
Tiba sudah Echa di Jakarta. Sudah banyak yang menjemputnya membuat hatinya merasa bahagia. Tapi, dia tidak melihat sosok Ayahnya. Pria yang sangat dia rindukan meskipun sudah membuatnya kecewa.
Sedangkan Rion, tak kuasa menahan harunya ketika Echa tersenyum dan dipeluk oleh para sahabatnya.
"Ayah di sini, Dek."
Rion tahu, putrinya ini sedang mencari-cari keberadaannya. Karena mata cantik Echa tak hentinya berkeliling setiap sudut Bandara.
Hanya dengan melihat putrinya baik-baik saja, Rion merasa lega. Terlihat jelas, senyum putrinya memancarkan kebahagiaan. Rion tidak boleh egois. Tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk segera memeluk putri cantiknya. Rasa kecewa Echa, tidaklah sebentar. Dia harus sabar menanti Echa untuk memeluknya. Dan mengatakan "Echa sayang Ayah."
Echa sudah tiba di rumah besar milik Giondra. Pelukan hangat dari kedua adik kembarnya membuat Echa merasa menjadi anak yang sangat sempurna.
"Tata puyang." Begitulah ucapan cadel dari kedua anak kembar itu.
"Biarkan Kakak istirahat, ya." Si kembar menjawab ucapan sang mommy dengan anggukan kepala. Mereka pun berlari meninggalkan kakaknya.
"Istirahatlah, pasti kamu capek." Sentuhan hangat tangan Gio membuat hati Echa berdesir hebat. Dia membayangkan, jika tangan itu adalah tangan ayahnya. Sudah pasti dia akan semakin bahagia.
Echa masuk ke dalam kamar, mengabsen setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah ternyata. Mamahnya merawat kamarnya dengan sangat baik.
Pandangan Echa tertuju pada figura yang Echa telungkupkan di atas meja belajarnya. Bibirnya terangkat dengan sempurna ketika melihat foto itu. Wajah Radit Echa coret-coret dengan pulpen. Dari mata, hidung, dan bibir, Echa coret dengan tinta warna-warni. Hingga menjadikan wajah tampan Radit itu terlihat abstrak.
"Inilah bukti kekejaman aku," gumamnya seraya tertawa kecil.
Ayanda dan Gio yang memperhatikan putrinya dari balik pintu mengembangkan senyum.
"Sepertinya Echa sudah melupakan traumanya," imbuh Ayanda.
"Tinggal rasa kecewa yang masih bersarang di hatinya." Ayanda menatap lekat ke arah Gio dengan tatapan tidak mengerti.
"Sedikit sulit untuk mempersatukan Echa dengan Rion kembali," tukas Gio.
Ayanda hanya menghela napas kasar. Bener yang dikatakan oleh suaminya. Rion sudah memberikan kecewa yang cukup dalam kepada Echa. Dan Echa adalah anak yang sangat perasa.
"Pelan-pelan aja, Daddy sudah bilang ke Rion. Dan dia juga mengerti."
Setelah beristirahat, Echa mencari sosok mamahnya. Ternyata mamahnya sedang berada di halaman belakang.
__ADS_1
"Mah." Ayanda pun menoleh ke arah Echa. Senyum pun tersungging di bibirnya.
"Ada apa, Kak?" Echa segera memeluk tubuh Ayanda dengan begitu eratnya.
Sebenarnya ada sedikit ketakutan di hati Echa akan kembalinya rajutan kasih antara dirinya dengan Radit. Karena ketika berita Radit beredar, sumpah serapah Ayanda layangkan untuk Radit. Kebencian sangat terlihat di wajah cantik mamahnya itu.
"Bagaimana di Ausi? Kamu senang?" Echa mengangguk pelan.
"Syukurlah, Mamah sangat mengkhawatirkan kamu, Kak."
"Mamah tidak ingin melihat kamu bersedih dan menangis lagi. Melihat kamu seperti itu, Mamah merasa telah gagal menjaga kamu." Echa semakin mengeratkan pelukannya kepada Ayanda.
"Jangan berbicara seperti itu, Mah. Mamah sudah menjaga Echa dengan sangat-sangat baik. Merawat Echa dengan penuh kasih sayang. Berkorban banyak demi untuk membahagiakan Echa. Hingga Mamah rela menukar kebahagiaan Mamah demi membuat Echa bahagia. Itu sudah lebih dari cukup, Mah."
"Maaf, belum bisa jadi anak yang membanggakan," lanjut Echa dengan nada berat.
Ayanda memeluk erat tubuh putrinya. Mengecup kepala Echa dengan penuh kasih sayang.
"Kamu adalah permata hati Mamah. Apapun akan Mamah lakukan untuk kamu. Untuk adik-adik kamu. Itu sudah menjadi kewajiban Mamah," ujar Ayanda yang tak kuasa menahan tangisnya.
"Mah, apa Mamah masih marah dan membenci Kak Radit?" Ucapan yang sangat hati-hati keluar dari mulut Echa.
Ayanda tidak menjawab. Dia menelisik raut wajah sang putri yang terlihat sedikit ragu dan takut.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Sebuah pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan lagi.
Detak jantung Echa sedikit berpacu. Apalagi suara Mamahnya terdengar sangat ketus di telinga Echa. Sehingga dia tidak berani menatap wajah sang Mamah.
"Kenapa kamu diam? Atau jangan-jangan kamu ...."
"Maafkan Echa, Mah. Maafkan Echa," lirihnya.
"Jika Mamah masih membenci Kak Radit. Marah terhadap Kak Radit, Echa akan memendam semua perasaan Echa kepadanya. Echa tidak ingin membuat Mamah marah. Karena kemarahan Mamah menandakan Echa adalah anak durhaka. Dan neraka lah yang nantinya menunggu Echa."
"Apa kamu masih mencintainya?" Pertanyaan yang penuh penekanan.
"Jika, Mamah tidak merestui. Echa akan mengakhiri. Restu Mamah adalah yang paling penting, demi kebahagiaan Echa nantinya."
__ADS_1
"Jika, Mamah tidak merestui. Apa kamu akan meninggalkan Radit?"
Echa menarik napasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Mamahnya. Dengan terpaksa Echa menganggukkan kepalanya. Padahal hatinya menolak akan itu.
"Pasrah banget kamu jadi cewek," cibir Ayanda. Echa mulai berani menegakkan kepalanya. Senyum indah terukir di bibir mungil sang mamah.
"Kamu lupa, ya. Mamah dan Papa selalu memantau kamu. Bagaimana hari-hari kamu di sana. Apa saja yang kamu lakukan dengan Radit. Dan bagaimana kamu merawat Radit ketika Radit terbaring sakit. Mamah tahu semua, Kak."
"Mamah buat Echa takut," keluhnya dengan wajah cemberut.
Ayanda tersenyum dan memeluk tubuh putrinya lagi. "Mamah merestui kamu dengan Radit. Radit anak baik, Mamah sangat tahu itu. Dan Radit tidak ada bedanya dengan kamu. Anak yang terlahir dengan kasih sayang yang kurang."
"Tapi, Echa masih beruntung Mah. Karena Ayah tidak pernah sekalipun bersikap kasar kepada Echa." Mendengar Echa mengucapkan kata Ayah membuat hati Ayanda merasa lega. Putrinya masih sangat menyayangi ayahnya. Dan itu terbukti dari ucapan yang terdengar sangat lembut di telinga Ayanda.
"Bagaimana dengan Papihnya Radit? Apakah dia juga merestuimu?"
Echa terdiam mendengarnya. Dia tidak tahu apakah papihnya Radit menyukainya atau tidak. Ada kekhawatiran di hati Echa. Tapi, Echa bersikap masa bodo. Radit pasti akan memperjuangkannya. Walaupun Radit dijodohkan juga, sudah pasti Radit akan menolak. Dan lebih memilih dirinya. Sungguh pikiran yang sangat percaya diri.
"Setuju atau tidak, pasti Kak Radit akan berjuang untuk mendapatkan restu Papihnya. Kak Radit bukanlah orang yang berpasrah. Dia adalah orang yang pantang menyerah."
"Jika, Om gak merestui kalian apa kalian akan kawin lari?"
Suara yang membuat Echa sedikit terkejut dan terdiam sesaat. Perlahan Echa membalikkan badannya. Addhitama sudah berada di belakangnya bersama sang Papa.
"Jawab, Om ingin dengar jawabannya."
"Itu tergantung Kak Radit, Om. Echa mah ikut aja. Tidak ada salahnya untuk berjuang terlebih dahulu. Masalah restu, nanti juga akan didapat seiring berjalannya waktu."
Addhitama mengusap lembut kepala Echa seraya tersenyum bangga kepada anak gadis ini.
"Kalo begini, bagaimana Om bisa menolaknya."
Echa dan kedua orangtuanya tersenyum bahagia mendengar penuturan Addhitama. "Apa Om boleh peluk kami?"
Echa pun berhambur memeluk tubuh Addhitama. "Makasih telah menyayangi anak, Om. Makasih telah menyembuhkan lukanya."
...----------------...
__ADS_1