
Seketika mbak nya pun langsung menjawab ucapan Dion tersebut.
"Oh ini, telpon dari suami saya bang." kata mbak nya menjawab ucapan Dion apa adanya.
"Mbak nya lagi marahan sama suami nya atau gimana? ko bisa nggak di terima telponnya. Maaf, maaf mbak saya malah jadi pengen tau, padahal kan seharusnya saya nggak..." kata Dion yang belum menyelesaikan ucapannya. Tetapi harus terhenti karena mbak nya tiba - tiba memotong ucapan Dion.
"Nggak, nggak papa bang, lagi pula nggak papa ko bang itu kan abang cuman tanya ke saya. Jadi nggak papa bang kalau abang bilang kaya gitu." kata mbak nya yang memotong ucapan Dion saat ini.
"Oh gitu ya mbak, tapi gimana ya mbak saya masih nggak enak karena malah tanya hal itu ke mbak nya." kata Dion menjawab ucapan mbak nya.
"Jangan nggak enak kaya gitu bang. Santai aja, saya nggak papa ko di tanya kaya gitu." kata mbaknya menjawab ucapan Dion.
"Kalau gitu yang mbak bilang sih. Saya jadi merasa tenang mbak. Makasih ya mbak udah nggak marah sama ucapan saya itu." kata Dion menjawab ucapan mbak nya.
"Iya bang" kata mbaknya menjawab ucapan Dion dengan singkat.
__ADS_1
Setelah itu, keadaan pun menjadi hening. Tak ada yang bicara lagi. Baik dari Dion atau pun dari mbaknya. Kini sama - sama terdiam. Kedua nya bagaikan sibuk dengan isi pikiran dan hati masing - masing atau ntah lah apa yang mereka berdua sibukkan di dalam terdiam nya itu dan yang tahu hanya mereka berdua.
Sampai akhirnya Dion kembali menghubungi Ayunda.
Tut... Tut...
"Ayo yank, coba sekarang kamu terima telpon kakak ini. Ayo yank ayo." kata Dion di dalam hatinya.
Mbak yang berada di samping Dion mulai terkejut saat hanphone miliknya, kini kembali berbunyi.
"Eh... tapi ko kakak nggak bosen sih, telpon aku terus. Padahal udah aku abain telponnya sedari tadi. Terima jangan ya, kalau aku terima ntar kakak bilang apa ya ke aku. Terus kalau aku nggak terima lagi telpon kakak yang ini. Kakak bakal telpon aku lagi nggak ya." kata mbak nya berbicara di dalam hatinya.
Sampai - sampai karena terlalu lama memikirkan untuk memilih pilihan antara terima atau nggak telponnya. Telpon itu akhirnya mati sendiri.
Padahal jika telpon itu tak mati. Mbaknya akan menerima telpon tersebut.
__ADS_1
"Lah... lah... ko malah mati sih. Giliran mau di terima, nih telpon malah mati lagi." kata mbaknya berbicara pada dirinya sendiri saat telpon telah mati.
Namun, di saat mbaknya lagi sibuk berbicara pada dirinya sendiri. Tak lama setelah itu, ia kembali mendengar suara hanphone miliknya yang berbunyi.
Tut... Tut...
"Ternyata nih kakak telpon aku lagi. Oke deh sekarang aku terima aja telpon dari nya ini." kata mbaknya sambil bersiap menerima telpon tersebut.
Di saat mbaknya ingin menerima telpon itu, seketika pemikiran untuk menahan agar tak terburu - buru menerima telpon tersebut ia rasakan saat ini.
"Eh... tapi bentar, bentar deh. Kalau aku sekarang terima telpon dari kakak. Aku bakal dapet kata apa ya sebagai jawaban dari telpon kakak saat ini." kata mbaknya yang menjadi bimbang.
Bersambung...
🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1