
Ada yang rindu dengan si triplets gak?
...****************...
Yansen adalah anak yang istimewa, sama seperti Aleesa. Di dalam kelas dia sering berbicara sendiri dan bermain sendiri. Awalnya, teman-temannya menganggap Yansen tidak waras. Akan tetapi, kedua orang tua Yansen mengatakan bahwa Yansen adalah anak indigo. Dia bisa melihat hal tak kasat mata yang tidak bisa orang lain lihat
Pada awalnya semua orang tidak percaya. Namun, keistimewaan Yansen itu terbukti ketika Yansen melihat temannya terus saja menangis di kelas. Padahal tidak ada apa-apa.
"Ada nenek gayung." Itulah yang dia katakan.
Wali kelas pun bingung sekali, setiap Pongki masuk ke dalam kelas dia akan selalu berteriak seperti itu. Jika, di rumah Pongki akan baik-baik saja.
Bu Lulu sebagai wali kelas akhirnya meminta bantuan Yansen. Bukannya anak itu tidak mau membantu, seringnya temannya mengatai dia gila akhirnya dia enggan. Cukup keluarganya saja yang percaya akan ucapannya.
"Yansen, sebenarnya Pongki lihat apa? Bukannya kamu bisa melihat hal seperti itu?" tanya Bu Lulu.
"Apa Ibu mau menyebut aku juga gila?" sergah anak itu.
"Tidak, Sayang. Ibu hanya bertanya," ujarnya.
Yansen tidak berbicara, dia hanya menggenggam tangan Bu Lulu. Sungguh terkejutnya Bu Lulu dengan apa yang dilihatnya. Bu Lulu segera melepaskan genggaman tangan Yansen.
"Sebenarnya Nenek itu baik. Hanya saja, Pongki nakal. Dia selalu berisik dan mengganggu tempat Nenek. Selalu memukul-mukul meja di mana nenek berada," terangnya.
Nenek tua yang berwajah menyeramkan dan bermata merah, itulah yang Bu Lulu lihat.
"Apa bisa dia pergi?" Yansen menggeleng.
"Tempat Nenek itu di sini. Nenek hanya ingin Pongki minta maaf dan tidak nakal lagi. Dia sudah lama menjadi penghuni kelas ini dan menjaga anak-anak di sini juga."
Sebenarnya Bu Lulu tidak percaya dengan hal mistis seperti itu. Akan tetapi, dia akan manggil ibu Pongki dan mengatakan semuanya. siapa tahu apa yang dikatakan Yansen benar.
Keesokan harinya, Pongki beserta ibunya masuk ke dalam kelas. Pongki sangat tidak mau melihat ke arah meja paling belakang dan paling pojok.
"Enggak mau," tolak Pongki. Dia terus bersembunyi di belakang tubuh ibunya.
"Pongki, ini demi kebaikan kamu. Siapa tahu dengan cara ini kamu gak diganggu lagi," tutur sang ibu.
"Permisi," ucap sopan Bu Lulu.
"Maaf, Nek. Kalau selama ini Pongki sudah nakal. Pongki mengganggu Nenek karena Pongki tidak melihat Nenek. Maafkan anak itu ya, Nek." Biarkanlah Bu Lulu dianggap gila. Siapa tahu Nenek itu merespon.
Pongki masih ketakutan, dia masih melihat sosok Nenek itu.
"Pongki, ayo sekarang giliran kamu," ujar sang ibu.
Awalnya Pongki menolak, melihat wajah Nenek itu semakin menyeramkan akhirnya Pongki maju dengan tubuh gemetar.
"Maafkan aku, Nek. Aku janji gak akan nakal lagi. Gak berisik lagi," tuturnya.
Pongki yang masih menunduk dalam kini mencoba mendongakkan kepalanya. Dilihatnya sosok Nenek itu tidak ada dan Pongki bisa bernapas lega.
__ADS_1
Yansen yang baru saja datang menatap aneh ke arah Pongki, Bu Lulu dan juga ibunya Pongki.
"Yansen, apa nenek itu sudah tidak mengganggu Pongki lagi?" tanya Bu Lulu.
"Iya. Pongki 'kan sudah minta maaf ," jawabnya santai.
Bu Lulu bisa bernapas lega, ibu Pongki menatap bingung ke arah Yansen yang kini tengah memainkan robot kecil yang dia bawa.
"Dia bukan anak yang dianggap gila itu?" bisik ibunya Pongki.
Bu Lulu mengangguk, tetapi dia meralat ucapan dari ibunya Pongki.
"Dia anak istimewa, dia memiliki Indra keenam. Berkat dia juga saya tahu kenapa Pongki selalu ketakutan. Percaya tidak percaya saya melakukan apa yang diperintahkan oleh Yansen. Ternyata benar," jelasnya.
Ibunya Pongki mendekat ke arah Yansen. "Nak," panggilnya.
Yansen yang tengah asyik dengan dunianya menoleh.
"Makasih," ucap ibunya Pongki.
"Untuk apa?" tanya Yansen heran.
"Kamu sudah membantu Pongki supaya tidak diganggu oleh hantu itu lagi," ujarnya.
"Nenek itu tidak mengganggu. Dia tidak suka anak yang suka berisik. Pukul-pukul meja. Dia sangat tidak suka," papar Yansen.
Yansen tetaplah anak kecil. Dia hanya menjelaskan sekilas dan kembali ke dunianya.
"Kamu gak bawa Meriam?" tanya Yansen.
"Kata Bubu, aku tidak boleh membawanya ke sekolah. Aku tidak mau dianggap gila karena selalu berbicara sendiri," ujarnya.
Yansen tertawa dan dia malah asyik dengan mainan di tangannya.
"Ada berapa hantu di rumah kamu?" tanya Aleesa.
Bukannya mainan yang Aleesa tanyakan, malah hantu. Sungguh luar biasa anak ini.
"Banyak, ada hantu bule ada hantu sini juga. Mereka ada di pohon jambu depan rumah aku," jawab Yansen.
"Wah." Mata Aleesa berbinar mendengar semuanya.
"Boleh aku main ke rumah kamu? Kenalan sama teman hantu kamu?" tanya Aleesa anstusias.
"Tentu saja," jawab Yansen senang
Melihat kedekatan Aleesa dan Yansen, membuat Aleena merasa sedih. Pasalnya dia teringat akan sahabatnya Kalfa. Kalfa yang sudah selama satu tahun ini tidak mengunjunginya. Tidak bermain ke rumahnya, dan kemarin mendapat kabar bahwa Kalfa pindah lagi ke Surabaya.
"Aku rindu kamu, Kal," lirihnya.
Sebuah gantungan kunci berbentuk es krim selalu Aleena bawa ke mana-mana. Itu pemberian dari Kalfa.
__ADS_1
"Ini buat kamu. Semoga kamu selalu bawa ini terus ke mana-mana supaya kamu selalu ingat aku."
Kalimat yang ternyata menjadi kalimat perpisahan untuk mereka berdua. Ketika Aleena bertanya kepada sang ayah, ayahnya selalu mengatakan bahwa Kalfa belum bisa main ke Jakarta.
Ada rasa sedih di dada, tetapi dia tidak ingin menunjukkannya kepada siapapun. Dia cukup memendamnya sendiri saja. Ketika dia rindu akan sosok Kalfa dia akan memandang gantungan kunci tersebut.
Aleeya menghampiri Aleena dengan makanan yang ada di tangannya. Dia menatap sang kakak yang tengah memasang wajah sendu.
"Kenapa?" Aleena menggeleng.
Aleeya hanya mencebikkan bibir, sudah biasa kakaknya seperti ini. Dia melihat ke arah belakang, Aleesa sedang bermain bersama Yansen.
Mereka bertiga memiliki sikap yang berbeda. Keunikan yang berbeda. Aleeya lebih senang bergaul dengan anak laki-laki, contohnya Pongki. Menurutnya anak laki-laki itu tidak cerewet seperti perempuan.
Sepulang sekolah, wajah lesu Aleena nampak jelas. Echa yang hari ini tidak pergi ke mana-mana menatap bingung ke arah putri pertamanya.
"Kenapa Kakak Na?" tanya Echa.
"Bubu, apa belum ada kabar dari Kalfa?" tanyanya lirih.
Echa menggeleng, dia mengusap lembut rambut sang putri.
"Belum, Sayang. Sabar, ya."
Hanya anggukan lemah yang Aleena berikan. Dia memilih untuk pergi ke kamarnya.
Di lain Kota, seorang bocah Lima tahun tengah asyik memandang gelang manik yang Aleena berikan ketika dia pindah ke Bandung sebagai kenang-kenangan.
Sang ayah masuk ke dalam kamar karena sedari tadi anak itu tak keluar kamar.
"Kal," panggil sang ayah.
Kalfa hanya menoleh ke arah sang ayah dengan ekspresi yang sangat datar. Satria menatap gelang yang Kalfa genggam.
"Akhir pekan kita liburan ke Jakarta, mau?" Kalfa semakin menatap sendu sang ayah.
Kemudian, dia menggeleng. "Setiap ke Jakarta besoknya kita akan pindah lagi, sama seperti kita pindah ke Bandung tahun lalu. Setelah kita liburan ke Jakarta besoknya kita harus pindah lagi ke Surabaya. Semakin menjauhkan Kal dengan Aleena," terangnya dengan nada yang lirih.
Satria duduk di samping sang putra angkat. Dia mengusap lembut kepala Kalfa. "Maafkan, Papih."
"Bukan salah Papih. Mungkin Kal emang gak boleh berteman dengan Aleena."
Ucapan yang membuat hati Satria teriris. Sebenarnya, teman Kalfa di sini sangat banyak. Namun, tidak dapat yang lebih baik dari Aleena.
"Om Radit juga selalu nanyain kamu. Aleena selalu nanyain kamu," imbuh Satria.
"Percuma bertemu jika harus dipisahkan kembali, Pih."
Kalfa tumbuh menjadi anak yang cerdas. Dia bisa berpikir layaknya orang dewasa.
Satria memilih keluar dari kamar putranya. Bukan tanpa alasan, dia sangat mengerti bagaimana Kalfa. Mengingat trauma yang dialami Kalfa masih ada.
__ADS_1
"Aku berjanji, suatu hari nanti aku akan mencarimu."