
Ayanda mengerutkan dahinya ketika masuk ke kamar Iyan. Di sana juga Rion mengikutinya masuk ke dalam kamar sang putra. Ayanda sangat tahu jika mantan suaminya bersikap seperti ini.
"Siapa?" sergah Ayanda.
Tidak ada jawaban dari Rion dan juga Iyan. Mimik wajah mereka menunjukkan ketidak sukaan yang luar biasa.
"Calon baru?"
"Iyan gak ingin punya bunda baru," tolak Iyan.
Ayanda tersentak mendengar ucapan Iyan yang baru kali ini Ayanda dengar. Wajah sendu Iyan membuat Ayanda memeluk tubuh putra mantan suaminya.
"Maafkan Mommy," sesalnya.
"Tidak, Mommy. Mommy tidak salah, Iyan hanya mengungkapkan isi hati Iyan sesungguhnya. Iyan tidak butuh ibu sambung. Iyan punya kakak Echa, ada Mommy, Mamih SheZa Dan juga Mamah Beby," jelasnya.
Ayanda tahu di relung hati Iyan terdalam, dia juga merindukan sosok seorang ibu yang menyayanginya. Namun, dia juga sangat tahu bahwa mantan suaminya trauma akan pernikahan terdahulu. Dua kali menikah dua kali berpisah.
"Kalau ada apa-apa, Iyan boleh kok cerita sama Mommy," ujar Ayanda dengan senyum tulusnya.
"Iyan ingin punya bunda seperti Mommy," lirihnya.
Seperti sentilan keras untuk Rion. Dia memang pria yang sangat bodoh yang melepaskan berlian langka demi seonggok batu kerikil. Perpisahannya dengan Ayanda membuat Ayanda menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya, tetapi tidak untuk Rion yang harus mengalami kegagalan dan kini Rionlah yang dikhianati.
Ayanda tidak menjawab ucapan Iyan. Dia hanya mengusap lembut punggung Iyan yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
Rion memilih untuk keluar dari kamar Sang putra meninggalkan Iyan dan juga Ayanda. Dia mengerti Iyan membutuhkan sentuhan dan pelukan hangat dari seorang ibu. Rion berharap Ayanda mampu memberikan kehangatan tersebut.
Rion duduk di tepian tempat tidur. PIkirannya berkelana entah ke mana. Permintaan Iyan yang sederhana, tetapi tidak bisa dia turuti.
"Maafkan, Ayah."
Tidak ada penyesalan yang datang di awal cerita, semuanya akan datang di akhir cerita. Mimpinya untuk bisa membina rumah tangga yang harmonis seperti mantan istrinya harus berakhir dengan kisah tragis. Kini, dia hanya tinggal bersama ketiga anaknya.
Usapan lembut di pundak Rion membuat dia menoleh. Ayanda tersenyum ke arahnya.
"Makasih telah menyayangi anak-anak Mas dengan tulus," ucap Rion.
Ayanda hanya tersenyum dan duduk disampingnya. Dia menatap lurus ke depan.
"Hanya kata andai sebagai penyesalan yang pastinya menyelimuti hati Mas sekarang 'kan."
Rion menatap ke arah Ayanda. Dia sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh mantan istrinya.
"Jangan pernah menyesali apapun, Mas. Semua sudah ketentuan Tuhan. Dari kebersamaan kita, kita memiliki satu orang putri yang sangat cantik dan selalu membhag kita bangga." Ayanda menoleh ke arah Rion seraya tersenyum.
"Dari perpisahan kita pun ... Mas, akhirnya menemukan seorang wanita yang bisa memberikan dua orang anak yang sangat luar biasa, yaitu Iyan dan juga Riana. Berkat mendiang istri Mas. Mas, mampu berubah dan menjadi ayah yang sangat siaga. Aku bahagia atas itu," ungkap Ayanda dengan sangat tulus.
"Jangan pernah menyesal atas masa lalu. Tanpa masa lalu kita tidak bisa menghadapi masa depan yang sulit ini. Jadikanlah masa lalu kita sebagai pelajaran untuk menjadi manusia lebih baik lagi dan lagi." Rion pun tersenyum bahagia mendengar ucapan Ayanda.
Ibu dari putrinya ini memang tidak berubah sedari dulu. Meskipun, sudah disakiti oleh dirinya, Ayanda tidak menyimpan dendam atau apapun. Ditambah sikap Gio yang sangat berlapang dada ketika istrinya masih menjalin hubungan dengan mantan suaminya. Gio seakan membuka lebar jalan komunikasinya dengan Ayanda. Malah, sekarang suami Ayanda menjadi sahabat Rion.
"Wanita baik memang berjodoh dengan orang baik pula. Seperti kamu yang berjodoh dengan Gio. Kalian adalah orang-orang yang sangat baik. Kalian pasti akan selalu bahagia," ujar Rion.
"Amin."
Tidak selamanya perpisahan membuat sepasang mantan sumiu-istri saling bermusuhan. Contohnya Ayanda dan juga Rion. Mereka malah semakin dekat. Apalagi ada ketiga cucu mereka yang membuat mereka sering bertemu. Tentunya atas sepengetahuan Gio.
Pagi ini, ketiga anak Echa sudah cantik dengan pakaian yang super modis. Mereka menyaoa Kakek dan nenek mereka dengan sangat bahagia. Apalagi semalam mereka sudah dipijat dan membuat tubuh mereka lebih segar.
"Bubu kalian mana, Sayang?" tanya Ayanda.
"Masih bobo," jawab Aleeya.
Dahi Ayanda mengkerut, tidak biasa putrinya bangun siang. Tak lama, Radit masuk ke ruang makan.
"Echa masih tidur, Dit?" tanya Ayanda.
"Iya, Mah. Semalam dia habis dipijat. Jadi, Radit melarang dia untuk berkatifitas. Istirahat dulu hari ini." Ayanda mengangguk mengerti.
"Gak apa-apa 'kan , Yah?" tanya Radit.
"Gak apa-apa."
Hari ini pun si tripelts diantar oleh Ayanda ke sekolah. Dia sengaja menunggu ketiga cucunya di sekolah. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika di antara mereka ada seorang anak laki-laki. Anak itu bagai bodyguard si triplets. Ke mana pun ketiga cucunya pergi, anak itu selalu ikut.
"Semoga anak itu bisa menjadi pelindung cucuku nantinya," gumamnya.
Bukan hanya Ayanda yang menunggu ketiga cucunya. Banyak para ibu-ibu muda yang asyik berbincang dengan segala barang branded di tangannya. Ayanda hanya tersenyum miring karena barang yang mereka pakai bukan asli. Melainkan barang Kw super.
"Pantas saja Echa tidak mau menunggu anak-anaknya. Cara bicara ibu-ibu muda itu saja sudah seperti orang kaya sungguhan," gumamnya dalam hati.
Mereka menatap Ayanda dari atas hingga bawah. Penampilan sederhana, tetapi dengan barang merk ternama.
"Pasti barang KW," cibirnya.
Ayanda tertawa ketika mendengar ucapan seperti itu. Lempar batu sembunyi tangan, begitulah pikirnya. Namun, Ayanda bukan orang yang mampu tersulut emosi. Dia bersikap santai dan membiarkan orang berkata apa saja. Ibu dan anak memang sebelas dua belas.
Sudah jam sepuluh lewat, sudah waktunya si triplets pulang sekolah. Mereka berlari dan memeluk tubuh Ayanda.
__ADS_1
"Mimo, makan di lual, ya. Kata Baba kita gak boleh ganggu Bubu dulu," ujar Aleesa.
Ayanda hanya tersenyum dan mengangguk patuh. Mereka bersorak gembira. Mata para ibu-ibu di sana melebar ketika si triplets dan neneknya dijemput oleh mobil yang super mewah. Mobil yang biasa Sultan Andara pakai. Terkejut, sudah pasti. Ayanda membuktikan bahwa orang yang pura-pura kaya itu akan lebih banyak bicara, sedangkan orang kaya sungguhan hanya berdiam diri dan tidak ingin menunjukkan.
"Gila ... tiga anak itu beneran cucu orang kaya," ucap salah seorang ibu muda.
Tibanya di mall, Ayanda mengikuti semua keinginan ketiga cucunya. Apapun akan dia turuti. Dia tidak pernah menolak apapun yang diminta cucu-cucu kesayangannya.
Setelah semua keinginan ketiga cucunya terpenuhi, Ayanda mengajak ketiga cucunya untuk pergi ke salon.
"Dedek gak mau potong lambut, Mimo," tolaknya.
"Ke salon itu tidak hanya untuk potong rambut saja, Sayang. Kalian bisa creambath sambil dipijat kepalanya. Biar lebih segar. Sekalian kuku-kuku kalian juga dibersihkan di sini. Biar lebih rapi," terang Ayanda.
Ketiga anak itu hanya ber-oh ria. Mereka mengikuti sang Mimo. Mencuci rambut mereka. Awalanya menolak sekarang malah keenakan. Ayanda yang melihatnya pun hanya terkekeh pelan.
"Lucu sekali kalian," gumamnya.
Ayanda mencari ponselnya dan meminta bantuan pekerja di sana untuk memvideokan kegiatan si triplets. Setelah itu, dia kirim kepada Echa yang ada di rumah.
Echa yang sedang memakan sereal tertawa bahagia ketika melihat ketiga anaknya di salon.
"Enak banget, semalam dipijat sekarang creambath," ucapnya.
Seperti biasa sang mamah akan menanyakan apa yang ingin Echa makan. Ayanda akan membelikan apapun yang putrinya inginkan.
Setelah makan siang hanya dengan sereal karena perut Echa yang terasa tidak enak. Echa kembali ke kamarnya untuk merebahkan kembali tubuhnya. Akhir-akhir ini dia terus memporsir tubuhnya hingga tubuhnya meminta untuk istirahat.
Ketika hendak memejamkan mata, pintu kamar terbuka dan Radit sudah datang dengan membawa jinjingan di tangan.
"Kok udah pulang?" tanya Echa.
"Mau temenin istri aku," jawabnya. Echa pun tertawa. Dia merentangkan tangan bertanda ingin dipeluk oleh sang suami tercinta.
"Udah makan?" tanya Radit yang sudah memeluk tubuh istrinya.
"Aku baru bangun, udah makan sereal dan sekarang mau tidur lagi." Radit mengecup puncak kepala sang istri dengan sangat lembut.
"Aku bawa makanan kesukaan kamu yang selalu kita beli di tempat jajan ketika masih pacaran," terangnya.
"Taruh dulu aja ya, Ay. Mata aku gak bisa diajak kompromi." Radit mengangguk mengerti.
Dia membantu sang istri untuk merebahkan tubuhnya. Radit juga ikut berbaring di samping sang istri yang tengah membenamkan wajahnya di dada bidang Radit. Tak lama berselang, dengkuran halus terdengar. Echa sudah tertidur sangat pulas.
Radit tersenyum dan mengusap lembut kepala Echa. Wanita yang benar-benar dia sayangi.
"Tanpa ayah memohon kepadaku pun, aku akan menjaga kamu dan menjadikan kamu satu-satunya di dalam hidup aku. Kamu adalah wanita yang sangat berharga. Kamu adalah anugerah Tuhan terindah yang Tuhan berikan kepadaku. I will always love you." Kecupan hangat Radit berikan di kening Echa.
"Bubu lagi bobo," ucapnya pelan.
Mereka pun mengangguk pelan. Mata Radit memicing ketika melihat rambut ketiga anak mereka sudah berbeda.
"Kalian habis dari mana? Kok baru pulang?" tanya Radit. Dia membawa ketiga anaknya untuk ke ruang bermain. Ternyata di sana sudah ada mamah mertuanya.
"Mah," sapa Radit. Dia mencium tangan Ayanda dengan sopan.
"Echa ke mana?" tanya Ayanda.
"Tidur, Mah. Kasihan udah lebih dari seminggu ini dia begadang ngurus semua toko cabang," ujar Radit.
"Jangan biarkan istri kamu kelelahan ya, Dit. Mamah gak mau Echa sakit. Anak-anak kalian pasti akan merasa sedih melihat ibu mereka terkulai tak berdaya."
Radit mengangguk mengerti. Radit juga sudah melarang Echa, tetapi itu sudah menjadi tugas Echa karena dia adalah owner dari toko tersebut. Ayah mertuanya pun sedang sibuk ke luar Kota tiap hari.
Ayanda pamit pulang karena hari sudah senja dan suaminya sudah menuju Jakarta.
"Cucu-cucu Mimo, Mimo pulang ya. Besok main ke rumah Mimo karena aki udah pulang."
"Hore! Kita main lagi," teriakan mereka bertiga.
Radit hanya bisa tertawa melihat tingkah menggemaskan si triplets. Kasih sayang yang mereka dapatkan sangat lengkap. Semua orang sangat menyayangi ketiga anaknya ini.
"Ya udah, sekarang kalian mandi."
Setalah ketiga anaknya cantik, mereka bertiga masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Mereka naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuh di samping sang ibu. Radit sedang membuatkan susu untuk ketiga anaknya.
Ketika Radit masuk ke dalam kamar, ketiga buah hatinya sudah terlelap dengan memeluk tubuh ibundanya. Lengkungan senyum terukir indah di wajah Radit.
"Anak-anak pintar."
Di kamar Iyan, dia tengah menatap sendu foto sang ibu. Dia teringat akan ucapan dari Ayanda.
"Iyan, jangan pernah putus untuk mendoakan ibu kamu. Seburuk apapun beliau, dia tetap ibu yang melahirkan kamu ke dunia ini. Merawat kamu hingga kamu seperti ini."
Bulir bening membasahi wajah Iyan. Apa yang diucapkan Ayanda benar adanya. Iyan terisak lirih. Ketika seperti ini, sahabat Iyan yang tak kasat mata tidak akan mendekat. Dia memberikan ruang kepada Iyan untuk menumpahkan segala kesedihannya.
"Andai ... Bunda masih hidup," lirihnya.
Akhir-akhir ini Iyan merasa iri kepada teman-temannya. Ketika siang hari jam istirahat, ibu dari teman-temannya akan membawakan bekal makan siang untuk mereka. Namun, tidak dengan Iyan. Dia akan menikmati makan siang seorang diri di kantin ataupun di belakang sekolah.
__ADS_1
Semakin hari, Iyan semakin minder dengan statusnya yang anak piatu. Teman-temannya selalu menunjukkan siapa ibu mereka. Membanggakan ibu mereka, sedangkan Iyan hanya diam saja. Ketika ditanya oleh teman-temannya, Iyan hanya menjawab, "bundaku sudah di surga." Kalimat yang sangat menyayat hati.
Sebenarnya, teman-teman Iyan tidak jahat. Hanya saja Iyan anak yang perasa. Merasa minder sendiri.
Seperti tadi siang, teman Iyan bernama Niko dibawakan makanan oleh ibunya. Niko selalu berbagi makanan kepada Iyan, tetapi untuk makanan ini Iyan tidak mau menerimanya.
"Itu buatan ibu kamu. Khusus untuk kamu anaknya."
Ibu Niko yang bernama Ibu Sheryl pun sedkit terhenyak mendengar ucapan dari Iyan. Tidak biasanya Iyan seperti ini.
"Iyan, Tante bawa makanan juga untuk kamu," timpalnya.
Iyan hanya menggeleng dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Senyum yang menyiratkan akan kesedihan yang sangat mendalam.
Jojo hanya dapat memandang Iyan dari kejauhan. Dia melihat dengan jelas Iyan duduk di belakang sekolah dengan kepala yang tertunduk dan punggungnya bergetar.
"Kamu kenapa, Iyan?" gumam Jojo.
Malam harinya, Echa mendapat pesan dari ibu Sheryl yang tak lain adalah ibunda Niko. Dia mengajak Echa bertemu dan ingin menanyakan perihal Iyan. Hati Echa seketika berdegup sangat cepat.
Dia menghampiri sang suami yang berada di ruang kerja. Radit tengah sibuk karena tiga hari lagi dia ada meetinh penting dengan petinggi perusahaan asing di Bali.
"Ay, aku ke kafe depan dulu, ya." Mendengar ucapan Echa, Radit menegakkan kepalanya. Dia menatap tajam ke arah sang istri.
"Ibu Sheryl meminta aku untuk ke sana. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Iyan."
Radit segera bangkit dari duduknya dan meninggalakn semua pekerjaannya. Dia yang akan mengantar istrinya.
"Kamu pakai jaket, ya." Echa pun tersenyum mendengar dapat perhatian lebih dari sang suami.
Tibanya di kafe yang ibu Sheryl katakan, senyuman hangat ibu beranak dua itu mengembang.
"Maaf ya, Mam. Saya ganggu waktunya."
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Echa seraya tersenyum.
Radit hanya menunggu di dalam mobil karena ibu Sheryl adalah orang yang anti berbicara dengan orang asing.
Ibu Sheryl menceritakan semuanya tentang Iyan yang sikapnya berubah akhir-akhir ini. Seperti ada yang tengah Iyan pendam seorang diri. Mendengar semua cerita tentang Iyan dari ibu Sheryl secara detail, membuat Echa menghembuskan napas berat.
"Makasih ya Bu, atas infonya."
Hanya ibu Sheryl yang menjadi teman Echa di sekolah Iyan. Bukan karena Niko yang dekat dengan Iyan, tetapi ibu Sheryl juga sama sepertinya. Bergelimang harta, tetapi tidak menunjukkan kepada siapa-siapa. Selalu menunjukkan kesederhanaan.
Echa masuk ke dalam mobil dengan raut yang berbeda. Radit menatap Echa penuh tanya.
"Sepertinya ada yang Iyan sembunyikan lagi," keluh Echa.
Echa menganggap wajar sikap adiknya ini. Iyan masih kecil, dia juga masih membutuhkan kasih sayang ibundanya. Akhir-akhir ini Echa juga sibuk dan tidak bisa mengajak ngobrol Iyan.
Tibanya di rumah, Echa mengetuk pintu kamar Iyan. Iyan tengah berada di belakang meja belajar.
"Kakak ganggu gak?"
Iyan menggeleng tanpa menoleh. Dia tengah menyembunyikan mata sembabnya. Echa masuk ke dalam kamar Iyan dan duduk di samping tempat tidur.
"Ada apa, Iyan?" tanya Echa.
Kalimat yang mampu membuat Iyan terisak. Hanya kepada sang kakak lah dia tidak bisa menyembunyikan apapun. Echa memeluk tubuh Iyan dari belakang. Isak tangis itu terdengar sangat lirih.
"Kakak sayang, Iyan. Kakak gak ingin Iyan bersedih seperti ini," tuturnya.
"I-iyan ... bertemu bunda di dalam mimpi." Tangis Iyan pun pecah.
Hal yang sangat Iyan inginkan semenjak kepergian sang bunda. Akan tetapi, adiknya ini malah tersedu.
"Kenapa kamu bersedih, Iyan? Bukankah itu yang kamu inginkan?"
Iyan menatap ke arah Echa dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
"Iyan tidak bisa melihat wajah Bunda. Bunda terus membelakangi Iyan. Kata Bunda, Iyan akan takut jika melihat wajahnya."
"Bunda bilang apa?" tanya Echa.
"Bunda minta maaf ... bunda ingin menebus kesalahan bunda kepada Iyan. Bunda menyesal," terang Iyan dengan suara berat.
"Andai ... bunda masih hidup. Iyan bisa mengenalkan bunda kepada teman-teman Iyan. Seperti teman-teman Iyan yang selalu memamerkan bunda mereka. Iyan ingin seperti mereka, Kak."
Air mata Echa pun mengalir deras mendengar ucapan dari adiknya Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi Dadanya sangat sesak.
Di balik pintu, Rion menyandarkan tubuhnya di dinding. Mendengar ucapan sang putra terasa sangat menyakitkan.
"Apa aku harus menikah lagi?" gumamnya.
Namun, di lubuk hati Rion terdalam dia tidak ingin melakukan hal itu lagi. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang ini. Akan tetapi, kondisi psikis Iyan juga membuat Rion sedikit bingung.
Radit yang hendak menuju kamar Iyan menghentikan langkahnya ketika melihat sang ayah mertua tengah menitikan air mata. Sudah pasti ada kejadian yang memilukan di dalam kamar sana. Sebagai seorang kakak dia harus bisa membantu masalah adiknya. Dia tidak ingin melihat adiknya terus-terusan berada di dalam kesedihan.
"Aku harus bertindak," gumam Radit.
__ADS_1
Dia memikirkan sang istri yang pastinya di dalam sana sudah ikut menangis. Dia tidak ingin masalah adiknya akan mempengaruhi kesehatan istrinya.