Yang Terluka

Yang Terluka
Kehausan


__ADS_3

Malam ini, Rion tidak bisa menginap di rumah sakit karena Riana serta Iyan yang berada di rumah hanya berdua. Sebenarnya masih ada Mbak Ina dan juga Pak Mat. Akan tetapi, Rion tidak tega meninggalkan dua anaknya.


"Biar aku aja yang temani Echa, Mas." Ayanda menatap ke arah Gio meminta persetujuan.


"Temani putri kita. Dia masih belum bisa banyak bergerak. Bantu Echa untuk mengurus tiga buah hatinya." Ayanda serta Rion tersenyum lega.


"Makasih, Gi." Hanya anggukan dan senyum penuh ketulusan yang Gio berikan kepada Rion.


Ketukan pintu membuat mereka semua menatap ke arah pintu. Seorang pria yang memakai seragam sebuah toko baju terkenal datang. Dia membawa satu buah dus sedang dan membawanya ke dalam.


"Letakkan di situ," titah Gio sambil menunjuk ke arah meja.


"Sesuai dengan pesanan. Semua pakaian sudah dicuci bersih dan siap pakai. Jika, Bapak merasa tidak puas silahkan Bapak protes kepada toko kami." Gio hanya mengangguk pelan.


"Itu apa, Pa?" tanya Echa.


"Baju untuk putri-putrimu."


Mata Echa membelalak melihat baju yang dibelikan oleh sang papa untuk ketiga anaknya. Apalagi merk baju yang dibawakan bukan merk baju lokal.


"Buset dah, tuh baju satunya aja mahal," ujar Arya seraya menggelengkan kepala.


"Cuma seujung kuku si Gio itu mah," balas Rion.


"Pa, kenapa repot-repot? Echa masih mampu beli buat anak-anak Echa." Echa merasa sangat tidak enak hati kepada papa sambungnya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini cucu pertama untuk Papa." Senyum penuh ketulusan yang diberikan Gio kepada sang putri.


Malam hari, Radit mondar-mandir melihat ketiga anaknya serta istrinya yang sudah terlelap. Senyum terus melengkung di wajah Radit ketika melihat anak-anaknya tersenyum dengan mata yang terpejam.


Kalian adalah hadiah terindah untuk Baba dan juga Bubu. Ketika Baba dan Bubu hampir menyerah, Tuhan menitipkan kalian di rahim Bubu. Selama sembilan bulan Bubu susah payah dan berjuang untuk menjaga kalian, hari ini kalian datang membawa kebahagiaan untuk Baba, Bubu, serta keluarga yang lain.


"Tidur Dit, udah malam." Suara Ayanda membuat Radit mengangguk.


"Jangan nakal ya, anak-anak Baba."


Radit duduk di kursi di samping ranjang pesakitan Echa. Dia terlelap dengan kepala yang diletakkan di atas ranjang pesakitan Echa.

__ADS_1


Suara tangisan membuat Radit membuka mata. Dilihatnya sang istri terlelap dan mamah mertuanya tidak ada di sofa. Namun, terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Radit segera menghampiri boks bayi, ternyata anak ketiganya sudah terjaga dengan mulut layaknya ikan yang kekurangan air.


"Kamu haus," ucap Radit sambil memainkan pipi sang anak dengan jarinya. Membuat anak ketiganya semakin mencari sumber makanan untuknya.


Dengan pelan dan hati-hati Radit menggendong Aleeya. Membawanya menuju ranjang pesakitan Echa. Ada rasa tidak tega untuk membangunkan sang istri. Akan tetapi, anaknya sedang kehausan. Ingin mimi asi sang ibu.


"Sayang," panggil Radit seraya menepuk pelan tangan Echa.


"Anak kita haus." Mendengar kata anak, mata Echa terbuka. Dia melihat Radit sedang menggendong salah satu anaknya.


"Maaf, aku gak denger dia nangis," sesal Echa.


"Gak apa-apa, Sayang. Aku tahu kondisi kamu belum sepenuhnya pulih."


Radit menekan remote yang berada di atas nakas untuk mengatur ranjang yang Echa tempati. Setelah dirasa cukup, Radit menyerahkan Aleeya ke tangan Echa.


"Ya ampun, Yang. Gede banget sekarang," ucap Radit ketika melihat bantalan favoritnya.


"Namanya juga baru melahirkan, Ay. Apalagi aku kasih ASI. Jadi, mekar begini."


"Lumayan, ini anak rakus soalnya. Gak mau pelan ngisepnya," terang Echa.


"Bantu Echa memijat ASI-nya, Dit. Biar lancar," imbuh Ayanda.


"Jangan Mah. Nanti yang ada Radit gak bisa jaga diri," tolaknya.


"Astaga, kenapa kamu menjelma jadi suami mesoem sih Radit," geram Ayanda.


Radit dan Echa terkekeh melihat wajah Ayanda yang teramat kesal kepada sang menantu.


Sudah lima belas menit, Aleeya berada di pangkuan Echa dengan mulut yang terus meminum ASI. Radit mengusap lembut rambut sang istri ketika melihat Echa sudah tidak nyaman dengan posisinya.


"Pegal?" Hanya seulas senyum yang Echa berikan.


Radit terus menguap membuat Echa tidak tega melihatnya. "Kalo kamu ngantuk, tidur aja, Ay." Radit mengecup kening istrinya berlanjut mengecup singkat bibir Echa.


"Aku tidak akan membiarkan kamu begadang sendirian. Aku akan menemani kamu. Biarkan Mamah beristirahat."

__ADS_1


Sesuai dengan ucapan Radit, dia terus menemani sang istri. Setelah Aleeya terlelap, giliran anak pertama mereka yang terjaga dan meminta asupan ASI. Senyum Radit terus melengkung ketika Aleena meminum ASI dengan santai tidak rakus seperti Aleeya.


"Ini anak kalem, ya." Radit terus menggoda Aleena dengan mengusap lembut pipinya.


"Udah dong Ay, kasihan. Setelah Aleena tidur pasti Aleesa terjaga." Belum kering ucapan Echa, Aleesa sudah menangis. Radit pun terkekeh dan segera menghampiri Aleesa.


"Jangan nangis ya, anak Baba. Kasihan kakak dan dedeknya udah bobo." Ucapan Radit mampu membuat Aleesa berhenti menangis. Radit semakin gemas kepada anak keduanya. Tak hentinya dia mencium pipi Aleesa.


"Ay, Aleena sudah selesai."


Radit meletakkan Aleesa di samping sang istri untuk menaruh Aleena di dalam boks bayinya. Kemudian Radit memberikan Aleesa ke gendongan Echa.


"Jangan rewel ya, Nak. Kasihan sama Bubu," ucap Radit sambil mengusap lembut rambut Aleesa.


"Ay, kamu harus istirahat. Aku gak mau kamu sakit. Kondisi aku aja masih begini, nanti yang akan ngurus anak-anak siapa kalo kita semua gak sehat," tutur Echa.


"Nanti aku juga istirahat, Sayang. Setelah mereka juga tertidur." Echa hanya menghela napas kasar. Ucapan Radit kadang hanya bohong belaka.


"Jangan marah, setelah anak-anak kita tidur dan kamu juga terlelap. Pasti aku akan tidur. Aku gak bohong." Radit mengecup dalam kening Echa.


Aleesa sudah terlelap dan sudah Radit kembalikan ke dalam boks bayinya. Radit menekan remote untuk ranjang pesakitan ke posisi semula supaya sang istri bisa tidur dengan nyenyak.


"Love you, Bubu." Kecupan mendarat di kening Echa. Kemudian, turun ke pipi Echa kiri dan kanan. Terakhir ke bibir merah Cherry sang istri.


"Makasih telah berjuang untuk melahirkan anak-anak yang lucu untuk keluarga kecil kita." Radit tersenyum manis ke arah sang istri yang kini terlihat berisi.


"Jangan berlebihan, Ay. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah menjadi suami dan ayah yang siaga untukku dan anak-anak kita. Kamu rela ikut begadang demi menjaga mereka dan juga menjaga aku. Rela berhenti bekerja di tempat yang kamu dambakan demi kembali ke Indonesia untuk membahagiakan aku. Terimakasih atas pengorbanannya " Mata Echa sudah berkaca-kaca. Radit memeluk tubuh sang istri.


"Jangan menangis, Sayang. Aku sangat tidak suka. Aku akan melakukan apapun untuk kamu dan anak-anak kita. Sekalipun nyawa yang harus aku pertaruhkan, aku siap."


Lengkungan senyum terukir di wajah perempuan paruh baya yang sedang menatap penuh bangga ke arah Radit dan Echa.


Terimakasih, Tuhan. Engkau telah memberikan pendamping yang sangat baik untuk putriku. Kesedihannya di waktu kecil kini telah berganti dengan kebahagiaan yang telah Engkau rangkai sedemikian rupa.


Sebenarnya Ayanda tidak tidur. Dia sengaja memejamkan mata. Apakah kedua anaknya ini akan mengganggunya atau tidak. Ternyata mereka memang mandiri. Tidak mau meminta bantuan kepada Ayanda selagi mereka masih mampu meng-handle semuanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2