
Sudah tiga hari ini Echa benar-benar tidak dapat mengkonsumsi makanan apapun. Apa yang dia makan rasanya enek dan tidak bisa masuk ke dalam perutnya. Berkali-kali Radit meminta Echa untuk pergi ke rumah sakit, tetapi dia selalu menolak.
"Sayang, periksa ke dokter deh," pinta Radit.
"Kamu juga 'kan dokter, Ay," balas Echa dengan memeluk erat pinggang Radit.
Jika, sudah belanja begini Radit tidak akan tega. Dia malah akan selalu memanjakan istrinya. Ketiga anaknya pun sudah tiga malam ini pun meminta tidur dengan Echa juga Radit. Mereka bertiga akan memeluk erat tubuh Echa.
Namun, kemesraan mereka harus terganggu ketika Aleesa menjerit keras. Radit dan Echa segera memeluk tubuh Aleesa.
"Kakak Sa, kenapa?" tanya Echa.
Tidak ada jawaban dari Aleesa. Dia hanya memeluk erat tubuh ibunya.
__ADS_1
"Kakak Sa gak mau kehilangan, dia harus tetap hidup," rancaunya.
"Kehilangan? Tetap hidup?" ulang Echa. Dia menatap ke arah Radit dan Radit hanya menggelengkan kepala.
"Kakak Sa bicara apa?" tanya Radit seraya mengusap lembut kepala Aleesa. Lagi-lagi Aleesa menggeleng. Dia tidak akan mengungkapkan apa yang dilihat di dalam mimpinya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya bersedih.
"Aku bukan Tuhan. Semoga mimpi ini hanya bunga tidur."
"Kakak Sa ingin tidur sambil memeluk Bubu, pintanya lirih.
"Udah kamu tidur aja dulu. Aku bisa siapkan semuanya," ujar Radit, tak lupa dia mengecup kening serta bibir sang istri. Meskipun sudah memiliki tiga orang anak, kemesraan mereka tak pernah pudar.
Setelah selesai mandi, Radit berdiri di depan pintu kamar mandi dengan memandangi empat perempuan yang sangat dia sayangi. Lengkungan senyum terukir di wajahnya.
__ADS_1
Apalagi melihat ibu dari anak-anaknya yang semakin hari semakin awet muda. Echa masih seperti anak kuliahan, tubuhnya naik hanya beberapa kilo saja malah terlihat semakin seksi. Namun, jiwa keibuannya sangat luar biasa. Dia tidak pernah menghabiskan waktu dengan berdandan lama-lama. Hanya menggunakan skincare yang cocok untuk kulitnya. Meskipun, setiap bulan suaminya harus merogoh kocek tak kurang dari sepuluh juta. Bagi Radit, itu adalah aset yang harus dijaga dan dirawat oleh wanita.
Radit sudah rapih dengan pakaiannya. Aroma parfum.sang suami membuat Echa membuka matanya kembali.
"Kita sarapan di rumah Mamah, ya." Radit tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Anak-anak bangunin dulu, pasti mereka akan sangat senang," balas Radit.
Ketiga anak Radit tidaklah susah untuk dibangunkan. Mereka akan segera menuju ke kamar mandi untuk mandi pagi. Ketika mendengar nama sang Mimo mereka berteriak gembira dan langsung meminta ponsel ibu mereka.
"Dedek mau minta dibuatkan nasi goreng sosis," oceh Aleesa.
"Roti bakar Mimo lezat, Kakak Na ingin bawa ke sekolah juga," lanjut Aleena.
__ADS_1
Aleesa hanya terdiam, sedari mimpi semalam hatinya mulai tak karuhan. Dia merasakan akan terjadi sesuatu. Akan tetapi, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Ketiga anak Echa itupun terlihat riang gembira berjalan menuju rumah Ayanda. Mereka bertiga bergandengan tangan. Namun, ketika mereka tiba di rumah itu mata mereka memicing ketika melihat nenek lampir ada di meja makan. Mereka bertiga bukanlah orang yang bisa berpura-pura baik. Jika, dia tidak suka maka dia akan tetap tidak suka.