Undangan Dari Mantan

Undangan Dari Mantan
Sedikit Ragu


__ADS_3

"Kamu Rin bisa aja." kata seseorang itu pada temannya yang bernama Rini.


"Hehehe... aku gitu loh. Btw San kamu jadi nggak nih tanya ke orang yang teriak itu." kata Rini pada seseorang itu yang bernama Santi sambil menunjuk Ayunda.


Dengan sedikit ragu dan bimbang Santi lalu menjawab ucapan Rini.


"Sebenernya sih aku masih pengen tanya. Tapi Rin, aku takut nggak di jawab dan malah di abaikan. Jadi aku urungin aja deh tanya ke orang itu." inilah jawaban Santi atas ucapan Rini.


"Hem... gitu ya San, kalau di pikir - pikir lagi sih ada bener nya. Ntar kalau di abaiin kamu sendiri yang malu."


"Nah itu dia yang aku takutkan. Jadi ya udah deh biarin aja. Dia teriak - teriak ntar juga kalau capek pasti berhenti tuh orang teriak nya."


"Iya deh San, apa yang kamu bilang itu bener."


Tanpa mereka berdua sadari ucapan yang terdengar berbisik - bisik itu. Terdengar oleh Ayunda yang saat ini tak peduli dengan ucapan apa pun dari siapa pun yang ada di sekitar nya.


"Mereka lagi bicarain aku nih. Tapi bodo amat deh. Mau bicarain apa juga. Bibir - bibir mereka, kenapa aku repot - repot harus bicara. Lebih baik teriak lagi aja deh." kata Ayunda di dalam hatinya.

__ADS_1


"Argh... argh... kesel..." kata Ayunda dengan berteriak cukup kencang.


"Huh... huh... huh... lega nya. Walau masih sedikit emosi sih. Tapi setidaknya ini jauh lebih baik dari sebelum teriak." kata Ayunda yang kemudian mengatur nafas nya setelah berteriak cukup kencang.


"Tuh liat orang nya teriak lagi kan. Ini mah fiks lagi banyak masalah tuh orang." kata Santi pada Rini.


"Kata nya tadi biarin aja. Ko masih peduli." kata Rini menjawab ucapan Santi.


"Bukannya peduli tapi ke dengeran, barusan dia teriak kan kenceng banget. Emangnya kamu nggak denger apa?"


"Denger ko, mana ada nggak denger teriak kencang gitu."


"Denger lah, masa nggak."


"Iya deh iya percaya."


"Ya memang itu seharusnya. Kalau kamu tuh harus percaya."

__ADS_1


"Iya in aja deh biar cepet."


"Nah ini baru bagus. Biar nggak ribet kan."


"Hem" kata Santi sambil menganggukkan kepalanya.


Ayunda yang telah mengatur napasnya, kini berjalan di pinggir danau sambil melihat - lihat ke kiri kanannya. Takut jika sewaktu - waktu baik si bungsu maupun Dion berada di sekitaran danau.


Karena saat ini Ayunda ingin sendiri tak di temani oleh Dion atau pun si bungsu. Yang setiap kali selalu ada aja yang buat Ayunda semakin kesel jika berada di dekat mereka berdua.


Entah itu perasaan Ayunda saja karena lagi kesel saat ini. Atau karena memang itu yang terjadi setiap kali mereka selalu ada bertiga.


"Hem... jalan sendiri kaya gini bikin adem ternyata. Bisa bebas mau pergi kemana juga. Jadi nggak perlu berdebat dulu kalau mau pergi ke arah mana dulu. Karena ini kan sesuai dengan apa yang aku inginkan, kemana kaki ini melangkah di situ aku pasti akan ada di tempat tujuan kaki ini pergi." kata Ayunda yang saat ini menikmati jalan di dekat danau.


Beberapa menit kemudian Ayunda yang sudah puas dengan berjalan - jalannya. Kini mulai mendudukkan diri di kursi dekat danau.


"Huh... capek juga ternyata jalan - jalan kaya gini. Mana aus lagi. Disini ada yang jualan minum nggak ya. Jadi pengen minum nih." kata Ayunda kemudian melihat ke sekitar tempat duduknya.

__ADS_1


Bersambung...


🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2