
Usia kandungan Echa sudah memasuki bulan ketiga. Akan tetapi, mereka belum memberitahukannya kepada siapapun. Hanya mereka berdua saja yang tahu.
"Yang, kamu gak ngasih tahu orang tua kamu?" Radit dudum di samping sang istri yang sedang memangku cemilan.
"Nanti aja, Ay."
Baru saja selesai Echa berbicara, ponselnya berdering dan senyumnya pun terangkat dengan sempurna.
"Panjang umur 'kan mereka," ucap Echa. Radit melihat nama yang sedang melakukan panggilan kepada istrinya.
Ternyata ayahnya menghubunginya. Bukan hanya ayahnya semua keluarga besar Echa ada di sana. Melepas rindu dengan obrolan ngalor-ngidul. Tawa riuh pun tercipta. Echa menyerahkan ponselnya kepada Radit. Biarlah suaminya yang mengobrol dengan para pria kurang waras menurut Echa.
Echa mengambil selembar foto yang ada di kamarnya. Dia memperlihatkan foto tersebut kepada keluarganya. Suara teriakan penuh suka cita pun terdengar.
"Dek, kamu hamil?" Pertanyaan yang keluar dari mulut ayah tercinta.
"Iya, Ayah."
Ucap syukur terdengar dari sana. Echa hanya bisa menyeka ujung matanya yang sudah mengeluarkan bulir bening karena haru. Terkadang, muncul kata 'andai' dalam hati Echa.
Andai Echa hamil dan berada di Indonesia. Mungkin Echa tidak akan kesepian seperti ini.
Kalimat itulah yang sering Echa ucapkan. Hanya kata andai yang bisa dia katakan.
Radit mengusap lembut pundak sang istri. Dia tahu bagaimana istrinya menjalani hidup di sini. Echa berhambur memeluk tubuh Radit dengan eratnya.
"Aku janji, kita akan kembali ke Indonesia. Kita akan menetap di sana." Echa terus terisak. Bagaimana pun hati wanita lebih sensitif dibandingkan dengan pria. Bukan hanya Echa yang rindu keluarga. Dia juga rindu akan papihnya. Namun, Radit masih bisa menahannya.
Setelah sambungan video call selesai. Radit terus mendekap hangat tubuh sang istri.
"Maaf, masih banyak yang belum bisa aku kasih ke kamu. Perihal ngidam kamu pun banyak yang belum bisa aku wujudkan," lirih Radit.
"Tidak apa-apa, Ay. Lagi pula aku nyidamnya aja yang aneh," balas Echa.
Beginilah Echa, tidak akan pernah menuntut jika apa yang dia inginkan tidak dapat Radit penuhi. Mencari masakan Indonesia di negeri orang tidaklah mudah.
Inilah cara menghibur dirinya. Menyuruh para pria kesayangannya di Indonesia untuk memakai pakaian ala wanita. Bibirnya mampu tersenyum, tetapi hatinya menangis keras. Setelah siaran langsung itu dia tonton. Air matanya mengalir dengan sangat deras.
Ada rasa rindu dan sedih bercampur jadi satu. Rindu akan orang tuanya yang berada di belahan bumi yang berbeda serta sedih karena masa-masa sulit kehamilannya harus dia lewati seorang diri.
"Sayang, jangan menangis terus. Kasihan anak-anak kita," ucap lembut Radit sambil mengusap perut Echa.
Setiap malam sebelum tidur, Radit selalu mencium perut sang istri yang masih rata. Radit selalu mengajak bicara anak-anak di dalam perutnya.
__ADS_1
"Hari ini kalian nakal gak?" Ketika Radit berbicara pada anak-anaknya Echa selalu mengusap lembut rambut sang suami.
"Masih mual, Yang?" tanyanya.
"Udah jarang."
"Good job, anak-anak Baba harus bisa jagain Bubu, ya. Jangan nakal ketika Baba tinggal kerja. Kalo kalian ingin apa-apa tunggu Baba pulang kerja, oke."
Hari ini Echa merasa sangat bosan, dia ingin berjalan-jalan ke mall sambil mencari lipstik yang limited edition. Echa bersiap untuk pergi ke mall dengan menggunakan transportasi online.
Wajah Echa terlihat sangat bahagia ketika melewati toko demi toko di mall tersebut. Bukan ingin berbelanja, Echa hanya ingin berkeliling mall. Tiba sudah dia di toko kosmetik ternama. Beruntungnya, masih ada sisa satu lipstik yang Echa inginkan. Tanpa berpikir panjang dia mengambilnya.
Barang yang diinginkan sudah Echa dapatkan. Perutnya terasa lapar, dia ingin menikmati makanan di restoran yang cukup ternama. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat suaminya sedang tertawa lepas dengan seorang wanita. Hati Echa tiba-tiba perih, dadanya sakit dan pergerakan anaknya cukup membuatnya meringis.
Air matanya menetes begitu saja melihat sang suami tak pernah memudarkan senyumnya. Seorang pria memicingkan matanya, kemudian menghampiri Radit dan juga Prila.
"Dit, itu bukan istri kamu?" tunjuk Dodi ke arah Echa.
Radit menoleh ke arah istrinya yang sedang mematung dengan air mata yang sudah menetes. Namun, Echa seger berbalik arah dan meninggalkan restoran tersebut.
"Sayang," panggilnya.
Radit bangkit dari duduknya dan mengejar sang istri. Sudah pasti Echa menyangka yang tidak-tidak dengan dirinya. Radit kehilangan jejak sang istri, mengambil ponselnya di dalam saku celana.
Setelah ponselnya hidup banyak pesan yang masuk terutama dari istri tercintanya yang dia beri nama 'Bubu Sayang❤️'
"Shit!" umpatnya.
Radit tak putus asa, sambil berjalan dia terus menghubungi Echa. Sudah berkali-kali Radit menghubungi nomor Echa, tetapi tidak pernah dijawab olehnya. Langkahnya terhenti pada kerumunan yang ada di depannya.
"Permisi, ada apa, ya?" tanya Radit.
"Ibu hamil sedang kesakitan." Dada Radit bergemuruh mendengar ucapan dari ibu-ibu tersebut. Dia segera merangsek masuk ke dalam kerumunan. Matanya membola ketika melihat istrinya lah yang sedang kesakitan.
"Sayang." Radit segera membawa tubuh Echa keluar dari mall. Dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Dokter sudah menangani Echa dan tersenyum ke arah Radit yang masih menggenggam tangan sang istri. Meskipun Echa masih memalingkan wajahnya tidak ingin menatap sang suami.
"Usia kandungannya masih sangat muda. Wajar jika sakit melanda. Ini akibat terlalu stres dan juga kelelahan." Radit mengangguk mengerti.
Setelah selesai pemeriksaan, Echa berjalan terlebih dahulu meninggalkan Radit membuat Radit menghela napas kasar.
"PR yang menyulitkan," gumamnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Echa masih menutup rapat mulutnya. Meskipun, Radit selalu mengajaknya bicara. Kedua alis Echa menukik ketika mobil Radit berhenti di rumah sakit tempat dia bekerja.
"Aku ingin pulang," ketus Echa.
Radit tidak menjawab. Dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Echa. Tubuhnya dia bungkukan dan menatap manik mata sang istri yang sembab.
"Temani aku kerja sebentar," ucap Radit. Setelah itu dia mengecup kedua kelopak mata Echa bergantian. "Jangan nangis, aku gak suka."
Tangan Radit terus menggenggam tangan Echa menuju lantai di mana dia praktek. Para perawat menyapanya dan hanya mendapat anggukan.
Tibanya di tempat praktek, Echa dikejutkan dengan adanya wanita yang tadi bersama Radit di ruang praktek sang suami. Tangan Echa sudah memberontak meminta untuk dilepaskan. Namun, tangan Radit menggenggamnya dengan sangat erat.
"Lepas," pintanya.
Bukannya melepas, Radit malah membawa Echa masuk ke dalam ruang prakteknya.
"Benar kata dokter Radit. Istrinya sangat cantik," ucap Prila dengan tulus.
"Dia ini asisten aku, Sayang. Tadi, kami sedang makan siang. Gak cuma aku ada Dodi juga," terang Radit.
"Benar itu Nyonya Raditya. Tadi kami makan siang bersama. Dokter Radit, saya dan juga tunangan saya," jelas Prila.
"Tuh, kamu dengar sendiri 'kan." Echa masih terdiam.
"Pril, tinggalkan ruangan saya dulu sebentar." Prila pun menuruti ucapan Radit.
Setelah Prila pergi, Radit duduk di kursi kebesarannya sambil memangku sang istri. Dia menangkup wajah Echa dan menatap manik mata Echa sangat dalam.
"Maaf, tadi ponselku mati. Semua pesan kamu terlambat aku baca," sesalnya.
"Aku sudah bilang kepada kamu. Aku tidak akan menyakiti kamu apalagi mengkhianati kamu. Hanya kamu wanita yang aku cintai. Tidak ada yang lain."
"Bisa kamu lihat, perawat serta dokter di sini cantik dan seksi. Aku tidak peduli karena bagiku kamu yang paling cantik." Radit mengecup singkat bibir dan istri.
"Aku bukanlah pria berengsek yang akan meninggalkan kamu ketika kamu tengah mengandung buah cinta kita," terangnya.
"Ketika kandunganku semakin membesar, tubuhku tidak karuhan bentuknya pasti kamu akan berpaling," balas Echa.
"Tidak akan, Sayang. Aku yang telah membuat kamu gendut. Jadi, aku juga yang harus bertanggung jawab atas tubuh kamu. Dari pada aku bermain wanita, lebih baik aku memberikan modal kepada istriku untuk investasi pada tubuhnya. Biar aku makin sayang sama kamu." Radit menarik tangan Echa dan memeluknya.
"Maafkan aku, Sayang."
...****************...
__ADS_1