Yang Terluka

Yang Terluka
Tukang Salar


__ADS_3

Setelah Anggi keluar dari rumah sakit, Echa, Radit serta Iyan mengantar Anggi menuju panti asuhan yang Bu Parmi maksud. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Bu Vina.


"Hai Anggi!"


Bu Vina menyapa Anggi dengan sangat sopan dan senyum lembut terukir di wajahnya. Anggi membalas senyumnya dan mencium tangan Bu Vina.


Tanpa Anggi ketahui, Radit dan Echa sudah membelikan baju-baju serta perlengkapan sekolah untuk Anggi. Mereka ingin dia bisa meraih cita-citanya menjadi seorang dokter.


Tidak sengaja, Echa mendengar percakapan antara Iyan dan juga Anggi di kamar perawatan. Pada waktu itu, Iyan tengah menjenguk Anggi yang hanya diantar Pak Mat.


"Aku boleh tanya gak? Apa sih cita-cita kamu?"


Iyan mulai penasaran dengan impian Anggi. Anggi adalah anak yang cerdas, tetapi keadaan yang membuatnya tidak dapat mengenyam pendidikan.


"Aku ingin jadi dokter."


Kalimat itu terdengar pilu membuat Iyan menatap bingung ke arah Anggi.


"Aku ingin menyembuhkan banyak orang yang sakit seperti ibu."


Cita-cita mulia Anggi membuat Iyan tersentak. Mulut Iyan kelu mendengar keinginan Anggi. Dia pernah merasakan bagaimana berada diposisi Anggi. Ditinggalkan oleh ibunya.


Kembali ke panti asuhan, Echa memeluk tubuh Anggi dengan sangat erat. Dia memberikan kartu nama kepada Anggi.


"Kalau kamu butuh apa-apa, hubungi Tante, ya."


Anggi tidak menjawab. Dia hanya memandang pilu ke arah kartu nama.


Tidak, Tante. Anggi tidak ingin merepotkan Tante lagi.


Itulah yang Anggi katakan di dalam hati. Sudah banyak kebaikan yang Echa berikan kepada Anggi dan mendiang ibunya. Anggi tidak ingin membebani Echa dan keluarganya lagi.


"Tante harap, suatu saat nanti kita bisa bertemu dengan keadaan kamu yang sudah sukses."


Air mata Anggi tak kuasa dibendung. Dia memeluk tubuh Echa dengan sangat erat.


"Amin. Makasih Tante, Anggi tidak akan pernah melupakan semua jasa Tante."


"Janji ya sama, Tante. Kamu harus jadi orang hebat nanti." Anggi mengangguk dengan derai air mata yang membasahi pipinya.


"Aku pergi, ya. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi."


Iyan tersenyum hangat ke arah Anggi. Melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.


Aku yakin, nanti kita pasti ketemu lagi, Nggi.


Iyan bergumam dalam hati. Seperti ada magnet yang menghubungkan Iyan dengan Anggi. Bukan hanya Iyan merasakan hal ini, Anggi pun sama.


Waktu seakan cepat sekali berputar. Satu tahun bagai satu bulan rasanya. Kini, tiba waktunya Riana untuk melanjutkan kuliahnya di Jogja.


"Ri, apa gak kejauhan?" Kalimat yang sering Rion lontarkan.


"Ayah, Ri ingin mandiri. Jadi, tolong ijinkan Ri."


Hembusan napas berat terdengar di telinga Riana. Bukannya dia tega meninggalkan ayahnya seorang diri. Akan tetapi, dia juga punya mimpi yang harus dia raih.


"Ayah ... Ri masih berada di pulau yang sama dengan ayah. Jika, Ayah rindu dengan Ri, Ayah bisa menemui Ri kapan saja."


Mata sendu Rion terlihat jelas. Ada rasa khawatir dan cemas di hatinya.


"Kakak saja Ayah ijinkan kuliah di luar negeri. Ri, hanya di luar Kota. Tidak sejauh Kakak."


"Berbeda, Ri. Kakak pada waktu itu ada yang jaga Kakek Genta. Sedangkan kamu?"


Riana menggenggam erat tangan sang ayah. Dia menatap dalam manik mata ayahnya yang penuh dengan keberatan.


"Di sana juga ada Om Andri. Ri yakin kalau Om Andri akan jagain Ri seperti Kakak yang dijagain oleh Kakek."


Berat melepaskan anak gadisnya. Dia takut, jika Riana akan salah pergaulan dan pikiran jelek menghiasi kepalanya.


"Ayah."


Suara sang putri sulung kini terdengar. Langkahnya mendekat ke arah ayahnya. Echa duduk di samping Rion dan menatapnya dengan hangat.


"Echa juga bisa menjaga diri, Yah. Padahal Echa kuliah di negeri dan kota yang sama dengan Kak Radit. Echa juga yakin, Riana pasti menjaga dirinya serta kehormatannya. Ijinkan Riana untuk hidup mandiri, Yah. Berjuang untuk membahagiakan Ayah karena Echa dan Riana tahu, bahwa kami ini belum bisa membahagiakan ayah. Tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa ayah yang sangat besar untuk kami."


Bulir bening menetes begitu saja membasahi wajah Rion. Hatinya sangat tersentuh mendengar kalimat yang sangat tulus. Rion memeluk tubuh kedua putrinya dan akhirnya dia mengijinkan Riana untuk kuliah di Jogja.


Malam ini kediaman Rion mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan untuk Riana. Semua keluarganya datang dan berkumpul. Kehebohan sangat terdengar jelas. Apalagi suara sang mommy yang sedang memarahi Aska.


"Kamu hamili anak orang berapa sih, Dek? Setiap datang ke rumah minta pertanggung jawaban. Dalam sehari bisa ada lima perempuan yang datang ke rumah. Lama-lama Mommy mati berdiri ini."


Manusia yang sedang diceramahi masih asyik dengan ponselnya dan juga ketiga keponakannya.


"Udah lah, Mom. Namanya juga anak muda."


Begitulah pembelaan dari sang Daddy untuk Aska. Jika, sudah begini tanduk Ayanda akan keluar. Riana hanya tertawa, untuk empat tahu ke depan dia pasti akan merindukan momen-momen ini.


Kini, Riana beralih pada Beeya. Adik kesayangannya yang sangat dekat dengan Iyan. Jika, mereka dekat pasti Rion dan Arya akan beradu mulut. Banyak orang yang menyuruh Rion dan Arya berbesanan. Namun, keduanya sama-sama menolak dengan sangat keras.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Ucapan lembut tangan Echa membuat Riana menoleh ke arah kakaknya.


"Ri, sedang mengingat kejadian malam ini supaya di sana Ri tidak kesepian."


Echa mengusap lembut rambut Riana. Seulas senyum dia berikan.


"Di tempat baru pasti kamu harus adaptasi dengan segala tempat dan orang-orangnya. Rasa kesepian pasti ada. Namun, itu hanya sebentar. Di tempat baru pasti kamu juga menemukan teman yang baru dan juga suasana baru."


Riana tersenyum dan memeluk tubuh Echa yang sudah Riana anggap seperti ibunya.


"Ri, juga akan sangat merindukan kakak."

__ADS_1


Acara makan-makan sudah dimulai, ada yang sedang di halaman samping membakar aneka bakso seafood dan juga seafood asli. Ada juga yang sedang menyiapkan sambal karena mereka ingin menikmati makan lesehan. Bosan makan-makanan mewah terus. Begitulah kata mereka.


Para remaja sedang asyik membakar aneka macam seafood dan juga sosis sambil memutar lagu yang sedang hits pada masa ini.


🎶


Pergi saja engkau pergi dariku


Biar ku bunuh perasaan untukmu


Meski berat melangkah


Hatiku hanya tak siap terluka


Mereka terus bernyanyi hingga tiba-tiba Suara Riana hilang. Dia mematung karena melihat seseorang yang tersenyum ke arahnya.


"Abang!" seru semua orang.


Mereka menghampiri Aksa kecuali Riana yang masih mematung di sana. Dia sudah bertekad untuk melupakan pria itu. Sudah satu tahun berlalu, Riana pasti bisa. Apalagi, dia akan pergi dari Kota Jakarta. Sudah pasti tidak akan bertemu dengan Aksa lagi.


Bibir Aksa tersenyum mendapat sambutan semua orang. Akan tetapi, matanya masih menatap ke arah Riana yang kini fokus membalikkan sate seafood yang sedang dibakar.


Para ibu-ibu yang baru tiba dari dapur pun memeluk tubuh Aksa yang semakin tinggi dan juga tampan. Terlebih Ayanda.


"Miss you so much."


Bukannya berlebihan, Aksa menolak untuk dijenguk oleh kedua orang tuanya. Biarlah dia di sana sendiri, jika dia ada waktu luang dia yang akan pulang ke Indonesia.


Makanan sudah di tata di atas daun pisang. Mereka duduk di atas tikar. Ada berbagai macam menu


"Mamah ... ini ikan apa? Kok kecil-kecil begini?"


Beeya menunjuk ikan teri nasi yang ada di atas nasi liwet.


"Itu ikan teri, Bee."


"Kok kecil-kecil? Sekilo isi berspa ini, Mah?"


Sebuah pertanyaan yang membuat Arya menepuk dahinya.


"Bukan anak lu kalau gak ada pertanyaan aneh yang keluar dari mulut tuh bocah," timpal Rion.


"Ribet banget sih, Bee. Tinggal makan juga," ujar Aska.


"Lah ... cucu-cucu lu anak orang apa anak kambing? Timun, selada, kemangi, mereka gadoin."


Rion menoyor kepala Arya yang bicaranya tidak disaring. Jelas-jelas si triplets anak manusia bukan anak kambing.


"Udah, mending kita makan."


Dua anak manusia yang kebetulan saling duduk berhadapan hanya saling mencuri pandang. Lama kelamaan Riana merasa risih. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. Tangan Aksa membersihkan kotoran yang ada di sudut bibir Riana membuat semua orang berdehem berjamaah.


Riana yang merasa malu memilih untuk menyudahi makannya dan masuk ke dalam. Semua menatap ke arah Riana yang sudah masuk ke rumah. Kini, pandangan mereka tertuju pada Aksa.


"Kejar, Bang. Ayah berikan kamu waktu untuk bicara."


Aksa segera berlari menuju dalam rumah. Langkahnya terhenti ketika dia melihat Riana yang sedang berada di wastafel dapur.


Riana terdiam ketika melihat pantulan wajah Aksa di dalam cermin. Aksa berdiri tepat di belakang Riana.


"Ri, sudah selesai."


Riana berlalu begitu saja. Ingin rasanya Aksa menghadang Riana. Namun, tangannya kotor. Akhirnya dia memilih untuk mencuci tangannya terlebih dahulu dan mengejar Riana.


Ketukan pintu kamar membuat Riana yang sedang menatap ke arah luar jendela melangkah untuk membukakan pintu. Matanya melebar ketika melihat Aksa sudah berdiri di depan kamarnya.


"Kenapa kamu selalu menghindar?"


Riana terdiam, tidak mampu menjawab ucapan Aksa.


"Abang jatuh cinta sama kamu, Ri."


Riana menatap dalam manik mata Aksa. Nektra mata Aksa menyiratkan keseriusan yang mendalam.


"Dulu juga Ri cinta sama Abang. Sebelum bunda meninggal. Sebelum Ri juga berubah. Rasa yang Ri miliki itu sudah Ri kubur dalam-dalam. Ri, harap Abang mengerti."


"Aku gak akan pernah bisa mengerti dan aku juga gak suka dengan penolakan," tukas Aksa.


"Tapi ... itulah yang ingin Ri katakan. Anggap saja, Ri tidak pernah mengutarakan apapun kepada Abang. Ri, bukan perempuan yang baik. Abang bisa mencari pendamping atau teman wanita yang lebih sempurna dari Ri." Aksa mematung mendengar ucapan Riana.


"Maaf, Bang. Ri, ingin istirahat. Selamat malam."


Perlahan pintu kamarnya Riana tutup. Dia bersandar di belakang pintu dan tubuhnya luruh ke lantai . Wajahnya dia telungkup kan ke dalam lutut yang dia tekuk.


"Lama-lama rasa cinta ini hilang, Ri. Kamu harus fokus belajar dan buatlah bangga ayah dan kakakmu."


Kalimat penyemangat untuk dirinya sendiri.


Keesokan paginya, Riana sudah diantar oleh ayah dan kakaknya serta ketiga anaknya untuk bertolak ke Jogja. Sedangkan Radit tidak bisa ikut karena ada pekerjaan lain di Magelang. Namun, dia berjanji setelah pekerjaannya selesai dia akan menyusul ketiga anaknya serta istrinya.


Benar yang dikatakan oleh Echa, rasa kesepian itu pasti ada. Kini, Riana merasakan itu. Setelah kepulangan ayah, kakak, Abang serta ketiga keponakannya, Riana merasa sangat kesepian. Dia hanya bisa menangis di dalam kamar. Membayangkan begini rasanya hidup di Kota orang seorang diri. Dia juga membayangkan beginilah rasanya jika hidup sendiri tanpa keluarga.


Tanpa Riana tahu, di depan kosannya ada seorang pria yang terus berdiri. Sorot matanya menyiratkan luka yang memilukan.


"Aku janji, aku akan sering menengok kamu di sini. Memastikan kamu baik-baik saja," gumamnya, sebelum pergi meninggalkan kosan Riana.


Waktu terasa cepat bergulir, tak terasa sudah satu tahun sudah Riana menimba ilmu di Kota orang. Begitu juga dengan ketiga anak-anak Echa. Kini, mereka sudah berusia tiga tahun. Diusia ini pula Addhitama sudah memasukkan mereka ke salah satu sekolah yang cukup ternama.


Sedari subuh ketiga anak Echa sudah bangun. Mereka sangat antusias sekali karena ingin datang ke sekolah. Bagaimana tidak, Addhitama memperlihatkan video bagaimana keadaan sekolah mereka nanti. Banyak aneka permainan yang mereka sangat ingin segera pergi ke sana.


"Tumben udah pada mandi?" Radit yang baru saja bangun segera memeriksa kamar ketiga anaknya karena sang istri tercinta sudah tidak ada di sampingnya.

__ADS_1


"Mau cekolah, Baba," kata Aleena.


"Masuknya jam delapan, Nak. Sekarang baru juga jam enam."


"Bubu, abis angka enam delapan 'kan?" tanya Aleeya.


Echa tertawa dan mengusap lembut rambut lebat Aleeya.


"Kakak Na, setelah angka enam angka berapa?" Echa mulai melemparkan pertanyaan kepada putri sulungnya yang pintar.


"Tujuh." Aleena menunjukkan jari kanannya lima dan jari kirinya dua.


"Hu ... dedek salah," ejek Aleesa. Wajah Aleeya mulai merengut kesal mengatakan Echa tertawa melihatnya.


"Gak boleh berantem, ya. Sekarang siapa yang mau dikuncir duluan?"


Ketiga anak Echa mengacungkan tangan mereka. Radit menggelengkan kepalanya dan mengecup ujung kepala sang istri.


"Aku mandi, ya."


Echa mengangguk pelan. Sebelum menguncir ketiga anaknya, Echa menyiapkan baju yang akan Radit gunakan hari ini. Barulah dia kembali ke alamat si triplets yang masih anteng duduk manis.


Setelah semua anaknya sudah cantik, Echa memberikan tas kepada ketiga anaknya. Di depan tas tersebut ada inisal nama mereka masing-masing agar tidak tertukar. Echa juga sudah menyiapkan name tag untuk mereka bertiga supaya guru-guru mereka tidak keder dan salah memanggil nama.


Echa hampir lupa dengan sepatu mereka. Semuanya sudah rapi sedangkan kaki mereka masih nyeker. Echa tertawa sendiri, kemudian memakaikan kaos kaki serta sepatu kepada ketiga anaknya.


"Sudah cantik dan siap sekolah." Si triplets bersorak gembira. Echa menghela napas kasar karena cukup menguras tenaga.


Pelukan dari belakang membuat Echa tersenyum senang. "Aku masih bau, Ay."


"Aku gak peduli."


Echa mengusap lembut pipi sang suami. Dia tahu, suaminya ini belum memasang dasi. Echa berbalik badan dan memasangkan dasi di leher Radit.


"Selesai. Aku mandi dulu, ya." Eche mengecup pipi Radit dan membuat Radit melebarkan senyum.


Ketika tiba di meja makan, ternyata hanya ada Iyan dan ketiga anaknya. Ayahnya tengah berada di ruang tamu sedang memeriksa pekerjaannya.


"Makannya jangan berantakan, ya."


Si triplets mengangguk dan memasang baby bib (celemek) di leher mereka masing-masing agar tidak mengotori baju.


Echa baru masuk ke ruang makan ketika ketiga anaknya sudah selesai makan. Tidak ada sisa makanan di atas piring sedikit pun.


"Pintarnya anak Bubu." Echa mencium ketiga anaknya bergantian.


Radit mengambilkan dua lembar roti yang sudah dia olesi margarin, Ovaltine serta diberi keju slice. Kemudian membawanya ke belakang.


"Ay," panggil Echa.


"Aku mah bakar roti untuk kamu dulu," jawab Radit. Echa pun terkekeh.


Radit menghidangkan roti bakar di depan Echa. Senyum manis terukir di wajahnya.


Sedangkan anak-anak Echa sedang asyik memakan kacang almond yang sengaja Echa suguhkan untuk mereka.


Langkah kaki yang sangat banyak terdengar. Rion tersenyum melihat cucu-cucunya sudah terlihat sangat cantik.


"Wah ... cucu Engkong sudah cantik, yang rajin ya belajarnya."


Aleeya, Aleesa serta Aleena mencium tangan kakek tercintanya dan dengan kompak mereka menengadahkan tangan ke arah Rion.


"Uang jajan."


Mata Rion melebar berbeda dengan dua anak Rion serta menantunya yang tertawa.


"Masih kecil, Aleeya. Gak boleh bawa uang jajan," tolak Rion.


Aleena si genius mengeluarkan buku kecil yang di sana tertulis buku tabungan.


"Bukan buat jajan, Kong. Buat nabung."


Rion mendengus kesal, kenapa semakin besar ketiga cucunya menjelma yumenjadi tulang salar seperti ini. Terpaksa dia mengeluarkan dompetnya. Mengambil uang lembaran berwarna ungu dan diberikan kepada ketiga cucunya.


"Apa ini?" tanya Aleeya.


"Uang yang dimasukin ke celengan ayam Kakak Sa aja walnana bilu," oceh Aleesa.


"Ini uang untuk tukang palkil aplamalet," sambung Aleena.


Rion tercengang mendengar ucapan ketiga cucunya ini. Belum mengerti nominal uang, tetapi selalu protes jika diberi uang yang berwarna abu-abu, cokelat, ungu dan juga hijau.


"Cepet Engkong!" pinta Aleeya.


Tangan Aleesa dengan cepat meraih dompet sang kakek. Wajah Aleesa berbinar tatkala menemukan uang yang diinginkan. Si lembaran merah.


"Ini buat Dedek." Aleesa memberikannya kepada Aleeya.


"Ini buat Kakak Na." Dia juga memberikannya kepada Aleena.


"Ini buat Kakak Sa." Dia pegang uang seratus ribu untuk dirinya sendiri.


"Makasih Engkong," ucap mereka kompak.


Mereka membuka tas masing-masing dan memasukkan uang itu ke dalam buku tabungan.


"Bubu, ayo," ajak Aleena dan juga kedua adiknya.


"Pagi-pagi udah kena palak," ejek Radit.


Rion meratapi isi dompetnya yang kini tersisa lembaran abu-abu, cokelat, ungu, hijau dan biru. Itupun masing-masing satu lembar.

__ADS_1


__ADS_2