
Setelah lulus kuliah, Echa memutuskan untuk bekerja di perusahaan milik sang kakek. Dan dia masih tetap tinggal di Canberra.eskipun seruan untuk pulang sudah setiap hari terdengar.
Waktu terasa cepat bergulir, sudah lebih dari satu tahun Echa bekerja dengan sang kakek. Menduduki jabatan cukup tinggi dan menghasilkan pundi-pundi yang pastinya sangat banyak sekali.
Restu sudah dikantongi Radit karena dia sudah menyetujui syarat yang diberikan oleh Gio dan juga Rion. Hingga acara lamaran pun akan dilangsungkan. Namun, masih ada perdebatan. Perihal siapa yang akan menyambut kedatangan keluarga Radit. Sedangkan orang tua Echa sudah berpisah. Dan sudah memiliki pasangan masing-masing.
"Bhal, yang akan menyambut Papih kamu siapa? Ayah sama Bunda atau Mamah sama Papa?" Echa dibuat pusing akan hal ini.
Sebenarnya dia ingin kedua orang tuanya yang menyambut kedatangan Papih Radit dan keluarga. Lagi-lagi, Echa tidak boleh egois. Bagaimana pun kedua orang tuanya sudah memiliki kebahagiaan masing-masing.
"Kamu maunya siapa?" tanya balik Radit.
"Tanpa kamu bertanya, pasti kamu sudah tahu jawabannya," tutur Echa.
Radit pun tersenyum dan menarik tangan Echa masuk ke dalam pelukannya. "Berbicaralah kepada keempat orang tua kamu. Semoga mereka mengerti akan keinginanmu."
__ADS_1
Hanya helaan napas yang menjadi jawaban dari ucapan Radit. Sulit, itulah yang Echa rasakan. Dia takut Bunda dan Papanya tersinggung. Echa lebih mengutamakan perasaan orang lain. Ketimbang perasaannya yang selalu dia abaikan. Meskipun penuh kesakitan.
"Jangan selalu mengalah. Ada kalanya kamu harus mengutarakan semuanya. Agar tidak membuahkan penyesalan," lanjut Radit.
"Bicaralah, orang tua kamu pasti mengerti." Echa hanya terdiam dan merasa nyaman berada di pelukan Radit.
Hingga dua anak kembar dengan sengajanya memisahkan kedekatan Radit dan juga Echa.
"Jangan deket-deket, pamali." Begitulah si kembar pertama. Ingin rasanya Radit menjitak kepala dua bocah yang selalu mengganggu jika dirinya sedang bermesraan dengan Echa.
"Echa ingin bicara sebentar, boleh?" ucap Echa ragu. Keempat orang tua Echa menatap tajam ke arah Echa.
"Mau bicara apa, Sayang?" sahut Gio.
"Besok 'kan acara pertunangan Echa. Echa ingin ... Ayah dan Mamah yang menyambut kedatangan papihnya Radit." Echa menunduk, dia menghela napas berat.
__ADS_1
"Echa ingin seperti pertunangan-pertunangan orang lain. Ketika hari bahagia Echa, orang tua kandung Echa yang menemani," ucapnya pelan. Dan dia belum berani menegakkan kepalanya.
Semua orang terdiam. Menunggu kelanjutan ucapan Echa. Tak lama, Echa menegakkan kepalanya dengan raut wajah sendu.
"Bukannya Echa tidak menyayangi Papa dan juga Bunda. Tetapi, Echa ingin memiliki kenangan yang indah bersama orang tua menuju hari bahagia yang sebentar lagi terselenggara."
Gio dan Amanda tersenyum mendengar ucapan Echa. Perkataan Echa memang terdengar sangat menyayat hati. Derita anak broken home memang seperti ini. Ketika hari bahagia mereka tiba, pada sesungguhnya ada kesedihan yang menyelimuti hati mereka. Di mana, kedua orang tua mereka tidak bisa mendampingi mereka. Seperti anak-anak yang memiliki keluarga utuh.
"Jangan khawatir, Sayang. Ayah dan Mamah kamu memang yang akan mendampingi kamu di acara bahagia untuk kamu. Mereka lah yang pantas mendampingi anak tercinta." Senyum Echa merekah mendengar ucapan. sang papa.
Echa benar-benar takut, dia takut Papa atau Bundanya memiliki rasa cemburu berlebih. Hingga melarang Ayah dan Mamahnya untuk mendampinginya menuju hari bahagia. Ternyata, ketakutannya salah. Beruntungnya Echa memiliki ibu sambung serta papa sambung yang sangat mengerti akan dirinya.
...****************...
Komen dong
__ADS_1