Yang Terluka

Yang Terluka
Tamu Absurb


__ADS_3

Kediaman Echa terasa sangat berwarna dengan kehadiran tiga buah hatinya yang sudah mulai aktif. Mereka dengan lincahnya miring, tengkurap dan rebahan kembali. Membuat Echa merasa bangga dan sangat sayang kepada tiga kurcaci hasil maha karyanya dengan sang suami.


"Sayang, mau mie rasa apa?"


Teriakan terdengar dari arah dapur. Padahal ada Mbak Ina. Akan tetapi. Radit ingin membuatkan makanan spesial untuk sang istri di waktu liburnya.


"Yang komplit, Ay," balas Echa dengan berteriak juga.


Ayah dan kedua adiknya tengah ke Bandung. Sang nenek sedang sakit. Namun, Echa dilarang pergi ke sana oleh Rion. Dia takut jika ketiga cucunya sakit kembali.


Echa hanya memperhatikan ketiga putrinya seraya bersandar di sofa. Echa akui, kehadiran Radit selalu membuat ketiga anaknya menjelma menjadi anak-anak yang baik dan pengertian. Mereka jarang sekali menangis.


"Halo Bangor."


Suara yang sangat Echa kenali. Siapa lagi jika bukan Om-nya yang kurang waras. Kali ini, Arya datang tidak hanya sendiri. Dia datang dengan putri serta istrinya.


"Mamah, ingin bawa pulang satu," ucap Beeya sambil menunjuk ke arah si kembar.


"Kamu kira anak Kakak boneka," sungut Echa.


Arya dan Beby tertawa melihat perdebatan antara putrinya dan dan juga Echa. Dua perempuan yang sangat menyebalkan di mata Arya. Namun, tidak dipungkiri Arya sangat menyayangi mereka berdua.


Beby sudah menggendong si cantik Aleena yang tidak banyak tingkah. Berbeda dengan anak ketiga Echa yang selalu menjerit-jerit jika dia sudah tengkurap, tetapi tidak bisa kembali lagi.


"Anak lu yang ini kaya kura-kura," ejek Arya sambil menggendong Aleeya.


"Itu mulut belum pernah diselepet pake karet ban truk, ya," geram Echa. Arya dan Beby hanya tertawa.


Sedangkan Beeya sudah hilang entah ke mana. Ternyata putri semata wayang Arya sudah menuju ke dapur. Dia sudah membuka lemari pendingin yang berada di dapur. Matanya berbinar ketika melihat banyak cemilan di sana. Apalagi, semua cemilan itu adalah cemilan kesukaan Beeya.


"Abang, Bee minta makanan di kulkas, ya."


"Ambil aja," sahut Radit yang masih fokus ke wajan yang berada di atas kompor.


Dengan riang gembira Beeya berjalan menuju tempat di mana kedua orang tuanya berada. Mata Echa melebar ketika melihat Beeya sudah membawa banyak makanan kesukaannya.


"Kamu minta apa nyolong?" sergah Echa.


"Ih, apaan sih, Kak. Kata Abang juga boleh," sahut Beeya yang sudah menusukkan sedotan ke susu kotak rasa cokelat.


Echa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Beeya. "Gak usah heran, lu juga waktu kecil begitu," ujar Arya kepada Echa.


"Tiap kali pergi ke minimarket, semua makanan lu ambil. Gak tanggung-tanggung, makanan yang mahal yanv lu masukin ke keranjang. Sekali ngajak lu ke minimarket bisa abis dua ratus lima puluh ribu. Duit segitu gede banget pas dulu mah," tutur Arya dengan wajah kesal.


"Anggap aja hutang lu dulu lunas dengan makanan yang diambil Beeya." Echa berdecak kesal mendengar ucapan Arya.


Benar kata Arya, semenyebalkan apapun Beeya. Echa tidak bisa membencinya. Malah sangat menyayangi Beeya seperti dia menyayangi Riana.

__ADS_1


Radit membuat satu mangkuk mie rebus. Membuat Arya berdecak kesal. "Bikin mie cuma satu doang," gerutu Arya.


"Om mau? Nanti Radit suruh Mbak Ina buatin mie rebus," ujarnya.


Sedangkan tangannya sudah menyuapi sang istri. Membuat Arya berdecak kesal melihat tingkah keponakannya yang tidak tahu malu ini. Eh, kenapa harus malu? Mereka 'kan sudah halal.


"Biar gua aja yang bikin sendiri," sahutnya malas.


"Pah, makannya semangkuk berdua, ya."


"Nggak kenyang, Mah," tolak Arya.


Beby merengut kesal sedangkan Radit dan Echa tertawa.


"Gak ada mesra-mesranya," sungut Beby.


"Pah, Bee dua bungkus, ya. Pake telornya tiga, setengah matang semua," imbuh Beeya yang sedang asyik mengunyah cemilan.


"Itu perut apa karung bolong?" Echa tidak percaya mendengar permintaan Beeya. Hanya cengiran khas yang Beeya tunjukkan.


"Emangnya kamu belum makan?" Beeya pun menggeleng.


"Katanya mau minta makan di rumah Kakak," jawabnya.


"Ini anak ngadi-ngadi, ya. Kapan Papah bilang begitu?" sergah Arya.


Mendengar penjelasan dari anaknya Beby hanya menggelengkan kepala tidak percaya. Pantas saja anaknya sering menjelma menjadi anak yang menyebalkan. Menurun dari sang suami.


Arya hendak menurunkan Aleeya, tetapi Aleeya menangis. Anak itu ingin terus digendong oleh Arya.


"Ini anak kenapa?" Bingung, itulah yang Arya rasakan.


"Dia betah sama, Om," jawab Radit.


"Ya ampun. Jangan dong, ya. Kalo udah yang berbau nempel begini pasti akan menyebalkan kayak emaknya," seloroh Arya.


Echa merengut kesal mendengar ucapan Arya. Sedangkan Arya tertawa puas meledek Echa. Berhubung Aleeya tidak mau turun dari gendongan Arya. Radit menyuruh Mbak Ina untuk membuatkan mie rebus dan mie goreng untuk keluarga absurb yang bertamu.


"Cha, Aleena sama Aleesa emang anteng begini?" Echa mengangguk.


"Dia akan rewel kalo Babanya pergi jauh," sahut Echa sambil mengunyah buah yang baru saja Radit bawakan.


"Kalo yang ini," tunjuk Arya pada Aleeya."Emang Bangor begini," tanyanya.


"Dia aktif banget dan sedikit cengeng. Dia akan nurut kalo sama Ayah. Dia itu akan diem dan anteng kalo sama Ayah, sama kaya tingkah Aleeya digendongan Om sekarang ini."


"Mungkin, dia tahu Om adalah soulmate-nya Ayah." Echa tertawa setelah mengucapkan hal itu.

__ADS_1


Arya menatap lamat-lamat manik mata Aleeya. Ada kehangatan yang mata bayi itu pancarkan.


"Benar yang lu katakan, Dit." Radit yang tengah asyik bermain dengan Aleesa menoleh ke arah Arya dengan alis yang menukik tajam.


"Gua jatuh cinta pada pandangan pertama menatap anak lu," terang Arya dengan lengkungan senyum yang sangat lebar.


Bukan hanya Arya yang mengatakan hal ini. Gio dan Addhitama pun mengatakan hal yang sama. Manik mata anak-anak Echa dan Radit mampu membuat orang-orang yang baru saja menatapnya jatuh cinta.


"Sama halnya ketika gua ketemu sama Echa." Echa menatap nanar ke arah Arya.


Arya tersenyum menatap Echa. Sedangkan Echa sudah tidak bisa bicara.


"Anak yang terus tersenyum di balik rasa sedih yang menyelimuti hatinya. Anak yang terlihat tegar. Pada nyatanya dia itu sangat rapuh. Menahan sedihnya hanya untuk sang ibu. Satu hal, dia tidak ingin melihat ibunya sedih." Echa berhambur memeluk tubuh Arya.


Pertemuan pertamanya dengan Arya masih dia ingat sampai saat ini. Echa memang tidak banyak bicara. Akan tetapi, Arya mampu mengerti apa yang dirasakan oleh Echa tanpa Echa mengungkapkannya. Arya adalah Ayah ketiga baginya.


"Gua bahagia banget, sekarang lu udah punya anak-anak yang lucu. Lu juga bisa jadi ibu yang baik buat mereka bertiga. Yang paling buat gua bahagia karena lu mendapat pendamping yang sangat setia. Mampu menunggu lu bertahun-tahun lamanya. Setelah menikah, suami lu sangat sabar menunggu buah hati. Jika, laki-laki lain pasti sudah menyerah. Tidak ada laki-laki yang sesabar Radit." Arya tersenyum ke arah Radit dengan penuh ketulusan.


"Terimakasih, sudah menjaga Echa dengan sangat baik." Radit mengangguk dengan senyum bahagia.


Kedatangan Mbak Ina mengurai kesedihan yang ada. Keluarga Arya menikmati mie yang sudah disuguhkan. Untungnya, Radit mampu membujuk Aleeya untuk turun dari gendongan Arya.


"Mbak, minta kerupuk sama cabenya lagi."


Sungguh tamu yang sangat merugikan dan ngelunjak. Sudah minta makan, tetapi tidak tahu porsi. Echa menggelengkan kepala dan menatap ke arah masing-masing mangkuk.


"Dua, tiga, dua," kata Echa. Dia sedang menghitung telur yang berada di atas mie.


"Udah setengah kilo itu," decak Echa.


Keluarga absurb itu seolah tuli. Dia tidak menghiraukan ucapan Echa. Hanya terdengar suara renyahnya kerupuk yang digigit serta seruputan kuah mie rebus.


"Bangkrut kita, Ay. Kalo tamunya modelan begini terus," gerutu Echa. Radit hanya tertawa.


Kebiasaan keluarga Arya adalah SMP (Sudah Makan Pulang). Echa semakin geram dibuatnya.


"Om, boleh liat dompet Om yang branded itu?" Arya mengerutkan dahinya.


"Echa mau lihat aslinya. Kalo bagus Echa mau beli buat Kak Radit." Nama Radit yang Echa jual. Untung saja, suaminya tengah membawa anak-anaknya ke kamar.


Tanpa rasa curiga Arya memberikan dompetnya kepada Echa. Dengan cepat Echa membuka dompet Arya. Diambilnya uang lembaran berwarna merah dua lembar.


"Apaan itu?" Arya hendak merebut uang yang sudah di tangan Echa.


"Total yang Om dan keluarga Om makan dua ratus ribu." Senyum penuh kemenangan terukir di wajah Echa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2