuruh sekretarisnya, sementara Lili senganja berkata tidak ada piring agar dia bisa leluasa menyuruh Janeth.


"Janeth! namaku Janeth bukan siapa namaya!" ketus Janeth.


"Oh iya nona Janeth bisakah kau ambil piringnya?" tanya Lili dengan wajah yang di buat sepolos mungkin.


Janeth menggeram kesal mendapatkan perintah seperti itu, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini bahkan di rumahnya dia bagaikan putri yang menyuruh pada pelayan sesuka hatinya tapi kini? sekarang wanita yang tidak sepadan dengannya dengan gampangnya menyuruhnya menagmbil piring.


"Sayang biar Nanda saja yang ambil piringnya" ucap Riko yang sudah merasa cemas.


Bukan tanpa alasan dia cemas, dia sudah sangat hafal sikap kedua wanita yang ada dihadapannya ini, Janeth yang angkuh dan mekat dan Lili juga yang tidak akan mau memafkan seseorang yang menggangu ketenangannya terlebih jika menyangkut irang yang disayang.


Entah kenapa juga Lili seperti itu, tapi yang jelas perubahan itu Riko rasakan semenjak Lili di ketahui hamil, mungkin Lili hanya ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milikny pikir Riko.


"Tapi pasti Nanda lagi banyak pekerjaan sayang" ucap Lili dengan suara manjanya.

__ADS_1


"Biar aku saja yang ambil sayang" ucap Riki hendak berdiri tapi di cegah oleh Lili


"Anak kamu lagi pengen sama ayahnya, apa kau tidak mau mengelus perutku? anakmu pengen di sayang" ucap Lili dengan wajah yang sedih dan tanganya mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


Riko yang mendengar kata ayah langsung terpusat pada perut Lili, tanpa menunggu tangannya langsung mengelus lembut perut buncit itu "anak Ayah kangen ya hmm? ayah juga kangent bahkan tidak sabar pengen ketemu, sehat sehat disana jangan rewel dan membuat istri ayah kekusahan" ucap Riko panjang lebar.


Hilang sudah kecemasan Riko terhadap situasi yang ada, berganti dengan senyum hangat untuk calon anak yang sudah mereka nantikan, sementara Janeth mengepalkan kedua tangannya melihat sikap Riko yang begitu lembut pada Lili.


Ada kesedihan yang tersimpat di matanya, melihat kekasih yang dulu sangat mencintainya kini mencintai wanita lain, bahkan tidak memikirkan perasaanya mereka bermesraan dihadapan Janeth.


"Sepertinya aku tidak bisa makan siang bersama kalian, aku ada janji ternyata siang ini" ucap Janeth berusaha tersenyum.


Perkataan Janeth membuyarkan kemesraan pasangan itu, Riko yang melihat mata Janeth berkaca kaca sebenarnya tidak tega dan merasa sangat bersalah, tapi apa boleh buat, hati istrinya yang jauh lebih penting baginya dan Janeth hanya bagian dari masalalunya.


"Loh, nona Janeth kenapa harus buru buru? padahal makan siangnya masih belum disentuh sama sekali" ucap Lili yang masih belum menyadari kabut kesedihan di mata Janeth.


"Ayo sayang kita makan, aku suamimu ini sudah lapar" ajak Riko yang tidak ingin suasananya menjadi Horor.


Lili menatap Riko sejenak dan kemudian mengangguk dengan senyum yang sangat manis disuguhkan, dan Riko hanya melongo mendapati sikap Lili


Riko pikir mungkin akan di amuk tapi ternyata malah mendapatkan senyum yang sangat manis, tapi entah mengapa Riko malah bergidik ngeri melihat senyum itu, dengan terpaksa dan penuh kepayahan Riko memakan makanan yang di suapakan Lili dalam mulutnya.


Sementara Janeth yang kini berada di dalam mobilnya, meraung menangis kencang, dia sangat sakit menyaksikan sendiri bagaimana Riko tidak mempedulikan perasaanya memanjakan istrinya apa lagi tatapan Riko yang penuh damba pada Lili.


"Kamu sudah berubah Riko! kamu berubah, kamu sudah melupakan aku sedangkan aku masih terus saja berjuang melupakan kamu tapi...tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa Riko hiks hiks"


Janeth menangis meluapkan semua yang isi hatinya, mengatakan apa yang ada di rasakan saat ini, walau Riko tidak ada disana dan hanya Anita mendengarnya tapi tetap saja dia mengatakan semuanya, semua yang kini dirasakan gadis itu.


Anita yang mendengar atasannya menangis sebenarnya iba, karena bagaiman pun dia seorang wanita dan kehilangan orang yang sangat di sayang itu pastilah bukan main sakitnya apalagi peroisahan karena terhalan restu dan orang ketiga.

__ADS_1


"Sudah nona, jangan menangis kuatkan hatimy dan ikhlaskan saja dia" bujuk Anita yang niat baiknya di balas teriakan dari Janeth.


"Mudah sekali kau berkata begitu padaku ha! kau tidak tau apapun, dia dia merebut kekasihku dan orang tuanya yang sia**n itu tidak merestui diriku" bentak Janeth.


Anita yang tadinya iba berganti menjadi rasa jengkel dan mengumpati Janeth dalam hati "pantas kau tidak di restui, sifatmu saja tidak memiliki akhlak seperti ini, untung bukan aku yang jadi mamanya tuan Riko, jika sempat aku bukan cuma tidak restu aja yang gk ku kasih, ku koyak mulutmu baru puas aku"


Anita tidak lagi mau ikut campur, dia mau masa bodoh saja yang penting baginya doa bekerja dan di gaji untuk di nafakahi keluarganya saja itu susah cukup.


***


Tak terasa sudah satu minggu Ans dan Helena berlibur dan hari ini waktunya mereka kembali, sebenarnya Ans masih ingin disini beberapa hari lagi merasakan keberasamaannya bersama istri, karena dia yakin nanti jika sudah kembali ke Surabaya maka tidak akan seperti ini lagi, Ans akan disibukan pada pekerjaanya dan waktu bersama hanya dari sore sampai malam.


"Sayang ayo cepat" seru Helena yang melihat suaminya masih bermalas malasan.


"Sebentar lagi sayang" jawab Ans lemas.


"Ikhh ayo nanti kita terlambat, kan harus keraj lagi"


"Ck, menyebalkan sekali bekerja ini!" decak As


"Kalau gk kerja trua kita mau makan apa? anak kita gimana sayang?" ucap Helena yang susai mulai terbiasa memanggil Ans dengan sebutan Ans, dan itu pun hasil dari latihan yang di berikan Ans padanya.


"Tapi cium dulu" manja Ans.


Cup "sudah sana bersiap, jangan sampai kita ketinggalan pesawat" ucap Helena yang di angguki oleh Ans , apa lagi sudah mendapatkan tambahan dari Helena.


Selesai dengan itu, segera mereka berangkat kembali ke Surabaya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2