Undangan Dari Mantan

Undangan Dari Mantan
Terheran - heran


__ADS_3

"Ini tuh bentuk rasa khawatirnya kakak terhadap kamu. Tapi respon kamu nya kaya gini. Hem... sedih nya." kata Ayunda yang mulai sedih saat si bungsu telah menyelesaikan ucapannya.


"Aku tau kak, tapi maksud aku tuh. Kakak jangan terus - terusan bolak - balikin tubuh aku. Ntar kan aku bisa pingsan kak, terus jatuh. Respon kakak akan kaya gimana kalau semua itu terjadi ke aku." kata si bungsu menjawab ucapan Ayunda.


"Ya otomatis akan makin panik lah dek. Masa kakak joget - joget liat kamu yang pingsan. Kan aneh." kata Ayunda menjawab ucapan si bungsu.


"Siapa tau kan kakak responnya kaya gitu." kata si bungsu sengaja berkata seperti ini pada Ayunda.


Dion yang masih diam tak mengeluarkan suaranya. Kini mulai mengeluarkan suara nya.


"Udah yank, kasian adek nya kan baru pulang pasti capek. Dan adek juga udah jangan di lanjutin lagi ucapannya. Yuk sekarang lebih baik kita masuk, terus duduk. Nah, setelah duduk baru deh kalau kalian mau lanjutin lagi ucapannya silahkan mau di selesaikan juga nggak masalah. Ayo masuk nggak enak di liatin sama orang - orang tuh." kata Dion berkata pada Ayunda dan si bungsu.


Selain itu, Dion pun sempat menujukan jari tangannya pada orang - orang yang melihat ke arah mereka saat ini pada Ayunda dan si bungsu.


Baik Ayunda maupun si bungsu mereka berdua secara otomatis melihat ke arah telunjuk Dion untuk memastikan ucapan Dion benar adanya.


Dan di saat mereka berdua telah melihat ke arah yang di tunjuk itu. Ternyata memang ada beberapa orang yang sedang melihat ke arah mereka saat ini.

__ADS_1


Sehingga kini pandangan si bungsu dan Ayunda saling berhadapan. Lalu saling memberikan kode.


Dan yang terakhir mereka berdua masuk ke dalam penginapan dengan bergandengan tangan meninggalkan Dion yang terpaku melihat Ayunda dan si bungsu yang bergandengan tangan tersebut.


"Lah giliran udah baikan. Eh... aku nya malah di tinggal. Ckckck... ckckck..." kata Dion setelah Ayunda dan si bungsu sudah masuk ke dalam penginapan.


Bahkan tak hanya bergandengan tangan saja. Dion pun sempat mendengar percakapan akrab si bungsu dan Ayunda saat bergandengan tangan itu.


Ada canda tawa di setiap ucapannya membuat orang lain yang melihat bisa aneh dan terheran - heran.


Kenapa bisa di bilang kaya gitu? itu karena mereka baru saja berdebat tanpa mau yang ngalah satu pun.


"Kak tau nggak tadi tuh saat aku cari kakak, aku malah ketemu sama cowo badannya besar, tinggi, dan lumayan ganteng." kata si bungsu menceritakan pertemuannya ia dan madam Lexi.


"Oh ya, terus - terus cowoknya baik nggak." kata Ayunda yang mulai muncul jiwa kepo nya.


"Baik banget kak, tapi..." kata si bungsu yang menjawab ucapan Ayunda tetapi tak ia teruskan.

__ADS_1


"Tapi apa dek?"


"Em... gimana ya kak? aku tuh sebenernya nggak mau cerita secara detail."


"Cerita aja dek nggak papa, kakak malah penasaran loh kalau kamu nggak cerita."


"Tapi kak aku tuh jadi ragu gitu kalau terusin ucapan aku. Takutnya ntar respon kakak jadi beda."


"Beda gimana sih dek? nggak lah nggak akan beda. Coba sekarang kamu lanjutin lagi ceritanya." kata Ayunda yang masih membujuk si bungsu untuk melanjutkan lagi ucapannya.


"Beneran mau di lanjut kak." kata si bungsu memastikan ucapan Ayunda.


"Iya dek, di lanjutin aja." kata Ayunda menjawab ucapan si bungsu.


"Hem... kalau kakak paksa sih. Oke aku lanjutin." kata si bungsu menyetujui ucapan Ayunda tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2