Yang Terluka

Yang Terluka
Panik


__ADS_3

"Lakukan sekarang, sudah sangat keterlaluan," titah Gio kepada Remon.


"Tinggal 10% lagi bos. Sebelumnya, Anda harus memberitahu putri bos dulu supaya dia tidak kaget." Gio pun mengikuti perintah Remon.


Dia menghampiri Echa dan juga Ayanda yang sedang berada di ruangannya. Sedangkan tadi, Gio sedang berada di ruangan Remon.


"Ada kabar terbaru Dad?" Gio pun duduk di samping putrinya yang tengah memeluk tubuh sang Mamah.


"Coba kamu lihat," ujarnya pada Echa.


Echa benar-benar terkejut ketika melihat artikel terbaru tentang dirinya. Di sana disebut dengan jelas nama lengkap Echa. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Pa ...."


"Kamu ganti pakaian sekarang, lalu ikut Papa."


Ayanda terus menggenggam tangan sang putri seraya menganggukkan kepalanya. "Percaya sama Papa. Papa pasti tidak akan tinggal diam."


Setelah semuanya siap, mereka menuju salah satu hotel terbesar milik Wiguna Grup. Sudah banyak sekali wartawan dari berbagai media tanah air yang memenuhi hotel tersebut.


Echa terlihat sangat gugup dan ketakutan, rangkulan hangat sang Papa mampu membuatnya merasa sedikit tenang.


Sedangkan di rumah sakit, Rion dan Amanda benar-benar murka dengan kabar yang beredar di media. Semuanya dilebih-lebihkan, Rion ingin sekali mendampingi putrinya namun Riana tidak ingin ditinggalkan olehnya.


Rion pun mencoba menghubungi Gio dan Ayanda, namun tidak ada jawaban dari mereka berdua. Hati Rion benar-benar tidak tenang sekarang. Posisinya serba salah, anak pertamanya sedang dilanda masalah dan anak bungsunya sedang terbaring di rumah sakit. Mana yang harus dia prioritaskan?


Kembali ke hotel, staff khusus hotel membawa rombongan Gio menuju pintu khusus untuk masuk ke dalam hotel. Mereka dibawa ke sebuah kamar besar. Di sana sudah ada pengacara ternama yang akan mendampinginya Echa dan juga Gio.


Jumpa pers pun dimulai ketika jam tujuh malam. Echa terus menggenggam tangan Papanya dan dia hanya menundukkan kepalanya karena banyak sekali kamera yang mengambil gambarnya.


Setelah jumpa pers dibuka, Gio langsung berbicara. "Gadis cantik ini kan yang sedang kalian semua beritakan," imbuh Gio.


Semua awak media pun hanya terdiam dengan tak hentinya merekam dan juga mengambil gambar orang-orang yang berada di belakang meja jumpa pers.


"Gadis ini adalah putri saya, Elthasya Afani." Semua yang meliputi pun terdiam mendengar pernyataan Gio.

__ADS_1


"Bukankah Anda hanya memiliki anak kembar? Dan bukannya gadis itu anak dari pengusaha bakery ternama di negeri ini?" tanya seorang wartawan.


"Saya adalah Papa sambung dari gadis cantik ini," tegas Gio.


"Awalnya saya tidak ingin ikut campur, tapi pemberitaan di media semaki mengada-ada." Gio menjeda ucapannya.


"Saya tegaskan jika putri saya Elthasya Afani tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Rindra Addhitama. Dan berita yang disebar luaskan itu hanyalah HOAX."


"Tapi, berita itu dibenarkan oleh Rindra sendiri," sahut wartawan.


"Dari pihak sana, kan. Tapi, tidak dari pihak putri saya. Bisa kalian tanyakan kepada putri saya sendiri." Gio menatap Echa dan menganggukkan kepalanya.


"Saya memang sedang menjalin hubungan dengan pria berinisial RA. Tapi, bukan Rindra Addhitama. Dia hanya psikolog muda yang sedang melanjutkan study-nya di luar negeri," jelas Echa.


"Siapa?" tanya para wartawan. Namun, Remon sudah mengangkat tangannya menandakan tidak ada yang boleh bertanya lagi.


Ada beberapa bukti yang Gio dan pengacaranya bawa, yaitu banysk artikel yang sangat tidak benar.


"Saya peringatkan kepada kalian yang menulis artikel ini semua. Jika, kalian tidak menghapus berita ini di media online 1x24 jam, saya akan menuntut kalian dan juga media yang menerbitkan berita ini."


"Makasih, Pa." Gio pun membalas pelukan hangat sang putri.


"Sudah kewajiban Papa, Papa akan berada dibarisan terdepan jika menyangkut kamu."


Ayanda ikut memeluk dua kesayangannya. Dia benar-benar bangga kepada Gio yang selalu menjadi tameng untuk sang putri.


Rion dan Amanda pun merasa sangat lega dengan jumpa pers yang Gio dan Echa lakukan. Apalagi Gio mengambil jalur hukum untuk yang menyebarkan berita tidak benar ini.


Rival yang mengikuti berita jumpa pers ini melengkungkan senyum. Dia langsung menghubungi adiknya. Berkali-kali Rival menghubungi Radit namun tak pernah dijawab.


Dan Radit hanya bisa menunduk dalam di atas lantai. Ingin rasanya dia berteriak. Ingin rasanya dia marah. Tapi, apalah dayanya. Hubungan LDR memiliki konsekuensi yang sangat besar. Dan dia harus mampu menghadapi semua ini.


"Apa Abang ku ditakdirkan hanya untuk merebut kebahagiaan ku?"


Air mata Radit pun luruh, hatinya teramat sakit. Rencana sang Abang untuk memisahkannya ternyata berhasil. Ingin rasanya dia mengadu, tapi pada siapa?

__ADS_1


"Mih, kenapa Mamih yang harus pergi? Kenapa tidak Radit saja yang pergi meninggalkan Mamih dan kedua Kakak Radit. Percuma Radit hidup, tapi seolah tidak dianggap. Radit berusaha menjadi anak yang selalu mengalah, tapi tetap saja Radit tidak pernah benar di mata Abang."


Ucapan yang keluar dari lubuk hati Radit yang sangat dalam. Mencoba memantaskan diri tapi sudah dianggap tidak pantas sebelum berjuang.


Pria juga bisa menangis, apalagi jika memiliki kisah pedih seperti Radit. Hanya orang-orang yang kuat yang mampu bertahan di situasi seperti yang dihadapi Radit.


Di tanah air, Echa terus berusaha menghubungi Radit. Namun, tak pernah ada jawaban dari Radit.


Sedangkan di kantor Addhitama Grup, Rindra seperti orang kesetanan. Dia sedang mengamuk setelah rencananya berhasil digagalkan oleh Gio dan juga Echa. Apalagi berita tentang dirinya dan Echa sudah banyak yang dihapus.


"Sebegitu cintanya kah kamu sama Radit?" geramnya.


Dengan langkah cepat Addhitama masuk ke ruangan Rindra. Matanya benar-benar melebar melihat keadaan ruangan Rindra seperti kapal pecah.


Plak!


Satu buah tamparan mengenai pipi Rindra. "Apa mau kamu Rindra? Kamu adalah penerus utama Addhitama Grup, harusnya kamu buat bangga perusahaan ini bukan malah membuat malu perusahaan," sentak Addhitama.


"Pih, aku mencintai Echa."


"Apa dengan cara ini kamu membuktikan cintamu kepada Echa? Apa dengan cara kotor seperti ini kamu bersaing dengan adik kamu sendiri?" bentak Addhitama.


"Selama ini Papih berusaha mengikuti semua kemauan kamu. Selalu menyuruh Radit untuk mengalah. Sekarang, apa tidak bisa kamu mengalah untuk kebahagiaan adik kamu? Apa kamu tidak kasihan kepada adik kamu yang jauh dari keluarga?" imbuh Addhitama.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengalah Papih," tegasnya. Rindra pun langsung meninggalkan ruangannya dengan keadaan kacau.


Sedangkan Addhitama hanya bisa duduk di sofa sambil memijat pangkal hidungnya yang pusing. Tak lama, ponselnya berbunyi. Ternyata nomor dari Canberra.


"Radit tidak sadarkan diri di kamarnya."


Addhitama pun terkejut membacanya. Dia langsung menghubungi Radit tapi, tidak ada jawaban dari Radit. Kepanikan pun melanda Addhitama.


***


Jangan ditimbun-timbun ya, UP langsung baca. oke?

__ADS_1


__ADS_2