
Radit bertemu dengan sang Papih di rumah Addhitama. Bukan hanya Addhitama, di sana ada Rindra serta Rifal. Mereka membahas perihal perusahaan yang sedang berkembang pesat. Radit diutus Addhitama untuk mengelola satu buah perusahaan miliknya. Sama halnya dengan Rifal serta Rindra. Addhitama tidak membeda-bedakan anak-anaknya.
Masih ada sedikit keraguan di hati Radit. Dia ingin dikenal sebagai dokter bukan sebagai pengusaha. Pilihan yang sangat berat.
"Radit bicarakan sama istri Radit dulu ya, Pih."
Addhitama tersenyum dan mengangguk pelan. Dia tahu Radit akan mempertimbangkan dengan sangat matang. Dari awal, Radit tidak ingin mengelola perusahaan sang ayah. Dia hanya ingin mewujudkan mimpinya menjadi psikolog serta dokter. Namun, dia juga tidak bisa menolak. Setelah ayahnya tiada sudah pasti semua perusahaan akan dikelolanya bersama dua kakaknya.
"Dit, Nesha ingin melihat bayi kamu." Ucapan Rindra membuat Radit menatap ke arah sang abang.
"Dia ingin melihat wajah asli putrimu," ujar Rindra.
"Abang tahu 'kan jawabannya," sahut Radit.
"Abang gak akan ikut. Hanya Nesha serta Rio saja," tawar Rindra.
"Aku tidak ingin menyakiti hati istriku. Aku sudah bilang, ketika istriku sudah melupakan semuanya. Kami yang akan menemui Abang serta istri Abang. Kami yang akan datang ke rumah Abang."
Rindra hanya menghela napas kasar mendengar jawaban yang masih sama. Padahal Rindra hanya ingin meminta maaf kepada Echa. Nesha pun ingin bertemu dengan adik iparnya yang selalu Papih mertuanya banggakan. Hanya itu yang mereka berdua inginkan.
Luka yang Rindra goreskan membuat Echa selalu berpikiran jelek kepada Rindra. Alasan utamanya, Echa masih sakit hati dengan kelakuan Rindra lebih dari lima tahun lalu.
Radit tidak langsung pulang, dia masuk ke dalam kamarnya yang berada di rumah sang Papih. Senyumnya melengkung indah melihat foto pernikahannya bersama Echa dan ada sang Mamih di dalam foto tersebut. Meskipun hanya foto editan, mampu membuat Radit bahagia.
"Mih, cucu-cucu Mamih sangat lucu. Pasti Mamih akan sangat menyayangi mereka. Apalagi cucu Mamih berjenis kelamin perempuan. Anak yang selalu Mamih inginkan," lirih Radit.
Ada kesedihan di hati Radit jika melihat foto sang Mamih. Itulah alasannya Radit tidak memasang foto sang Mamih di rumahnya. Sekarang dan untuk selamanya dia hanya ingin hidup bahagia bersama anak dan istrinya. Dia sudah mengubur dalam-dalam kesedihannya.
Radit memilih untuk pulang. Belum sampai setengah hari dia sudah rindu kepada ketiga anaknya. Tak lupa, Radit mampir ke tempat jajanan yang Echa suka. Hal sederhana yang mampu membuat Echa tersenyum bahagia.
Tibanya di rumah, kedua adiknya sudah berada di rumah. Radit menatap kedua adiknya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Pulang cepat, Bang," imbuh Riana. Iyan pun membenarkan ucapan Riana.
Kedua adik iparnya ini sangatlah takut kepada Radit. Radit memang terlihat tidak banyak bicara. Akan tetapi, sekalinya dia bicara akan sangat menusuk hati. Apalagi jika Radit sudah marah.
__ADS_1
"Ini buat kalian." Radit menyerahkan satu kantong yang ada di tangannya. Dia tidak pernah lupa untuk membelikan kedua adiknya makanan yang sama jika dia sedang membeli makanan untuk sang istri.
"Makasih, Bang." Iyan sangat gembira.
Radit meninggalkan kedua adiknya yang sudah berebut makanan yang Radit beli. Dia membuka kamarnya, tetapi kosong. Radit langsung menuju pintu penghubung dan bibirnya tersenyum ketika melihat empat wanita kesayangannya sudah terlelap dengan nyenyaknya.
Apalagi melihat Echa yang tidak sempat berganti pakaian. Menandakan dia sudah sangat lelah. Radit mengecup kening sang istri dan membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
Kakinya melangkah menuju boks bayi yang ada di samping tempat tidur. Ketiga anaknya pun masih tidur dengan damainya.
"Makasih, telah menjadi anak-anak yang baik," ucap pelan Radit.
Setelah membersihkan tubuhnya, dia duduk di karpet yang ada di samping tempat tidur. Dia fokus pada laptopnya. Mengecek pekerjaan yang diberikan ayahnya.
Terdengar suara tangisan dari dalam boks bayi, membuat Radit segera beranjak dari duduknya. Anak ketiganya menangis. Radit menggendong Aleeya dan menimang-nimang hingga bayi lucu itu terlelap kembali. Radit mengecup pipi Aleeya sebelum meletakkannya di dalam boks bayi.
Dia sudah fokus kembali ke arah laptop. Pekerjaan sedikit tertunda karena tangisan sang anak.
"Ya ampun, udah siang banget."
"Tidur lagi aja, Yang." Echa sedikit terkejut mendengar suara sang suami yang menggema.
"Ya ampun, Ay. Kenapa ngagetin?" Echa mengusap dadanya. Radit terkekeh melihat tingkah istrinya.
Echa turun dari tempat tidur menghampiri sang suami. Dia mencoba untuk duduk dengan sangat hati-hati.
"Lagi ngerjain apa?" tanya Echa penasaran.
"Tugas dari Papih, Sayang," jawab Radit. Kemudian dia mengecup pipi chubby Echa.
"Aku mandi dulu, ya. Aku titip anak-anak." Radit mengangguk.
Echa sudah mandi sedari pagi. Hanya saja baju yang dia kenakan tidak pantas jika sedang ada suaminya di rumah. Setelah selesai mandi Echa membawa bungkusan yang Anda di kamarnya.
"Ay, ini apa?" Pertanyaan Echa mampu pandangan Radit.
__ADS_1
"Jajanan kesukaan kamu." Echa mengangguk dan duduk di samping Radit.
"Wangi banget sih, Yang." Radit sudah mencium leher Echa yang putih. Rambutnya tengah dikeringkan menggunakan handuk.
"Masa suami aku tampan dan wangi, akunya buluk dan bau," sahut Echa. Radit pun tertawa mendengar ucapan sang istri.
"Ay, kamu bawain aku makanan melulu, yang ada nantu badan aku kayak si Atun," oceh Echa.
"Itu lebih enak meluknya." Echa menatap Radit dengan tatapan membunuh.
"A, mau jajanannya, Yang." Radit sudah membuka mulutnya.
Echa manyuapi sang suami jajanan yang sedang dipegangnya. Sedangkan Radit mengunyah makanan itu sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Kamu mau kopi?" Dengan cepat Radit menggeleng.
Radit menarik tangan Echa agar masuk ke dalam pelukannya. "Aku hanya ingin kamu menemani aku sampai pekerjaanku selesai." Echa hanya tersenyum.
Baru saja mereka bermesraan, ketiga anaknya seolah tidak memperbolehkan mereka menikmati waktu berdua layaknya pengantin baru. Ketiga anaknya menangis secara bersamaan.
"Ya ampun, kalian ini. Ganggu Baba sama Bubu saja," keluh Radit diselingi tawa.
Echa menggendong Aleena yang menangis sangat keras. Sedangkan kedua adiknya masih bisa Radit tangani.
"Kakak kenapa? Sedih banget," ucap Echa sambil menyusui Aleena.
Tangan mungil itu memegang tangan Echa seolah tidak memperbolehkan Echa memegang siapapun. Radit menggendong Aleeya dan menuju sang istri membuat Aleena menangis lagi. Heran, itulah yang Echa rasakan.
Namun, ketika Radit diam di tempatnya. Tangis Aleena reda. Melihat sang putri pertama sudah anteng, Radit melangkahkan kakinya lagi. Sontak tangis itu pecah kembali. Echa pun tertawa dan mengerti apa yang diinginkan oleh Aleena.
"Baba gak boleh dekat sama Bubu? Itu yang Kakak mau." Aleena hanya terdiam dan meneruskan kegiatannya mimi susu.
"Kecil-kecil posesif," gerutu Radit. Sedangkan Echa hanya tertawa.
"Ya ampun, Nak. Masih bayi aja udah ngerti."
__ADS_1