
"Berbagai macam paham kaya gimana mah? perasaan nggak kaya gitu." kata om Beni menjawab ucapan tante Erni.
"Em... jadi gini pah, papah kan barusan bilang pelukan di kamar aja. Nah, dari kata itu mungkin Anggi udah berpikiran kalau setelah berpelukan di kamar itu mau apa. Gitu bukan Gi yang kamu maksud." kata tante Erni menjawab ucapan om Beni dan berkata juga pada Anggi.
Si bungu yang di tanya oleh tante Erni malah terdiam tak menjawab ucapan tante Erni atau lebih tepat nya Anggi malah terbengong.
Sampai pada akhirnya membuat tante Erni kembali memanggil nama si bungsu.
"Gi, kenapa ucapan tante nggak kamu jawab. Lagi ngelamun apa? awas loh terlalu banyak ngelamun. Ntar kamu malah jadi..." kata tante Erni yang tak melanjutkan ucapan nya karena si bungsu langsung menjawab ucapan tante Erni.
"Stop tan, jangan di terusin lagi. Aku jadi ngeri kalau harus denger ucapan yang aneh - aneh. Jadi tante ku yang cantik jangan di terusin ya ucapannya." kata Anggi yang menjawab ucapan tante Erni.
"Hem... kamu nih, si paling bisa deh buat orang nggak akan lanjutin ucapannya." kata tante Erni yang sengaja berkata seperti ini pada si bungsu.
"Hehe... aku akan dapet julukan dong ya tan, seneng nya." kata si bungsu menjawab ucapan tante Erni.
__ADS_1
"Julukan apa Gi?" kata tante Erni yang belum paham dengan yang di maksud Anggi barusan. Sehingga tante Erni langsung bertanya kepada si bungsu.
"Ya julukan orang cerdas lah tante. Masa iya julukan sebaliknya." kata si bungsu menjawab dengan lantang ucapan tante Erni.
Sementara Ayunda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar. Akhirnya langsung meledakkan tawanya saat si bungsu memberitahukan tentang julukan yang ia maksud pada tante Erni.
"Hahaha... hahaha... aduh, ini bibir ko nggak bisa tahan sih. Em... maaf." kata Ayunda yang menjadi salah tingkah karena ketawa nya ia barusan.
"Lah kak, ko malah ketawa keras kaya gitu. Memangnya kakak lagi nonton stand up komedi apa?" kata si bungsu yang aneh dan heran dengan respon Ayunda.
"Kamu itu apa kak, ih... suka gitu deh. Nggak mau di terusin ucapannya." kata si bungsu menjawab ucapan Ayunda.
"Sebel... sebel... sebel... tau nggak." kata si bungsu melanjutkan ucapannya sambil mengangkat ke dua telapak tangannya dengan mengepal sampai perut dan menurunkannya kembali. Hal itu pun berlangsung selama tiga kali.
"Apa Gi, sambel." kata om Beni yang sengaja berkata seperti ini pada si bungsu.
__ADS_1
"Ko sambel sih om, aku kan bilangnya sebel." kata si bungsu menjawab ucapan om Beni.
"Oh kirain om barusan, bilangnya sambel. Kalau sambel kan enak tuh Gi. Apalagi kalau ada lalapannya. Em... jadi lapar." kata om Beni menjawab ucapan si bungsu sambil memegang perut di akhir kalimat yang ia ucapkan.
"Bener banget om, di tambah pake jus jeruk minum nya. Eh... ko jadi kaya gini ya aku jawabnya." kata si bungsu yang awalnya langsung mengalihkan ucapannya pada apa yang sedang di bahas oleh om Beni.
Namun, kemudian si bungsu mulai menyadari bahwa ia salah berucap.
"Mana om tau Gi, itu kan kamu yang jawab." kata om Beni menjawab asal ucapan si bungsu.
"Hem... Om ini gimana sih. Masa nggak tau." kata si bungsu menjawab ucapan om Beni.
"Ya kan memang kenyataannya Gi, om nggak tau sama sekali. Baru tau nya juga barusan pas kamu bilang." kata om Beni menjawab ucapan si bungsu.
Bersambung...
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼