
Kepergian Echa dari ruang tamu membawa kesedihan sendiri untuk Rindra. Ditambah kedatangan Radit dan sang Papih membuatnya tak berkutik.
"Dit, kamu sudah sehat?" tanya Ayanda.
"Udah Tante, Echa ada?" tanya Radit.
Tak Radit hiraukan keberadaan Rindra di sana. Rasa kesal dan bencinya menjadi satu.
"Ke atas aja, Dit. Dia baru naik tadi." Tanpa banyak berkata Radit langsung ke atas. Sedangkan Rindra hanya terdiam, sikap orangtua Echa sangatlah berbeda terhadap dirinya dan juga Radit.
Apa sih yang dimiliki Radit? Kenapa semua orang menyukainya?
Addhitama duduk di samping putra pertamanya. "Bagaimana kondisi perusahaan?"
Rindra tidak bisa menjawab. Dia hanya diam. Addhitama menghela napas kasar.
"Kamu sekarang harus kerja ekstra. Bujuklah Genta Wiguna untuk kembali bekerja sama dengan perusahaan kita." Gio menatap Addhitama dengan penuh tanda tanya.
"Ayahmu sudah tahu kabar ini. Dia langsung menghubungiku dan menarik semua saham miliknya di Addhitama Grup. Sehingga investor-investor yang lain ikut menarik saham mereka."
Gio nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Addhitama. Dia sama sekali tidak tahu jika ayahnya sudah mengetahui berita ini. Serapat-rapatnya Gio menyimpan apapun. Pasti selalu saja diketahui oleh Genta. Sepertinya mata-mata ayahnya ada di mana-mana.
Sedangkan dua insan manusia sedang saling melepas rindu. Echa seakan tidak rela jika harus melepaskan pelukannya. Tangan Echa terus melongkar di pinggang Radit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Radit seraya mengusap lembut rambut Echa.
Echa hanya menghela napas kasar dan dia pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
"Kayaknya dia sekongkol sama wartawan itu," imbuh Radit.
"Kata Papa juga seperti itu," sahut Echa.
__ADS_1
"Itu yang kamu pegangan tangan sama dia?" tanya Radit dengan tatapan tajam.
Echa menegakkan duduknya. Dia meraih ponselnya dan mencari gambar yang telah dia simpan.
"Nih," ucap Echa sambil memperlihatkan fotonya dan juga Radit sedang bergenggaman tangan.
"Editan?" Echa pun mengangguk.
"Niat banget tuh orang." Radit mulai tersulut emosi. Namun, rangkulan hangat di lengan Radit membuat emosi itu menghilang.
"Udahlah Bhal, yang penting hubungan kita baik-baik saja," kata Echa.
"Aku tidak mau kehadiranku semakin merusak hubungan kamu sama Kak Rindra. Bagaimana pun dia adalah kakak kandung kamu. Meskipun, sangat berbeda jauh sikapnya sama kamu," sambung Echa.
"Tetap jaga hatimu ya, Sayang. Jangan pernah berpaling. Aku sedang berusaha memantaskan diri untuk kamu," ucap Radit dengan mata yang terlihat amat serius.
"Jaga hati kamu juga selalu untuk aku. Kalo, kamu nakal jangan salahkan aku jika aku menghindar dan malah akan menghilang," balas Echa.
Radit pun tersenyum dan dia menarik tangan Echa untuk masuk ke dalam dekapannya. "Kamu pengobat semua rasa sakit yang pernah aku alami."
Malam ini Rindra pulang dengan hati yang sangat terluka. Penolakan secara terang-terangan dan juga kedatangan Radit yang semakin menggoreskan luka di hatinya. Dia telah kalah telak dari seorang bocah pengganggu.
"Kenapa bocah itu yang selalu menang?" Rindra mengerang keras di tengah malam buta.
Rival yang baru saja turun dari lantai atas langsung menepuk pundak sang kakak. "Introspeksi diri," imbuhnya.
Rival menuju lemari pendingin dan mengambil dua buah kaleng soda. Yang satu dia berikan kepada Rindra. Rival pun bergabung dengan Rindra yang terlihat sangat frustasi.
"Biarkan Radit bahagia, Bang. Kita berdua pernah merasakan kasih sayang dari Mamih. Sedangkan Radit?" kata Rival.
"Dia tidak tahu bagaimana wajah Mamih, dia tidak memiliki kenangan apapun tentang Mamih. Apalagi kasih sayang dari Mamih, dia tidak pernah merasakannya Bang."
__ADS_1
"Kesedihannya dia pendam seorang diri, kesakitannya dia coba telan sendiri. Apalagi sikap Abang terhadap Radit waktu kecil. Radit dituntut kuat menghadapi semuanya karena dia tidak ingin melihat Papih menangis. Kepergian Mamih membuat Papih sedih dan harus merawat kita bertiga, membesarkan kita bertiga seorang diri. Dan Radit lah yang sering melihat Papih menangis ketika malam tiba."
Penjelasan Rival membuat dada Rindra sesak. Dia kira selama ini Papihnya orang yang kuat. Tapi, ada sisi kerapuhan dalam diri Papihnya.
"Bang, waktu Abang berulah kemarin Papihlah yang sangat sedih. Aku tahu Papih menangis di ruangan Abang. Aku tahu Papih sedih karena kelakuan Abang. Tapi, Papih tidak mampu memarahi Abang. Karena Papih merasa, Papih telah gagal menjadi seorang Ayah," terang Rival lagi.
"Jika, Abang tidak mau berdamai dengan Radit. Cobalah lihat Papih. Semakin hari Papih semakin tua, sudah waktunya Papih bahagia. Sudah waktunya Papih tidak memikirkan hal yang tidak penting. Harusnya kita yang berbakti kepada Papih, bukan malah menambah beban Papih."
Rindra bergelut dengan pikirannya sendiri. Memori otaknya memutar kejadian demi kejadian yang pernah dia lakukan sehingga membuat sang Papih hanya bisa mengurut pangkal hidungnya.
"Radit dan Echa mereka saling cinta. Jangan pernah memaksa untuk masuk ke dalam hubungan mereka. Biarkan kali ini Radit bahagia, aku yakin Radit juga ingin Abang bahagia," tukas Rival.
Rival pun meninggalkan sang Abang yang sedang tertunduk. Hanya ini yang bisa Rival lakukan agar Rindra mengerti akan sang Papih dan juga adik bungsunya.
Ketika Rival masuk ke dalam kamarnya, Addhitama sedang duduk di pinggiran kasur Rival. Dia pun menepuk kasur empuk itu. Menyuruh Rival untuk duduk di sampingnya.
"Papih bangga sama kamu, Papih harap kamu bisa membuat keluarga ini bersatu kembali," ujarnya.
"Aku hanya meluruskan apa yang sudah berbelok. Aku tidak ingin Abang menyimpan dendam terus-terusan kepada Radit. Karena yang sangat amat tersiksa di sini adalah Radit."
"Kamu benar, adik kamu itu tumbuh berbeda dengan kamu dan juga Abang kamu. Dia dewasa karena keadaan. Dia bersikap ramah karena dia ingin disukai banyak orang. Dia ingin memilki teman seperti kamu dan juga Rindra."
Rival hanya menghela napas kasar. Rindra yang memiliki watak keras, dan Radit anak yang akan selalu mengalah harusnya mereka saling melengkapi. Tapi, ini seperti air dan api.
"Jika, Mamih kamu masih ada mungkin keluarga kita akan bahagia. Tidak seperti ini," lirih Addhitama.
Rival mengusap punggung sang Papih dan merangkul pundak papihnya yang sudah mulai terkikis waktu. "Mamih pasti sudah bahagia di sana melihat Radit tumbuh menjadi anak yang sangat luar biasa karena Papih rawat dan didik Radit dengan baik," kata Rival.
"Radit adalah titisan Mamih kamu. Semua sifat yang dimiliki Radit sama seperti sifat Mamih kamu."
"Aku kangen Mamih, Pih," ucap Rival yang sedang menatap foto besar di dinding kamarnya. Foto dirinya. Rindra, dan juga Papihnya.
__ADS_1
****
Kalo ada notif UP langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.