
Kemudian si bungsu mulai melihat ke sekeliling tempat ia berdiri saat ini.
Saat telah melihat ke sekeliling tempat ia berdiri. Si bungsu mulai menjawab ucapan ibu.
"Mau duduk dong bu, kalau berdiri mana enak ntar makan makanannya. Ibu nih gimana?" kata si bungsu pada ibu.
"Eh... tapi bentar deh dek, kamu lebih baik panggil kakak sama kakak ipar kamu dulu aja sana." kata ibu yang membuat si bungsu yang akan duduk tak jadi duduk karena ucapan ibu tersebut.
"Ko gitu sih bu, adek kan udah sampai sini. Masa harus pergi lagi." kata si bungsu menjawab lemas ucapan ibu.
"Ya nggak papa dek, ayo sana panggil mereka." kata ibu masih meminta si bungsu untuk memanggil Ayunda dan Dion.
"Duduk dulu ya bu adek nya, boleh kan." kata si bungsu menjawab ucapan ibu sambil meminta kepada ibu untuk di izinkan duduk terlebih dahulu sebelum memanggil Ayunda dan Dion.
"Kalau adek duduk dulu, ntar lama nunggu nya. Lebih baik sekarang aja dek." kata ibu yang tak mengizinkan si bungsu untuk duduk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mah bantu adek dong buat bilangin ke ibu. Kalau adek pengen duduk dulu." kata si bungsu yang kini beralih meminta pada mamah.
"Mamah nggak bisa bantu dek, karena ucapan ibu memang ada bener nya. Kamu lebih baik panggil kakak - kakak mu dulu sana." kata mamah menjawab ucapan si bungsu di luar dugaan si bungsu.
Bagaikan sesuatu hal yang membuat lemas seluruh tubuh si bungsu. Karena di saat ia sudah yakin bahwa mamah akan membantu dirinya.
Kini malah di buat kecewa karena jawaban mamah yang malah mendukung ucapan ibu.
"Hem... mamah sama ibu jahat sama adek. Karena kompakan nggak izinin adek buat duduk. Sedih nya, em... tapi ayah sama papah bisa izinin adek kan buat duduk dulu." kata si bungsu menjawab ucapan mamah dan ibu sambil kemudian ia pun mengalihkan pandangan nya untuk meminta izin pada ayah dan papah.
Ayah dan papah yang mendengar si bungsu memanggil. Langsung terdiam seribu bahasa. Hal ini membuat si bungsu makin terpojok.
Bahkan si bungsu sempat mengomel - ngomel di dalam perjalanan menuju ke teman Ayunda dan Dion berada yaitu di ruang keluarga.
"Ih... sebel deh, mamah sama ibu jahat. Ayah sama papah juga jahat. Kenapa nggak izinin aku buat duduk dulu sih. Kaki aku kan pegel udah jalan ke meja makan. Eh... malah di suruh panggilin kakak sama kakak ipar."
__ADS_1
"Mana udah mohon - mohon tadi. Tapi hasilnya tetep nol nggak ada yang izinin."
"Sebel... sebel... sebel..." kata si bungsu yang menghentak - hentakan kakinya begitu keras.
"Tak... Tak... Tak..." suara hentakan kaki si bungsu yang keras. Membuat ibu, mamah, ayah, dan papah kompakan langsung tertawa.
Ternyata mereka berempat telah merencanakan ini untuk si bungsu. Sementara si bungsu yang jadi korban rencana mereka. Tak menyadari ini semua, telah di rencanakan sebelumnya.
"Hahaha... hahaha... hahaha..." inilah suara tawa dari mereka berempat saat mendengar hentakan keras dari kaki si bungsu.
"Sut... jangan terlalu kenceng ketawanya. Ntar adek bisa marah." kata ibu dan mamah hampir bersamaan mendekatkan jari tangan kanan ke dekat bibir mereka.
"Kalian berdua nih, bisa aja nyuruh buat jangan kenceng ketawanya. Padahal kenyataannya kan kalian yang lebih kenceng ketawanya. Ckckck... Ckckck..." kata ayah sambil menggeleng kan kepalanya.
"Bener banget saya sangat setuju." kata papah ikut dalam pembicaraan.
__ADS_1
Bersambung....
🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼