
Cinta yang membutuhkan perjuangan bukan hanya kisah antara Radit dan Echa saja. Ada juga kisah cinta kakak pertama Radit yang tak kalah terjal.
Rindra Addhitama, pria berengsek nan bejat. Rela mencurangi adiknya sendiri hanya karena sebuah ambisi. Menjebak Radit hanya untuk mendapatkan Echa. Hubungannya dengan Radit merenggangkan serta Echa tak kunjung dia dapatkan.
Mencintai Nesha Permata tidak terpikirkan olehnya. Berawal karena sebuah taruhan yang membuat Rindra cinta sungguhan.
"Apa yang membuat Papih jatuh cinta sama Mamih? Papih tidak pernah menjelaskan. Selalu saja Mamihnya harus menceritakan perasaan Mamih sesungguhnya." Tangan Nesha sedang menyusuri dada bidang Rindra yang tidak terbungkus apa-apa. Dada yang masih basah karena olahraga malam yang selalu mereka lakukan.
"Sorot mata Mamih memberikan ketenangan." Tangan Rindra sudah menghentikan pergerakan tangan Nesha yang semakin menjadi.
"Bagaimana dengan taruhan itu?" Nesha baru tahu hal itu akhir-akhir ini. Itu pun karena istri Dave yang bercerita.
"Itu semua ide Dave, Mih." Rindra mengecup kening sang istri dan memeluk erat tubuh kecil istrinya.
"Kenapa Papih setuju?"
"Hadiahnya menggiurkan," kelakar Rindra. Nesha mendengus kesal dan berniat melepaskan diri dari Rindra.
"Jangan bergerak, Mih. Nanti ada yang bangun lagi," ujar Rindra.
Nesha menatap suaminya tak percaya. Sedangkan Rindra hanya tersenyum dibuatnya.
"Udah lima ronde loh, Pih."
"Sepuluh ronde pun Papih siap." Bisa dikatakan jika Rindra Hyper.
Itulah alasan Rindra nyaman berhubungan dengan Fani tanpa status pernikahan. Meskipun didesak, dia seakan tidak menghiraukan.
"Berapa ronde bisa Papih lakukan dengan Fa ...."
Mulut Nesha Rindra bekap dengan mulutnya. Memberikannya kecupan hangat cenderung panas agar istrinya ini kembali di mode on.
"Pih." Suara yang menandakan sesuatu.
"Papih tidak suka Mamih membicarakan perihal itu. Biarkan semua itu menjadi masa lalu Papih yang suram." Kali ini, tubuh Rindra sudah berada di atas tubuh Nesha. Menerjangnya tanpa ampun.
Satu jam berlalu, tubuh Nesha benar-benar terkulai lemas. Dia sungguh tidak berdaya. Matanya hanya bisa terpejam. Dengan cekatan Rindra mengambil tisu mengelap keringat di wajah sang istri. Kemudian, dia mengecup kening Nesha.
"Maafkan Papih, Mih," sesal Rindra.
Jika, Rindra sedang dalam kondisi marah. Dia akan melampiaskan dengan cara seperti ini. Gairahnya seakan naik dan dia akan melakukannya dengan ritme yang cepat sehingga Nesha kewalahan.
Rindra menatap lamat-lamat wajah Nesha yang sudah terlelap. Banyak sekali noda merah di leher Nesha karena ulahnya. Ada rasa penyesalan jika Rindra melakukan ini semua. Temperamennya memang sudah hilang. Namun, berganti dengan cara seperti ini.
Rindra merutuki kebodohannya. Apalagi ini masih di rumah sang Papih. Sudah pasti Nesha akan malu jika besok bertemu dengan penghuni rumah ini.
Pagi harinya, Nesha masih mematung di depan cermin kamar mandi. Dia hanya bisa menghela napas kasar.
Sabarlah menghadapi Rindra, Sha. Dia gampang marah. Kamu harus bisa mengimbangi.
Nasihat dari sang Papih mertua setelah Nesha menikah. Selama mereka menikah, Rindra tidak pernah membentak ataupun memukul Nesha. Hanya saja, kemarahannya pasti menodai tubuhnya. Awalanya Nesha marah, lama kelamaan Nesha mencoba mengerti dan terbiasa akan hal ini.
Keluarnya dari kamar mandi, dia melihat suaminya sudah duduk di pinggiran tempat tidur.
"Mau aku siapin air hangat untuk mandi?"
Mendengar suara istrinya, Rindra menoleh dan menatap Nesha dengan tatapan penuh penyesalan. Namun, diamnya Rindra Nesha artikan suaminya masih marah. Nesha memilih masuk kembali ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Rindra mandi.
Tidak disangka, Rindra mengikutinya. Kemudian memeluk tubuh Nesha dari belakang.
"Maafkan Papih, Mih."
Nesha terdiam sejenak. Menetralkan hatinya agar tetap bersikap manis. Meskipun, dia sendiri lelah menghadapi sikap Rindra seperti ini.
"Udah siap. Aku tinggal dulu." Nesha melepaskan pelukan Rindra dengan sekuat tenaganya. Setelah terlepas, dia keluar dari kamar mandi. Namun, Rindra mengejarnya dan memeluknya kembali dari arah belakang.
"Maafkan Papih, Mih. Maafkan Papih."
Nesha bergeming di tempatnya. Mendengar betapa lirihnya permintaan maaf dari suaminya tersebut.
"Aku tidak marah."
Rindra membalikkan tubuh Nesha agar menghadap ke arahnya. Ditatapnya manik mata Nesha yang indah.
"Papih tau, Mamih marah. Jangan bohong, Mih. Pukul Papih untuk meluapkan kemarahan Mamih. Pukul Papih, Mih," tukas Rindra.
"Maaf, jika Papih marah pasti selalu melukai Mamih. Maafkan Papih," sesalnya.
Tangan Rindra menyentuh leher Nesha yang sedikit membiru karena ulahnya.
"Ini pasti sakit," ujar Rindra sambil menatap Nesha.
"Ini!" Tangan Rindra menyentuh bibir Nesha yang terluka karena gigitannya yang cukup keras.
"Maafkan Papih, Mih."
__ADS_1
"Bukan hanya tubuh aku yang sakit. Hati aku juga sakit." Pertahanan Nesha kini runtuh. Tangisnya pecah bercampur emosi.
"Setiap kamu tidak suka, pasti kamu selalu menganggap aku pemuas nafsu kamu. Tanpa pernah memperlakukan aku dengan lembut," lirihnya.
"Selama ini aku mencoba untuk sabar. Setiap kali kamu marah, aku harus bersusah payah menyembunyikan hasil karya kamu di hadapan Rio. Tidak bisakah kamu mengontrol emosi? Lama-kelamaan aku juga capek," terangnya dengan air mata yang sudah jatuh.
Rindra memeluk tubuh Nesha dan berkali-kali mengecup puncak kepala sang istri. Puluhan kata maaf Rindra ucapkan. Serta pukulan-pukulan keras di dada Rindra Nesha layangkan.
Dari sinilah Rindra tahu bahwa selama ini Nesha menyimpan marah kepadanya. Namun, tidak dia utarakan. Dia memilih untuk diam. Kali ini, dia berada di fase melelahkan. Semuanya Nesha coba dalam bentuk ungkapan serta tindakan.
Rinda hanya diam meskipun pukulan itu cukup membuat dadanya sakit. Dia membiarkan Nesha meluapkan semuanya. Lama kelamaan pukulan itu mulai lemah dan tubuh Nesha tidak berdaya. Rindra sigap menangkap tubuh Nesha agar tidak tersungkur.
Rindra membawa tubuh sang istri ke atas tempat tidur. Tak hentinya dia memeluk tubuh Nesha.
"Keluarkan semuanya, Mih. Pukul Papih lagi jika Mamih belum puas."
Hanya Isak tangis yang terdengar lirih. Membuat hati Rindra semakin sakit. Nesha menyimpan banyak luka dalam hatinya. Kini, Rindra menambah luka itu.
Lelah menangis, Nesha tertidur di dalam dekapan hangat Rindra. Dia membaringkan tubuh Nesha dengan sangat hati-hati. Menghapus setiap jejak air mata yang membasahi wajah Nesha. Mencium kening Nesha sangat dalam.
"Maafkan Papih, Mih. Papih janji akan merubah sikap Papih."
Rindra menyelimuti tubuh Nesha hingga sebatas leher. Meninggalkan Nesha untuk mandi. Dia berniat untuk tidak pergi ke kantor hari ini. Dia ingin menemani istrinya.
"Kok belum siap-siap?" Addhitama mengerutkan dahinya ketika melihat Rindra masih memakai celana pendek dengan kaos santai.
"Aku ijin gak masuk ya, Pih. Nesha sedang tidak enak badan."
"Mamih sakit, Pih?" Rio benar-benar terkejut mendengar Mamihnya sakit. Dia yang semula hendak menuju kamar Nesha, dicegah oleh Rindra.
"Biarkan Mamih istirahat." Rio pun mengangguk patuh.
"Bawa istrimu rumah sakit, jika tidak ada perubahan. Rio, berangkat sekolah sama Opa, oke?" Rio mengangkat kedua ibu jarinya.
Setelah Papih dan Rio pergi serta Rifal yang sudah tidak menampakkan batang hidungnya sedari pagi, Rindra masuk ke dalam kamarnya kembali. Istrinya masih tertidur dengan damainya. Membuatnya ikut merebahkan diri dan memeluk tubuh sang istri dengan begitu erat.
"Kamu sudah banyak mengubah hidupku," gumam Rindra. Kemudian, dia mengecup kening Nesha sangat dalam.
Pukul sembilan, Nesha mengerjapkan matanya. Menatap sang suami yang berada di sampingnya. Dia melihat ke arah jam dinding. Jarum panjang menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh.
"Pih, bangun. Papih gak kerja?" Rindra tidak mengindahkan ucapan. Nesha. Dia semakin terlelap dengan tangan yang terus memeluk erat tubuh Nesha.
"Pih," panggil Nesha lagi.
"Mamih tidur aja lagi. Temani Papih."
Setelah puas, dia mengusap bibir Nesha yang basah karena ulahnya. Usapan itu terhenti di luka bekas gigitan kecil yang dilakukan olehnya.
"Sakit?" Wajah Rindra penuh dengan penyesalan.
"Sedikit."
"Maaf," sesal Rindra.
Nesha menggelengkan kepala. dan mengusap wajah sang suami.
"Jangan ulangi lagi. Sudah saatnya bisa meredam emosi." Rindra merasakan ketenangan dengan ucapan yang Nesha lontarkan.
"Sesungguhnya diruda paksa itu tidak enak, Pih." Rindra pun tertawa mendengar ucapan istrinya. Tak hentinya dia mengucapakan terima kasih kepada Nesha. Wanita yang mau menerima pria buruk seperti Rindra.
"Mau jemput Rio gak?" Nesha mendongakkan kepala ke arah Rindra yang tengah mendekapnya erat.
"Mau, sekalian ke kantor sebentar." Nesha mengangguk.
Setelah mencuci muka, Nesha masih mematung di depan cermin. Melihat gigitan bekas drakula yang meninggalkan bekas merah nyaris membiru sepanjang lehernya.
"Pake yang turtle neck, Mih," bisik Rindra dari belakang.
"Di sini memang ada?" Rindra mengangguk cepat.
"Semuanya udah Papih siapkan. Pastinya hal ini akan terjadi," kekeh Rindra.
Nesha menatap tajam ke arah suaminya yang tak hentinya tertawa. Dia hendak menuju lemari, tetapi dilarang oleh Rindra.
"Biar Papih yang pilihkan."
Rindra mengambil turtle neck berwarna hitam senada dengan kemeja yang dia gunakan. Tangan Rindra sudah membuka setiap kancing piyama yang Nesha gunakan. Matanya selalu terpesona pada isi di balik baju yang Nesha gunakan.
"Tubuh Mamih selalu menggoda Papih." Dengan jahilnya, Rindra mengecup dua bantalan yang sudah ternoda.
"Papih," kesal Nesha. Rindra hanya tertawa.
"Cantik sekali," puji Rindra setelah melihat Nesha tampil sangat sempurna.
"Love you, Mamih.". Rindra mengecup kening Nesha dengan sangat dalam. Kemudian mereka menuju sekolah Rio yang cukup jauh.
__ADS_1
Tibanya di sana, para orang tua murid menatap kagum pada Rindra. Pria yang sangat tampan yang mendampingi Nesha.
"Tampan sekali suaminya, Mbak Nesha," puji mereka semua.
Nesha hanya tersenyum. Apalagi, tangan Rindra terus menggenggam tangan Nesha dengan eratnya.
"Mamih," panggil Rio.
Mata Rio melebar ketika melihat sang Papih ikut menjemputnya.
"Papih." Rio berhambur memeluk tubuh Rindra. Rindra angkat tubuh Rio dan digendongnya menuju mobil.
"Kita ke kantor Papih, dulu. Setelah itu kita jalan-jalan," imbuh Rindra.
"Hore!" teriak Rio sangat bahagia.
Rio terus saja berceloteh tentang sekolahnya. Bagaimana teman-temannya. Rindra dan Nesha menjadi pendengar yang baik. Tertawa jika ada yang lucu dan selalu memuji Rio ketik ada hal baik yang Rio lakukan.
Awalnya Nesha enggan untuk masuk ke dalam kantor. Namun, Rindra tetap memaksa. Rio sudah terbiasa datang ke tempat ini. Addhitama sering membawanya pergi ke kantor.
"Pih," tolak Nesha.
"Tidak ada yang akan bicara kasar terhadap Mamih. Tegakkan kepala Mamih. Mamih istri Papih." Rinda mengulurkan tangannya dan disambut ragu oleh Nesha.
Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan. Sedangkan Rio berjalan di depan mereka. Semua karyawan menyadap sopan ke arah Rindra. Hanya dijawab anggukan olehnya
"Itu istri Pak Rindra?" bisik salah seorang karyawan.
"Cantik banget. Aku kira dia masih lajang." Ya, begitulah Addhitama. Dia memang sering membawa Rio. Namun, dia tidak pernah memberitahukan bahwa Rio adalah anak dari Rindra.
Tiba di lantai di mana ruangan Rindra berada. Rindra disambut spesial oleh seorang karyawan berpakaian minim.
"Selamat siang, Pak," sapa wanita itu dengan wajah yang mengerling genit.
"Papih, Iyo boleh ke ruangan Opa?"
Mendengar pertanyaan Rio, mata si wanita itu melebar dengan sempurna.
"Belum boleh, ya. Papih hanya bekerja sebentar. Setelah itu kita akan jalan-jalan bersama Mamih." Rio mengangguk mengerti.
"Tolong, buatkan saya dan istri saya minum. Serta Carikan cemilan untuk putra saya."
Sekretaris Rindra pun tercengang mendengar perintah dari Rindra.
Istri? Putra?
Tubuhnya limbung ketika Rindra masuk ke dalam ruangannya bersama istri dan anaknya.
"Rio kalo mau nonton TV di kamar situ, ya." Tanpa menjawab, Rio pun berlari menuju kamar yang papihnya maksud.
"Siapa wanita tadi?" Api cemburu sudah terpancar di mata Nesha.
"Sekretaris Papih, Mih." Rindra sudah duduk di kursi kebesarannya dan membuka laptopnya.
Nesha mengikuti suaminya dan menutup laptopnya sang suami. Memutar kursi yang sedang diduduki sang suami agar menghadap ke arahnya. Nesha sudah melipat tangannya di atas dada.
"Jawab, Pih," sentak Nesha.
Rindra tertawa melihat istrinya berubah galak seperti ini. Setelah meluapkan emosinya, Nesha berubah menjadi wanita garang.
"Sekretaris Papih."
"Papih masih mempertahankan sekretaris itu? Apa itu simpenan Papih di sini?" sergah Nesha.
"Astaghfirullah."
"Kenapa Mamih bisa berprasangka buruk seperti ini?"
"Mata Papih di mana? Jelas-jelas dia menyukai Papih. Bukan hanya sekedar menjadi sekretaris Papih. Malah lebih dari itu," tukas Nesha.
Rindra beranjak dari duduknya dan menenangkan istrinya. Emosi istrinya tengah meluap-luap. Rindra harus belajar bersabar menghadapi situasi seperti ini.
"Mau seribu wanita datang menggoda. Jika, Papih tidak meladeninya. Mereka bisa apa?"
"Hanya Mamih yang Papih cintai. Hanya Mamih yang mampu menggoyahkan iman Papih." Rindra mengecup kening Nesha sangat dalam. Kemudian turun ke bibir Nesha yang menjadi candu luar biasa untuknya setelah menikah.
Pagutan itu terasa lembut, hangat dan memabukkan. Membuat mereka terbuai. Mereka tahu, jika Rio tengah asyik menonton tv.
"Pak, ini ...."
Ucapan sekretaris itu terpotong karena melihat siaran langsung di depan matanya. Rindra dan Nesha menyudahi pagutan bibir mereka sebagai wajah Nesha yang sudah tenggelam di atas dada Rindra.
"Biasakan, jika mau masuk ketuk pintu dulu," sentaknya.
"Maaf." Sekretaris itu meletakkan semua pesanan Rindra di atas meja.
__ADS_1
Setelah sekretaris itu keluar, Nesha menegakkan kepalanya. Menatap suaminya dengan tatapan marah.
"Jangan cemberut, mau Papih serang lagi."