
Berbeda dengan keinginan Radit, ketiga anaknya malah ingin memiliki adik bayi. Apalagi mereka melihat anak seusia mereka sudah memiliki adik bayi yang lucu.
"Bubu, ingin seperti itu," tunjuk Aleeya ke arah anak bayi yang sedang digendong oleh ibunya.
"Doakan saja ya, Nak."
Selesai makan dan membeli buah tangan untuk menjenguk bayi besok, mereka pulang ke rumah. Radit mengikuti kemauan sang istri untuk mampir terlebih dahulu di apotek untuk membeli testpack.
Tibanya di rumah, Echa tersenyum di arah cermin. Dia mengusap lembut perutnya yang masih rata. Masih terasa juga bekas operasi melahirkan si triplets.
"Semoga saja kamu tumbuh di sini ya, Nak."
Radit yang baru keluar dari kamar mandi mengerutkan dahi melihat tingkah sang istri. Dia menghela napas kasar sebelum kemudian mendekat. Radit melingkarkan tangannya di perut sang istri. Dagunya dia letakkan di pundak Echa.
"Kamu beneran ingin punya anak lagi?" tanyanya.
Echa menatap ke arah sang suami. Senyuman lembut menghiasi wajahnya.
"Kalau Tuhan mempercayakannya lagi. Harus kita terima dengan ikhlas 'kan," jawabnya.
Radit tidak tega melihat istrinya melahirkan kembali. Namun, melihat wajah berseri Echa membuatnya juga ikut bahagia.
"Tidak ada yang perlu kita takutkan. Semuanya sudah Tuhan atur, Ay," tuturnya.
Radit hanya mengangguk. Dia akan mengikuti apa yang istrinya katakan. Toh, temannya yang juga dokter kandungan mengatakan tidak apa-apa jika istrinya hamil kembali. Radit saja yang terlalu berlebihan.
Keesokan paginya, Echa bangun lebih awal. Dia mencari testpack yang dia beli semalam. Wajahnya nampak sekali bahagia. Echa masuk ke dalam kamar mandi. Dia membuka celananya dan wajahnya berubah sendu. Testpack itu kini tidak berguna lagi. Dia memilih berendam untuk menghilangkan rasa kecewanya.
Radit mulai mengerjapkan matanya ketika dia tidak bisa menemukan tubuh istrinya yang hendak dia peluk. Dia lihat Echa sudah tidak ada di sana. Radit bangkit dan mula menajamkan pendengarannya pada pintu kamar mandi. Tidak ada suara di sana.
Tangannya sudah memegang gagang pintu kamar mandi. Pintu pun terbuka, dia melihat sang istri tengah memejamkan matanya di bath up. Radit ingin mendekat, tetapi dia melihat testpack yang masih tersegel rapi di pinggiran wastafel.
"Sayang," panggil Radit.
Echa membuka mata dan terlihat jelas raut kecewa yang dia tunjukkan. Radit segera memeluknya dan menenangkan istrinya. Terlihat juga air bath up berwarna sedikit merah muda.
"Belum rejeki kita, Sayang." Radit menenangkan istrinya yang pastinya tengah dirundung kecewa.
__ADS_1
"Setelah anak-anak berusia lima tahun, baru kita program lagi," imbuh Radit.
Untung saja hari ini Radit membawa Echa pergi ke ruang salah satu rekan bisnisnya. Mereka menuju kediaman Addhitama terlebih dahulu karena bukan hanya Radit yang akan berangkat ke sana. Rindra dan juga Rifal pun akan ke sana.
Wajah si triplets sangat terlihat ruang gembira ketika menginjakkan kaki di rumah megah milik sang opa. Mereka segera mengambil alih pelukan. Rio hanya bisa mengalah. Didikan kedua orang tua Rio mampu menjadikan Rio anak yang baik. Dia akan mengalah kepada ketiga sepupunya yang centil dan juga cerewet.
"Berangkat sekarang," ajak Radit.
Addhitama yang melihat wajah sendu Echa menatap tajam ke arah sang putra bungsu. Radit hanya mengembuskan napas kasar.
"Mau tes kehamilan karena udah telat lama. Pas dicek malah keluar si tamunya," terang Radit. Tangannya sudah menarik tubuh Echa untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Celupin, coba lagi," timpal Rifal.
Addhitama dan Rindra memukul kepala belakang Rifal hingga dia mengaduh.
"Iklan oleo ya, om," ucap Aleena.
Rifal terdiam, dia
"Oh ... diputar, dijilat, dicelupin ke susu. Benar 'kan?" Aleena mengangguk. Rifal bisa bernapas lega. Untung otaknya bisa berpikir cepat.
Ketiga adik kakak itu meninggalkan. kediaman Addhitama. Rio tidak mau ikut karena dijanjikan akan membeli mainan oleh sang opa. Berbeda dengan si triplets, mereka lebih memilih menemui bayi dibanding membeli mainan. Mereka penasaran dengan sosok bayi sesungguhnya.
Tibanya di rumah sahabat dari anak-anak Addhitama. Si triplets sangat antusias dan ingin segera bertemu dengan sang bayi kecil mungil. Sambutan hangat diberikan oleh Dirga Anggara yang tak lain adalah sahabat dari trio Addhitama.
Ketiga anak Radit membuat Dirga jatuh cinta pada pandangan pertama. "Cantik-cantik sekali kalian," pujinya.
Si triplets hanya tersenyum dan mencium tangan Dirga dengan sopan. Dirga benar-benar penasaran dengan istri Raditya dan juga Rindra.
Dua wanita cantik yang Radit dan Rindra genggam tangannya. Dirga sangat takjub pada istri Raditya Addhitama. Sangat cantik dan tidak terlihat seperti ibu-ibu beranak tiga. Tubuhnya masih ideal sekali dan pakaian sederhananya membuat Dirga menggeleng tak percaya.
Trio Addhitama mengikuti langkah Dirga menuju sang istri di kamar yang luas. Kamarnya dikhususkan untuk putra pertamanya.
"Lucu sekali." Echa sangat bahagia melihat putra dari Dirga.
Sama halnya dengan si triplets yang terus memainkan pipi merah bayi laki-laki itu.
__ADS_1
"Bubu, bawa pulang boleh?" Pertanyaan Aleena membuat semua orang tertawa. Aleena kita itu boneka.
"Suruh ayah dan ibu kamu bikin lagi, ya," jawab Dirga.
"Bikinnya dali apa, Om? Sama seperti bikin puding atau bikin dona," ujar Aleesa.
Dirga dan sang istri tertawa lepas mendengar celotehan si triplets Ketiga anak Radit ini sangatlah menggemaskan.
"Dit, bungkus satu ya," kelakar Dirga.
Kini Radit dan juga Echa yang tertawa. Kehadiran si triplets mampu membuat suasana menjadi mencair.
Radit membawa ketiga anaknya untuk keluar karena anak dari Dirga menangis karena suara bising mereka bertiga.
"Kakak Na masih mau sama Dedek bayi," protes Aleena kepada Radit.
Kedua anak Echa yang lainnya sudah melipat kedua tangannya di atas perut. Dia menatap tak suka ke arah sang ayah.
Dirga terkekeh melihat ketiga anak Radit yang tengah merajuk. Namun, dia juga salut kepada Radit yang bisa meredam emosi ketiga anaknya.
"Pasang cewek-cewek merajuk dia," gurau Rifal.
Rindra dan juga Dirga tertawa mendengar gurauan Rifal. Dirga terus memperhatikan Radit yang seakan tidak pernah berkata kasar kepada ketiga anaknya.
"Umur lu paling muda di antara kita, tapi lu paling kebapakan," puji Dirga.
Radit hanya tersenyum, dia masih memberi pengertian kepada ketiga anaknya.
"Katanya ingin dedek bayi. Kok kalian bertiga nakal? Nanti dedek bayinya gak akan ada di dalam perut Bubu," terang Radit.
Mendengar dedek bayi membuat mereka bertiga menatap serius ke arah sang ayah.
"Dedek bayi?" ulang mereka bertiga.
"Iya, tapi kalian janji jangan nakal. Supaya Tuhan bisa cepat ngasih dedek bayi di perut Bubu," jelas Radit.
"Janji," ucap mereka bertiga dengan mengacungkan jari kelingking mereka.
__ADS_1