Yang Terluka

Yang Terluka
Hadiah Terindah


__ADS_3

Dari menyewa apartment dan sekarang Radit sudah membeli rumah yang tak kalah megah di London. Keadaan finansialnya semakin membaik. Namun, ada sikap tidak biasa dari istri Radit selama seminggu ini di rumah barunya. Wanita yang sangat takut gendut sekarang malah sebaliknya.


"Yang, perasaan itu mulut dari tadi ngegiling terus," goda Radit.


"Bawaannya lapar terus, Ay." Echa menyuapkan keripik kentang ke dalam mulut sang suami.


"Gak takut gendut?" Echa menatap tajam ke arah Radit. Radit terkekeh geli dan memeluk tubuh sang istri.


"Bercanda, Sayang."


Ketika tengah malam, di mana semua orang terlelap, Echa sedang menumpahkan semua isi perutnya. Apa yang dia makan keluar semua. Perutnya seperti diaduk-aduk. Membangunkan suaminya pun dia tidak tega.


Hampir satu jam Echa berdiam diri di kamar mandi. Merasakan perutnya yang masih tetap bergejolak. Meskipun semuanya sudah Echa keluarkan.


Dengan sisa-sisa tenaga, Echa menuju mini pantry yang sengaja Radit buat di dalam kamar. Dia membuat teh hangat untuk dia minum. Baru seteguk, perut Echa terasa diaduk-aduk kembali.


Huwek!


Mendengar suara yang tidak biasa, Radit mencoba membuka mata. Walaupun terasa lengket sekali. Melihat ke arah samping, sang istri tidak ada. Dia segera turun dari tempat tidur.


Huwek!


Melihat istrinya yang sedang muntah-muntah Radit segera berlari dan membantu memijat tengkuk leher Echa.


"Kamu kenapa, Yang?"


Echa hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada bidang suami dengan keringat yang bercucuran.


"Mungkin maag aku kambuh. Kemarin makan rujak pedas," jawab Echa lemah.


Radit menyeka keringat Echa dengan telapak tangannya. Kemudian membopong tubuh Echa ke atas tempat tidur.


"Aku ambilkan air hangat dan minum obat maag, ya." Echa mengangguk lemah.


Setelah meminum obat maag, rasa mual itu semakin menjalar. Echa berlari kembali menuju kamar mandi. Radit menyusul dan membantu memijat tengkuk sang istri.


"Besok kita ke dokter, ya," ucap lembut Radit ketika Echa memeluk tubuh suaminya.


Keesokan paginya sambil menahan rasa mual dia berusaha menyiapkan sarapan sederhana untuk Radit. Meskipun harus bolak-balik wastafel, itu tidak jadi masalah.


"Loh, kenapa kamu masak?" Echa menatap ke arah Radit. Sejurus kemudian perutnya bergejolak.


Radit mematikan kompor, lalu menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang. Meletakkan tangannya di atas perut sang istri.


"Enakan gak?" Rasa mual itu seketika hilang dan Echa hanya bisa mengangguk pelan.

__ADS_1


Bibir Radit pun terangkat. Dia berharap apa yang dia prediksi benar adanya.


"Hari ini kamu gak boleh ngapa-ngapain, dan aku juga akan meminta cuti untuk menemani kamu."


"Apa gak berlebihan, Ay?" tanya Echa.


"Tidak, Sayang. Sekarang, kamu istirahat karena semalam kamu kurang tidur. Untuk sarapan biar aku pesan aja."


Lengkungan senyum terukir di bibir Radit melihat sang istri mulai terlelap.


"Semoga dugaanku benar," gumam Radit.


Radit menggantikan tugas istrinya untuk mengurus rumah. Dia tidak akan pernah tega membiarkan istrinya yang dengan kondisi seperti itu melakukan semuanya. Makanan yang dia pesan pun sudah tiba. Dia menatanya di atas piring kemudian membawanya ke lantai atas.


Ternyata istrinya sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang. "Kok sudah bangun? Enek lagi?" Echa mengangguk lemah.


Radit menaruh nampan di atas nakas. Kemudian duduk di samping sang istri sambil mengusap lembut perut Echa. Sedangkan kepala Echa dibaringkan di pundak Radit.


"Masih mual?" Gelengan kepala yang menjadi jawabannya.


"Yang, bulan ini kamu dapat haid gak?" Echa mendongak menatap Radit.


"Dua bulan ini aku sudah gak dapat haid." Bahagia sudah menjalar di hati Radit. Dia mengecup kening istrinya sangat dalam.


Radit menyerahkan test pack kepada Echa. "Cobalah, kalo gagal juga gak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan dugaanku." Wajah Echa mulai terlihat sendu. Dia tidak ingin terlalu berharap. Sudah sering Echa terlambat datang bulan, tetapi hasilnya negatif.


"Coba cek, Sayang." Echa mengangguk lemah.


Sudah lima belas menit Echa berada di dalam kamar. Radit merasa khawatir karena sang istri tak kunjung keluar.


"Sayang." Radit mengetuk pintu.


Echa membuka pintu kamar mandi dengan deraian air mata. Radit segera memeluk istrinya.


"Jangan sedih, Yang. Kita masih bisa coba lagi. Kita juga masih bisa program bayi tabung."


"Ga-garis d-dua, Ay," ucap Echa terbata.


Mata Radit melebar dan dia mengurai pelukannya. Menatap manik mata Echa dengan rona bahagia.


"Serius?" Echa memperlihatkan hasil testpack tersebut dan mata Radit mulai nanar.


"Makasih Sayang," ucap Radit sambil memeluk tubuh Echa.


"Akhirnya Tuhan menjawab penantian kita," tambah Radit lagi.

__ADS_1


Untuk lebih memastikan, mereka menuju rumah sakit tempat di mana Radit praktek. Semua perawat dan dokter yang mengenal Radit sedikit terkejut ketika Radit menggenggam tangan seorang wanita dengan sangat mesra dan posesif. Apalagi wanita itu terlihat sangat cantik dan juga anggun.


"Apakah dokter Radit sudah menikah?" Pertanyaan dari salah seorang perawat membuat perawat lainnya menggelengkan kepala.


Radit pun harus menunggu sama seperti pasien lain. Tangan Radit tidak pernah dia turunkan dari atas perut sang istri karena jika diturunkan, rasa mual itu akan muncul kembali.


Setengah jam menunggu, akhirnya Radit dan Echa bisa masuk ke ruang pemeriksaan.


"Halo, dokter Radit." Dokter kandungan yang bernama Laura tersenyum hangat kepada Radit. Sejurus kemudian, pandangannya teralihkan pada sosok yang berada di samping Radit.


"Siapa dia? Kekasihmu?"


"Dia istri saya." Mata dokter Laura melebar ketika dia baru mengetahui bahwa Radit sudah memiliki istri.


"Saya kira kamu masih lajang." Radit terkekeh kemudian merengkuh pinggang Echa.


"Dia istri saya, wanita yang paling saya cintai."


"Oke, saya cek istri kamu dulu." Setelah pengecekan tensi darah. Echa disuruh berbaring di brankar.


Tangan Radit masih bertaut dengan tangan Echa. Jujur hatinya berdegup dengan sangat cepat karena dia juga belum bisa memastikan kehamilan Echa.


Tangan dokter Laura menggerakkan alat di atas perut Echa. Kemudian. menghentikan gerakannya. Menajamkan penglihatannya.


"One ... two ... three." Seperti anak kecil yang baru belajar berhitung.


"Wow!" seru dokter Laura.


Dia menatap Radit dengan penuh kebahagiaan. "Coba kalian lihat ini." tunjuknya pada titik-titik di dalam monitor.


"Hitung ada berapa?"


"Tiga," jawab Radit.


"Yes. Selamat istrimu mengandung triplets."


Tubuh Radit membeku mendengar ucapan dokter Laura. Sedangkan Echa sudah meneteskan air mata.


"Se-rius?" Dokter Laura mengangguk mantap.


Air mata Radit lolos begitu saja. Dia memeluk istrinya yang tengah menangis. Mencium wajah Echa dengan ucapan terima kasih yang tiada henti.


Makasih, Tuhan. Telah menyiapkan hadiah terindah di balik kepedihan yang dulu kami rasakan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2