
"Apaan sih kak, ko bayangannya perut aku ke depan." kata Ayunda menjawab ucapan Dion.
"Ya nggak papa yank, ntar pasti lucu deh." kata Dion menjawab ucapan Ayunda.
"Hem..." kata Ayunda Hanaya menjawab ucapan Dion dengan deheman saja.
"Oh iya yank, kakak lupa. Nih, buat kamu." kata Dion memberikan sebuah dokumen pada Ayunda.
"Ini dokumen apa kak?" kata Ayunda bertanya pada Dion.
"Kalau kamu pengen tau kamu bisa liat sendiri itu dokumen apa yank." kata Dion bukannya memberitahukan jawaban yang Ayunda pertanyakan. Ia malah meminta Ayunda untuk melihat dokumen tersebut.
"Hem... suka gitu deh. Ya udah aku buka ya." kata Ayunda meminta izin dulu pada Dion saat ia akan menguak dokumen pemberian Dion ini.
"Iya yank, buka aja." kata Dion mengizinkan Ayunda untuk membuka dokumen tersebut.
Perlahan demi perlahan dokumen muai di buka oleh Ayunda. Kemudian dengan sangat teliti dan begitu serius Ayunda membaca dokumen itu.
Di saat ia telah melihat dokumen tersebut dan mengetahui isi dari dokumen itu apa. Membuat ia begitu bahagia.
"Ah... ini beneran kak." kata Ayunda pada Dion.
__ADS_1
"Iya yank masa bohongan." kata Dion menjawab ucapan Ayunda.
"Takutnya bohongan kak, tapi ah... sini aku pengen peluk kakak." kata Ayunda yang meminta Dion untuk mendekat pada Ayunda.
"Nggak mau" kata Dion menjawab ucapan Ayunda.
Ayunda yang mendengar penolakan dari Dion ini. Menjadi terheran - heran kenapa Dion tidak mau ia peluk.
"Kak memangnya kakak nggak mu aku peluk." kata Ayunda bertanya pada Dion.
"Bukan." kata Dion hanya menjawab satu kata ucapan Ayunda.
"Kalau bukan kenapa kakak nggak mau aku peluk." kata Ayunda menjawab ucapan Dion.
"Argh... aku kira beneran ikhlas kasih ini ke aku. Ternyata masih minta imbalan. Memangnya kakak mau di tambah sama apa, selain aku peluk." kata Ayunda menjawab ucapan Dion sambil bertanya juga pada Dion.
"Em... cium atau lakuin hal yang enak - enak juga boleh yank." kata Dion menjawab cepat ucapan Ayunda.
"Hem... pagi deh ujung - ujung nya ke arah sana lagi. Berhubung aku lagi seneng karena kakak izinin aku buat lanjut kuliah lagi. Aku akan penuhi keinginan kakak itu. Kakak mau di penuhi keinginanya kapan?" kata Ayunda menjawab ucapan Dion.
"Sekarang atau nanti juga boleh yank, tapi jangan dua jam ya yank tambah dikit. Gimana setuju nggak?" kata Dion menjawab ucapan Ayunda.
__ADS_1
"Terserah kakak aja, asal jangan buat aku pingsan aja. Karena terlalu lama lakuin itu sama kakak." kata Ayunda menjawab ucapan Dion.
"Hahaha... hahaha... kakak nggak sampai setega itu kali yank. Kamu nih bicaranya suka sembarangan." kata Dion menjawab ucapan Ayunda.
"Ya kan antisipasi aja kak. Takutnya kakak malah lupa karena ingin terpenuhi sampai lupa sama aku." kata Ayunda menjawab ucapan Dion.
"Nggak akan gitu yank, masa kakak mau siksa istri kakak sendiri. Nggak lah, nggak da dalam kamus kakak siksa istri." kata Dion menjawab asal ucapan Ayunda.
"Hem... gitu, ya udah kak. Ini jadinya nanti malem kan." kata Ayunda menjawab ucapan Dion.
"Iya malem aja." kata Dion menjwab ucapan Ayunda.
"Oke, kali gitu aku sekarang mu gabung sama mereka dulu ya. Dah kak, makasih buat ini nya. Kakak baik deh." kata Ayunda sambil menunjukkan dokumen yang di berikan Dion kepada dirinya tadi.
"Iya yank sama - sama. Dan gih kali mau gabung. Tapi jangan lupa ntar malah di siapin ya diri kamu nya." kata Dion sambil menarik turunkan alisnya.
"Hem... iya kakak yang bawel." kata Ayunda menjawab ucapan Dion.
"Kakak nggak bawel yank." kata Dion yang tak terima Ayunda mengatai dirinya bawel.
"Tapi itu kenyataannya kak, kakak itu bawel bahkan super bawel melebihi perempuan." kata Ayunda kemudian menjulurkan lidahnya dan pergi meninggalkan Dion.
__ADS_1
Bersambung...
🌼🌼🌼🌼🌼🌼☘️☘️☘️☘️🌼🌼🌼🌼🌼🌼