Yang Terluka

Yang Terluka
Siapa Dia?


__ADS_3

Setelah pulang sekolah, ketiga anak Echa biasanya hanya bermain di dalam rumah. Kali ini kenakalan mereka kembali hadir. Mereka menyusup ke ruang kerja sang engkong.


"Wah ...."


Mata mereka takjub melihat dekorasi ruangan yang luar biasa. Rak-rak buku, serta foto-foto ketiga anak Rion serta foto pernikahan kedua orang tua si triplets terpajang indah di dinding.


"Bubu dan Baba," tunjuk Aleesa.


Ada juga foto mereka bertiga ketika masih bayi hingga sekarang. Si triplets bertepuk tangan kegirangan melihatnya.


Aleeya mulai naik ke kursi kebesaran sang engkong. Di atas meja ada sebuah foto di mana sang ibu tidak ada. Aleeya mengambilnya, kemudian duduk di sofa. Aleena dan Aleesa mengikuti Aleeya dan mereka menatap bingung ke arah foto tersebut.


"Engkong, Om kecil, aunty. Ini ...."


Aleesa menunjuk satu per satu orang yang berada di foto tersebut. Namun, ada satu orang perempuan yang memakai hijab yang tidak mereka kenali.


"Ini siapa?" tanya Aleena.


Aleeya dan Aleesa menggeleng kompak. Mereka masih memandangi foto wanita yang berada di dalam figura tersebut. Rasa penasaran menggelayuti pikiran mereka. Mereka memutuskan untuk membawa foto tersebut dan nanti akan diperlihatkan kepada sang ibu.


Ketiga anak kembar itu mencari keberadaan ibu mereka, tetapi tidak ada.


"Bubu," panggil mereka.


"Bubu sedang ke rumah Mimo sebentar. Kakak Na, Kakak Sa dan juga Dedek disuruh tunggu di rumah. Di luar sangatlah panas." Mbak Ina mencoba menjelaskan kepada cucu dari majikannya ini.


Untung saja si triplets adalah anak-anak yang penurut. Dia tidak akan pernah membantah ucapan dari kedua orang tuanya.


Sekembalinya Echa, dia melihat ketiga anaknya sudah terlelap di ruang bermain dengan menghisap jempol mereka. Itulah kebiasaan mereka sekarang.


"Mbak, anak-anak minum susu gak?" tanya Echa ketika sudah berada di dapur.


"Tidak, Neng. Mereka tidak meminta susu. Ketika Mbak ke ruang bermain mereka sudah tertidur."


Echa tersenyum mendengar penjelasan dari Mbak Ina. Anaknya sudah mulai pintar sekarang.


"Mbak, tolong jaga anak-anak, ya. Echa mau ke ruang kerja dulu."


Di rumah Echa ada tiga ruang kerja, ruang kerja Rion, Radit dan juga Echa. Meskipun perusahaan ayahnya masih Rion yang menjalankan, tetapi untuk usaha bisnis pribadi Echa yang lain dia harus memantau secara langsung.


Pundi-pundi yang didapatkan Echa bukan hanya dari toko bakery ayahnya saja. Dia sendiri pun memiliki usaha yang berada di luar negeri. Canberra dan juga London.


Terlalu fokus kepada pekerjaan, dia tidak menyadari bahwa ketiga anaknya sudah bangun dan meletakkan kepalanya di paha Echa.


"Eh ... anak-anak Bubu sudah bangun." Echa mengecup satu per satu anaknya.


"Bubu, mau susu."


Permintaan mereka setelah bangun tidur adalah susu. Apalagi, mereka tidak meminum susu sebelum tidur.


"Baiklah. Ayo, kita keluar."


Meskipun sedang sibuk dengan pekerjaannya, yang paling utama adalah anak-anaknya. Dia tidak akan membiarkan anaknya tidak terurus.


Echa sudah membawa nampan dengan berisi tiga gelas susu. Ketiga anaknya mengambilnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Mau makan apa?" tanya Echa.


"Pecel lele," jawab Aleeya.


"Mau paha Upin Ipin di pecel lele, Bu," ucap Aleeya.


"Kalau Kakak Na?"


"Ayam bakal." Echa tertawa mendengar keinginan ketiga anaknya ini. Namun, jam masih menunjukkan pukul empat sore. Belum ada kedai pecel lele yang sudah buka.


Ketiga anak Echa sangat tahu rasa. Mereka tidak mau dibelikan pecel lele di restoran. Menurut mereka tidak enak karena yang paling enak adalah pecel lele pinggir jalan.


"Belum ada yang buka, Nak. Gimana dong?"


Alih-alih memaksa, mereka malah meminta makanan yang lain.


"Bubu, mau mie goleng pake sosis bakal pake telol," ucap Aleena.


"Pake sayul juga Bu," tambah Aleeya.


"Telolnya dua," lanjut Aleesa.


Dengan senang hati Echa membuatkan mie goreng untuk mereka bertiga. Bukan mie instan, tetapi mie yang diberikan bumbu tradisional. Mereka belum diperbolehkan memakan mie instan.


Setelah semuanya selesai, mereka duduk di kursi dan menyantap makanan yang mereka inginkan.


"Enak?" Mereka mengangguk.


Malamnya, ketiga anak Echa menagih janji Echa. Mereka ingin makan di pecel lele pinggir jalan.


"Baba, ayo." Aleeya sudah menarik tangan Radit. Padahal sang ayah baru saja pulang kerja.

__ADS_1


"Dek, Babanya masih capek. Biarkan Baba mandi terus istirahat dulu, ya." Echa memberikan suaminya segelas air putih. Namun, wajah Aleeya sudah ditekuk.


"Iya, nanti kita akan makan di tempat kalian mau. Baba mandi dulu, ya."


Radit tidak akan pernah menolak permintaan dari ketiga anaknya. Meskipun, lelah pasti akan dia turuti. Inilah hal yang tidak bisa diulang kembali. Apalagi, Radit tidak akan memiliki anak lagi karena sang istri sudah mengalami pengangkatan rahim.


"Biarkan mereka makan sama aku aja, ya." Radit mengusap lembut rambut Echa. Kemudian, dia kecup lembut kening Echa dengan hangat.


"Enggak, kita makan sama-sama. Aku mandi dulu, ya."


Hati Echa menghangat mendapat perlakuan seperti ini dari Radit. Selama tiga tahun merawat ketiga anaknya, Radit selalu menjadi ayah siaga untuk mereka.


"Loh kok? Cuma pakai piyama?" Wajah heran Radit terlihat jelas melihat ketiga anaknya dan juga sang istri hanya memakai piyama tidur.


"Kan cuma makan di depan situ, Ay." Radit hanya menggeleng. Keempat perempuan kesayangannya ini selalu saja berpenampilan sederhana.


Apakah Radit malu membawa istrinya keluar dengan hanya memakai piyama? Jawabannya tidak. Justru Radit sangat bangga. Jika belanja ke supermarket pun, Echa hanya menggunakan pakaian santai dan sandal jepit dengan tas selempang murahan yang setia menemaninya. Bagi sebagian orang pasti merendahkan Echa. Akan tetapi, ketika melihat belanjaannya yang lebih dari lima troli akan membuat mereka tercengang. Apalagi total belanjaan yang berjumlah enam digit angka pasti membuat orang lain pening.


Mobil Radit berhenti di pecel lele langganan Echa dan juga si triplets. Lebih seringnya mereka makan di tempat ini tanpa Radit karena Radit selalu pulang malam beberapa Minggu ini.


"Eh, si kembar tiga datang lagi. Mau pesan apa?" Sapaan hangat dari pemilik kedai.


"Seperti biasa ya, Mas," jawab Echa.


"Baik, Neng."


Radit baru masuk ke dalam kedai, dia segera duduk di samping istrinya karena banyak mata yang melihat ke arah Echa.


"Kamu mau pesan apa, Ay?"


"Samain aja sama kamu," sahut Radit.


"Mas, tambah lagi satu ya ayam bakarnya."


Pesanan Echa sudah siap semua. Radit menggeleng ketika melihat ada dua lele goreng di piring Aleeya.


"Itu porsi dia," kata Echa, sambil memisahkan daging dari tulangnya.


"Neng, ini suaminya?" tanya si pemilik kedai pecel lele.


"Iya, Mas. Suami saya selalu sibuk. Baru kali ini bisa makan di sini dengan anggota keluarga lengkap."


"Pantas saja anak-anak Neng cantik-cantik. Ibu dan bapaknya juga bibit unggul," pujinya.


Radit dan Echa hanya tertawa. Mereka menikmati makan malam sederhana yang jarang sekali terjadi. Banyak orang yang menatap heran ke arah keluarga kecil Echa. Akan tetapi, dia tidak menghiraukannya. Apalagi sikap romantis Radit yang tak pernah tahu tempat.


"Mau nambah lagi, Ay?" tawar Echa.


"Kakak Sa juga mau, Bu."


"Kakak Na juga mau."


Echa menggelengkan kepala melihat anak dan suaminya. Tidak perlu makan di tempat mewah dan mahal jika di tempat yang sangat sederhana bisa membuat mereka bahagia.


Sudah merasa kenyang, ketiga anak Echa mengajak kedua orang tuanya untuk pulang. Radit membayar semuanya.


"Totalnya dua ratus dua puluh lima ribu," sebut si pemilik warung.


Radit mengeluarkan tiga lembar uang berwana merah dan langsung pergi begitu saja. Si pemilik warung itu mengejar Radit karena masih ada uang kembaliannya. Namun, Radit menolaknya.


"Rezeki, Bapak."


Si pemilik warung itu pun berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Radit. Di zaman sekarang sudah jarang manusia seperti Radit ini. Echa tersenyum kepada si bapak penjual pecel lele.


"Suamiku baik banget, sih." Echa mencubit pipi Radit dengan gemasnya.


"Jangan nakal, Sayang. Ada anak-anak." Echa pun terkekeh dan mereka pulang dengan perut kenyang dan tak lupa membawa ayam dan lele goreng untuk orang-orang rumah.


Ternyata ayah dan adik Echa sudah menunggu kepulangan mereka. Padahal Mbak Ina sudah masak enak, tetapi tidak disentuh oleh Rion dan juga Iyan.


"Wih, mantap," ujar Rion.


Echa pamit ke kamar untuk menidurkan ketiga anaknya. Setelah mencuci kaki, cuci muka dan sikat gigi. Mereka tidur di ranjang yang berukuran besar khususnya Echa pesankan untuk mereka bertiga karena mereka tidak ingin tidur terpisah.


Aleeya merangkak dan mengambil sesuatu dari bawah bantal.


"Bubu ... ini siapa?" tunjuknya pada wajah wanita berhijab.


"Di foto ini kenapa Bubu dan Baba tidak ada?" Pertanyaan yang terucap dari bibir Aleena.


"Kenapa Engkong langkulan sama wanita itu?" tanya Aleesa.


Echa bingung mendengar pertanyaan ketiga anaknya. Dia benar-benar tidak bisa menjawab. Dari mereka lahir hingga berusia tiga tahun Rion tidak mengijinkan siapapun untuk memberi tahu siapa istrinya kepada si triplets. Sakit hati Rion masih belum sembuh.


"Kenapa Bubu diam?" tanya Aleena.


Echa masih bergeming, dia menatap sendu ke arah foto tersebut. Foto di mana perselisihan antara dia dengan bundanya sudah mulai terjadi. Echa lah yang menjaga jarak karena dia tidak ingin bertengkar dan pastinya akan menyakiti ayahnya.

__ADS_1


"Biar Engkong aja yang jawab, ya."


Melihat wajah sedih ibu mereka, si triplets akhirnya mengangguk dan memilih untuk tidur. Satu hal yang haram untuk mereka yaitu melihat ibunya sedih.


Echa duduk di atas ranjang dengan mata yang terpejam. Terlalu bingung harus menjawab apa. Ini sudah terpikir olehnya, suatu saat anak-anaknya akan bertanya siapa wanita berhijab itu?


"Kenapa, Sayang?" Sentuhan lembut tangan Radit membuka mata Echa.


Sang suami sudah duduk di samping Echa dan menatapnya penuh selidik.


"Anak-anak ... menanyakan siapa dia?" Echa menunjuk ke arah foto yang sengaja dia ambil dari kamar si triplets. Helaan napas kasar terdengar.


"Inilah yang aku takutkan. Anak-anak kita itu cerdas dan rasa ingin tahunya sangat tinggi," terang Radit.


Echa memeluk tubuh Radit dan menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Aku bingung jawabnya," lirih Echa.


Radit mengusap punggung Echa. Lalu, mengecup ujung kepala istrinya.


"Biar aku yang pikirkan bagaimana solusinya," ucap Radit.


Radit membaringkan tubuh Echa dan dengan nakalnya dia berbisik. "Aku ingin."


Keesokan paginya, si triplets sudah duduk di atas ranjang dengan tenang. Sang engkong sendiri sedang mandi. Keberadaan mereka tidak diketahui oleh Rion.


Ketika keluar dari kamar mandi dia terkejut karena sudah ada tiga kurcaci yang tengah tersenyum penuh misteri menatapnya.


"Kenapa ada di kamar Engkong?" Mereka tidak menjawab malah merebahkan tubuh mereka di kasur yang sangat empuk.


Setelah selesai berpakaian, Rion menghampiri ketiga cucunya yang tengah mengoceh tidak jelas.


"Kenapa kalian masih pagi udah lepas?"


"Ini siapa?"


Tanpa basa-basi Aleeya langsung menunjuk wanita yang ada di foto tersebut. Wajah Rion seketika berubah.


"Kenapa Bubu gak ada?" tanya Aleena.


Rion masih membeku, dia belum bisa menjawab pertanyaan cerdas dari ketiga cucunya.


"Kenapa Engkong diam? Kenapa Engkong dan Bubu diam?" desak Aleesa.


Rion menghela napas kasar, dia menatap manik mata ketiga cucunya dengan pilu.


"Ini ... ibu dari om kecil dan juga Aunty," ucap pelan Rion.


Mereka bertiga saling pandang tidak mengerti. Tatapan mereka kini tertuju pada sang kakek.


"Ini ... nenek kalian." Sungguh berat Rion mengatakan hal ini.


"Nenek?" ulang si triplets bersamaan.


"Nenek Kakak Sa hanya Mimo dan Oma. Tidak ada yang lain," balas Aleesa.


Echa yang sedang mencari ketiga anaknya hanya mematung ketika mendengar ucapan dari Aleesa.


"Anak-anak Bubu." Panggilan dari sang ibu membuat mereka bertiga menoleh. Echa pun mulai mendekat.


"Kalian tahu 'kan manusia itu diciptakan berpasangan. Seperti Bubu dan Baba. Mimo dan Aki serta Opa dan juga Oma."


"Pasangan Engkong siapa? Apa dia?" tunjuk Aleeya pada wanita berhijab.


Echa tersenyum dan mengangguk pelan, sedangkan Rion sudah menunduk dalam.


"Dengar ya, Nak. Kalian itu sangat beruntung karena memiliki kakek dan nenek banyak. Berarti banyak juga yang menyayangi kalian."


"Nenek sekalang di mana?" tanya Aleena.


Rion memandang Echa, putri sulungnya itu hanya tersenyum.


"Nenek sudah di surga, Nak."


"Sama seperti Oma?" tanya Aleesa.


Echa mengusap kepala Aleesa dengan senyum yang mengembang.


"Sekarang, kalian ke kamar. Sudah ada susu di sana. Setelah itu Bubu akan memandikan kalian."


Ketiga anak Echa turun dari tempat tidur dan menuju kamar mereka. Rion masih terdiam.


"Kenapa kamu bilang dia sudah ada di surga?" Dia yang Rion maksud adalah Amanda.


"Ayah ... biarlah anak-anak Echa tahu akan baiknya Bunda saja. Biarlah kesalahan dan keburukan Bunda tidak usah kita ungkit lagi. Cukup menjadi rahasia kita saja," terang Echa.


"Mereka juga harus tahu siapa ibu dari Om kecil dan Aunty-nya. Seiring berjalannya waktu, pasti mereka bertanya kenapa sekarang Mimo mereka bersama Aki bukan dengan Engkong? Padahal Bubunya anak Mimo dan Engkongnya," ungkap Echa. Rion pun tidak bisa menimpali ucapan dari Echa.

__ADS_1


"Ayah ... contohlah Papih. Meskipun Mamih sudah tidak ada, tetapi selalu mengenalkan Mamih pada ketiga anak Echa. Menceritakan bagaimana Mamih. Meskipun mereka tidak tahu seperti apa wajah Oma mereka. Hanya mengenal lewat sebuah foto. Papih juga menceritakan masa lalu suami Echa kepada anak-anak supaya mereka tahu bagaimana ayahnya dulu ketika seusia mereka."


Tiga tahun, bukanlah waktu yang mampu membuat Rion lupa akan kesakitan yang mendiang Amanda lakukan. Rasa sakitnya melebih apapun. Dikhianati di depan mata. Bertahan hanya karena sang buah hati. Bagi sebagian pria tidak akan pernah sanggup menjalani rumah tangga seperti itu. Berbeda dengan Rion. Dia hanya tidak ingin kedua anaknya merasakan hal yang sama seperti Echa. Tumbuh dan besar dari keluarga broken home.


__ADS_2