Yang Terluka

Yang Terluka
Gelisah


__ADS_3

Addhitama menyuruh kerabatnya yang ada di Canberra untuk memeriksa Radit. Kemungkinan esok pagi dia baru akan terbang ke Canberra. Karena masih banyak yang harus dia selesaikan di sini. Terutama masalah yang dibuat oleh anak pertamanya.


"Pih," panggil Rival.


Addhitama pun tersenyum ke arah anak keduanya. Hanya anak keduanya lah yang bersikap netral dan santai.


"Abang gimana?" tanya Rival.


"Yang Papih khawatirkan sekarang adalah Radit," imbuhnya.


"Radit kenapa?"


"Sepertinya dia drop. Dan Papih harus menyelesaikan masalah ini dulu. Baru Papih akan terbang menemui Radit." Rival hanya menghela napas kasar.


Dari dulu sampai sekarang, Rindra tidaklah berubah. Rival tidak membela Radit tapi, dia tahu bagaimana sifat Rindra.


Di Canberra.


Wajah pucat Radit nampak terlihat jelas, tubuhnya lemas karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya seharian ini. Dia terlalu tenggelam dalam kesedihan.


Rapuh, begitulah Radit sekarang. Echa adalah obat penawar segala rasa sakit yang pernah Radit rasakan. Sekarang, malah menjadi racun yang perlahan akan membunuh dirinya.


"Makan dulu, Dit,"ucap Paman Tom.


"Taruh aja di situ, Paman," sahut Radit lemah.


Paman Tom hanya menghela napas kasar. Dia pun duduk di samping Radit. "Kakakmu selalu saja berulah. Membuat ayahmu lelah."


"Biarkan Paman, semakin dilarang Abang akan semakin menjadi. Dia memang ditakdirkan untuk terus melukai hati Papih dan juga Radit," terangnya.


Paman Tom terdiam mendengar jawaban dari Radit. Raut wajahnya menyiratkan banyak sekali kesedihan dan kepedihan. Dia juga tau, bagiamana perlakuan Rindra kepada Radit selama ini.


"Apa yang membuat kamu bertahan di rumah itu?" tanya Paman Tom.


"Papih, Radit hanya punya Papih. Dan Radit tidak ingin membuat Papih sedih."


Sungguh berhati luas seorang Raditya Addhitama yang dipandang rendah oleh keluarga dari sang Mamih. Apalagi, jalan yang dia pilih bukan seperti kedua kakaknya. Dia memilih menjadi seorang psikolog dan juga dokter. Mengikuti jejak sang ayah.


"Ya sudah, kamu makan dulu. Terus minum obatnya. Itu resep dari papihmu." Radit pun mengangguk pelan.


Setelah kepergian Pamannya, Radit hanya memandang langit-langit kamar. "Kenapa nasibku selalu miris?"


Radit belum tahu berita terbaru tentang Rindra dan juga Echa. Dia masih mengira jika, berita itu benar. Apalagi Echa yang tidak pernah menjawab pesan dan panggilan darinya.


Radit memilih untuk mematikan semua akses komunikasinya. Apalagi setelah mendengar pernyataan dari Rindra melalu sambungan telepon. Membuat dadanya sesak dan sakit.


Di Jakarta.


Addhitama mengunjungi rumah Gio ketika waktu sudah malam. Kedatangannya disambut hangat oleh Gio dan juga Ayanda.


"Om minta maaf, Gi," imbuhnya.

__ADS_1


"Ini bukan kesalahan Om, letak salahnya ada pada putra pertama Om."


"Dia menyayangi Echa, Gi," terang Addhitama.


"Jika, Rindra sayang sama Echa bukan dengan cara seperti ini. Apalagi Rindra tahu kalo Echa ini adalah kekasihnya Radit," balas Gio.


"Seakan Rindra itu tidak ingin kalah saing sama Radit," timpal Ayanda.


"Maaf, anak itu memang terlalu ambisius," sahut Addhitama.


"Apa Radit sudah bisa dihubungi?" tanya Gio kepada Addhitama.


"Echa sedari tadi gelisah karena ponsel Radit selalu mati," ucap Ayanda.


"Kondisi Radit drop," ujar Addhitama.


Gio dan Ayanda pun nampak terkejut mendengar kabar dari Addhitama. "Apa karena berita ini?" tanya Ayanda. Addhitama pun mengangguk.


"Saya selaku orangtua Echa tidak masalah jika Rindra dan Radit menyayangi Echa. Saya malah sangat berterimakasih. Tapi, cara Rindra seperti ini akan berdampak pada kehidupan Echa di sekolah. Dan Radit pasti sangat syok mendengar berita ini. Dia pasti mengira berita ini benar adanya "


"Gosip jika Echa adalah sugar baby Rindra pernah saya dengar. Dan sekarang, sudah dipastikan berita ini akan lebih ramai," ungkap Gio.


"Om tau, Gi. Makanya Om atas nama Rindra meminta maaf yang sebesar-besarnya. Om tahu, kamu menutupi berita ini dari Genta, kan?"


"Jika, Ayah tau urusan ini akan berujung rumit. Om tahu kan betapa sayangnya Ayah kepada Echa. Apalagi ini sudah mengganggu privasi Echa, pasti Ayah tidak akan tinggal diam," jawab Gio.


"Sekali lagi Om minta maaf, Gi."


"Harusnya Rindra yang meminta maaf ke sini, bukan Om. Yang salah itu Rindra, yang membuat berita ini seolah benar itu Rindra."


Setelah kepergian Addhitama, sepasang suami-istri ini mengecek putrinya. Hati mereka sedikit teriris mendengar alunan lagu yang dinyanyikan sang putri.


Aku masih di tempat ini


Masih dengan setia menunggu kabarmu


Masih ingin mendengar suaramu


Cinta membuatku kuat begini


Aku merindu ...


Ku yakin kau tahu


Tanpa batas waktu


Ku terpaku


Aku meminta


Walau tanpa kata

__ADS_1


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata


Tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Echa seperti sangat menghayati lirik lagu itu. Dia sedang merindukan Radit yang berada jauh di sana.


Keesokan harinya Addhitama terbang ke Canberra. Hatinya sakit ketika melihat Radit yang sedang terlelap dengan guratan kesedihan yang sangat dalam.


Kamu putra Papih yang paling kuat, Dit. Kamu kebanggaan Papih. Kamu persis seperti Mamih kamu.


Radit mulai mengerjapkan matanya, Addhitama tersenyum ke arah sang putra. "Kapan Papih datang?" Radit yang hendak bangun, ditahan oleh Addhitama.


"Satu jam yang lalu. Kamu istirahat saja, jangan terlalu banyak gerak."


Terlihat jelas wajah sendu Radit, dia tidak akan pernah menanyakan masalah tentang abangnya kepada sang papih. Karena Radit sangat menjaga perasaan papihnya.


"Kenapa semua akses komunikasi kamu matikan?" tanya Addhitama yang sudah memberikan buah potong kepada Radit.


"Hanya ingin tenang."


Addhitama tersenyum tipis mendengar jawaban dari Radit. Coba kamu aktifkan ponsel kamu. Pasti banyak yang kamu lewatkan."


"Biarin Pih."


Susah sekali untuk membuat Radit terbuka kepadanya. Radit selalu menutup serapat-rapatnya apa yang dia rasakan.


"Coba lihat ini," tunjuk Addhitama pada Radit seraya memberikan ponselnya.


Radit menatap sang Papih. "Bukalah," titah Addhitama.


Radit pun memutar video tersebut dan dahinya mengkerut ketika yang dia lihat adalah video konferensi pers. Tak lama matanya melebar ketika dia melihat Echa dan Gio di video itu.


Dia menonton secara khusyuk dan ketika Echa berbicara, hati Radit terasa lega. Senyumnya pun mengembang ketika Echa mengatakan kepada seluruh media jika Raditlah kekasihnya. Meskipun, hanya inisial yang Echa katakan.


"Habiskan makan mu, lalu kita terbang ke Indonesia. Ada seorang gadis yang sedang menunggu kamu dengan gelisah," ujar Addhitama.


Radit pun tersenyum, nyawanya yang telah hilang kini kembali lagi. Hidupnya yang suram kini kembali berwarna.


Sedangkan di Indonesia, Echa terus saja memandang ponselnya. Dia masih berharap Radit membalas pesan atau menghubunginya kembali.


Ketika dia membuka aplikasi WhatsApp, pesan yang tadinya ceklis satu kini berubah menjadi centang dua garis biru. Yang pastinya sudah dibaca oleh Radit.


"Kenapa tidak kamu balas Bhal?" lirih Echa. Ada kesedihan di hati Echa. Dia takut jika Radit mempercayai berita itu.


Panggilan dari seseorang dengan suara barito pun terdengar sangat dekat. Echa terdiam sejenak, suara itu sangat dia kenali.


Dengan perlahan Echa menoleh ke asal suara itu dan ....

__ADS_1


****


Kalo ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun😁


__ADS_2