Yang Terluka

Yang Terluka
Terluka Lagi


__ADS_3

Semenjak Radit datang ke Jakarta, pertemuan dia dan juga Echa sangatlah intens. Seperti sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan. Apalagi wajah ceria yang selalu terukir di wajah mereka.


Namun, ini hari kedua Radit tidak pernah ada kabar. Echa selalu menanyakan kabar Radit. Namun, semua pesan dan panggilannya pun tidak pernah Radit jawab.


Terakhir pertemuan mereka, Radit hanya mengatakan jika dia harus membantu ayahnya di salah satu rumah sakit di Jogja. Dia juga tidak tahu sampai kapan dia akan berada di sana.


Hari ini, akan diadakan study wisata ke Kota Batu, Malang. Ada gurat kesedihan di wajah Echa karena dia tidak bisa bertemu Radit sebelum dia berangkat. Apalagi hampir lima hari ke depan Echa akan berada di Malang bersama siswa yang lainnya.


"Semuanya sudah dibawa?" Echa pun mengangguk menjawab pertanyaan Ayanda.


"Ini kenapa yang nganter Echa banyak bener sih. Udah kaya mau umroh aja," gerutunya.


Yang mengantar Echa ada Mommy Dan Daddy-nya, Bundanya dan juga Ayahnya, Sheza dan juga Azka serta Arya dan juga Beby.


"Orang mah senang," kata Arya sambil menoyor pelan kepala Echa.


"Risih tau Om, itu liat," tunjuk Echa ke arah para siswa yang menatapnya.


"Pada ngeliatin semua ke arah kita," lanjutnya.


Rombongan pun akan berangkat, tak lupa Echa berpamitan kepada orang-orang yang mengantarnya. Setelah Echa mencium tangan Arya, tangannya langsung menengadah ke arah Arya. Arya pun hanya berdecak kesal.


Dia mengeluarkan dompetnya, namun kecepatan tangan Echa melebihi seorang copet. Dengan senyum yang lebar Echa mengambil semua uang di dompet Arya yang berwarna merah dan juga biru. Hanya uang yang berwarna ungu dan cokelat yang Echa sisakan.


"Kecil-kecil udah jadi rampok nih bocah." Semua orang pun tertawa. Anehnya, Arya bukannya mengambil dompet di tangan Echa malah membiarkannya begitu saja.


Selama di perjalanan menuju Malang, Echa hanya diam. Sedangkan teman-temannya yang lain asyik bercanda dan juga bernyanyi ria.


Setelah 12 jam berkendara akhirnya mereka tiba di tempat penginapan. Wajah lelah dan lesu sangat terlihat di wajah para siswa.


Echa langsung mengecek ponselnya. Tapi, Radit tak kunjung membalas pesan dari Echa. Padahal sudah centang biru. Echa harus lebih sabar lagi sekarang.


Keesokan harinya, rombongan mereka menuju ke Museum Angkut. Seharian ini mereka menuju beberapa tempat. Dan kegiatan yang padat pun membuat Echa sedikit lupa dengan kesedihannya.


Canda tawa dengan para sahabatnya dan juga siswa yang lain mampu membuat Echa melupakan segala kegundahan hatinya.


Mereka kembali ketika malam tiba. Hanya lelah yang Echa rasakan. Sekarang yang ada dipikirannya hanyalah beristirahat.


Ini hari terakhir Echa berada di Malang. Malamnya ada tiga kelas yang memesan sebuah cafe untuk mereka bersantai sebelum mereka bertolak ke Jakarta. Termasuk kelas Echa.


Suasana cafe malam ini cukup sepi. Karena hari ini bukanlah weekend. Mereka asyik bercengkrama, berfoto ria karena cafe ini di desain instragamable.


Hingga Sasa menyenggol tangan Echa dengan cukup keras. Membuat Echa menoleh kepadanya. Sasa hanya menunjuk dengan dagunya. Dan Echa pun mengikuti arahan dari dagu Sasa.


Wajah datarnya mulai terlihat. Air matanya mulai menganak dan dadanya terasa sesak. Namun, Doni mematahkan pandangan Echa lalu menariknya ke atas panggung yang biasanya digunakan oleh para penyanyi cafe.


"Udah lama gua gak nyanyi," imbuh Doni.


"Tapi ...."


Doni langsung menarik tangan Echa membuat semua siswa yang melihatnya bertepuk tangan gembira. Dari atas panggung tersebut Echa melihat dengan sangat jelas orang yang membuat dadanya berdenyut perih. Apalagi, dengan senyuman yang mengembang dari bibirnya. Senyuman yang hampir seminggu ini Echa rindukan.

__ADS_1


"Ngapain bengong?" Doni menyenggol tangan Echa. Doni sudah memangku gitar akustik.


Echa pun membisikkan lagu yang akan dibawakannya kepada Doni dan Doni pun mengangguk.


Petikan gitar menghasilkan nada merdu membuat semua orang menatap mereka berdua. Tak terkecuali pasangan yang berada di meja pojok.


"Masih pada ABG ya yang ngamennya." Pria yang sedang menikmati pesanannya menoleh ke arah panggung. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Apalagi manik mata mereka bertemu.


🎶


Tak pernah ku menduga


Tak pernah ku curiga


Dan tak pernah ku menyangka


Ternyata engkau mendua


Jika dia bisa


Membuatmu bahagia


Walau hatiku terluka


Aku rela


Aku kan mencoba


Meski ku kecewa


Ku terima ....


Echa pun menunduk dalam dan pria itu terus menatap lekat ke arah Echa yang dia tahu Echa sedang menangis.


"Kok sakit banget ya hati gua dengernya," ucap Mima.


"Dia nyanyi dari hati banget," sahut Sasa sambil melirik ke arah Radit dan seorang wanita yang sedang menatap ke arah Echa.


Setelah lagu yang dia nyanyikan itu selesai, Echa bergegas turun dan langsung ke kamar mandi. Air matanya pun luruh.


"Jogja? Apa ini Kota Jogja?" gumamnya dengan nada sangat kecewa.


Setelah hatinya tenang, Echa keluar kamar mandi dan mencuci wajahnya. Dia menatap wajahnya di cermin.


Apa aku ditakdirkan hanya untuk disakiti? Senyuman penuh luka dia tunjukkan.


Echa melangkah pergi dari kamar mandi namun, tangannya ditarik oleh seseorang dan membawanya keluar cafe.


"Lepas," seru Echa.


"Bhul aku ...."

__ADS_1


"Kalo kamu lebih bahagia bersama dia. Aku ikhlas, bahagiakan dia," potong Echa.


"Dia itu pasien aku," sahut Radit.


"Apa pasien akan menggandeng tangan dokternya? Apa dia pasien spesial?" Ucapan Echa sangat menusuk hati Radit.


"Aku gak mau semakin tersakiti. Lebih baik aku yang pergi, mungkin udah biasa ya aku itu dikhianati pas lagi sayang-sayangnya." Echa pun berlalu meninggalkan Radit dan dia memilih untuk masuk ke dalam bus rombongannya.


Di sinilah dia menumpahkan segala rasa sedih dan sakitnya. Bus yang gelap dan hanya ada Echa di dalamnya. Isakan lirih sangat terdengar hingga rangkulan dari dua sahabatnya membuatnya tak bisa menahan tangisnya.


"Masih ada gua sama Mima yang akan selalu setia di samping lu."


Sedangkan di depan cafe, sudah terjadi keributan. Riza dengan kasarnya menghantam wajah Radit hingga hidungnya mengeluarkan darah segar.


"Gua kira lu akan bahagiain El, ternyata lu gak lebih brengsek dari gua," bentaknya.


Sepanjang perjalanan arah pulang, Echa lebih banyak berdiam. Hatinya sangat sakit sungguh sakit. Orang yang dia nantikan malah membuat hatinya kesakitan.


🎶


Kau tutup kisah cinta kita


Saat ku sedang sayang-sayangnya


Apa ada dia yang lain?


Yang beri semua yang ku tak punya


Kau tepikan kisah cinta kita


Saat ku sedang sayang-sayangnya


Kini ku tak bisa memaksa


Tapi ku harus bilang


Hatiku terluka


Mendengar teman-temanya menyanyikan lagu itu membuat air mata Echa tak tertahan. Bulir bening pun menetes di ujung matanya.


Sasa dan Mima langsung memeluk tubuh Echa. Dia tahu Echa sedang tidak baik-baik saja.


"Jangan pernah lu sembunyiin rasa sakit lu dari kita berdua." Echa pun membalas pelukan Mima dan Sasa.


"Ditinggal pas sayang-sayangnya ternyata sakit, ya," lirihnya.


***


Happy reading ...


Jangan lupa komen dan jempolnya biar aku semangat UP tiap hari. Ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun.

__ADS_1


__ADS_2