Yang Terluka

Yang Terluka
Satu Sama


__ADS_3

Sendiri lagi, dua kata yang menggambarkan Rion sekarang ini. Ketiga cucu serta anak sulungnya malam ini tidak pulang ke rumah. Mereka menginap di rumah Addhitama.


"Kenapa Ayah selalu berbuat ulah?" tanya Riana.


Rion tidak menjawab, dia masih asyik menyesap kopi.


"Mereka itu anak kecil, mereka memang tidak cengeng. Akan tetapi mereka memiliki hati yang sensitif. Lebih sakit didiamkan dari pada diomelin," terang Riana.


"Kebiasaan jelek Ayah ya gitu," timpal Iyan.


"Jam tangan mahal Abang aja dijatuhin ke dalam air Abang biasa aja. Coba kalo Abang punya sikap kaya Ayah, bisa dibunuh kali si tiga kurcaci," omel Iyan.


Jika, menyangkut tiga tuyul semuanya akan memasang badan. Tiga balita itu adalah kesayangan semua orang. Baru Riana dan Iyan yang mengoceh, belum lagi Arya juga Ayanda yang akan murka jika mengetahui perilaku Rion kepada ketiga tuyul kesayangan mereka.


Di kediaman Addhitama, si triplets nampak bahagia. Apalagi Addhitama membawa mainan yang sangat banyak untuk mereka. Sebagai hadiah ulang tahun katanya.


"Papih udah ngasih hadiah untuk si triplets. Kak Rifal mau ngasih apa untuk anak-anak Echa?" Cengiran khas Echa tunjukkan pada Rifal.


"Doa," sahut Rifal sekenanya.


Inilah kebiasaan Echa jika berada di rumah sang mertua. Akan mengganggu Rifal yang sibuk bekerja, Hingga melupakan seseorang yang berada di negeri tetangga.


"Kerjaan aja difokusin, anak orang malah dianggurin," celetuk Echa seraya mengunyah salad buah yang dibuat Nesha.


Rifal menatap nyalang ke arah Echa. Tatapan seolah menyuruh Echa untuk melanjutkan ucapannya. Echa pasti mengetahui sesuatu perihal Keysah. Namun, dia hanya menjawab dengan angkatan bahu.


"Cha, please ...."


"Katanya kenapa gak pernah chat? Kenapa gak bisa dihubungi,"ujar Echa.


"Terus?"


"Gak ada terusannya lah," jawab Echa. Rifal menghembuskan napas kasar.


"Banyak yang menginginkan dia. Jangan harap jadi pemenang kalau Kakak lembek begini," sindir Echa.


"Ngobrolin apa sih? Serius amat," imbuh Radit yang kini sudah duduk di samping Echa.


"Bujangan lapuk yang selalu sibuk," jawab Echa. Tak dia pedulikan bagaimana reaksi wajah Rifal.


"Papih mau jodohkan Rifal lagi sama anak teman Papih," kata Addhitama yang menimpali ucapan dari Echa.


"Mamam," ejek Rindra dari arah dapur.


"Terus aja, terus jodohin aku, Pih. Kaya aku gak bisa cari jodoh aja," sungut Rifal.


"Buktinya, usia kamu udah kepala tiga masih jomblo. Kakak kamu udah punya anak satu, adik kamu punya anak tiga. Lah kamu?" sergah Addhitama.


"Kakak emang udah tua, istri si Radit mah emang turunan kucing. Sekali brojol langsung banyak," jawab Rifal.


Radit hanya tertawa sedangkan Echa sudah memukul lengan Rifal dengan sangat keras.


"Sakit, Cha," keluhnya.


"Biarin," sahut Echa dengan wajah penuh amarah.


Rumah ini akan hidup jika ada Echa dan Rifal. Aksi adu mulut mereka akan berujung tawa bahagia bagi semua orang.


"Nginep 'kan, Dit?" Radit mengangguk.


"Bini lu besok kerja gimana?" tanya Rifal.


"Besok Echa gak ke kantor dulu." Rifal mengangguk mengerti.


Ketika semua anaknya tertidur, Radit dan Echa masih berada dalam posisi saling memeluk. Radit sangat tahu bagaimana istrinya. Ketika dalam keadaan seperti ini, dia membutuhkan sandaran.


"Ini kali pertama Ayah mendapat kejutan dari anak-anak kita. Wajar, Yang," ucap Radit sambil mengusap lembut kepala Echa.


"Aku tahu, tidak bisa kah Ayah menahan emosinya? Lebih baik aku yang dimarahi oleh Ayah dari pada anak-anakku yang didiami Ayah," jawabnya


Beginilah seorang ibu, dia tidak akan terima anaknya dibentak atau diperlakukan tidak baik oleh siapapun. Hatinya akan merasa sangat sakit.


Untuk saat ini Radit hanya akan mendengarkan keluh kesah Echa. Dia tidak akan menyanggahnya. Echa perlu waktu untuk merenung. Mendinginkan kepalanya serta meredam emosinya.


Keesokan paginya, Addhitama seperti memberi kode kepada Radit. Matanya seolah bertanya ada apa. Tidak biasanya Echa betah berada di rumah Addhitama. Hanya seulas senyum yang Radit berikan.

__ADS_1


"Nanti malam, akan ada pesta makan malam untuk merayakan ulang tahun si triplets meskipun sudah hampir satu bulan berlalu," imbuh Addhitama.


"Gak janji bisa ikut, Pih. Kerjaan aku numpuk," sahut Rifal.


"Berani bantah Papih? Mau Papih coret dari kartu keluarga?" sungut Addhitama.


Nyali Rifal menciut mendengar ucapan Addhitama. Dia menundukkan kepala. Tidak biasanya dia berubah menjadi anak pembangkang. Semua ini gara-gara Echa. Dia telah meracuni pikiran Rifal.


Dengar-dengar, dia akan dijodohkan dengan pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Singapura.


Sebuah kalimat yang membuat Rifal kalang kabut. Kalimat itu masih saja terngiang-ngiang di telinganya.


"Pokoknya semuanya harus datang. Tidak ada pengecualian," lanjut Addhitama.


Sarapan pun selesai, Addhitma serta Rindra sudah berangkat dan sekarang menyisakan Rifal. Sedangkan Radit sedang pamit kepada ketiga anaknya. Dengan kerasnya Rifal menarik tangan Echa hingga dua meringis.


"Apa yang lu ucapin itu benar?" tanya Rifal.


"Apa?" Echa pura-pura lupa dengan ucapannya.


"Jangan belaga bhego!" seru Rifal.


Echa pun tertawa mendengar ocehan Rifal layaknya emak-emak yang kepo akan gosip terhangat.


"Kalo iya emang kenapa? Pewaris tunggal itu masih seumuran sama Keysha. Jika, mereka bersama akan menjadi pasangan yang sangat cocok." Echa mulai memanas-manasi Rifal. Wajah panik Rifal sangat menghibur Echa.


"Makanya anak orang kasih kepastian. Jangan digantung kaya jemuran. Ngasih kabar nggak, apa juga nggak." Radit mulai menimpali ucapan sang istri. Dia semakin menyudutkan Rifal.


"Nih ya." Radit duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada sebelum melanjutkan ucapannya. "Menjalani hubungan jarak jauh itu tidak gampang. Hal pertama emang kepercayaan. Akan tetapi, kepercayaan tanpa adanya komunikasi sama saja bohong," tukasnya.


"Kakak Rifal Kakak iparku yang tampan, cewek itu ingin diperhatikan. Sebuah kalimat pendek yang Kakak kirim akan menjadi mood booster untuknya. Bisa membuat wajah yang sendu menjadi tersenyum," tambah Echa.


"Kalau Kakak gak bisa bersikap manis, coba mulailah dengan hal kecil. Lama-kelamaan akan terbiasa kok," timpal Radit.


"Kaya lu yang sekarang bucin sama bini lu," balas Rifal.


Radit pun tertawa. "Justru orang yang merasa gak bucin kalau udah dapat pasangan yang tepat pasti akan lebih bucin," terangnya.


"Gak bakal, dan gak gitu-gitu banget gua mah," sahut Rifal.


"Yakin?" tanya Echa.


"Cocok emang lu berdua. Cocok!" seru Rifal. "Pasangan eddan!" pekiknya. Sepasang suami-istri itu pun tertawa terbahak-bahak.


Ditinggalkan suami mereka ke kantor membuat Echa dan Nesha merasa bosan. "Mbak, makan di luar yuk," ajaknya pada Nesha.


"Boleh," jawab Nesha cepat.


Setelah mereka beserta anak-anak mereka rapih, mereka berangkat diantar sopir yang bekerja pada keluarga Addhitama. Si triplets dan Rio sangat senang sekali diajak makan sambil bermain. Tak henti-hentinya mereka bersorak gembira.


"Semoga besarnya mereka tetap akur begitu, ya," ujar Nesha yang masih menatap ke arah Rio dan si triplets yang sedang mandi bola.


"Echa berharapnya Rio akan menjadi pelindung untuk si triplets." Nesha pun tersenyum mendengar ucapan Echa.


"Si triplets menjadi cucu kesayangannya Papih ya sekarang," imbuh Nesha. Echa menatap ke arah Nesha dengan tatapan datar.


"Mbak iri?" Nesha pun menggeleng. Dia memandang hangat ke arah Echa.


"Tidak ada alasan Mbak iri terhadap anak-anak kamu. Kasih sayang Papih terhadap Rio pun sudah sangat cukup untuk Mbak. Papih sangat bahagia ketika mendapat cucu pertama laki-laki karena Rio akan menjadi penerus pertama perusahaan Papih," terangnya.


"Rio pantas kok mendapat itu. Lagi pula, Papih itu tidak memiliki anak perempuan. Wajar saja jika Papih sangat menyayangi si triplets." Nesha paham akan hal itu.


"Bukan hanya Papih yang menyayangi mereka. Mbak pun sangat menyayangi mereka," balasnya.


Acara makan malam pun tiba, Nesha dan Echa tidak perlu repot-repot memasak ataupun menyiapkan segalanya. Addhitama sudah mengatur semuanya. Anak-anak serta cucu-cucunya hanya tinggal duduk manis saja.


Acara makan malam berbalut kemewahan. Itulah yang Addhitama berikan kepada ketiga cucunya. Kue ulang tahun yang menjulang tinggi. Para koki restoran yang tengah sibuk memasak. Serta halaman samping yang didekorasi layaknya pesta mewah.


"Ya ampun, Pih. Ini terlalu mewah." Itulah yang Radit katakan ketika tiba di rumah.


"Kamu jangan khawatir, semua biaya Papih yang tanggung," kelakarnya.


Radit hanya menggeleng dan dia disuruh cepat membersihkan diri. Tibanya di kamar, dia tersentak ketika istri dan anak-anaknya tengah dirias bak putri.


"Ini yang ulang tahun anaknya apa emaknya?" Radit hanya bisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ini bukan aku yang minta, tapi Papih," jawab Echa.


Radit menghampiri sang istri, kemudian mengecup keningnya. Tak peduli dengan perias yang tengah sibuk merapihkan rambut Echa.


"Ikuti saja kemauan Papih," balasnya. "Aku mandi dulu, ya." Echa mengangguk pelan.


"Ya ampun, beruntungnya dikau mendapat suami seperti dia," ucap si perias dengan suara sengau.


"Udah tampan, baik hati dan kelihatannya sangat mencintai kamu. Uh ... sisain satu pria seperti dia, Tuhan." Echa tertawa mendengar ucapan sang perias.


Anak-anak Echa pun tengah anteng menonton kartun kesukaannya di laptop. Mereka tidak peduli wajah mereka diapakan oleh para perias, yang terpenting mereka tidak ketinggalan acara favorit mereka.


Radit keluar kamar mandi dengan menggunakan celana pendek serta kaos. "Ay, pakaian kamu di atas tempat tidur," imbuh Echa.


Lagi-lagi Radit menggelengkan kepala ketika melihat sebuah kemeja dengan tuxedo serta celana panjang yang senada dengan pakaian anak dan istrinya.


"Niat banget," gumam Radit.


Setelah Echa selesai dimake-up. Dia menghampiri sang suami yang tengah menggunakan kemejanya. Echa membantu Radit memakai kemeja serta tuxedo. Radit merengkuh pinggang sang istri lalu tersenyum.


"Lihatlah!" tunjuknya pada arah cermin besar.


"Kita masih terlihat muda dan masih sama seperti dulu ketika kita berpacaran," kekeh Radit. Echa pun tersenyum mendengar candaan sang suami.


Dia teringat ketika pertama kali memakai baju batik dan kebaya couple disebuah acara keluarga besar Radit. Di mana mereka tertawa karena mereka selalu dianggap sebagai sepasang suami-istri. Namun, ketika mereka sudah menjadi sepasang suami-istri malah dikira sepasang kekasih.


"Bubu!"


"Baba!"


Teriakan dari ketiga anaknya dari arah belakang tak ayal membuat Echa dan Radit tertawa kembali.


"Kita sudah punya buntut tiga," bisik Radit pada Echa.


Setelah semuanya cantik dan tampan, bintang utama dari acara ini baru lah memasuki halaman samping di mana pesta diadakan. Mata Radit melebar ketika melihat banyak para koleganya yang datang.


"Saya kira Pak Radit masih lajang. Padahal saya berniat untuk menjodohkannya dengan putri saya," ucap salah seorang kolega Radit.


Radit tersenyum dan semakin merengkuh pinggang sang istri. "Saya sudah menikah dan sudah memiliki tiga orang anak," tegasnya.


Kalimat yang selalu membuat hati Echa tenang. Setidaknya Radit selalu mengakuinya sebagai istri. Banyak pria mapan yang jika di luar mengaku lajang.


Seorang wanita berpakaian seksi dengan model belahan dada rendah bergabung dengan Radit yang tengah mengobrol dengan beberapa kolega. Gaya anggun dan paras cantiknya pasti membuat semua pria yang melihatnya tergoda.


"Selamat malam Pak Radit," sapanya dengan sangat manja. Hanya anggukan kecil yang Radit berikan.


Dari kejauhan Rifal tertawa melihat Radit. Adiknya yang satu ini benar-benar sudah cinta mati kepada Echa. Muncullah ide gila di kepalanya. Rifal mendekat ke arah Echa dan membisikkan sesuatu. Echa segera melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rifal.


"Body-nya mantab bener. Mana mepet laki lu aja." Panas, begitulah hati Echa sekarang.


Sebelum dia menghampiri Radit, dia mencoba mengatur napasnya yang turun-naik cukup kencang karena terbawa emosi.


"Ay." Suara Echa membuat semua orang menoleh.


"Ada apa, Sayang?" Seketika tubuh wanita itu tidak bertulang. Apalagi Radit menjemput sang istri dengan sangat manis.


"Jangan macam-macam, atau nanti malam gak dapat jatah dari aku," bisik Echa penuh dengan ancaman.


Radit terkekeh mendengarnya. "Love you too, Sayang." Bisikan ancaman mendapat jawaban manis yang membahagiakan. Apalagi kecupan penuh cinta mendarat di kening Echa. Melihat pemandangan seperti itu membuat dua koleganya sedikit malu begitu juga dengan wanita seksi.


Radit memperkenalkan Echa kepada rekan bisnisnya serta wanita itu. Wajah Radit yang seperti papan bangunan kini berubah cerah jika berada di samping Echa. Radit benar-benar memperlakukan Echa dengan sangat manis. Membuat senyum tersungging dari bibir Addhitma yang tengah melihat anak dan menantunya.


Kehadiran keluarga besar Echa membuat si triplets berteriak gembira. Mereka menyambut kedatangan Mimo dan aki mereka. Keluarga Addhitama pun menyambut mereka dengan hangat.


Mata Rifal melebar ketika melihat wanita yang membuat hatinya berdebar ada di hadapannya sekarang. Dia sangat terpesona akan kecantikan wanita itu.


"Keysha," gumamnya.


Bibirnya tersenyum, tetapi itu tidak bertahan lama. Ada seorang pria yang menyala Keysha dengan sangat ramah. Begitu juga Keysha yang tersenyum manis ke arah pria tersebut.


"Buruan halalin, keburu dicomot orang," bisik Rindra.


Ingin rasanya Rifal berteriak kencang. Adik dan kakaknya senang sekali perihal mengejeknya. Addhitama memanggil Rifal dan membuat Keysha menatap ke arah Rifal.


"Kenalin ini anak teman Papih."

__ADS_1


Mendengar ucapan Addhitama dan Rifal berjabat tangan dengan anak teman Addhitama membuat wajah cantik Keysha berubah sendu.


"Satu sama," bisik Echa di telinga Keysha.


__ADS_2