Yang Terluka

Yang Terluka
Teddy Bear and Family


__ADS_3

Setelah membeli nasi uduk yang diminta oleh Keysha, Rifal mengantar Keysha kembali ke rumah sakit.


"Loh, katanya mau ke kantor." Keysha mengernyitkan dahinya ketika melihat Rifal yang berjalan di belakangnya.


"Emang bisa bawa makanan ini sendiri?" Rifal menunjukkan beberapa tentengan di tangannya.


Itu semua pesanan Kaza, Rio dan juga si triplets. Keysha hanya menunjukkan senyum manisnya.


"Jangan senyum begitu, hati aku meleleh." Keysha malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rifal.


Wajah kedua insan yang dimabuk cinta sangatlah berbinar. Cahayanya melebihi sinar mentari pagi. Namun. sebelum masuk ke kamar perawatan Aleesa, Rifal merubah wajahnya terlebih dahulu. Pura-pura terlihat biasa, padahal hatinya bahagia.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab semua orang.


Si triplets bersorak gembira, tetapi wajah Aleesa mena nyalang ke arah Rifal.


"Ana Om?" tagih Aleesa lagi.


"Ya ampun Aleesa ... masih pagi. Belum ada mall yang buka atuh." Wajah Aleesa merengut kesal. Sedangkan Rifal menggeleng pusing.


"Kenapa kamu hanya minta kepada Om? Sekali-kali minta sama uncle Papih." Seringai mematikan terukir di wajah Rifal. Sedangkan Rindra menyikapinya dengan santai.


Aleesa mengambil sesuatu dari bawah bantalnya. Segepok uang lembaran merah, bukan hanya Aleesa yang menunjukkan. Aleena dan Aleeya pun mengambil uang yang sama seperti Aleesa.


Mulut Rifal menganga tak percaya. Sedangkan yang lain sudah tertawa.


"Tiga boneka paling mahal lima juta," cibir Rindra.


"Aarrghh!"


Rifal berteriak dalam hati. Kenapa pagi ini seolah keluarganya ingin mempermalukannya di depan calon mertuanya. Sedangkan Rindra sudah menaik turunkan alisnya seolah mengejek.


"Si Alan!" pekiknya dalam hati.


"Nanti sore Om bawain boneka besar buat kalian bertiga, okay?"


"Janji?" Aleesa mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji." Tidak menautkan jari kelingkingnya di jari Aleesa.


Keysha tersenyum melihat sikap manis dan lembut Rifal kepada ketiga keponakannya.


"Kamu mau nginap di mana Key? Di rumah Mommy atau di rumah Ayah?" tanya Ayanda.


"Kak Aska ada gak?"


Rifal melebarkan matanya ketika mendengar nama Aska. Baru saja disebut, Aska sudah ada di depan pintu.


"Kakak!"


Keysha berjalan melewati Rifal dan memeluk tubuh Aska.


"Kangen."


"Aku juga kangen sama kamu." Aska mengusap puncak kepala Keysha dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Ada yang panas, tapi bukan api," sindir Rindra.


Radit dan Echa terkekeh sedangkan yang lainnya tak menghiraukan ucapan Rindra. Keysha pun seakan lupa bahwa ada pria yang tengah menatapnya horor. Apalagi, tangan Keysha masih merangkul lengan Aska.


"Halo semuanya!"


Suara berisik dari seorang ABG terdengar. Siapa lagi jika bukan Beeya.


"Kamu gak sekolah Bee?" tanya Echa.


"Lagi libur, katanya ada rapat." Beeya segera duduk di samping Rifal yang tengah memandang tajam ke arah dua insan yang lupa akan sekelilingnya.


"Om ganteng," panggil Beeya sambil mencolek pundak Rifal.


Rifal menoleh ke arah Beeya dengan tatapan sengit.


"Jangan cemburu! Cemburu itu bikin. dongkol." Semua orang pun tertawa mendengar ucapan Beeya.


"Udah ah, aku pamit."


Rifal meninggalkan rumah sakit dengan perasaan kesal. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi.


Siang hari, Rifal dipanggil oleh sang ayah untuk ke ruangannya. Rifal sudah duduk manis di ruang Addhitama.


"Apa benar dugaan Ayah?" Rifal mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Dugaan apa?"


"Kamu memiliki hubungan dengan anak Azkano."


"Jawab, Fal," desak Addhitama.


"Ya." Jawaban singkat yang Rifal berikan


"Dia masih SMA. Kamu pedofil!" sergah Addhitama.


Rifal berdecak kesal, kemudian menegakkan kepalanya.


"Cinta tidak mengenal usia, Pih."


Addhitama terdiam mendengar jawaban dari Rifal. Apa dia harus menentangnya? Akan tetapi, Rifal terlihat sangat mencintai anak Azkano itu.


"Apa kamu sanggup menunggunya? Cinta itu bisa terkikis oleh waktu," imbuh Addhitama.


"Papih meragukan aku? Radit aja mampu menunggu lebih dari lima tahun. Kenapa aku tidak?" sahut Rifal.


"Kamu dan Radit memiliki sifat yang berbeda, Fal. Kalau kamu kekeh sama keinginan kamu, kamu harus kuat dengan segala risikonya. Kamu juga tahu 'kan hubungan Radit dan Echa tidaklah selalu harmonis selama LDR."


Rifal mendesah panjang, yang dikatakan oleh Addhitama benar adanya.


"Kamu bisa saja serius, tetapi dianya? Dia masih sangat muda. Lingkungannya akan semakin luas ketika kuliah. Banyak bertemu dengan orang baru dan juga pria baru. Apa kamu yakin, dia tidak akan berpaling dari kamu? Memilih yang baru yang seumuran dengannya?"


Sebenarnya, apa yang Addhitma katakan adalah ketakutan yang dia rasakan. Keysha perempuan cantik, bohong jika tidak banyak yang melirik. Apakah Keysha mampu menjaga hatinya untuk Rifal? Percuma juga 'kan, jika hanya Rifal yang menjaga hatinya.


"Papih bukan menakuti, tetapi ketika kamu ingin menjalin sebuah hubungan lihatlah konsekuensinya juga."


Rifal diam saja, tidak menimpali ucapan sang ayah. Maksud dan tujuan Addhitama supaya Rifal membuka lebar matanya. Hubungan jarak jauh itu tidak semudah yang dibayangkan.

__ADS_1


"Papih tidak merestui hubungan aku dengan Keysha?"


"Papih tidak mengatakan itu. Papih akan merestui siapapun pilihan hati kamu. Asalkan kamu sungguh-sungguh."


Ada kelegaan di hati Rifal mendengarnya. Namun, ketakutan juga menghantui hatinya sekarang.


Gua harus berguru pada Radit.


Sore hari, Rifal memutusakan untuk membelikan ketiga keponakannya boneka besar. Jika, melanggar janji sudah pasti dia akan dimaki.


Ketika dia hendak masuk ke toko boneka, tidak sengaja dia melihat kekasihnya bersama Aska. Tertawa bahagia dengan saudaranya. Kemunculan Aska membuatnya dilupakan oleh Keysha. Sedari pagi, tidak ada pesan dari Keysha yang masuk ke ponselnya. Kesal, sudah pasti. Meskipun, Aska dan Keysha bersaudara, tetap Rifal tidak suka dengan sikap Keysha kepada Aska.


Kedekatan Keysha dan juga Aska sama seperti kedekatan Kano dan juga Echa. Banyak orang yang beranggapan jika mereka pacaran. Padahal mereka saudaraan.


Rifal membiarkan mereka bersenang-senang, lebih baik dia mencari hadiah untuk ketiga keponakannya. Itung-itung sebagai uang muka untuk meminta ilmu kepada ayah dari si triplets.


"Ya ampun, lebih gede boneka dari pada gua," gumamnya, ketika melihat boneka Teddy bear.


"Lucu nih, Teddy Bear and Family." Rifal tersenyum melihat boneka Teddy Bear sekeluarga, ukurannya pun besar-besar sama seperti yang diminta oleh si triplets.


"Ini ajalah," ujarnya sambil meminta salah satu dari karyawan toko itu untuk membawanya ke kasir.


Totalan harga berapapun tidak masalah untuk Rifal, yang terpenting ketiga keponakannya bahagia. Ketika dia keluar dari toko boneka dan hendak keluar dari mall. Keysha masih nampak bahagia sekali bersama Aska. Tangannya pun masih dia rangkul dengan eratnya. Binar bahagia nampak sangat jelas.


Hanya hembusan napas kesal yang keluar dari mulut Rifal. Dia melanjutkan tujuannya ke rumah sakit. Tibanya di rumah sakit, seluruh tubuhnya tertutup oleh ketiga boneka. Ketika dia masuk ke dalam ruang perawatan Aleesa. teriakan penuh kegembiraan menggema.


"Oneta!"


Rifal menggeser tubuh boneka itu dan tersenyum ke arah Aleesa, Aleena dan juga Aleeya.


"Om gak ingkar janji 'kan."


Mereka mengangguk dan asyik bermain dengan boneka baru mereka.


"Sendirian beli bonekanya?" tanya Ayanda.


"Iya, Tante."


Mata Rifal menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka. Tatapannya datar dan penuh dengan ketidak sukaan. Keysha datang bersama Aska.


"Om, Asta. Tata Sa Puna oneta betal dong," tunjuknya pada boneka beruang.


"Wah gede banget. Tubuh kamu aja ketutup sama bonekanya." Aleesa pun tertawa dan mulai bercanda dengan Aska.


"Dit, gua balik, ya." Radit dan Echa menatap bingung ke arah Rifal. Mendengar ucapan Rifal, Keysha menatap ke arahnya.


"Kak, Echa lagi pesan makanan enak loh," ujar Echa.


"Makasih, gua udah kenyang." jawabnya.


"Kenyang melihat hal yang tidak gua suka," batinnya.


"Hati-hati Kak, makasih bonekanya." Rifal mengangguk pelan dan pergi ke luar dari ruang perawatan.


Langkah lebarnya terhenti ketika dia tiba di parkiran. Seorang wanita dengan napas tersengal-sengal menghadangnya.


"Kak ...."

__ADS_1


__ADS_2