Yang Terluka

Yang Terluka
Sugar Baby


__ADS_3

Seminggu sudah Radit meninggalkan tanah air. Komunikasi diantara Echa dan juga Radit terjalin sangat baik. Radit membuat keadaan seperti biasanya.


Jarak tidaklah menjadi penghalang untuk mereka berdua. Yang terpenting mereka memegang komitmen masing-masing. Saling percaya satu sama lain. Ke mana pun mereka pergi, mereka harus saling mengabari. Itulah kunci hubungan LDR mereka berjalan baik-baik saja selama satu bulan ini.


Langkah Echa terhenti, ketika seorang yang masih menggunakan pakaian formal bersandar di pintu mobil mewah di depan gerbang sekolah.


Orang itu tersenyum manis ke arah Echa. Dan dia pun menghampiri Echa. " Tadi Papamu bilang, sopir tidak bisa menjemput. Jadi, aku yang jemput kamu," ucapnya.


"Echa menyunggingkan senyum yang terpaksa."


Telinga Echa mendengar bisik-bisik siswa yang lain yang menyebutnya sugar baby dari Rindra. Rindra tidak mengindahkan perkataan mereka, malah dia semakin berani menyentuh tangan Echa dan membawanya masuk ke dalam mobil. Semakin membuat siswa-siswa yang lain jika dia memang sugar baby Rindra.


Selama diperjalanan hanya keheningan yang tercipta. Rasa tidak nyaman dan tidak suka sangat terlihat di wajah Echa.


"Mau makan dulu gak?" Rindra memecah keheningan.


"Aku lelah, ingin segera istirahat." Penolakan halus yang membuat Rindra kecewa.


"Makasih, tapi tidak usah repot-repot jemput aku lagi. Karena meskipun Papa sibuk dan sopir dipakai semua masih ada Ayah yang bisa jemput aku."


Ucapan yang sangat ketus yang Echa keluarkan. Tangan Rindra mengepal dengan keras. Baru kali ini, dia ditolak oleh wanita. Apalagi wanita yang berani menolaknya adalah bocah SMA.


Echa langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia membuka ponselnya dan mengirimkan sesuatu ke nomor Radit.


Satu jam.


Dua jam.


Tiga jam.


Hingga makan malam tiba, Radit tidak membalas pesan darinya membuat Echa gundah. Echa pun turun untuk makan malam. Namun, matanya memicing dengan sempurna ketika melihat Rindra sudah duduk di meja makan bersama kedua orangtuanya.


"Sini, Kak," kata Ayanda.


Echa hanya menghela napas kasar dan duduk di dekat sang mamah. "Kak, maaf tadi Papa sibuk dan sopir sedang dipake Mamah jadinya Rindra yang jemput kamu," imbuh Gio.


"Lain kali Papa gak usah nyuruh orang lain. Papa lupa, Echa masih memiliki Ayah yang pastinya akan bersedia menjemput Echa," sahutnya.


Sahutan dari Echa seperti menusuk hati Gio. Baru kali ini Echa berkata sedikit pedas kepada dirinya. Makan malam pun hening, tidak ada yang berbicara sama sekali.


Hingga ponsel Echa berdering dan bibir Echa pun terangkat dengan sempurna.


"Iya Bhal."


Wajah Echa yang berseri ketika mengangkat telepon membuat wajah Rindra merah padam.


"Aku lanjut makan dulu, ya. Nanti kita sambung lagi."

__ADS_1


Setelah sambungan telepon diakhiri, Echa segera menghabiskan makanan yang berada di piring. Setelah selesai dia langsung menuju dapur untuk mengambil minuman dingin dan juga beberapa camilan. Dan langsung dibawa ke kamarnya tanpa permisi.


Gio hanya menghela napas kasar. Dia menangkap ada raut ketidaksukaan di wajah putrinya kepada Rindra. Sehingga dia bersikap ketus seperti ini.


Setelah berbincang sebentar, Rindra pamit pulang. Sebenarnya dia berniat untuk mengajak jalan Echa. Ternyata Echa bukanlah gadis yang tergiur oleh tahta dan harta. Dia masih kalah dari Radit yang notabene masih tidak memiliki apa-apa.


Gio meletakkan kepalanya di bahu Ayanda. Ayanda mengusap lembut rambut sang suami.


"Anak kita itu tidak suka kepada Rindra. Kenapa Daddy malah menyuruh Rindra menjemput Echa?"


"Daddy tidak menyuruh, dia yang menawarkan diri."


"Harusnya Daddy tolak. Daddy harus berusaha keras untuk membuat Echa memaafkan Daddy." Gio hanya menghela napas kasar. Apapun yang dia lakukan tidak akan mudah membuat Echa mau berbicara kepadanya.


Suara ketukan pintu membuat Echa menghentikan kegiatan belajarnya. "Masuk, gak dikunci," sahutnya.


Dia menoleh ke arah pintu ternyata sang Papa yang datang ke kamarnya.


"Maafkan Papa."


"Papa punya salah apa?" tanya Echa tanpa mau melihat ke arah Papanya. Dia fokus mengerjakan tugasnya.


"Bukan Papa yang menyuruh Rindra untuk jemput kamu. Tapi, dia yang mau," jelas Gio.


"Kenapa gak Papa larang?"


"Lebih gak enak lagi Echa Pa. Besok satu sekolah pasti rame ngatain Echa sugar baby-nya Kak Rindra," geramnya.


"Maaf, Papa tidak berpikir sampai sejauh itu," kata Gio.


"Udahlah Pa, kalo Papa atau sopir gak bisa jemput, Echa bisa pesan ojek online. Atau juga minta jemput Ayah atau Om Arya."


"Echa mau istirahat, Pa."


Gio pun mendekat ke arah putrinya lalu mengecup kening Echa. "Good night, Sayang."


Sebenarnya Echa juga tidak mau bersikap tidak sopan kepada Papanya. Tapi, inilah cara dia merajuk kepada Gio. Tanpa banyak orang yang tahu, ternyata sering sekali terjadi pertikaian antara Echa dan Gio. Hampir 90 persen kesalahan ada pada Gio yang membuat Echa merajuk. Mereka layaknya anak dan bapak pada umumnya. Tidak lurus-lurus saja hubungan mereka.


"Gimana?" tanya sang istri ketika Gio sudah masuk kamar. Gio pun hanya menggeleng dan Ayanda tertawa mengejek.


"Punya anak tukang ngambek malah dibikin ngambek beneran," cibirnya.


"Anak sama Mamahnya sama aja. Sama-sama tukang ngambek," cibir balik Gio.


Ayanda pun sudah berkacak pinggang dan tangannya sudah mencubiti tubuh Gio.


"Coba ngomong sekali lagi, Dad." Tangan Ayanda terus mencubit seluruh bagian perut Gio.

__ADS_1


"Gak Mom. Ampun."


Tangan Ayanda tak berhenti mencubit perut Gio. "KDRT ini mah," ucap Gio.


Karena tidak sanggup menahan cubitan dari sang istri yang terasa panas. Akhirnya, Gio menggendong tubuh istrinya dan menurunkannya di atas kasur. Gio langsung menindih tubuh mungil Ayanda.


"Kita main yang enak-enak aja," imbuhnya.


"Mommy lagi merah.


"Bohong, sekarang baru akhir bulan. Kan Mommy merahnya awal bulan," tolak Gio


"Kalo gak percaya periksa aja." Tubuh Gio melemah ketika yang dikatakan istrinya benar.


"Sabar Daddy, seminggu lagi. Dan pikirkan bagaimana caranya membuat Echa tidak merajuk lagi," papar Ayanda.


Keesokan harinya, apa yang Echa duga benar adanya. Gosip jika dia menjadi sugar baby dari seorang pengusaha muda menyebar luas di sekolah. Bukan Echa namanya jika dia tidak cuek. Sedangkan dua sahabatnya sudah kebakaran jenggot.


Mima dan Sasa menarik tubuh Echa yang baru saja datang menuju kantin sekolah. Merek mendudukkan Echa dengan kasar.


"Jelasin!" Mima menyerahkan rekaman video tentang anak-anak yang menggosipkan dirinya.


"Logikanya gini deh, ngapain gua jadi sugar baby tuh orang. Papa gua lebih tajir dari ntu orang woiy," jawab Echa.


Mima dan Sasa hanya bisa saling pandang. Benar juga yang dikatakan oleh Echa. Giondra adalah pengusaha terkaya di negeri ini.


"Yang jemput lu kemarin siapa?"


"Abangnya Radit."


"Siapa?" tanah Mima dan Sasa berbarengan.


"Lu cari tau aja di Mbah Google, ketik Addhitama Grup," jawab Echa.


Ketika Mima dan Sasa mencari tahu tentang kakak pertama Radit, Pak Muh datang memanggil Echa dan memberikan paper bag.


"Dari Papanya Neng Echa," imbuh Pak Muh.


Echa melihat isi dari paper bag itu. Dan dia pun tersenyum. "Minta maafnya begini doang," gumamnya.


Echa mengeluarkan cokelat, makanan cepat saji, es kopi yang bertuliskan Maafkan Papa, Sayang.


***


Kangen gak sama aku? Eh salah😁


Kangen gak sama Radit dan Echa?

__ADS_1


__ADS_2