
Hati Echa benar-benar kosong saat ini. Ketika kedua orangtuanya menanyakan Radit, Echa hanya bilang jika dia tidak tahu. Echa juga bingung, mau dibawa ke mana hubungan mereka berdua.
Sebulan sudah Echa tidak mendapat kabar Radit. Dia juga tidak berniat untuk menghubungi Radit terlebih dahulu. Echa sudah lelah karena terus-terusan dibohongi oleh Radit.
Echa sedang berjalan-jalan di sebuah mall bersama kedua sahabatnya dan diikuti oleh Doni. Sekarang, Doni seperti bodyguard Echa, Mima dan Sasa.
Tak sengaja Echa bertemu dengan Addhitama. Echa pun mencium tangan Addhitama dengan sopan. Addhitama membawa Echa dan ketiga sahabat Echa masuk ke dalam sebuah restoran.
Setelah mereka memesan makanan, Addhitama memulai pembicaraan. "Bagaimana hubungan kamu dengan Radit?" tanya Addhitama seraya tersenyum.
Wajah Echa berubah menjadi sendu. Membuat Addhitama mengerutkan dahinya. "Ada apa dengan kalian?" Echa hanya menjawab dengan seulas senyum.
"Entahlah Om, mungkin diujung kehancuran. Ketika sebuah hubungan tidak ada komunikasi yang jelas dan tidak adanya kejujuran satu sama lain. Apa masih perlu untuk dipertahankan?"
Addhitama tersentak mendengar ucapan Echa. Setahunya, Radit memang sedang sibuk dengan kuliah dan praktek di rumah sakit. Di rumah sakit tempat Radit praktek sangatlah ketat. Ketika mereka masuk jam praktek kerja, semua ponsel harus dalam keadaaan mati. Mereka boleh menghidupkan ponselnya itu ketika mereka telah meninggalkan rumah sakit.
"Radit sibuk ngejar kuliah dan praktek di sana," sahut Addhitama.
Echa menatap Addhitama dengan sorot mata yang sendu. "Praktek mengurus seorang wanita cantik. Bilang praktek, tapi nyatanya sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita," lirihnya.
Addhitama hanya terdiam mendengar penuturan Echa. Melihat Echa seperti ini mengingatkan Addhitama pada sosok putra bungsunya. Banyak kesakitan yang Echa pendam sendiri.
"Om akan memastikan, jika Radit tidak akan menyakiti kamu. Jika, dia menyakiti kamu, Om sendiri yang akan menghajar dia," balasnya.
Echa tersenyum ke arah Addhitama. "Makasih, Om. Biarkan Echa yang menyelesaikan masalah ini," ucapnya.
"Om tidak akan pernah membela anak Om kalo emang dia salah. Lagi pula, kamu sudah Om anggap seperti putri Om sendiri," ujarnya.
Ada kehangatan di hati Echa mendengar ucapan yang sangat tulus dari seorang Addhitama. Dia sangat bersyukur dikelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya.
Tanpa sepengetahuan Echa, Gio sudah menyiapkan penerbangan ke Canberra. Ya, dia sudah mendengar kabar tentang Radit. Awalnya dia tidak percaya, maka dari itu dia memutuskan untuk datang ke sana langsung. Membawa serta putrinya untuk memastikan kebenaran berita yang dia terima.
Setibanya di rumah, Echa terkejut ketika Papanya memberikannya tas ransel berukuran sedang.
"Mandi, lalu kita berangkat." Echa terdiam, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Gio. Dia menatap sang mamah yang hanya memberikan jawaban anggukan kepala.
__ADS_1
Echa sama sekali tidak berani menanyakan apapun kepada sang papa. Wajah Gio sangat tidak bersahabat. Echa menatap ke arah Remon, Remon hanya menggelengkan kepala.
Sudah lima jam mereka mengudara, Echa hanya diam dengan hati yang penuh dengan pertanyaan.
"Tidurlah," ucap Gio.
Echa menatap sendu ke arah sang papa. "Perjalanan kita masih sangat panjang," lanjut Gio.
Ucapan dingin Gio seperti perintah yang tidak bisa dia bantah. Echa mencoba untuk memejamkan matanya, namun tetap tidak bisa.
Selang dua jam, barulah Echa bisa tertidur. Gio yang sedari tadi memperhatikan Echa dalam diamnya, kini dia menghampiri tempat duduk Echa.
Gio mengeset kursi yang Echa duduki agar seperti tempat tidur yang nyaman. Gio menatap lekat wajah putrinya yang sangat terlihat pilu.
"Takkan Papa biarkan seorang pun menyakiti kamu, Sayang," ucapnya pelan.
Setelah hampir 15 jam mengudara, mereka pun tiba di Canberra. Echa tetap tak membuka suara. Dia tetap mengikuti papanya, kemanapun papanya melangkah.
Mereka tiba di salah satu apartment mewah di kota itu. Echa mengerutkan dahinya, yang dia ketahui jika kakeknya memiliki rumah besar di kota ini. Kenapa Gio malah membawanya ke apartment? Begitulah isi kepala Echa sesungguhnya.
Tidak dipungkiri tubuh Echa lelah, dia ingin merebahkan diri di kasur empuk yang sudah melambaikan tangan memintanya untuk tidur di sana.
Tak terasa sudah dua jam Echa terpejam, Echa merenggangkan otot-ototnya. Dia melihat sekelilingnya, tidak ada suara dan sepertinya tidak ada orang.
Setelah membersihkan tubuhnya, Echa keluar kamar tersebut dan sepertinya papanya belum pulang. Perut Echa teras lapar, dia ingin mencari makanan ke luar. Untungnya sang papa membekali Echa mata uang negara Australia. Jadi, dia bisa mencari makanan ke bawah.
Echa baru saja keluar dari kamar unit yang dia tempati. Matanya melebar ketika melihat sosok yang dia kenali sedang dipapah oleh seorang wanita seksi. Dengan ragu, Echa pun mengikuti mereka berdua.
Dia sedikit terkejut ketika unit yang pria itu tempati hanya berbeda beberapa unit saja. Dan ketika wanita itu membuka pintu apartment, terlihat jelas pria itu memang Radit. Setelah mereka masuk ke dalam apartment, terdengar suara desahan dan rintihan kenikmatan dari dalam. Tubuh Echa lemah dan dia pun tersungkur di lantai dengan air mata yang sudah terjatuh.
"Apa ini yang kamu bilang selalu menjaga hati kamu untuk aku?" lirihnya.
Gio langsung berlari ketika melihat putrinya yang sudah duduk di lantai dengan menundukkan kepalanya. Terdengar suara Isak tangis lirih dari bibir Echa.
Pelukan hangat sang papa membuat tangisan Echa pecah seketika. Echa tidak bisa berucap, hatinya sangat sakit, kakinya seakan sudah tidak sanggup untuk menopang tubuhnya yang dipenuhi kesakitan ini.
__ADS_1
Remon menyerahkan kode akses kepada Gio. Gio membantu Echa untuk bangkit, membawanya ke depan apartment yang ditempati Radit.
Ketika pintu itu terbuka, Radit dan wanita itu hanya mengenakan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Sedangkan Radit nampaknya sudah kelelahan, dia sudah memejamkan matanya. Wanita itu pun tampak terkejut ketika Gii menghampiri Radit dan menarik tubuh polosnya. Sedangkan Remon menutup mata Echa dengan kedua telapak tangannya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
pukulan membabi-buta Gio layangkan ke wajah dan tubuh Radit. Hingga Radit tersadar dan menatap kosong ke arah Gio.
"Om," sapa lemah Radit.
Kepalan tangan Gio mendarat kembali di wajah Radit dan kini hidungnya mengeluarkan darah segar. Gio melemparkan seimut tips agar menutup bagian bawah Radit.
Remon mulai menyingkirkan telapak tangannya yang menutupi mata Echa. Echa melihat jelas wajah Radit yang membiru dan hidung mengeluarkan darah. Gio menggeser tubuhnya agar Radit dapat melihat Echa yang tengah menatapnya dengan tatapan marah dan benci jadi satu.
"Bhul ... Sayang," ucap Radit dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Echa menatap Radit dengan air mata yang sudah mengalir deras. Dia mencoba untuk melangkahkan kakinya yang terasa kaku ke arah Radit.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Radit.
"Begini cara kamu menjaga hati kamu? Dengah tidur bersama wanita yang kamu bilang pasien kamu," sentak Echa.
Radit pun menoleh ke arah tempat tidur. Dahinya mengkerut ketika melihat Fani yang hanya mengenakan selimut dan semua bajunya sudah berada di bawah tempat tidur.
"KITA PUTUS!" seru Echa dan meninggalkan apartment itu dengan hati yang sangat terluka.
***
Kalo mau aku UP rutin banyakin komennya. Sedih loh pas UP tapi gak ada yang komen 🤧
__ADS_1