Yang Terluka

Yang Terluka
Mamah


__ADS_3

Radit yang mendengar ucapan lemah sang istri hanya menggelengkan kepala. "Sampai kapanpun aku tidak akan menduakan kamu. Kamu tetap satu-satunya di hati aku," batinnya.


Banyak isi hati istrinya yang Radit dengar. Hatinya sangat sakit ketika mendengar semuanya. Apalagi mendengar Echa yang terisak membuat Radit benar-benar menangis.


Dua jam sudah Radit menguping pembicaraan Echa dan juga Andri. Akhirnya, Andri pergi dari rumah itu dan menyisakan Echa seorang diri di sana. Radit yang masih bersembunyi memberanikan diri untuk keluar setelah mendengar deru mesin mobil Andri sudah menjauh. Dia membuka sedikit pintu kamar yang ditempati istrinya.


Dia masih setia dan sabar menunggu hingga istrinya terlelap dengan nyenyak. Dia menyelinap masuk ke kamar yang dihuni Echa dan duduk di bibir tempat tidur. Wajah pucat istrinya, pipi yang terlihat tirus membuat air matanya menetes begitu saja. Dia menggenggam tangan Echa dan mencium punggung tangan istrinya dengan sangat dalam.


Radit sedikit terkejut ketika melihat mata Echa perlahan membuka. Radit tersenyum ke arahnya dengan pipi yang sudah wajah.


"Ay ...." Suara lemah sang istri membuat hati Radit semakin sakit. Dia tidak menjawab ucapan Echa, dia mendekatkan wajahnya dan membubuhkan kecupan hangat di kening Echa.


"Tidur ya, Sayang. Aku akan jaga kamu di sini." Tangan Radit pun mengusap lembut rambut Echa hingga dia memejamkan matanya kembali. Radit tahu, Echa diberi obat dosis cukup tinggi oleh Andri agar dia bisa istirahat.


Siang menjelang, Echa terbangun dengan mata yang mencari ke sana ke mari.


"Apa itu hanya mimpi?" Echa segera bangun dari tempat tidur dan mencuci wajannya. Radit tersenyum dan segera meninggalakan rumah itu agar tidak ketahuan oleh Echa.


Sudah tiga hari Radit meninggalkan rumah Andri. Dia beralasan untuk kembali ke Jakarta. Kabar itu pun sampai ke telinga Echa dan mampu membuat Echa tersenyum perih.

__ADS_1


Setiap pagi, Radit selalu memperhatikan istrinya dari kejauhan. Dia tidak meninggalkan Kota Jogja, dia hanya keluar dari rumah Andri agar bisa leluasa memperhatikan istrinya.


"Kapan keceriaan kamu hadir lagi, Sayang?"


Sebuah penyesalan kini bersarang di hati Radit. Dia ingin menampakkan diri kepada Echa, tetapi dia takut jika Echa akan semakin menjauh. Sesungguhnya dia tidak tega melihat Echa seperti ini.


Radit menyandarkan punggungnya di balik kemudi. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Apalagi melihat Echa yang semakin kurus.


"Mamah."


Satu orang yang dia ingat adalah mamah mertuanya. Dia ingin berkata jujur kepada ibu mertuanya karena dia sangat yakin ibu mertuanya tidak sekejam dua ayah mertuanya. Radit segera menghubungi sang mamah dan meminta waktu untuk bertemu di luar. Untungnya saja, hari ini Ayanda tengah berada di Bogor dan malam nanti dia kembali ke Jakarta. Radit yang akan menyusulnya ke sana. Biarlah tubuhnya lelah bolak-balik Jogja-Bogor dan Bogor-Jogja. Apapun akan dia lakukan untuk istrinya.


Selama berada di dalam pesawat, Radit terus memantau istrinya melalui orang suruhannya. Ketika siang menjelang, barulah dia tiba di Bogor. Lelah memang, tetapi Radit sangat ikhlas melakukan ini semua.


"Echa mana?" Radit hanya diam dan akhirnya dia menceritakan semuanya kepada sang ibu mertua. Ayanda yang mendengar pengakuan Radit menitikan air mata.


"Kenapa Echa harus mengalami hal yang sama seperti Mamah?" Radit segera bersimpuh dan memohon ampunan kepada ibu mertuanya. Dia sangat menyesali perbuatannya hingga dia pun menangis menjelaskan semuanya.


"Maafkan Radit, Mah."

__ADS_1


Ingin rasanya Ayanda marah kepada menantunya ini. Namun, kejujuran Radit membuat Ayanda merasa bangga. "Bangunlah, Dit." Ayanda berucap dengan suara berat dan tangan yang sudah mengusap air mata.


Radit menuruti perintah sang mertua. Kini, Ayanda menatap Raditya Addhitama dengan serius.


"Kamu tahu 'kan Dit bahwa Echa adalah anak kesayangan ayah, papah dan omnya." Ayanda menjeda ucapannya. "Apa jadinya kalau mereka tahu tentang ini?" Pertanyaan yang penuh dengan penekanan. Radit hanya terdiam.


"Kalau kamu kecewa karena Echa yang sudah tidak sempurna. Kenapa kamu tidak mengembalikan Echa kepada Mamah atau ayah. Kenapa harus dengan menyakiti hati anak Mamah yang sangat rapuh itu?" Ayanda pun menitikan air mata lagi ketika mengucapkan itu semua.


"Maafkan Radit, Mah." Kalimat itu penuh dengan penyesalan.


"Kalau Mamah egois, mungkin hari ini juga Mamah akan mengambil anak Mamah dari kamu. Namun, Mamah juga pernah berada diposisi Echa yang pastinya akan merasakan yang namanya pergi sulit dan bertahan sakit," papar Ayanda.


Radit terdiam, mulutnya kelu. Dia hanya bisa menunduk dalam.


"Satu hal yang masih ingin Echa pertahankan yaitu anak-anak. Cukup dia yang merasakan pedihnya arti sebuah perceraian kedua orang tuanya. Pasti dia tidak ingin anak-anaknya kelak merasakan hal yang sama dengan dirinya."


Kini, Ayanda menggenggam tangan sang menantu. Dia tidak menyalahkan siapapun.


"Kalau kamu masih sayang dan cinta sama anak Mamah, berjuanglah demi mendapatkan maaf dari putri Mamah." Ayanda menjeda ucapannya sejenak. "Akan tetapi, ketika maaf itu sudah kamu dapat. Jangan berharap jika hatinya sudah sembu," ucapnya seraya menggeleng. "Luka yang seseorang torehkan lebih lama sembuhnya dibandingkan dengan luka senjata tajam. Bibir boleh memaafkan, tetapi hati ... tidak semudah itu untuk memaafkan."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2