Undangan Dari Mantan

Undangan Dari Mantan
Beda Banget


__ADS_3

"Kakak harus jujur kaya gimana lagi coba. Kamu tuh beneran kaya gitu yank orang nya. Makannya kakak suka." kata Dion menjawab ucapan Ayunda sambil mengedipkan satu kali matanya di akhir kalimat yang ia ucapakan pada Ayunda, tak lupa juga dengan senyuman tipis saat mengedipkan matanya itu.


"Ah... ya ampun manisnya, kakak nih paling bisa deh buat aku terpesona, argh... jadi pengen pegang pipinya. Gemesin banget sih." kata Ayunda begitu senang melihat Dion yang seperti barusan terhadap dirinya.


Tatapi hal tersebut tak berlangsung lama karena setelah ia bersikap seperti itu. Ia pun menyadari bahwa ia tak boleh menunjukan sikap yang seperti ini pada Dion.


Ntar bisa - bisa Dion malah buat dirinya malu karena sikap yang ia tunjukan saat ini.


Walau dalam hati ia memang tak bisa berbohong bahwa sikap Dion barusan memang membuat ia terpesona.


Tapi apa boleh buat ia tak boleh menunjukan sikap yang demikian tersebut pada Dion.


"Sadar Ayunda sadar jangan kaya gini sikapnya. Kalau kamu kaya gini, ntar bisa - bisa kakak malah buat kamu jadi bingung jawab apa buat respon kamu yang seperti ini. Ayo coba ubah sikap kamu ini. Biar nggak keliatan sama kakak nya." kata Ayunda meyakinkan dirinya untuk tak bersikap seperti apa yang ia rasakan di dalam hatinya agar Dion tak mengetahui isi hatinya yang sebenarnya itu.

__ADS_1


"Ayo Ayunda kamu pasti bisa." kata Ayunda menyemangati dirinya sendiri.


"Ayo yank tunjukkin reaksi kamu itu. Jangan di tahan, kakak tau ko kamu lagi gemes kan liat reaksi kakak barusan." kata Dion yang ternyata sedang menunggu respon Ayunda.


Namun sampai sekarang Ayunda masih tetap menyembunyikan sikap yang benar - benar ia rasakan di dalam hatinya pada reaksi Dion tersebut.


"Kakak hitung nih sampai tiga. Dalam hitungan ketiga atau kurang dari angkat tiga kamu pasti udah tunjukkin reaksi kamu itu ke kakak. Kakak yakin." kata Dion lagi meneruskan ucapannya.


"Kakak mulai hitung nih yank, satu... dua... tig..." kata Dion menghitung sampai angka tiga di dalam hatinya.


"Kak itu matanya ko berkedip kaya gitu ya. Kakak lagi sakit mata apa gimana?" kata Ayunda yang akhirnya menemukan sebuah ide untuk menghindari reaksi yang sebenarnya terjadi ketika Dion mengedipkan mata nya tersebut pada dirinya.


"Pinter banget kamu yank tanya kaya gini ke kakak. Kakak tau ko kamu pasti lagi pura - pura. Oke kalau kamu mau nya kaya gitu. Kakak ikutin apa yang kamu akan lakukan selanjutnya." kata Dion berbicara di dalam hatinya terlebih dahulu sebelum menjawab ucapan Ayunda.

__ADS_1


"Emangnya mata kakak kenapa gitu yank? em... maksudnya berkedip yang kaya gimana yang kamu maksud itu. Perasaan biasa aja ko yank dari tadi juga berkedip nya, nggak ada yang aneh." kata Dion menjawab ucapan Ayunda.


"Kakak nggak sadar emangnya yang barusan kakak berkedip nya beda banget." kata Ayunda menjawab ucapan Dion.


"Beda, beda apa nya yank? dari tadi juga gini - gini aja ko." kata Dion yang masih memainkan perannya.


"Ih... nyebelin deh, ini kakak pasti sengaja bicara kaya gini ke aku. Biar aku..." kata Ayunda berbicara di dalam hatinya yang kemudian ia malah terdiam.


"Akuin reaksi aku yang sebenarnya." kata Ayunda yang meneruskan ucapannya itu.


"Yank, kamu kenapa diem?" kata Dion pada Ayunda.


Bersambung...

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2