
"So sweet," ucap wartawan wanita mendengar pernyataan tegas Radit.
Konferensi pers pun berakhir dan sebelum Radit pergi. Radit mengucapkan terimakasih kepada para wartawan. Setelah itu, Radit pergi meninggalkan mereka semua.
"Baru kali ini ada anak pengusaha ternama yang sangat sopan ketika melakukan konferensi pers," ujar salah seorang wartawan.
"Hatinya sangat baik dan sangat beruntung wanita yang mendapatkannya," sahut wartawan yang lain.
Radit, George dan Paulo melenggangkan kaki menuju ruangan sebelah di mana Genta dan juga Echa menunggu. Ketika pintu terbuka, Echa berhambur memeluk tubuh Radit. Di sinilah kekuatan Radit.
"Makasih udah jadi penguat untuk aku," ucapnya membalas pelukan Radit.
Genta, Paulo dan George tersenyum bahagia melihat Radit dan Echa.
"Pilihan yang sangat tepat, Genta," kata Paulo.
"Ya, dia sudah ku awasi sejak kecil. Dan ternyata dia tumbuh menjadi anak yang luar biasa meskipun tanpa kasih sayang orangtua."
"Radit memang laki-laki hebat dan pantang menyerah," timpal George.
Seorang pengawal yang berjaga di luar menghampiri Genta. "Maaf Tuan, Kakaknya Radit dan Ayahnya sedang ngamuk di luar," bisiknya.
"Cha, kamu ikut Kakek lewat pintu belakang. Biar Radit, George dan juga Paulo lewat pintu depan," ucap Genta. Echa mengangguk patuh.
"Kita ketemu di mobil, ya." Sebelum Radit pergi dia mengecup kening Echa terlebih dahulu.
Benar saja, di luar tempat itu ada Rindra dan Addhitma yang sudah memasang wajah tak suka. Inilah konsekuensi yang harus Radit hadapi.
Ada beberapa pengawal yang berjaga di sana. Dan membiarkan Radit menghadapi mereka seorang diri.
"Mau kamu apa? Dasar anak gak guna!" pekik Rindra.
"Anak yang gak tahu terimakasih. Udah dibesarkan dengan segala fasilitas yang mewah malah begini balasan kamu?" lanjut Rindra.
"Apa aku harus diam saja ketika aku diinjak-injak terus sama kalian? Semut aja jika terus-terusan diusik pasti akan menggigit kalian. Apalagi aku," sahutnya.
Radit tidak mengindahkan ucapan Rindra dan menuju mobilnya. Namun, dengan keras Rindra menarik baju belakang Radit dan menghantam wajah Radit. Sayang, yang terkena hantaman adalah Echa.
"Bhul," teriak Radit melihat Echa tersungkur. Darah segar di sudut bibir Echa membuat Radit semakin murka.
__ADS_1
"Si Alan!"
Radit menghajar wajah Rindra dengan sangat ganasnya. Dan para pengawal menyelamatkan Echa dan membawanya ke mobil.
"Lu boleh Bang sakitin gua sesuka hati lu. Tapi, jangan pernah sakitin orang yang gua sayang," bentaknya dan melayangkan satu pukulan lagi si wajah Rindra.
"Radit!" seru Addhitama.
"Kenapa? Papih mau laporin aku ke polisi? Laporin Pih, aku cape jadi boneka kalian. Aku cape berkorban terus demi kalian tanpa sedikit pun kalian menghargai aku dan menganggap aku ada. Aku capek Pih."
"Dari awal aku bilang, aku tidak minta dilahirkan 'kan. Bukan salah aku Pih, tapi seakan kesalahan semua ada pada aku. Aku lelah Pih, lelah."
"Aku tunggu pemanggilan dari kantor polisi," tantang Radit dan berlalu meninggalkan Addhitama dan Rindra yang sudah tersungkur dengan wajah yang sudah tidak tampan lagi.
Radit bergegas masuk ke dalam mobil yang ditumpangi Echa. "Maafin, aku. Kamu gak boleh gegabah kaya tadi," ucapnya dengan nada yang sangat khawatir.
"Aku akan merasa bersalah jika, kamu terluka," imbuhnya seraya memeluk tubuh Echa.
"Aku gak ingin kamu kenapa-kenapa," lirih Echa.
"Aku akan baik-baik saja jika, kamu tetap bersama aku. Di samping aku," tukasnya.
Mobil melaju ke rumah Genta, dan Radit sudah membawa beberapa salep dan juga air hangat untuk membersihkan luka di sudut bibir kekasihnya.
"Aw," ringis Echa.
"Tahan sebentar, ya, Yang."
Dengan telaten Radit membersihkan luka Echa. Dan mengoleskan salep untuk mengurangi memar. Dan juga memberikan obat dalam agar meredakan nyeri.
"Kamu istirahat, ya." Radit membantu membaringkan tubuh Echa. Kemudian mengecup kening Echa sangat dalam.
"Jangan berbuat hal seperti ini lagi, ya. Aku yang harusnya jagain kamu," ujar Radit sambil mengecup punggung tangan Echa.
Radit mengusap lembut rambut Echa hingga Echa terlelap. Lengkungan senyum pun terukir di bibirnya.
"Maafkan aku, Sayang." Radit mengecup kening Echa lagi kemudian, dia pergi menemui Genta.
Setelah masuk ke dalam ruang kerja Genta. Radit duduk di hadapan Genta.
__ADS_1
"Maafin Radit, Kek. Karena Radit Echa terluka seperti itu," sesalnya seraya menunduk dalam.
Genta bangkit dari duduknya, dan mengusap lembut bahu Radit.
"Dia yang lepas dari pantauan Kakek. Ternyata dia melihat pergerakan Rindra dan segera melindungi kamu," jelas Genta.
"Harusnya Kakek menahannya, Radit tidak ingin Echa terluka karena masalah Radit. Radit sudah terbiasa kena pukulan, Kek."
"Sudahlah, itu tandanya Echa sangat menyayangi kamu. Sekarang obati lukamu. Tangan kamu memar itu," tunjuk Genta ke arah tangan Radit.
Radit mengangguk patuh dan pergi ke kamarnya untuk mengobati lukanya. Di dalam kamar Radit duduk termenung.
"Biarlah masuk jeruji besi. Ini 'kan konsekuensi yang harus aku terima," gumamnya seraya tersenyum kecut.
Berita konferensi pers sudah tersebar di semua media online. Dan menjadi trending topik hari ini. Sekarang giliran Rindra yang dicari oleh awak media. Mereka menginginkan pernyataan langsung dari Rindra. Dan sekarang, Addhitama yang pusing. Jalan satu-satunya adalah dia mendatangi Radit. Dia tahu, Radit dilindungi oleh Genta.
Addhitama mendatangi rumah Genta di kala hampir tengah malam. Genta yang memakai piyama menatap tajam ke arah Addhitama.
"Aku tahu Radit ada di sini."
"Lalu?" tantang Genta.
"Aku ingin bertemu dengan dia."
"Ketika kau sudah menginjak-injak harga dirinya. Kini, kau ingin memungutnya kembali. Otakmu di mana Addhitama," cibir Genta.
Addhitama hanya diam mendengar bentakan Genta. Genta tahu bagaimana perlakuan berbeda Addhitama kepada Radit.
"Anakmu sudah menjaga nama baik keluargamu. Mengorbankan namanya demi perusahaan dan citra kamu. Tapi, kamu dan anakmu malah membuat berita tidak mengenakkan lagi. Apa kamu kira anakmu itu tidak memiliki emosi?"
"Diamnya Radit karena dia masih menghargai kamu sebagai orangtuanya. Tapi, apakah kamu pernah sedikit pun menghargai dan mengerti perasaan Radit yang sangat tersiksa setelah ulah Rindra?"
"Anak emas mu akan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan semua karir dan citramu. Sedangkan anak yang kamu perlakukan anak tiri akan membuatmu bangga suatu saat kelak. Karena yang kamu anggap batu kerikil akan menjadi sebuah permata yang sangat berharga."
"Satu hal lagi, Radit sudah menunggu jemputan polisi. Dan ketika kamu menjebloskan Radit ke penjara, siap-siap anak kesayanganmu pun akan aku jebloskan ke dalam jeruji besi dengan pasal berlapis. Apalagi dia telah mencelakai cucu kesayanganku," ancam Genta.
...----------------...
Happy reading ...
__ADS_1
Jangan lupa komen biar semangat akunya