
Di dalam ruangan suaminya, Echa sudah duduk di sofa yang di sampingnya ada Radit. Sedari tadi Radit menggenggam erat tangan Echa.
"Cantik," ucap Echa dengan pandangan lurus ke depan.
Radit memilih bersimpuh di depan Echa dan mendongak ke arah istrinya. "Tidak ada wanita yang lebih cantik dari kamu di dunia ini," ujarnya. Echa hanya tersenyum dan menatap manik mata Radit.
"Seminggu yang lalu tidak seperti itu 'kan," imbuh Echa.
"Maaf, aku salah."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Echa. Dia mulai beranjak dari duduknya dan berjalan menuju arah kaca jendela. Tangannya sudah dia lipat di depan dada.
"Wanita itu ahli sejarah. Kesalahan sekecil apapun yang suaminya lakukan pasti akan terus dia ingat."
Radit mengerti akan hal itu, dia memilih untuk menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"I know it."
Radit meletakkan dagunya di atas pundak sang istri. Memejamkan matanya seraya menyesali perbuatannya.
"Kamu boleh hukum aku sesuka hati kamu dan sampai kamu puas. Aku gak masalah, tapi jangan pernah memaksa aku untuk meninggalakan kamu karena aku gak bisa hidup tanpa kamu juga anak-anak kita," tuturnya.
__ADS_1
Rasa sayang yang Echa miliki pun sangatlah besar. Dia tidak ingin kejadian yang menimpanya sewaktu kecil terjadi pada ketiga anaknya. Walaupun dia mampu mengurus anak-anaknya seorang diri, tetapi dia sangat yakin bahwa anak-anaknya juga menginginkan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya.
"Kamu pilih siapa?"
Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Echa. Radit menegakkan kepalanya dan membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.
"Sebuah pilihan yang pasti kamu sudah tahu jawabannya," balas Radit. "You!"
Echa tersenyum kecil mendengar jawaban dari Radit. "Apa karena aku sudah mengetahuinya?" Radit pun menggeleng.
"Aku dekat dengan dia hanya sebatas teman ngobrol. Tidak lebih dari itu. Parasnya sama sekali tidak menggodaku. Sikapnya pun berbeda jauh dengan kamu. Nothing special."
Echa tidak melihat kebohongan di mata Radit. Hanya sebuah kejujuran juga keseriusan yang dapat Echa lihat dari mata Radit.
Echa masih bergeming. Dia masih memandang lekat suaminya.
"Love you so much, today, yesterday and forever."
Kalimat yang sangat tulus terdengar di telinga Echa. Radit sudah membawa tangan Echa ke bibirnya. Dia kecup dengan sangat lembut juga penuh cinta. Tak terasa bulir bening menetes di wajah Echa.
"Aku sangat menyayangi kamu, melebihi sayang kepada diri aku sendiri." Inilah perasaan Radit sesungguhnya.
__ADS_1
Radit mengusap lembut air mata yang menetes di wajah Echa. "Don't cry. Aku akan selalu membuat kamu bahagia bersamaku." Sebuah janji yang keluar dari mulut Raditya Addhitam
Radit meraih dagu Echa dan bibir Radit pun sudah menyapu bibir merah cherry istrinya. Menyesapnya penuh penghayatan dan seperti tenggelam dalam lautan kerinduan yang mendalam. Mereka seakan tengah melepas dahaga panjang. Tangan Radit pun sudah tak mau diam ingin melakukan lebih lagi.
"Aku merindukan ini, Sayang." Radit berbisik di telinga Echa.
Mata Echa pun sudah mulai sayu seakan dia pun merindukan sentuhan hangat dari suaminya. Sudah sebulan lebih ini dia memilih menjaga jarak karena hatinya sudah terlalu sakit dengan apa yang dilakukan Radit.
Radit sudah membawa tubuh Echa ke dalam pangkuannya. Menjelajahi bagian wajah hingga leher hingga Echa menggeliat tak karuhan.
"Pak ini berkas ...."
Mendengar suara seseorang yang baru saja masuk membuat Radit dan Echa menghentikan kegiatannya. Radit menatap nyalang Renita, yang tak lain adalah sekretarisnya. Radit segera menutup bagian tubuh Echa yang sudah terbuka. Mood Echa seketika berubah. Dia hendak turun dari pangkuan Radit, tetapi dilarang oleh suaminya.
"Tetap seperti ini, Sayang." Kecupan hangat Radit berikan di bibir merah cherry sang istri membuat Renita segera memalingkan wajahnya.
"Kamu bisa baca tulisan di depan pintu ruangan saya 'kan!" Nada bicara Radit sudah meninggi menandakan dia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Renita.
"Maaf, Pak," sesal Renita. "Saya hanya ingin menyerahkan jadwal Bapak untuk hari ini."
Renita tidak berani maju satu langkah pun. Apalagi dia melihat istri dari pria yang dia sukai sudah membenamkan wajahnya di dada bidang Raditya. Tangan Radit pun tengah membelai rambut sang istri yang tergerai.
__ADS_1
"Batalkan semuanya karena hari ini saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama istri saya di kantor."
Remuk hati Renita mendengarnya. Baru saja Renita hendak menimpali ucapan Radit, suara sang ayah sudah menggema. "Renita akan Papih pindahkan ke kantor milih Rifal."