Undangan Dari Mantan

Undangan Dari Mantan
Tak Ada Perubahan


__ADS_3

Percakapan di antara Caca dan Sela pun terhenti dengan sendirinya.


Di saat percakapan mereka terhenti. Dion mulai pergi meninggalkan mereka untuk mencari keberadaan Ayunda di sekitar danau.


Tak terasa sudah tiga kali ia terus menerus berkeliling di sekitar danau. Namun, hasilnya tetap sama tak ada perubahan sama sekali. Ia tetap tak menemukan Ayunda.


"Yank cepet muncul, kakak udah capek nih keliling danau. Mana udah tiga kali lagi kakak keliling nya. Tapi masih belum ketemu kamu nya. Kamu sebenarnya ada di mana sih yank." kata Dion di dalam hatinya, setelah ia mulai merasa capek kembali saat mencari Ayunda yang tak muncul - muncul.


"Yank, maafin kakak. Kakak nggak akan ulangi lagi sikap kaya gitu nya ke kamu. Tapi nanti kamu juga jangan kaya gini ya sikap nya ke kakak. Kalau sikap nya kamu kaya gini. Kakak nyerah deh, bener yank kakak nyerah. Sekarang cepet muncul ya yank. Please." kata Dion di dalam hatinya. Seolah - oleh ia sedang berbicara dengan Ayunda saat ini. Agar Ayunda tak mengulangi hal yang sama lagi pada dirinya.


Ketika Dion sedang berdiri sambil melihat ke arah danau. Ternyata ada dua orang yang melihat nya sedari tadi.


"Pah, papah liat orang itu nggak sih." kata salah satu orang yang terus memperhatikan Dion sedari tadi sambil menunjuk ke arah Dion berdiri saat ini.


"Yang mana sih mah orang nya." kata salah seorang yang di tanya oleh satu orang yang memperhatikan Dion tersebut.

__ADS_1


"Itu pah yang lagi berdiri sambil liat danau." kata Riri nama salah satu orang yang menunjuk Dion kembali, sambil memberitahukan pada Robi nama orang yang ia jawab ucapannya.


"Oh yang itu mah, emangnya kenapa gitu mah?" kata Robi menjawab ucapan Riri.


"Itu loh pah, sedari tadi kan mamah duduk di sini sama papah."


"Iya, lalu..."


"Papah liat nggak kalau orang itu tuh. Terus - terusan keliling danau ini. Terus tiba - tiba berdiri di sana sambil liat danau. Jadi aneh pah, mamah liat nya juga. Apa jangan - jangan dia itu..."


"Hus... mah, jangan aneh - aneh deh pemikirannya. Bisa aja kan tuh orang lagi kebingungan cari orang yang ikut sama dia atau nggak ketinggalan rombongan."


"Emangnya mamah mau bilang apa? kalau papah nggak potong ucapan mamah itu." kata Robi menjawab ucapan Riri dengan sebuah pertanyaan.


"Ya nggak beda jauh sama ucapan papah itu. Ini mamah tebak ya, papah pasti ngira nya mamah mau bilang negatif ya ke orang itu. Kaya bilang dia itu penculik." kata Riri menjawab ucapan Robi sambil menebak sesuatu dengan ucapan yang ia keluarkan untuk menjawab ucapan Robi.

__ADS_1


"Hem... ko tebak kan mamah bener sih. Papah memang kira nya mamah mau bilang gitu ke orang itu. Makannya tadi papah langsung potong aja ucapan mamah."


"Ih... papah nih, jahat bener ke mamah. Bisa - bisa nya berpikiran kaya gitu."


"Maaf mah, papah kan cuman takut aja. Ntar malah mamah nuduh orang sembarangan. Kan nggak baik mah. Makan nya papah langsung potong ucapan mamah." kata Robi menjawab ucapan Riri.


"Tapi kan pah, alangkah lebih baik nya papah tuh dengerin dulu ucapan nya mamah sampai tuntas. Biar nggak salah paham dengan apa yang akan mamah ucapin."


"Iya deh iya mah, papah nggak akan ulangi lagi buat potong ucapan mamah, kalau belum selesai berbicara."


"Oke pah, aku pegang ya ucapan papah ini."


"Terserah mamah aja. Mau di pegang atau pun hal lain. Papah udah bilang nggak akan ulangi lagi. Itu artinya nggak akan ulangi lagi."


"Oke, oke pah." kata Riri menjawab ucapan Rubi. Sambil menunjukan jari tangannya membentuk huruf O oleh jari jempol dan jari telunjuk. Dengan di iringi tiga jari yang tersisa yang berdiri tegak. Sehingga kata oke itu pun di bentuk oleh tangan tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2